
“Ibu mau ketemu sama Gita,” kata Ela disambungan telepon.
“Nanti aja kalau dia udah pulang ke Jakarta.”
“Kamu gak mau ketemu sama ayahmu, Ki?”
“Kita udah bahas ini, kan, Bu? Aku udah gak punya urusan apa-apa lagi sama dia.”
“Tapi ayahmu pingin ketemu sama kamu, Ki. Mungkin dia memang jahat sama kamu karena udah menjauhkanmu dengan Gita. Tapi bukannya semua orang pantas mendapatkan maaf?”
Arki menghela napas berat. “Ibu gak akan berhenti sampai aku maafin dia, kan? Ya udah aku maafin dia. Tapi jangan paksa aku buat ketemu lagi sama dia.”
Selama seminggu Gita di rawat di rumah sakit. Luka di kepalanya juga sudah nyaris sembuh dan mengering. Gita berulang kali mengeluhkan luka jelek yang membuat kepala sampingnya menjadi pitak dan tidak cantik. Berulang kali Arki menegaskan bahwa dia tetap cantik seperti biasanya. Lagipula luka tersebut juga bisa ditutupi dengan rambut panjangnya. Meskipun jelas Gita tidak pernah dipercaya dan mengeluh setiap saat.
Memar-memar disekujur tubuhnya juga perlahan menghilang. Meskipun sedikit kebiruan masih melingkar di sekitar mata Gita yang dulu sempat sulit terbuka. Dengan concealer, luka tersebut bisa ditutupi sempurna. Terlihat tanpa jejak yang berarti diwajahnya.
Sore hari mereka mulai kembali dari Bogor. Meninggalkan Risa yang harus tetap melanjutkan kuliahnya di sana. Gita juga sebenarnya berat harus meninggalkan kedai yang baru saja dia buka beberapa bulan. Tapi tempat tersebut sudah hancur tidak bersisa akibat penyerangan Basuki. Terpaksa kedainya tutup permanen.
“Tetangga kita nanti bakalan kaget gak ya pas tahu aku belum meninggal? Apa nanti aku bakal dikira bangkit dari kubur?” kata Gita merasa sedikit terganggu jika memikirkan orang disekitarnya nanti.
Arki terkekeh. “Gak kok. Aku udah cerita di telepon sama Pak RT beberapa hari lalu. Waktu itu dia telepon nanyain iuran dan gak ada orang di rumah. Jadinya aku bikin skenario menghilangnya Gita sama dia. Aku juga udah ngasih tahu temen kamu, Mia. Kalau kamu selamat.”
“Kamu cerita apa sama mereka?”
“Kamu kecelakaan dan di rawat beberapa bulan di rumah sakit tanpa identitas, karena semua barang-barang kamu diambil sama ibu tirimu. Waktu ibu tirimu kecelakaan di tempat lain, semua orang mengira itu kamu karena dia pegang identitasmu.”
“Tapi aku jadi mengkambinghitamkan ibu tiriku. Padahal dia gak salah apa-apa.”
Arki menaikan sebelah alis. “Dia kan suka nyiksa dan jahatin kamu. Kok malah jadi belain dia?”
__ADS_1
“Aku tahu dia selalu jahat sama aku. Tapi bukan berarti gak ada hal baik yang dia lakukan seumur hidupnya, kan? Apalagi harus difitnah kayak gitu. Meskipun tabiatnya jelek, dia tetap ibu tiriku. Ada masanya dia juga mengurusku. Aku gak sedendam itu sama dia sampai jadi benci banget dan tega memfitnah.”
Arki hanya terdiam mendengarnya. Berbeda dengannya, Arki benar-benar sulit memaafkan Arya. Layaknya dendam yang dipendam oleh Aditya. Kalau ada hal buruk yang menimpa Arya sekarang, malah Arki akan bersyukur. Dia sudah tidak ingin mendengar apapun lagi tentang ayahnya.
“Kalau misalnya ibu tiri kamu selamat dari kecelakaan, tapi dia jadi lemah gak bisa ngapa-ngapain. Kamu bakal kayak gimana?”
“Ya aku urusin dia lah. Mungkin gak mengurusnya 24 jam sesekali berkunjung, karena aku kan udah berkeluarga. Setidaknya aku bisa sewa perawat buat bantuin dia kalau memang udah gak bisa gerak dan harus dibantu. Sekarang aku punya cukup uang buat ngasih pengobatan yang layak buat ibu tiriku.”
“Kamu mau tetap ketemu sama dia? Maafin dia?”
“Ya. Kalau dia udah gak bisa ngapa-ngapain dan gak bisa berbuat jahat lagi. Aku gak takut. Selain itu aku gak punya alasan buat gak maafin dia. Dengan kejadian kayak gitu aja udah ngasih dia pelajaran sekaligus hukuman. Ngapain aku nambah-nambahin hukuman lagi dengan benci dia terus?”
Arki tersenyum. “Terus kalau gitu kenapa kamu malah susah buat maafin aku? Sama ibu tiri kamu aja gampang maafin, kenapa sama aku nggak?”
“Itu kan … beda … kalau sama kamu …” Gita terbata dan kehilangan alasan.
