
“Bener kan kamu jadi ikut reuni?” Juan memastikan lagi.
Sudah lebih dari lima kali dia bertanya seperti itu pada Gita. Bahkan dia tidak berhenti membicarakannya saat mereka masih mengobrol di warung makan Mia. Juan tampak senang Gita bergabung untuk acara reuni nanti di Bali.
“Iya. Fix. Beneran aslinya.” Gita tertawa, sampai bosan menjawabnya.
“Pokoknya gak ada pembatalan H-1 ya. Duitnya gak akan balik.”
“Iya, Pak Ketuplak.”
Gita sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan mengenai uang sekarang. Berapa pun harganya dia akan tetap ikut acara reuni kali ini. Menyenangkan ketika memiliki kebebasan seperti ini ketika hidup rasanya agak menyedihkan, Gita bisa dengan lepas berlibur tanpa memikirkan harus mengeluarkan berapa banyak. Arki juga memberikannya izin.
Ya. Itu sebenarnya yang paling aneh dan agak menyedihkan. Dia memberikan izin untuk Gita mengikuti acara reuni kelas di Bali. Padahal ketika acara outing di Lembang saja dia memberikan banyak persyaratan dan permintaan seminggu sebelum pergi. Kini Arki hanya menggumamkan kata “terserah” sebagai tanda persetujuannya.
“Sering-sering lah main ke tempat Mia kayak tadi, ikut kumpul sama yang lain kalau libur. Kangen tau sama teman-teman sekelas.”
“Diusahakan,” pungkas Gita sambil tersenyum dan berpamitan.
Dia turun dari mobil dan melambai pada Juan. Mobil kini melaju meninggalkannya di depan pagar rumah. Tak lama mobil Arki sudah berada di hadapan. Rupanya sejak tadi dia berada di belakang mobil Juan tanpa Gita sadari.
Seketika tubuhnya mematung panik, membayangkan Arki akan semarah apa padanya. Teringat semua ancamannya ketika melarang Gita pulang diantar Tama. Gita hanya berdiri di depan pagar tidak bergerak. Arki turun dari mobilnya. Menatap Gita tanpa ekspresi. Tidak ada kemarahan diwajahnya, terlalu tenang hingga rasanya menakutkan.
“Kamu gak mau masuk? Minggir! Aku mau buka pagar dan parkirin mobil,” ucap Arki santai.
Gita masih terpaku. Kini tidak percaya apa yang di dengarnya. Arki benar-benar tidak marah? Kenapa bisa sesantai itu?
Tanpa berkata apapun Gita masuk ke rumah. Meninggalkan Arki dan sejuta pertanyaan dihati. Perasaan anehnya bercampur aduk menjadi kesedihan yang tiba-tiba menghantam. Pertanyaan dikepala yang terus berputar dan semakin yakin Gita simpulkan.
Arki sudah tidak peduli lagi padanya.
“Sabtu nanti ibu nyuruh kita datang ke rumahnya. Mau syukuran ulang tahun Tante Irma. Kamu kesana dari pagi aja. Aku baru pulang ke Jakarta dari Malang agak sore,” kata Arki saat masuk ke dalam rumah.
Gita yang masih mengumpulkan kesadaran karena perasaan aneh yang dirasanya semakin bingung ketika melihat Arki yang seperti tanpa masalah berkata demikian. Tanpa berkata apapun lagi, Arki melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Tempat favoritnya untuk menyembunyikan diri tanpa diganggu oleh Gita.
“Kamu mau lihatin sama ibu kalau kita gak akur, gitu? Kenapa gak sekalian aja kamu ceraikan aku?” serang Gita tiba-tiba. Dia tidak suka perasaan seperti ini kian hari semakin mengganggunya.
Arki mengerutkan dahi dalam, kebingungan. Dia tidak siap ketika Gita memprovokasinya seperti sekarang.
“Maksudnya apa kamu ngomong kayak gitu?”
