
“Kok kelihatan bingung kayak gitu sih? Kirain kamu udah tahu. Dia ninggalin kamu dalam keadaan hamil muda, kan?” kata Aditya tampak polos.
“Siapa aja yang tahu?”
“Aku, kamu, Adrian, Basuki—“
Arki langsung berdiri dari sofa dan berjalan meninggalkan Aditya sendiri. Perasaan kaget, bingung, dan bahagia sekarang berubah menjadi ketakutan. Kalau Basuki sampai tahu masalah ini, dia pasti akan langsung mengadukannya pada Arya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Gita kalau Arya tahu tentang kabar itu.
Mungkinkah Arya belum tahu?
Aditya sialan!
Tapi dalam keadaan terpojok seperti ini, Basuki pasti bertindak sendiri untuk mendapatkan nama baiknya kembali di depan Arya. Dia akan berusaha membuktikan bahwa dia berguna dengan menyakiti bahkan menyingkirkan Gita. Jika Arya tahu kalau Gita hamil, pasti dia tidak akan segan untuk melenyapkannya. Anak dalam kandungan Gita akan menghalangi jalannya untuk menjodohkan Arki dengan Amanda.
Arki segera masuk ke mobilnya, mengendarainya dengan kecepatan tinggi untuk pergi ke tempat Gita. Basuki sudah cukup lama meninggalkan rumah Arya. Arki takut dia gelap mata dan langsung pergi menemui Gita. Jika hal itu tidak dilakukannya pun, setidaknya Arki ingin memastikan bahwa Gita baik-baik saja.
Selalu seperti ini. Arki akan selalu bereaksi seperti ini saat pikiran buruk terlintas tentang Gita. Dia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk bertindak impulsif dan panik saat itu juga. Bahkan Arki tidak peduli dengan rencana yang masih harus dijalankan olehnya bersama Adrian dan Aditya. Sekarang dia hanya ingin melihat Gita selamat.
Dalam beberapa jam saja Arki sudah sampai di depan kedai milik Gita. Hatinya mencelus. Ketakutan yang dirasakannya sejak tadi memang beralasan. Bukan hanya pikiran buruk yang ada dalam kepalanya saja.
Beberapa orang berbadan besar sedang menghancurkan meja dan kursi kedai Gita. Semua peralatan memasak terlempar ke luar. Suara-suara teriakan terdengar dari dalam.
Kemarahan Arki seketika mendidih. Dia turun dari mobilnya. Hilang akal dan menghajar semua orang-orang yang menghancurkan kedai Gita. Dia tidak peduli lagi dengan apapun, selain memukul membabi buta hingga orang-orang itu terkapar. Arki segera berlari ke dalam ruko dan naik ke atas.
Sekali lagi pemandangan yang dilihatnya begitu menakutkan. Di sana Basuki berdiri, sedang menjambak rambut Gita. Dengan wajah yang penuh memar dan da rah, Gita menangis memohon agar laki-laki jahat itu berhenti. Tidak kalah memilukan, di ujung ruangan Risa di cengkram oleh bawahan Basuki. Berteriak dan menangis agar menghentikan perbuatan Basuki pada kakaknya.
“BASUKI ANJING!!” teriak Arki penuh emosi.
__ADS_1
Tanpa jeda dia langsung menerjang Basuki hingga tersungkur ke lantai. Arki langsung menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi. Dia tidak peduli jika Basuki mati karena terluka parah. Setelah dihajar habis-habisan oleh Aditya, rupanya dia tetap masih bisa berbuat layaknya penjahat seperti sekarang.
Arki menyesal dulu pernah menaruh hormat pada laki-laki licik ini. Dulu dia mengira bahwa Basuki berbeda dari ayahnya. Ternyata dia sama saja. Dibutakan oleh jabatan dan kemewahan yang diberikan Arya, hingga rasa kemanusiaannya hilang begitu saja. Bisa-bisanya dia menghajar perempuan, hingga babak belur.
“Gue pikir lo gak se b a j i n g a n ini?! Lo mau buktikan kalau lo berguna buat Arya dengan berbuat kayak gini?! Anjing! Setan!” racau Arki sambil terus menghujam pukulannya. Dia berhenti beberapa saat untuk mengambil napas, yang rasanya kian sesak karena amarahnya.
