Istriku Penipu

Istriku Penipu
Menantu Kesayangan


__ADS_3

Gita menangis tanpa suara di kamar mandi, mengguyurkan air banyak-banyak ke tubuhnya, dan menghilangkan jejak-jejak menjijikan yang sudah Arki torehkan di tubuhnya.


Meskipun sekarang masih cukup pagi, Gita tidak peduli. Dingin yang menggigit kulitnya tidak seberapa dibandingkan perasaan terhina yang dia rasakan setelah melakukan aktivitas tadi.


Gita benar-benar tidak percaya lagi pada Arki. Semua janjinya kemarin untuk tidak menyentuhnya ternyata hanya dusta. Laki-laki itu malah dengan tenang menyerangnya ketika tertidur. Sekarang pun dia tidak terlihat bersalah sama sekali telah melakukannya. Meskipun Gita tadi telah memukulnya, mencubit, dan hampir saja menamparnya. Arki tidak mengucapkan permintaan maaf sekali pun.


Setelah lama mengurung diri di kamar mandi, Gita hanya merangkum diri di salah satu sofa di ruang tengah. Menyalakan TV hingga tangisnya bisa tersamar.


Gita sudah membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hubungan dengan Arki. Kali ini dia masih lolos, untung saja Arki tidak sampai merenggut kehormatannya. Tapi bukan berarti dikesempatan selanjutnya laki-laki itu tidak akan melakukannya. Dia bisa saja menggila seperti tadi.


“Gita, kamu kenapa pagi-pagi gini nangis?” ucap Ela yang terlihat heran melihat menantunya memeluk lutut di sofa dan berurai air mata. Dia baru saja keluar kamar, ingin menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya.


“Gak apa-apa kok, Bu. Gita emang suka tiba-tiba sedih, maklum pengaruh hormon kehamilan yang gak stabil,” kata Arki yang tiba-tiba muncul di ruang tengah, kemudian mendekati Gita dan mengecup puncak kapalanya dari belakang. Tangannya mengelus lembut punggung Gita.


Seketika Gita menjadi takut dan gugup berada di dekat Arki. Tanpa sadar menggigit bibir bawahnya dan membeku di tempat. Dia tidak suka Arki menyentuhnya. Apalagi setelah kejadian beberapa jam yang lalu, membuatnya semakin takut akan keberadaan Arki.


Gita sedikit terganggu dengan perkataan Arki tadi. Dia tidak pernah menangis atau tiba-tiba sedih seperti yang Arki sebutkan. Dari mana asalnya kebohongan itu? Kenapa Arki sejak kemarin seperti berusaha menutupi kebohongan tentang kehamilan Gita?


“Ooh, tapi kamu beneran gak apa-apa, kan? Mau Ibu bikinin makanan apa biar gak sedih lagi? Sekalian Ibu mau masakin sarapan,” kata Ela yang mengkhawatirkan menantunya.


“Gak usah, Bu. Aku udah gak apa-apa.” Gita langsung berdiri dari kursi dan berjalan ke dapur. Sebenarnya untuk menghindari interaksi dengan Arki, yang semakin lama membuatnya risih.


Akhirnya Gita menghabiskan waktunya dengan Ela menyiapkan sarapan. Mereka banyak mengobrol dan berbagi resep masakan. Hati Gita menjadi lebih tenang sekarang, karena fokusnya teralihkan dengan obrolan yang menyenangkan bersama Ela.


Gita merasa sangat nyaman berada di dekat mertuanya, seperti berinteraksi dengan ibunya sendiri. Meskipun Gita tidak pernah mengingat bagaimana sosok ibunya karena sudah meninggal ketika Gita berumur 4 tahun. Ingatan Gita tentang sosok ibu adalah ibu tirinya, yang seringkali memarahinya hanya karena kesalahan-kesalahan kecil saja.


Jika dia harus berpisah dari Arki, artinya Gita harus berpisah juga dengan Ela. Mungkin mertuanya itu juga akan membencinya, karena mengindahkan ultimatum ketika mereka meminta restu agar tidak berpisah dalam waktu singkat setelah menikah.


Perasaanya menjadi gamang. Dia tidak mau membuat perempuan ini kecewa, apalagi hingga membuatnya terluka. Tapi Gita tidak tahan dengan semua perilaku Arki. Kenapa perempuan sebaik ini memiliki putra semengerikan Arki?


“Kamu masih sering hubungi ibu tiri kamu, Git?” tanya Ela berhati-hati, tidak ingin pertanyaannya memberatkan perasaan menantunya, karena dia sempat berbohong tentang keluarganya.

__ADS_1


Gita terdiam sejenak, hatinya mencelos karena malu dan bersalah. Selama ini dia mengatakan tidak memiliki satu pun keluarga pada Ela. Tapi ternyata perempuan itu tahu. Apakah Arki yang memberitahukannya? Gita yakin kebohongannya itu juga sudah membuat Ela kecewa, apalagi jika Gita memberitahukan kebohongan tentang kehamilannya.


“Ibu … aku …” Gita menjadi gugup dan tidak mampu berbicara dengan benar.


“Ibu udah tahu kok soal keluarga kamu,” balasnya tenang. Dia tahu menantunya pasti kaget dengan pertanyaan itu.


“Arki yang ngasih tahu?”


“Bukan, ada orang lain yang ngasih tahu soal keluargamu. Gak apa-apa, Gita. Ibu gak marah kamu menyembunyikan soal keluarga kamu. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ya! Kita kan udah jadi keluarga, harusnya gak main rahasia-rahasiaan kayak gini, meskipun hubungan kamu dan ibu tirimu itu gak baik. Arki juga bilang soal ayahnya yang udah lama bercerai dari ibu sama kamu, kan? Walaupun dia gak mau ngundang ayahnya itu ke pernikahan, seenggaknya kamu tahu bagaimana hubungan di keluarga suamimu,” ucap Ela menasehati.


