Istriku Penipu

Istriku Penipu
Penipu Sebenarnya


__ADS_3

“Kamu kenal sama Bang Nathan?” tanya Arki pada Gita yang terlihat sangat shock.


Gita hanya menggeleng pelan. Nathan dan Arki lantas tersenyum kecil. Kemudian mengobrol dan bertukar kabar lagi sejenak. Seakan pura-pura tidak melihat reaksi Gita yang tampak kaget dan membeku di tempat. Perasaan jumawanya yang tadi mencibir Nathan seketika lenyap.


“Aku pergi dulu ya, Ki. Mau balik ke tempat teman yang lain,” ucap Nathan.


“Oke. Thank you ya, Bang!” balas Arki.


Seluruh tubuh Gita rasanya lemas, dia nyaris ambruk karena kepanikan dan ketakutan yang menyerbu. Keringat dingin berlarian di tengkuk. Gita hanya bisa menatap Arki dengan pandangan berkabut nyaris menangis. Semua dugaannya, hal paling menakutkan yang ada dalam pikirannya, bisa jadi adalah kenyataan.


Apakah dia bisa lepas dari Arki dan mengajukan gugatan perceraian? Hatinya bahkan tidak sanggup bertanya seperti itu lagi sekarang.


“Kamu gak apa-apa, Git?” Arki meraup kedua pipi Gita, dan mendekatkan wajahnya. Kedua mata mereka beradu temu. Gita semakin ketakutan melihat gelap jelaga mata Arki, yang mengisyaratkan sesuatu.


“Aku … mau pulang,” jawab Gita lemah.


Arki mengangguk dan tersenyum, menggenggam tangan Gita yang sudah berubah menjadi sedingin es karena ketakutan. Dia kemudian menuntun Gita berjalan, entah kemana. Jelas bukan menuju ke pintu keluar.


“Aku pingin kamu ketemu seseorang dulu,” kata Arki menjawab tanya yang ada dihati Gita.


Sekumpulan perempuan sedang asyik mengobrol. Bersenda gurau duduk di meja melingkar. Terdengar suara tawa nyaring diantara mereka. Seorang perempuan menangkap sosok Arki yang mendekat kemudian melambaikan tangan.


“Hai Kak Raisa,” kata Arki menyapa dan memeluknya.


“Aduh Arki, makin ganteng aja nih anak. Padahal dulu masih kecil dan cengeng kalau kalah rebutan mainan sama Rio,” ucap Kakak Rio itu terlihat bahagia. “Eh ini ya istri kamu tuh?” lanjutnya sambil melihat Gita.


Arki hanya mengangguk kemudian mengalihkan pandangan pada perempuan berhijab disamping Raisa. “Aku mau ketemu kakak ipar Mbak Dina. Beliau datang kesini, kan?” ucap Arki.


“Dateng kok, tadi duduk disini. Lagi ambil minum kayaknya.” Perempuan bernama Dina mengedarkan padangan. “Tuh yang pake baju dan kerudung hijau disana!” lanjutnya menunjuk seseorang dikejauhan.


Arki berpamitan dengan cepat, kemudian menghampiri orang yang dicarinya. Perempuan yang sedang mengambil beberapa pastry itu tampak kaget saat mereka menghampiri. Arki kemudian memperkenalkan diri sebagai kenalan Dina.


“Oh iya. Ada apa ya, Mas Arki?” tanyanya yang tampak masih bingung.


“Gak apa-apa. Saya cuma mau menyapa Dokter Dewi aja. Makasih udah periksa kandungan istri saya. Harusnya minggu ini ada jadwal lagi, tapi ternyata ada halangan. Iya, kan, Git?"


Gita langsung membeku seketika. Mencengkram erat genggaman tangan Arki.


"Kok diem? Masa kamu gak mau nyapa dokter kandungan kamu sendiri sih? Dokter Dewi Wilarmi.” lanjut Arki pada Gita sambil tersenyum. Menekankan tiap kata kalimat terakhirnya.


Jantung Gita seakan di sambar oleh alat kejut. Hingga dia tidak sanggup berkata-kata bahkan berdiri. Kakinya seakan mencair dan siap tumbang saat itu juga. Untungnya Arki menggenggam erat tangan sebeku es itu, menghentaknya agar tetap berdiri tegak.

__ADS_1


Ditengah kepanikan yang memburu dipikiran Gita, mata Arki seakan melebur jadi bara. Dia terus menatapnya tajam penuh peringatan. Senyum yang nyaris terlihat seperti seringaian, menandakan kemenangan.


