Istriku Penipu

Istriku Penipu
Menikmati Uang Suami


__ADS_3

“Mbak Mia, tamu dari VIP room nomor 6 manggil kamu tuh,” kata Dani memanggil Mia yang sedang bekerja mengecek masalah di dapur.


“Hah? Kok ada tamu yang tahu gue sih, Dan?” tanya Mia merasa aneh. Tapi dia tetap berjalan ke tempat yang Dani sebutkan, melepaskan apron dan merapikan penampilannya sekilas.


Selama bekerja di tempat ini, Mia tidak pernah berhubungan langsung dengan para tamu. Dia hanya berada di balik meja dan dapur untuk mengembangkan menu-menu baru dan mengawasi bagian food and beverage.


Aneh sekali ada yang memanggilnya ke ruangan karaoke, apalagi tamu VIP. Seingatnya dia tidak pernah mengenal satupun orang kaya yang bisa menyewa ruangan VIP dengan fasilitas mewah tersebut.


Mia mengetuk pintu, kemudian masuk ke VIP room nomor 6. Betapa kaget dia melihat sosok yang sedang berjoget dengan riang, menggerakkan badannya kesana kemari, dan berteriak mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan. Berbagai menu makanan dan minuman yang harganya tidak murah tersaji di depan meja.


“Ku hamil duluan sudah tiga bulan, gara-gara pacaran tidurnya berduaan… ku hamil duluan…” teriak Gita dengan bersemangat.


“Git, lo ngapain disini?! Ngapain lo nyewa karaoke VIP?! Heh! Sadar lo!” ucap Mia kaget melihat sahabatnya itu menggila di tempat kerjanya.


“Sini, Mi! Gabung sama gue menikmati kekayaan,”ucap Gita sambil tertawa, dia menjatuhkan dirinya ke sofa dan duduk menyilangkan kaki dengan gaya. “Gue istri gabut yang lagi menghabiskan duit suami nih,” lanjutnya sambil menyuapkan dimsum ke mulut.


“Lo sewa VIP room pake duit suami lo? Gila lo, Git! Kalau ketahuan lo ngabisin duit dia buat hal gak berguna kayak gini, gimana nanti?” Mia panik karena kelakuan sahabatnya itu. Sangat takut jika Gita malah bermasalah dengan suaminya karena ketahuan menghamburkan uang.


“Tenang, Mia. Gue udah dikasih izin pake duit dia buat apapun terserah gue. Sekarang malah gue pegang kartu sakti ini,” ucap Gita berseri bahagia mengeluarkan priority debit card-nya. “Sumpah, ternyata jadi orang kaya enak banget ya.” Gita tidak berhenti untuk tersenyum.


“Serius lo dikasih kartu debit prioritas gini? Isinya pasti banyak banget ini. Mungkin bisa ngasih makan anak se-RT.” Mia merebut kartu yang Gita pegang, menelisik kartu super ajaib tersebut. “Lo udah lihat saldonya?” lanjut Mia.


“Belum. Tapi tadi pagi udah gue pake buat belanja tas, baju, dan perawatan kesalon buat hilangin daki dan kemiskinan gue yang udah berkerak. Lihat! Gue glowing banget, kan?” ucap Gita memamerkan wajahnya dan riasannya yang terlihat sangat bagus.


“Buseeet! Iya, bener. Lo jadi bening banget kayak pantat panci baru beli, Git!” Mia terkagum-kagum dengan perubahan Gita yang menjadi lebih cantik dan bersinar sekarang. “Tapi kok bisa sih dia percaya dan ngasih lo duit dia dengan bebas kayak gini? Lo pasti abis jual diri lo sama dia, kan? Ngelayanin dia jadinya lo dibayar mahal, kan? Ngaku lo!” tuduh Mia.

__ADS_1


“Idih, amit-amit! Gue selama seminggu nikah sama dia gak pernah ngapa-ngapain, selalu menolak kalau dipegang. Najis gue dipegang sama dia, apalagi ngelayanin. Iyuuh…”


“Terus kok lo bisa dapet kartu debitnya sih?”


“Ya kan gue istrinya, gue minta duit belanja sama dia. Terus dia kasih ini deh tadi pagi dan bolehin gue pake buat apa aja, katanya buat kebutuhan gue dan kebutuhan rumah.”


“Wow. Baik juga dia, untung lo gak nipu orang pelit.”


“Iya dong, gue kan udah riset dulu mau nipu siapa. Arki target yang perfect buat ini. Ganteng, baik, pengertian, kaya—“


“Tapi kok lo tetep gak mau sama dia?”


