
Yuni membuka pintu ruangan Arki setelah dipersilakan masuk. Seorang perempuan cantik mengekor di sebelahnya. Tampak sedikit gugup. Tapi senyuman tidak pernah meninggalkan bibirnya. Dia mencoba untuk terlihat berani dan profesional, agar tidak meninggalkan kesan buruk pada atasan barunya.
“Pak Arki, ini Amanda Dahayu Nugratama. Karyawan baru yang akan bergabung di divisi internal audit,” ucap Yuni memperkenalkan orang di sebelahnya.
Arki berdiri dari kursinya dan menjabat tangan Amanda. “Saya Arkian, Senior Manager di divisi internal audit. Selamat bergabung dengan tim. Semoga betah,” ucap Arki berbasa-basi.
“Saya Amanda. Mohon bimbingannya ya, Pak.” Amanda ikut menjabat tangan Arki dan tersenyum manis.
“Oke. Kamu bisa tanya langsung job desk dan pengaturan kerjaannya kayak gimana sama Pak Arki. Saya tinggal kalau gitu.”
Yuni berpamitan dan meninggalkan ruangan. Kini tinggal Arki dan Amanda yang berada disana. Suasana canggung kentara saat Amanda duduk di kursi dihadapan Arki. Sementara laki-laki itu mengecek sesuatu di komputer selama beberapa saat, sebelum akhirnya memandang perempuan dihadapannya.
“Kamu nanti split kerjaan dulu sama Desi. Kebetulan dia sebentar lagi mau mengajukan cuti hamil. Mungkin sekitar sebulanan lagi. Jadi kamu ada waktu belajar sebelum on hand kerjaan,” kata Arki memberi penjelasan.
“Iya. Siap, Pak. Saya senang dapat kesempatan belajar sama, Pak Arki. Sebelumnya kita pernah ketemu, kan?”
Arki menautkan alisnya bingung. Tidak mengenal gadis dihadapannya, apalagi bertemu. Entahlah. Dia terlalu banyak bertemu dengan perempuan cantik disepanjang hidupnya. Mungkin memang mereka pernah berkenalan sebelumnya, tapi Arki melupakannya.
“Saya gak inget.”
“Saya pernah lihat Pak Arki di acara keluarga Hadiningrat,” kata Amanda mencoba mengingatkan.
“Saya sering ke acara Rio dan keluarganya. Mungkin memang kita pernah ketemu, tapi saya gak ingat. Meskipun saya ingat pun, kalau bekerja dan berhubungan profesional dengan saya, penilaian saya tetap objektif sesuai kinerja kamu. Kamu disini tujuannya buat belajar, kan? So, do your best!”
Arki mendial nomor ekstensi dan menyuruh Desi ke ruangannya. Perempuan tinggi dan kurus tak lama masuk. dia kemudian memperkenalkan diri pada Amanda dan membawanya pergi ke luar ruangan.
Setelah sendirian di ruangan, Arki mengambil ponselmya yang tergeletak di meja. Melakukan panggilan telepon. Beberapa waktu dia menunggu agar orang yang dihubunginya lekas menerima panggilan tersebut.
“Kirimannya udah diterima,” kata Arki santai.
“Mas Arkian memang cepat tahu ya masalah kayak gini.” Basuki terkekeh dikejauhan.
“Soalnya kalian terang-terangan banget mainnya. Jadi, aku harus ngapain?”
“Tolong dipertimbangkan. Pilihan Pak Arya tidak akan salah, Mas Adrian pun sekarang sudah mendapatkan restu dari beliau karena menuruti pilihan yang beliau sediakan. Saya berharap Mas Arkian juga akan seperti itu.”
“Aku gak tertarik dapat restu dia. Dia pikir restunya berpengaruh sama hidupku?”
“Mas Arkian, saran saya jangan terlalu banyak membangkang sama Bapak. Nanti malah berakibat buruk buat Mas Arkian sendiri.”
“Terus aku harus nurut dijodoh-jodohkan gini? Aku bukan penjilat kayak si Adrian. Silakan aja kalian melakukan hal seperti ini. Aku tunggu kalian bisa berbuat sejauh apa.”
Panggilan ditutup dengan kasar. Arki menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia tidak mengira ayahnya benar-benar serius menjodohkannya, hingga melakukan hal seperti ini.
Tadinya dia pikir idenya hanya angin lalu ketika dia mengirimkan puluhan CV perempuan pilihannya.
__ADS_1
Arya Wibisana memang orang menyebalkan dan suka mengatur. Arki tidak menyukainya.
