Istriku Penipu

Istriku Penipu
Kesempatan


__ADS_3

Amanda sibuk dengan mobilnya yang tiba-tiba tidak bisa menyala di parkiran. Sudah hampir setengah jam dia terus mencoba menyalakannya, tetapi tidak kunjung hidup juga. Aneh. Padahal pembantunya biasanya mengecek kondisi mobilnya sebelum berangkat.


Saat dia akan menelepon supir keluarga untuk menjemputnya, Arki muncul di parkiran. Terlintas ide untuk mendekatinya. Mungkin ini kesempatan dari Tuhan untuk Amanda. Meskipun dia tidak tahu apakah usahanya itu akan berhasil atau tidak.


“Pak Arki!” Amanda memanggil.


Sebenarnya Arki sudah melihatnya dari tadi, dia mengabaikannya. Namun saat Amanda memanggil, akhirnya dia menghampiri.


“Kenapa?”


“Mobilku hak bisa dinyalakan. Boleh minta tolong untuk periksa?”


“Aku gak terlalu paham soal mobil. Mending kamu telepon bengkel aja buat ambil mobil kamu buat diperbaiki,” ucap Arki dingin.


Dia hanya malas saja mengotak-atik mesin saat ini. Tubuhnya rasanya lelah, karena pekerjaan, pikirannya yang rumit, dan seharian nyaris tidak makan. Arki hanya menyuap beberapa sendok bekal dari Amanda dan bergelas-gelas kopi. Lidahnya tidak berselera memakan apapun. Semuanya terasa hambar dan membuat mual.


Arki mulai melangkah pergi. Tapi Amanda menarik tangan Arki untuk menghentikannya. Dia benar-benar tidak bisa melewatkan momen ini begitu saja untuk kemudian menyerah.


“Kalau gitu aku boleh numpang di mobil Pak Arki? Kali ini saja, Please! Ini udah malam, aku takut pulang sendirian.”


Arki mendengus. “Ikut!” katanya sambil berjalan menuju mobilnya.


Seketika Amanda langsung berbinar bahagia. Mengikuti langkah Arki menuju mobilnya. Senyumnya tidak hilang saat berhasil duduk berdampingan sambil berkendara dengan Arki. Hal yang selalu dibayangkannya selama ini.


“Kamu bisa saja naik taksi online atau telepon supir kamu buat jemput. Aku yakin keluarga kamu cukup kaya buat mempekerjakan supir. Tapi aku melakukan ini cuma mau dengar sesuatu dari kamu.” Arki memulai pembicaraan.


“Pak Arki boleh tanya apa saja. Aku siap menjawab dengan jujur.”


“Kenapa kamu ngotot banget buat mendekatiku? Kesepakatan seperti apa yang kamu, keluargamu, dan ayahku buat? Aku tahu kamu orang suruhan Arya Wibisana, kan?”


Arki masih belum bisa menerima kehadiran Amanda karena perasaan tidak suka pada ayahnya. Meskipun semua hal yang ditawarkan padanya baik, Arki tidak ingin melakukannya jika itu adalah perintah Arya.


“Aku gak tahu apa-apa soal kesepakatan mereka. Aku melakukan ini karena suka dan jatuh cinta sama Pak Arki sejak dulu.”


Amanda tidak mengerti kesepakatan apapun yang dibuat oleh ayahnya dengan ayah Arki. Selama ini dia bergerak sendiri menawarkan diri kepada Arya agar dijodohkan dengan Arki. Urusan bisnis antara keduanya bukanlah masalah Amanda.

__ADS_1


“Kamu mau menerima keuntungan apa dari perjodohan ini? Uang? Status sosial yang lebih tinggi? Kesempatan jadi istri penerus keluarga Wibisana? Percuma. Kamu dan keluargamu gak akan mendapatkan apa-apa. Aku gak akan jadi penerus keluarga Wibisana."