“Kenapa? Kaget, ya? Aku sengaja bawa kamu kesini buat kasih kamu hukuman,” bisik Arki ditelinga Gita.


...****************...


Arki memasuki rumah setelah memarkirkan mobil ke garasi. Saat melihat sosok itu berjalan dari pintu, Gita segera berdiri dari sofa. Tubuhnya gemetar hebat seperti berada di tengah udara kutub. Padahal AC di rumah tidak terlalu dingin. Air mata berjatuhan dari pipinya, lolos begitu saja tanpa bisa ditahan.


“Ikut!” ucap Arki singkat, menyelia pandang singkat pada Gita. Kemudian terus berjalan menuju ruang kerjanya.


Gita dengan patuh mengikuti langkah di belakangnya. Kalut, takut, kacau, resah, panik, pusing, bimbang, dan ingin mati saja seketika itu juga. Semuanya beredar riuh di kepala dan hatinya. Menyulut setiap inderanya untuk terus memberikan peringatan kewaspadaan.


Arki sudah tahu kebohongannya.


Kini Gita duduk menciut di kursi kerja Arki. Punggungnya bersandar, menopang tubuhnya yang lemas seperti kain basah. Gemetarnya tidak bisa berhenti dan tangis berubah menjadi isakan yang semakin menjadi.


Apalagi saat Arki menarik sebuah dokumen dari laci kerjanya, berisi persyaratan gugatan cerai yang Gita simpan, entah dia dapatkan dari mana. beberapa lembar amplop berlogo rumah sakit dan foto USG palsu serta sebuah test pack yang Gita berikan dulu padanya.


Arki berdiri menjulang di depan Gita. Menatapnya dengan pandangan dalam, kelam, dan tajam. Dia membungkukan tubuhnya, masih terus beradu tatap, wajanya begitu dekat. Embusan napasnya bisa Gita rasakan. Arki tetap terlihat tenang, namun jauh didalam pandangnya sangat membahayakan.


“Arki … aku …” suara Gita tercekat ditenggorokan. Isakan tidak mau lepas dan membiarkannya bersuara dan menyusun kata. “…minta … maaf …” lanjutnya penuh perjuangan. Kedua tangannya kini berada di kedua bahu Arki, mencengkram erat kemejanya hingga berkerut kusut.


“Kamu pura-pura hamil dan menipuku demi uang. Memang cukup dengan maaf aja?” Arki mencengkram kedua tangan Gita dengan kuat.


“Aku gak butuh uang. Kamu pikir ganti rugi cuma perihal uang? Soal materi doang? Gimana soal ganti rugi moral? Aku nikahin kamu, Gita. Kamu mau ganti rugi itu dengan apa?”


“Aku bakal bayar semuanya…”


“Aku tanya, kamu mau ganti rugi itu dengan apa?!” bentak Arki.


“Aku gak ngerti … aku gak tahu …”


“Aku ngasih kamu semuanya, Gita. Uang, perhatian, kenyamanan. Bahkan maaf dan kesempatan buat jujur aja aku kasih. Tapi kamu kasih aku apa? Gugatan cerai. Kamu pikir kamu hebat bisa sewa pengacara dan gugat cerai aku tanpa aku tahu? Hah?” Arki berbicara tenang kembali. Tangannya mencengkram rambut Gita, menjambaknya hingga perempuan itu tersentak ke belakang.


“Arkian…” Gita meringis kesakitan. Memegangi lengan Arki yang mencengkram erat rambutnya.


“Aku bisa laporin kamu ke polisi pas tahu kamu palsukan kehamilan buat menipuku, tapi nggak. Aku tunggu sampai kamu sadar sendiri sama kesalahanmu. Sekarang aku udah kecewa. Semua kebaikanku udah terlalu jauh kamu manfaatkan. Kamu sewa Nathan buat gugat cerai dan nuntut ganti rugi?” Arki tertawa merendahkan ide gila Gita.


“Aku tahu dokter yang menangani kamu, utang kamu, atasan kamu, pengacara yang kamu datangi, uangku yang kamu simpan diam-diam. Aku tahu semuanya soal kamu, Gita. Terus kamu pikir bisa lawan aku? Cerai dariku setelah semua yang aku kasih?” ucapnya sinis.


Arki mendekatkan wajahnya, mencium leher Gita dan menjelajahinya. Satu tangannya masih terus mencengkram rambut Gita dengan kasar. Mencegah agar perempuan itu tidak bergerak liar. Tapi Gita terlanjur lemas dan ketakutan. Dia tidak sanggup membendung semua ciuman kasar di leher, wajah, dan juga bibirnya. Menjijikan sekaligus menakutkan.