Hidupnya adalah miliknya sendiri. Perasaan kesal berkumpul dihatinya sekarang. Tangannya mengambil kembali ponsel yang tadi sempat diletakkan.
[Arki: Nanti siang aku jemput. Kita makan siang bareng.]
...****************...
Gita bersungut-sungut kesal saat masuk ke dalam mobil. Sebenarnya sangat enggan bertemu Arki hanya untuk makan siang. Apakah tidak cukup melihat makhluk menyebalkan ini di rumah, hingga saat kerja pun Gita harus menyempatkan waktu bertemu.
“Kamu ngapain sih ngajak makan siang di luar segala?”
Arki tidak menjawabnya. Dia diam dan fokus mengendarai mobilnya. Mood-nya kurang bagus hari ini gara-gara kehadiran anak baru yang dikirim oleh ayahnya dan pembicaraannya dengan Basuki.
“Aku lagi butuh dialihkan pikirannya,” balas Arki agak lama.
“Hah? Maksudnya apaan?”
Arki tidak menjawab lagi. Dia membelokkan mobilnya ke tempat parkir The Langham Hotel. Kemudian turun dari mobil dan membuka pintu di sebelah Gita.
Gita tidak langsung turun dari mobil. Hanya memandang bingung ke arah Arki yang berdiri menunggunya keluar. Tidak sabar dengan hal tersebut, Arki menarik lengan Gita hingga dia berdiri.
“Kita makan di restoran di sini?”
Arki masih bungkam. Dia hanya menggenggem tangan Gita agar ikut dengannya, setengah menyeret istrinya itu berjalan di sepanjang lobby. Mereka sampai di resepsionis. Perempuan cantik menyambut kedatangan mereka dan menanyakan maksud tujuannya.
“Baik. Pesanan untuk kamar Deluxe atas nama Pak Arkian Wibisana. Silakan tanda tangan disini dan ini kuncinya.” Resepsionis tersebut menyerahkan selembar formulir dan electric card. Arki segera menyelesaikan pemesanan.
Gita membeku sesaat. Memyadari situasi yang dihadapinya sekarang. Arki tidak mungkin tiba-tiba memesan kamar hotel dan mengajaknya kemari tanpa maksud tertentu.
Sekuat tenaga Gita mengehentakan genggaman Arki di pergelangan tangannya. Tapi percuma, dia tidak bisa melepaskan itu. Arki terus menyeretnya berjalan ke arah lift.
“Arki! Kamu apa-apaan sih? Aku teriak kalau kamu maksa kayak gini!” bentak Gita.
“Kalau kamu teriak dan macam-macam, jangan harap kamu selamat!” ancam Arki berbicara dengan nada paling berbahaya.
Seketika Gita ciut. Dia tahu saat Arki mulai berbicara tenang dan nada seperti itu, ancamannya benar-benar akan dia lakukan. Akhirnya Gita hanya mengekor hingga ke kamar hotel yang telah dipesan.
Jantungnya berdetak kencang dan panik saat melihat tempat tidur terhampar di depannya. Gita tahu apa yang Arki inginkan dan nasib seperti apa yang akan menantinya.
“Lepas baju kamu kalau gak mau kotor dan kusut!” ucap Arki tanpa basa-basi.
“Arkian, please! Kita lakukan di rumah aja setelah pulang kerja. Jangan sekarang!” Gita putus asa memohon kepada Arki.
“Aku maunya sekarang juga. Turuti apa kataku. Jangan banyak membantah!”
__ADS_1
Arki mendorong tubuh Gita hingga terjatuh ke atas ranjang. Seperti pemburu yang siap melumpuhkan mangsanya, Arki mulai melancarkan aksinya pada Gita. Menciuminya dengan ganas. Bibir, leher, dan dada tak lepas dari kecupannya.
Seperti biasa, Gita akan memberontak dan menangis menyingkirkan semua sentuhan dan paksaan Arki. Sekuat tenaga dia melakukannya, tapi tetap tidak bisa menghindar. Kemejanya sudah jauh terlempar ke lantai, kedua asetnya sudah diraup dan dicerup liar, dan kewarasannya sudah mulai menghilang.
Seiring semua gerakan lidah menari di pucuk kenikmatan dadanya, Gita sudah tidak bisa menguasai dirinya. Enggan berubah menjadi erangan. Tangannya liar menjambak rambut Arki, namun menginginkan laki-laki itu terus meraup hingga dalam.
Nalarnya sudah mulai tidak berjalan, ketika rok spannya melesat jauh ke tempat lain di ruangan. Di lembar bersamaan dengan segitiga penutup yang melindungi bagian tubuh sensitifnya.