“Aku gak mau apa-apa dari keluarga Wibisana selain Pak Arki. Semua perasaanku sama Pak Arki itu tulus karena aku sayang dan ingin jadi istri Pak Arki.”


Amanda merasa terluka karena tuduhan Arki tentang dirinya. Dia sama sekali tidak peduli tentang uang ataupun status sosial yang akan didapatkannya setelah mendapatkan Arki. Impian Amanda hanya ingin bersanding dengan laki-laki pujaan hatinya.


“Oh ya? Kalau kamu merasa tulus dan sangat ingin jadi istriku. Berarti kamu siap melakukan hal yang aku perintahkan, mematuhiku dan gak akan membantah?”


“Aku mau melakukan apa saja buat Pak Arki. Asal Pak Arki membalas perasaanku.”


“Berhenti berhubungan dengan Arya Wibisana! Jangan pernah meminta bantuan apapun dari dia. Aku akan pertimbangkan tentang hubungan kita.”


Amanda tersenyum mendengar itu. Dia juga tidak masalah jika tidak mendapatkan bantuan apapun dari Arya. Sekarang Arki sudah mulai membuka diri untuknya. Hanya perlu mendekatinya lebih keras dan menyingkirkan istrinya.


“Iya, aku akan mengikuti permintaan Pak Arki.”


Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Amanda sibuk dengan kebahagiaannya. Kesempatan yang sudah lama dinantikan. Arki melihat dan mempertimbangkan hubungan mereka. Mungkin dengan ini, akhirnya mereka akan lebih dekat lagi nanti.


Sementara Arki juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia benar-benar akan mempertimbangkan hubungan dengan Amanda. Menyingkirkan bayangan tentang Gita selamanya dalam pikirannya.


...****************...


Gita menyiapkan makan malam untuk Arki. Berbagai menu makanan disajikan. Dia khusus membuat berbagai menu baru yang resepnya Gita dapatkan dari Mia. Mungkin dengan hal kecil seperti ini bisa membuat Arki menjadi bersemangat kembali. Sejujurnya, Gita tidak suka melihat Arki yang tampak lesu seperti kemarin-kemarin.


Gita menunggu hingga pukul tujuh malam. Arki belum juga pulang. Hatinya tiba-tiba gusar. Bahkan seharian ini rasanya tidak tenang. Dia semakin sulit mengendalikan perasaannya sendiri pada Arki. Apakah Gita mulai terbiasa dengan kehidupannya bersama Arki? Apakah hatinya pun mulai luluh padanya?


Bolehkah perasaan seperti ini tumbuh? Seperti yang Arki perintahkan dulu, untuk jatuh cinta padanya agar semua menjadi mudah.


Ruangan dapur sangat hening, hanya Gita yang duduk sendirian di meja makan sambil melamun. Pikiran berkeliaran menakutkan. Mencoba menghilangkan perasaan mengganggu yang tidak seharusnya ada. Sungguh keji memang terbuai dan terbiasa, hingga Gita nyaris merasa hal seperti ini adalah cinta. Atau memang benar begitu adanya?


Arki baru pulang pukul delapan malam. Wajahnya terlihat lelah, bingung dan penuh beban pikiran. Gita tidak tahu apa yang terjadi di kantor suaminya. Pekerjaan seperti apa yang sedang ditanganinya. Tapi jelas sesuatu yang sulit diurai pikiran, hingga saat pulang Arki tampak sangat berantakan.


“Kamu udah makan malam?” tanya Gita saat melihat Arki memasuki dapur.


Arki tertegun. Dia hanya memandang Gita dan tidak berbicara. Menelisik dengan lekat perempuan yang duduk di meja makan tersebut. Dia mengenakan gaun tidur berwarna merah, membuat kulitnya yang seputih susu terlihat indah. Arki selalu menyukai warna merah dikenakan oleh Gita.

__ADS_1


Sejak kapan dia bertambah mempesona? Seakan Arki baru saja melihatnya seperti ini setelah sekian lama.


“Belum,” jawab Arki singkat.