“Udah gue bilang kan kalau gue gak mau sama cowok tukang jajan kayak dia. Pasti sekarang dia juga lagi jajan cewek di Surabaya. Manager gue juga dulu suka manggil cewek ke hotel kalau lagi perjalanan bisnis. Jijik kan?”


“Jadi sekarang dia gak ada di rumah? Pantes lo liar kayak gini. Seminggu kemarin kirain gue, lo udah dimainin abis-abisan, soalnya pengantin baru.” Mia terkekeh geli.


“Oh ngebabu?”


“Bukan lah. Ini lebih seperti mengambil hatinya, biar dia percaya dan gak curiga kalau gue lagi menipu terus mengincar duit dia.”


Mia memutar bola matanya. “Bodo amat deh. Terus sekarang lo kesini mau numpang pamer doang? Gue lagi kerja nih!”


“Cepetan izin sama bos lo! Gue mau ngajakin lo makan enak dan belanja pake kartu sakti ini.”


“Nah kalau begini gue demen nih hehe…” ucap Mia dan Gita saling berpandangan dan tersenyum licik.

__ADS_1


...****************...


Gita mengajak Mia berjalan-jalan dan berbelanja di Grand Indonesia. Sahabatnya itu dia belikan sebuah tas sangan cantik dari Charles & Keith, serta beberapa potong baju dari Bershka. Mia awalnya sempat takut melihat tag harga untuk barang-barang yang diinginkannya itu. Namun, Gita meyakinkan bahwa Mia boleh membeli apa saja.


Bagi Gita, Mia sudah seperti saudara. Lebih dari sahabat saja. Selama ini orang yang selalu menolong dan memberikan tempat berlindung adalah Mia. Jadi, menghabiskan beberapa juta untuk Mia sangatlah pantas dan tidak berlebihan. Apalagi sekarang Gita sudah mendapatkan kesempatan mencicipi hidup paling nyaman seperti impiannya.


“Git, ini beneran gak apa-apa belanja segini banyak? Lo gak mau cek saldo di rekeningnya tinggal berapa? Kalau sampe katahuan lo boros banget, apa suami lo gak marah?” tanya Mia yang sangat khawatir ketika melihat tas belanjaan yang mereka tenteng sangat banyak.


“Kalau soal Arki sih gak usah khawatir. Dia bilang gue boleh beli apa aja terserah. Tapi gue juga mau cek isi saldonya, siapa tahu nanti nyisa 100 ribu doang kayak limit bank.”


Mereka lantas mendatangi ATM Center yang tersedia di mall tersebut. Gita memasukkan kartunya ke mesin ATM, memencet nomor pin, dan melihat jumlah saldo di rekening Arki. Gita dan Mia mematung selama beberapa detik, kemudian saling memandang dan melongo mendapati jumlah saldo yang tersedia disana.


“Ini duit belanja lo semua, Git? Serius segini?” ucap Mia tidak percaya. “Baru kali ini gue lihat saldo rekening nol-nya banyak.” Mia menampar sebelah pipinya untuk menyadarkan diri.


“Gue bisa beli 3 rumah KPR subsidi di Cikarang pake duit belanja gue, Mi.” Gita pun ikut bersuara tidak percaya dengan penglihatannya.


“Lo jual diri selamanya aja sama dia, Git. Terus hidup enak seumur hidup.”


“Iya kali ya, Mi. Peduli amat harga diri, asal bisa lihatin saldo rekening nol-nya banyak begini seumur hidup.”


Mereka masih tidak bergerak dan mengagumi deretan angka dilayar ATM. Gita tidak tahu sekaya apa Arki selama ini. Dia pikir, laki-laki itu hanya golongan orang menengah ke atas yang menikmati hidup dengan fasilitas kelas menengah juga. Rumahnya juga bukanlah sebuah tempat mewah dilingkungan elit. Tapi jika dilihat dari saldo rekeningnya yang seperti ini, sepertinya Arki jauh lebih kaya dari dugaannya.


“Mi, besok lo ambil cuti. Anterin gue bikin rekening bank baru, biar gue bisa mindahin nih duit, paling nggak seperempat saldo disini ke tabungan pribadi gue.”


“Kok dipindahin?”

__ADS_1


“Kalau ada apa-apa sama gue nanti, gue punya tabungan sendiri yang gak bisa dilacak atau di cek sama Arki.”


“Kali ini gue suka otak lo yang licik, Git. Gue setuju.”


__ADS_2