“Aku minta maaf, Bu.”


“Kamu sekarang udah jadi anak ibu, harus banyak cerita soal diri kamu. Biar nanti kita gak saling salah paham.” Ela mengelus punggung Gita lembut, menunjukan bahwa dia sama sekali tidak terganggu dengan kebohongan kecil Gita tentang keluarganya.


“Dulu ibu pingin banget punya anak cewek, biar bisa nemenin masak kayak gini. Tapi malah dikasih anak cowok yang anti banget sama dapur. Indah juga males banget kalau diajakin masak di rumah. Sekarang Ibu seneng banget, dapet mantu jago masak kayak kamu. Nanti ibu sering-sering kesini atau kamu dateng ke rumah aja, biar kita bisa masak sambil ngobrol banyak,” kata Ela bersemangat. Terlihat dari raut wajahnya bahwa dia sangat senang dan menyayangi menantunya itu.


Perasaan bersalah bertumpuk tinggi dihati Gita setelah mendengarnya berkata seperti itu. Gita juga senang dengan aktivitas seperti ini bersama Ela. Tapi sangat takut, sedih, dan kecewa pada dirinya sendiri yang sudah membohongi mertuanya itu tanpa ampun.


Ela diantar pulang siang ini oleh Arki. Tadinya dia juga ingin mengajak Gita untuk mengantarnya dan mampir sejenak di rumah. Tapi Arki mengatakan bahwa Gita mudah kelelahan dan pusing karena hamil. Kebohongan tidak perlu dan tidak nyata yang Arki tiba-tiba tambahkan. Dia juga sepertinya tahu bahwa Gita enggan berbagi perjalanan dengannya, apalagi mengantar ibunya.


“Kamu tadi pagi berantem sama Gita?” tanya Ela tiba-tiba saat di perjalanan pulang.


“Nggak kok, kita gak berantem.”


“Jangan bohong kamu, Ki! Tadi pagi Gita nangis dan jadi pendiem sama kamu tuh kenapa? Dikira ibu gak tahu apa?”


Arki menghela napas. “Gak apa-apa. Kita cuma debat kecil aja tadi pagi, nanti juga baikan sendiri.”


“Bener ya, Ki? Awas kalau kamu—“


“Iya, iya. Aku gak mengekang atau jahatin Gita kok, Bu. Buktinya aku kasih dia izin bekerja lagi pas lagi hamil kayak sekarang.”

__ADS_1


“Ya emang harus. Kalau Gita mau kerja, kamu sebaiknya kasih izin. Kita gak tahu kedepannya hidup kayak gimana. Perempuan itu harus mandiri dan punya pegangan. Nanti kalau ditinggalin sama suami kayak Ibu, kasihan dia mau hidup kayak gimana.”


“Ibu tenang aja. Aku gak akan ninggalin Gita buat alasan apapun juga. Aku udah kasih Gita bekal yang banyak kalau harus hidup tanpa aku.”


“Awas kalau kamu sampe selingkuh! Ibu bakal kutuk jadi batu.”


Arki tergelak mendengar ancaman ibunya. “Ada juga Arki yang dulu diselingkuhi kan, Bu?” balasnya sambil menerawang ke jalanan di depan.


Ela terhenyak sesaat, mengenang betapa terlukanya Arki saat itu. “Semoga Gita gak kayak mantan kamu dulu. Kamu juga harus perbaiki sikap kamu, Ki. Jangan gampang emosi atau kasar, apalagi jadi pendendam!”


“Ibu kok malah khawatirin Gita terus daripada aku? Kan aku yang anak ibu, bukan Gita,” kata Arki merajuk pura-pura marah.


“Sekarang kan Gita juga anak Ibu. Apalagi suaminya itu kamu, yang kadang-kadang kelakuannya jelek dan keras banget wataknya.”


Arki tersenyum sekilas. “Ibu kayaknya udah sayang banget sama Gita?”


“Ya iyalah. Ibu seneng dapat mantu baik, cantik, jago masak dan ngurus rumah kayak Gita. Apalagi sekarang Ibu mau punya cucu.”


“Kalau Ibu sesenang itu punya menantu, berarti aku harus terus jagain Gita biar gak lari kemana-mana,” ucap Arki terdengar gelap diantara senyumnya yang terkembang.


Arki baru kali ini melihat ibunya tampak berseri dan bersemangat. Setelah sekian lama sepertinya dia menantikan untuk memiliki seorang menantu.


Bukan hanya ibunya saja yang senang dengan kehadiran Gita, Arki juga merasa senang. Apalagi Gita memang benar-benar perempuan yang tepat dan bisa membuatnya bergairah kembali seperti tadi malam. Tentu saja Arki tidak akan melepaskan perempuan langka itu.


“Ki, kamu udah berkunjung sama Gita ke rumah ayah?” tanya Ela tiba-tiba.


“Ngapain?” balas Arki tidak senang.


“Ya, kenalin aja. Kan ayah kamu juga perlu tahu menantunya. Ayahmu teleponin terus nanyain kamu dan Gita. Dia juga kecewa karena gak diundang datang ke pernikahan kamu.”


“Aku gak mau ngajak Gita ketemu ayah. Lagian ibu ngapain sih masih suka komunikasi sama dia? Udah ah, aku gak mau ngomongin dia! Bikin kesel!”

__ADS_1


 


__ADS_2