Tubuhnya seperti dihipnotis mendekat dan duduk di depan Gita, dengan pandangan mata yang tidak terlepas darinya. Gita menyendok nasi dan lauk pauk ke piring yang disajikannya di hadapan Arki.


“Aku masak ayam dari resep terbarunya Mia. Dia pakai untuk jualan di warung makannya,” kata Gita tersenyum canggung. Tidak terbiasa bermanis-manis dihadapan Arki.


Sudah Gita duga, Arki tidak bereaksi. Dia masih saja menatapnya sedari tadi. Terlihat seperti kebingungan sendiri. Apakah berlagak manis tidak cocok Gita tampilkan? Apakah Arki malah bertambah sebal dan marah padanya?


“Cepetan makan! Lauknya udah mulai dingin soalnya kamu pulangnya malam banget,” omel Gita.


Arki akhirnya melepaskan pandangannya dari Gita dan beralih ke piringnya. Dia menyendok satu suapan ke mulut. Merasa ditampar oleh kenyataan bahwa dirinya kini merasa kalah. Oleh tubuhnya sendiri dan perasaannya. Arki sangat menyukai makanan yang dibuat oleh Gita.


Lidahnya seperti kembali berpesta, merasakan perpaduan rasa dan aroma yang membuat selera makannya melonjak tiba-tiba. Arki tidak bisa berhenti menyuap makanan berkali-kali. Seakan semua rasa laparnya muncul sendiri. Padahal seharian dia tidak ingin menelan apapun.


“Arki, pelan-pelan makannya! Nanti tersedak. Kamu kenapa sih?” Gita heran sendiri melihat Arki, seperti tidak makan sejak pagi saja. Padahal dia makan makanan yang disediakan kantor, kan?


Setelah membersihkan diri, Arki mendekap tubuh Gita dari belakang, membuat perempuan itu kaget dan hampir menjatuhkan piring yang dicucinya. Sepanjang leher dia menyapukan ciuman, menyingkirkan surai hitam yang menutupi kulit indah punggung Gita. Arki menyukai kehangatan dan kelembutan tubuh perempuan itu.


Nalarnya lagi-lagi kalah dihancurkan oleh hasrat yang berkejaran tidak tentu arah, saat menatap sosok Gita malam ini yang begitu menawan. Pikirannya berkabut dan kalut ingin diberikan sentuhan. Arki baru tersadar selama seminggu penuh tidak merasakan kenikmatan yang amat dirindukan.


Tidak begitu lama mereka mulai saling menyesap, menggulung perasaan diantara kecupan di atas ranjang. Arki mengedarkan lidahnya di dada ranum dan indah milik istrinya. Mencerup penuh semangat seakan tidak memiliki kesempatan lagi melakukannya.


Kewarasannya semakin berhamburan, ketika mulai melesakkan penggawa ke belantara kenikmatan tubuh Gita. Di bawah tubuh dan kuasanya, Gita merintih perih sekaligus menginginkan lebih, agar Arki terus mendekapnya rapat. Satu-satunya kesempatan baginya untuk terus berada di sisinya dan sedekat ini.


Arki melecutkan semangat, bergerak kian mantap. Menjemput kenikmatan yang telah berada di ujung pertarungan. Erangan, peluh, rintihan, dan suara mereka yang berpadu riuh di kamar semakin ramai terdengar. Mereka saling memeluk menyatukan diri sebelum akhirnya saling menegang, melepaskan, dan meluruh menjadi satu.


B a j i n g a n!


B r e n g s e k!


S i a l a n!


Arki mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melepaskan pengaruh Gita di dalam benak dan dekapannya. Padahal baru beberapa jam yang lalu dia mengatakan akan mengenyahkan perempuan yang masih sibuk dia gauli ini. Hati dan pikirannya tidak berkesudahan beredar untuk Gita.

__ADS_1


Kenapa begitu sulit menuntaskan hubungan ini?


__ADS_2