Kini mereka sudah tidak lagi mengenakan busana, siap melakukan kegiatan berbahaya dan menyenangkan. Arki menggerapai paha indah Gita, menempatkan kedua tungkai di bahunya, dan menghujamkan miliknya. Memasuki kehangatan tubuh Gita yang sudah siap ditaklukkan.
Ringisan nyeri dan nikmat tidak bisa terhindar kekuar dari mulut Gita. Semakin dalam Arki memasukinya, semakin gila pikirannya. Dia tidak bisa menghentikan diri untuk mengerah dan merintih.
Arki benar-benar fokus dengan gerakannya yang semakin cepat. Meluruhkan kegelisahan dan rasa kesal karena sedang dibayangi rencana busuk dan menyebalkan dari ayahnya. Semua hal menganggu dalam benaknya selalu lenyap saat dia menyentuh Gita.
Perempuan itu benar-benar hiburan untuknya dikala penat. Bahkan beban pekerjaan pun akan lekas menyublim ketika dia sudah merangkum kenikmatan tubuh Gita. Arki akan rajin menyambangi keindahan istrinya itu saat harinya terasa memuakkan. Gita adalah pengalih pikiran paling ampuh yang dia miliki sekarang.
Arki mendaratkan bibirnya di bibir Gita. Mengedarkan kecup dan lidah yang basah. Mencerup penuh semangat. Gerakan liar menghimpitkan kenikmatan di bawah sana terus beradu badan. Hingga geram dan erangan berpadu di ruangan.
Mereka bersamaan saling melepaskan perasaan aneh yang tidak bisa digambarkan. Candu baru yang menjijikkan tapi penuh dengan kenikmatan. Pergulatan siang yang memuaskan.
“Aku pesankan makan siang ke kamar,” bisiknya setelah melakukan panggilan telepon. Kemudian berdiri pergi membersihkan diri di kamar mandi.
Sementara Gita hanya bisa berbaring kehabisan energi. Pikirannya belum sepenuhnya kembali. Dia hanya bisa meringkuk menarik selimut menutupi diri.
Tidak lama setelah Arki keluar dari kamar mandi, berbagai makanan diantar. Steak yang menggugah selera, berbagai macam roti dan pastry, jus segar, dan banyak lagi tersaji dalam troli. Gita yakin tidak bisa menghabiskannya sendiri.
“Kamu makan siang dulu, nanti aku anterin ke kantor lagi. Masih ada waktu 20 menit lagi sampai jam makan siang kamu habis,” kata Arki sambil memunguti baju Gita yang tercecer di lantai dan menyimpannya di atas kursi.
“Aku lemas dan capek. Gak bisa berdiri,” kata Gita malas bergerak. Dia hanya ingin tertidur saja sekarang juga.
Arki berjalan mendekati dan duduk di tepian ranjang. Mencium puncak kepala Gita yang menyebul keluar dari selimut yang menutupi.
“Aku telepon Pak Usman bilang kamu sakit dan harus pulang setengah hari. Nanti aku bawain tas kamu dan jemput lagi sore setelah aku selesai kerja.”
Gita mengangguk. Dia sebenarnya malu pada atasan dan rekan kerjanya. Berulang kali izin, sakit, hingga meninggalkan pekerjaan ditengah jam kerja. Sangat tidak profesional. Dia nyaria seperti anak emas di depan Usman dan tidak pernah dimarahi, karena dia memiliki Arki berada dibelakangnya.
Dia tidak pernah merasakan hal seperti itu seumur hidupnya. Dilindungi oleh orang yang berpengaruh. Selama ini Gita selalu merasa sendiri, takut dan lemah. Bahkan mengajukan izin kerja pun harus memperhatikan kebutuhan rekan satu timnya, yang terkadang tidak tahu diri dan memanfaatkan keberadaan Gita, untuk dijadikan pengganti memenuhi pekerjaan mereka.
Gita tidak mengabaikan hal-hal istimewa yang terjadi pada dirinya berkat keberadaan Arki. Pun ketika menikmati semua kemudahan itu tanpa sadar. Gita ingin mengatakan bahwa dia mulai terbiasa. Meskipun nuraninya dicabik tiap kali Arki menyentuhnya.
Gita kian hari semakin bingung dengan dirinya sendiri. Terlalu takut terjatuh hingga menikmati semua hal yang dia miliki sekarang. Padahal dia tahu semuanya hanya sementara. Arki bisa menendangnya pergi ketika dia bosan atau menemukan mainan baru yang lebih menantang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maafin kemarin gak update dan dikit-dikit update-nya. HP nya rusak 😣😣
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote, kirim bunga, kopi atau kirim hp baru buat author-nya (bohong deh) 😆😆😆