“Harusnya istri kamu udah mati dari lama! Pak Arya terlalu lembek dengan ngebiarin dia bebas!” balas Basuki sambil menyeringai.
Harusnya sejak dulu dia melenyapkan keberadaan Gita. Arya juga sudah tidak peduli dia hidup atau tidak persembunyiannya. Hal yang diinginkannya agar Arki kembali dan menjodohkannya dengan Amanda telah tercapai. Dulu. Sebelum akhirnya bocah menjengkelkan itu saling bekerja sama dengan saudaranya untuk menghancurkan Basuki dan juga ayah mereka sendiri.
Mendengar perkataan Basuki yang tidak merasa bersalah. Semakin membuat Arki murka. Dia menghamburkan tinjunya kembali pada Basuki hingga da rah mengalir deras dari hidungnya. Bawahan yang tadi mencengkram Risa bergegas mengambil sebuah tongkat kayu bekasnya menghancurkan kedai, yang tergeletak dilantai.
Satu hantaman langsung memukul kepala Arki. Telinga Arki seketika berdengung, matanya nyaris mengabur dan hampir terjatuh hingga ambruk. Tapi adrenalinnya yang terlampau tinggi, diliputi kemarahan dan perasaan panik, membuat Arki mengalihkan fokusnya pada orang yang memukulnya. Tak segan dia langsung menendang perut orang itu hingga jatuh terlentang. Tongkat kayu terlepas dari genggaman, Arki segera mengambilnya. Dengan kekuatan penuh dan dan amarah yang bergejolak berkali-kali Arki memukulkan tongkat tersebut pada si laki-laki yang kini sudah nyaris tak sadarkan diri.
“Pak Arkian!” seru seorang laki-laki kurus berambut keriting, yang diikuti oleh dua orang lain di belakangnya. Arki mengenal orang itu. Danu. Mencoba menghentikan Arki sebelum dia menewaskan seseorang dan terseret kasus hukum lebih jauh.
Mereka memegangi Arki agar tidak lagi memukuli laki-laki yang berada di bawah tubuhnya. Arki menghempaskan semua cengkraman mereka dan berdiri. Melemparkan tongkat kayu ke sembarang tempat.
Arki begitu ketakutan dan panik hingga gemetar. Tanpa kata-kata apapun lagi, dia segera menggendong tubuh Gita dan menuruni tangga. Membawanya menggunakan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Risa mengekor dibelakang. Sesampainya di IGD, Gita dan Risa segera mendapatkan penanganan. Sementara Arki menunggu di sebuah kursi, dengan air mata yang tidak bisa berhenti bercucuran dan tangan yang gemetar. Penuh dar ah serta luka-luka di buku-buku jemarinya.
“Pak,” kata seorang perawat mendekati Arki, membawa sebuah kotak obat ditangan. “Coba saya lihat sebentar luka dikepalanya. Sepertinya Bapak juga perlu diobati,” ucapnya lagi.
Arki menyentuh kepala belakangnya yang sekarang baru terasa sakit, setelah si perawat mengatakan ada luka dikepalanya. Dar ah segar mengotori tangannya. Tanpa menolak Arki mendapatkan perawatan juga. Dia baru merasa pusing dan nyeri saat perawat mulai mengobatinya.
“Istri saya gak apa-apa, kan, Sus?” kata Arki yang belum bisa menghilangkan ke khawatirannya. Gita masih dalam penanganan. Belum ada satupun dokter atau perawat yang memberikan kabar. “Dia lagi hamil,” lanjut Arki.
“Iya. Tadi Bapak sudah bilang. Tenang dulu ya, dokter sedang melakukan penanganan,” ucap perawat menenangkan.
__ADS_1
“Istri saya gak akan meninggal, kan, Sus?”
“Istri Bapak pingsan, tanda vitalnya masih bagus. Meskipun luka di kepalanya harus diperiksakan lebih lanjut. Nanti dokter yang akan memberitahukan informasi selanjutnya,” pungkasnya menyelesaikan pengobatan pada Arki. Saat si perawat itu beranjak, dering telepon terdengar di saku celana Arki. Adrian menghubunginya.