“Hmm? Beda apanya?”
“Kalau sama kamu itu sayang antara cewek ke cowok. Kalau sama ibu tiriku itu karena udah biasa hidup sejak kecil sama dia.”
“Aku gak ngerti.”
“Aku juga gak ngerti! Udah gak usah tanya-tanya lagi!” kata Gita tiba-tiba menjadi emosi.
Arki hanya tergelak dibalik kemudinya. Merasakan rambatan aneh di dadanya. Sebenarnya dia paham apa yang Gita maksud. Perasaan sayang pada pasangan sulit dibandingkan dengan perasaan sayang pada orang tua. Pada dasarnya Gita dan dirinya adalah orang asing yang baru saja berusaha saling menerima. Sedangkan Gita dan ibu tirinya memiliki histori yang lebih lama. Meskipun tidak akur, tetap saja mereka adalah keluarga.
“Kamu beneran perempuan baik,” kata Arki mengelus pipi Gita dengan ibu jari saat dia sudah memarkirkan mobil di depan rumah. Arki melepaskan seatbelt dan hendak turun dari mobil untuk membuka pagar.
“Jadi kamu pikir selama ini aku perempuan gak baik? Karena aku pernah menipu kamu, gitu?” kata Gita mengerutkan dahi kesal.
__ADS_1
“Maksudnya bukan kayak gitu. Kenapa sih semua hal suka dibikin jadi masalah?” tanya Arki sambil mendengus. Dia masih tidak mengerti kenapa Gita selalu saja memicunya untuk berdebat dan memantik emosi.
Arki melepaskan seatbelt Gita, menarik lengannya agar tubuh mereka mendekat. Kemudian mengarahkan tengkuknya agar wajahnya menengadah. Dalam hitungan detik bibir mereka telah bertaut. Arki menjelajahi rongga mulut dengan lidahnya, merasakan kehangatan dan gelanyar aneh di sekujur tubuhnya saat menyentuh Gita. Euforia dan sinyal menyenangkan untuk meredakan emosi yang sempat akan meninggi karena Gita mulai membuat masalah. Iya, lebih baik membungkam Gita dengan kecupan dibandingkan harus meladeninya berdebat.
“Pak Arki udah pulang? Sama Bu Gita pulangnya?” kata Pak RT sambil mengetuk kaca mobil di sebelah Arki.
Arki segera melepaskan ciumannya. Lagi dan lagi. Aktivitasnya terganggu oleh kedatangan orang-orang yang membuyarkan konsentrasi untuk menyentuh istrinya.
Arki menurunkan kaca mobil dan berbasa-basi sejenak dengan pria berkumis yang tampak antusias tersebut. Dia juga banyak bertanya tentang Gita dan semua kejadian tidak menyenangkan yang di dengarnya dari Arki. Gita menjawab sesuai dengan skenario dan arahan suaminya, agar Pak RT percaya.
Selepas memarkirkan mobil di garasi, Arki lekas masuk ke rumah menyusul Gita. Dia mendapati perempuan tersebut sedang berdiri terpaku di ruang tamu. Mungkin merasa aneh setelah berbulan-bulan pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Raut kerinduan tersirat dari wajah Gita. Namun, Arki tidak punya waktu untuk hal sentimental seperti itu.
Tanpa aba-aba Arki langsung menggendong Gita ke kamar. Dia tidak ingin menghabiskan waktu lagi untuk mencumbui istrinya. Sudah banyak pengganggu yang membuat kesabarannya yang setipis kertas itu rusak bertubi-tubi. Tubuh mungil itu Arki baringkan diatas ranjang. Gita hanya tertawa melihat ekspresi kesal Arki yang belum juga hilang karena kecupannya lagi-lagi terganggu akibat kedatangan orang.
“Kamu belum boleh ngapa-ngapain aku lho. Sekarang aku masih belum sehat,” kata Gita sambil tersenyum menatap sang suami yang kini sudah berada di atas tubuhnya.
“Terus kamu pikir aku bakalan langsung ngapa-ngapain kamu setelah keluar dari rumah sakit?”
“Iya, isi otak kamu kan cuma hal-hal kotor aja.”
“Enak aja! Isi otakku bukan hal kotor. Tapi hal menyenangkan yang bisa kita nikmati berdua.”
Gita terkekeh geli mendengarnya. Jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan. Sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini kembali. Menatap manik hitam jelaga milik suaminya dari dekat, dengan kobaran hasrat yang tidak coba disembunyikannya.
Dulu Gita begitu takut menatap mata tersebut sedekat ini dan merasakan embusan napas yang memburu di depan wajahnya. Sekarang Gita malah menginginkannya. Menatap Arki berlama-lama. Bahkan selamanya.
“Kalau ada yang ganggu lagi. Si sialan itu bakal langsung aku hajar,” ucap Arki berapi-api.
Satu gerakan sudah membuat bibir mereka bertaut kembali. Mengulang kecup yang sempat terputus. Kini lebih lama, lebih dalam, lebih liar dan lebih menghanyutkan. Seperti seribu tahun menuntaskan dahaga. Arki begitu menikmatinya. Menjelajahi tubuh indah Gita dalam genggamannya.
__ADS_1