__ADS_1


“Kamu udah bikin aku kecewa, Git. Aku bakal laporkan kamu ke polisi, termasuk orang-orang yang tahu dan bantu kebohongan kamu. Siapa temen kecil kamu itu? Mia?” Bisik Arki penuh ancaman di telinga Gita. “Aku akan seret dia dan keluarganya juga. Kasihan kakaknya lagi hamil, bisa-bisa dia keguguran karena shock,” lanjut Arki tanpa ampun. Terus menyeringai jahat.


“Arki, please. Jangan libatin Mia sama keluarganya. Biar aku aja yang dipenjara. Tolong jangan bawa-bawa mereka. Mereka gak salah apa-apa,” ucap Gita panik dan putus asa.


Arki melepaskan cengkramannya dari rambut Gita. Namun tangannya beralih mencengkram dagu perempuan itu dengan kasar.


“Penipuan bisa dijerat dengan pasal 378 KUHP dengan hukuman maksimal 4 tahun penjara. Belum lagi kamu memalsukan keterangan dari Rumah Sakit Bunda Medika, terus kamu mencatut nama dr. Dewi Wilarmi di hasil pemeriksaan palsu kamu itu. Kamu bisa dijerat dengan pasal berlapis, Git. Kamu dan temanmu bisa dipenjara selama 8 atau 10 tahun maksimal.”


“Arkian, aku minta maaf. Please jangan laporin Mia dan keluarganya. Aku mau ganti rugi apapun, kamu boleh minta berapa pun asal jangan libatin orang lain!” Gita terus memohon. Air matanya sudah tidak karuan berjatuhan.


“Udah aku bilang, aku gak butuh uang.”


“Aku mau ngelakuin apa aja buat kamu, aku bisa jadi apa aja buat kamu.”


Arki terkekeh. “Kalau gitu jadi p e l a c u r k u, bayar semua ganti rugi materi dan moral karena kebohongan pake tubuh kamu. Layani aku sampai aku bosan dan gak butuh kamu lagi, baru kamu boleh pergi dan gugat cerai aku. Gimana?” Arki tersenyum miring. Menatap kelam pada Gita yang sangat kaget dengan ide tersebut.


Gita semakin gemetar. Ketakutan menghantamnya hebat. Dia harus melayani kebutuhan biologis laki-laki ini untuk membayar semua kebohongan dan menyelamatkan Mia. Arki benar-benar merendahkan dan menghukumnya.


Hatinya terasa sakit karena tawaran tidak waras tersebut. Satu-satunya yang dia miliki hanya kehormatannya. Gita tidak akan sanggup hidup jika hal paling berharganya direbut. Apalagi oleh Arki, orang yang sangat dibencinya. Tapi sekarang dia tidak punya pilihan sama sekali.


“Kamu bakal tetap mendapatkan kenyamanan, kehidupan yang aman, pekerjaan, perlindungan dan aku bakal kasih kamu kenikmatan.” Jemari Arki menyusur bibir Gita dengan lembut. “Cuma kita yang tahu soal ini. ibuku dan teman kamu, gak akan ada yang tahu perjanjian kita. Tapi ingat, jangan-jangan macam-macam. Kabur, bunuh diri, atau tindakan lain yang berbahaya. Aku bakal tahu semua gerak-gerik kamu, Gita,” lanjut Arki menjelaskan penuh ancaman.


“Aku gak bisa,” bisik Gita terus menggeleng. Dia tidak ingin melakukan perjanjian kotor tersebut.


“Kalau gitu aku siapkan bukti biar bisa laporkan kasus kamu malam ini ke polisi.”


“Arkian, Please. Kamu bisa kasih persyaratan lain.”


“Aku hitung sampai 5. Terima tawaranku atau aku jebloskan kalian semua ke penjara! 1 … 2 … 3 … 4—”


“Iya aku mau! Aku bakal layanin kamu,” potong Gita panik.


Pikirannya riuh dan hatinya mencelos jatuh. Tangisnya kian luruh dan gemuruh rasa bersalah terus tumbuh. Kebohongannya membawa petaka pada dirinya sendiri. Kini Gita menyetujui ide paling menyeramkan yang pernah dia bayangkan seumur hidupnya. Menjadi budak dan melayani seorang laki-laki yang sangat mengerikan ini.


Arki tersenyum dan masih menatap penuh pada Gita yang ketakutan. Kemenangan dan rencananya berjalan sesuai keinginan. Gita sekarang ada dalam genggaman.


Gita pikir selama ini telah menipunya. Salah. Arkilah yang selama ini menipu Gita.


Menjebaknya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2