“Arkian, gila ya kamu! Bisa-bisanya pergi begitu saja ketemu istrimu. Kamu gak paham resiko rencana kita bakal kacau?!” serang Adrian.
Amarah Arki yang sempat turun kini meluap kembali. “Bisa-bisanya lo ngasih tahu Basuki tentang kehamilan Gita! Lo gak tahu apa yang bakal dia lakukan sama istri gue kalau gue gak datang tepat waktu ke sini?! Sekarang Gita di rumah sakita dan hampir tewas! Urusan gue udah selesai semua kan sama lo?! Sekarang giliran lo mau ngelakuin apa aja sama Arya! Gue berhenti!”
“Kamu gak bisa—”
“Sorry, Ki. Aku beneran gak tahu kalau orangnya Adrian yang menyusup bakal ngasih tahu soal kehamilan Gita. Dia diperintahkan sama Basuki buat mengawasi disana. Ternyata dia beneran laporan sama Basuki soal itu,” kata Aditya mengambil alih panggilan. “Aku udah tugasin Danu dan orang-orangku ke sana buat beresin Basuki. Arya juga belum tahu apa-apa soal ini. Kemungkinan Basuki bergerak sendiri dan belum ngasih tahu Arya. Jadi tenang aja, disini kita yang cover masalah ini,” lanjutnya.
“Gue gak mau tahu dan denger apapun lagi. Kalau sampai Gita kenapa-kenapa, gue bakal salahin lo berdua!”
“Tenang dulu dong, Ki! Kamu tahu kita masih belum melakukan rencana kita sampai akhir.”
“Udah gue bilang, gue gak peduli. Mau kalian siksa atau bunuh Arya sekarang juga. Terserah! Malah itu lebih baik. Gue sendiri yang bakal bunuh Basuki.”
Sambungan terputus begitu saja saat Arki mematikan telepon. Dia memang ingin Arya mati saja sekarang, pergi ke neraka bersama Basuki. Arki tidak peduli jika Adrian masih mengharapkan dirinya untuk meminta tanda tangan Arya pada surat wasiat yang sudah mereka susun. Arki hanya akan pulang ke rumah itu setelah Gita sadar dan langsung menghabisi ayahnya. Semua hal ini terjadi karena dia. Penyebab Gita mengalami semua ini adalah Arya.
“Suami Bu Gita?” kata seorang dokter perempuan keluar dari balik tirai dan menghampiri Arki.
“Dokter, gimana—”
“Tenang dulu,” ucap dokter tersebut menyuruh Arki untuk tenang agar mudah diajak berbicara. “Bu Gita mengalami luka di bagian kepala sebelah kiri akibat pukulan benda tumpul. Terdapat penda rahan luar, meskipun tidak dalam dan sudah dijahit. Tidak ada penda rahan otak seperti yang dikhawatirkan. Wajah, kaki, dan tangannya mengalami memar-memar sedang hingga ringan. Saat ini Bu Gita sudah tersadar dan diberi obat tidur agar bisa beristirahat,” kata dokter menjelaskan.
“Bayi dalam kandungannya gimana?”
__ADS_1
“Gak ada masalah. Bayinya sehat. Mungkin nanti Bu Gita akan mengalami sedikit shock karena kejadian tadi dan mengalami kram perut. Tapi tidak berbahaya. Nanti bisa dikonsultasikan dengan dokter kandungan. Adiknya Bu Gita juga hanya mengalami memar-memar saja dan sudah boleh pulang setelah observasi beberapa jam."
Dokter tersebut meninggalkan Arki setelah dihujani banyak pertanyaan penuh kekhawatiran. Arki kini bisa bernapas lega karena Gita baik-baik saja. Untung saja. Dia tidak ingin kehilangan Gita lagi. Merasakan kesedihan yang sama berulang-ulang ketika Gita dinyatakan meninggal. Kali ini, Arki akan melindungi Gita sekuat tenaga dan mendekapnya erat agar tidak pernah lepas.