“Aku tahu kamu bosen sama aku, kan? Udah siap buang aku gitu aja ke jalan, kan? Lakukan sekarang! Ajukan gugatan cerai! Jangan bikin ibu kamu berharap sama hubungan kita dan lihat kita gak akur!”
“Maksud kamu gak akur itu apa? Emang selama ini kita hidup akur? Kamu selalu minta kebebasan dan selalu berontak tiap aku kasih aturan. Sekarang aku udah kasih yang kamu mau. Terus kamu mau komplain apa lagi sekarang? Kamu mau aku kayak gimana?”
Gita tidak siap dengan perasaannya sendiri. Lebih baik mengakhirinya sekarang sebelum semuanya bertumbuh besar.
“Aku mau cerai. Aku mau kamu ajukan gugatan cerai secepatnya.”
Gita menatap lurus pada Arki. Matanya mengabur karena air mata turun tak tertahan. Dia merasa begitu hancur ketika mengucapkannya. Ini yang dia inginkan sejak dulu. Tapi hatinya tidak rela dan menolak keras. Sekarang bagian di pikiran dan perasaannya sedang berperang hebat. Berharap kata-kata itu tidak pernah Gita katakan lagi.
“Jangan ngomong ngelantur lagi! Utang kamu belum lunas kamu bayar. Kamu pikir dengan beberapa bulan aja melayani bisa bayar dosa dan penipuan yang udah kamu lakukan?”
Arki maju dan berdiri di hadapan Gita. Menjulang sambil menatap tajam perempuan yang kini berurai air mata mata karena kemarahan.
“Kenapa? Kamu merasa kehilangan karena aku udah gak kasih kamu perhatian? Bukannya ini yang kamu mau. Terakhir aku kasih kamu perhatikan kamu malah ngomong hal-hal gak menyenangkan. Ayo lakukan kesepakatan kita dengan benar sekarang. Gak ada lagi perhatian atau aturan apapun lagi diantara kita selain teman di ranjang. Gak usah khawatir soal perceraian. Aku pasti mengajukan itu kok. Sesuai janji.”
__ADS_1
Arki kemudian pergi meninggalkan Gita yang masih mematung di ruang tengah. Pikiran mereka berdua sama kacaunya sekarang.
...****************...
Ruangan private sebuah restoran Chinese sudah dipesan. Berbagai makanan mahal dan terlihat lezat sudah disajikan. Sejak tadi seorang laki-laki berwajah tampan, dengan rambut gondrong sebahu tidak berhenti menggoda pramusaji yang sedang melayani. Tangannya merangkul pinggang perempuan yang tersenyum malu-malu tersebut.
Pemandangan yang memuakkan tampak di depan Adrian saat masuk ke ruangan. Meskipun demikian Adrian tidak bersusah payah untuk melarangnya melakukan hal tidak senonoh tersebut. Tanpa terganggu, Adrian duduk dihadapan laki-laki itu.
“Udah dulu ya. Jangan lupa save nomorku kalau nanti aku hubungi. Bye Nana!” kata Aditya pada pramusaji yang kini meninggalkan ruangan. Pandangannya sekarang beralih pada Adrian.
“Bisa gak sih kamu gak godain setiap cewek yang ketemu kamu?” tanya Adrian tidak senang dengan kelakuan adik tirinya.
“Gak bisa. Udah natural aja gitu godain cewek cakep. Semacam kebutuhan.”
“Ck...” Adrian berdercak, kemudian menghembuskan napasnya. “Jadi ngapain kamu ngajak ketemuan kayak gini? Kamu tahu aku sibuk, kan?” lanjutnya kesal.
“Sabar dong, Kakakku Tersayang. Makan dulu kek,” balas Aditya santai sambil menyendok makanan ke mulutnya.
Adrian memperhatikan makanan yang tersaji begitu banyak dihadapannya. “Kamu hambur-hambur uang lagi? Bukannya kartu kredit kamu udah dilimit?” katanya tidak percaya melihat Aditya memesan makanan mewah tersebut.
“Kan kamu yang bayar,” kata Aditya tersenyum berseri.
“Najis!” Adrian bangkit dari tempat duduknya hendak pergi meninggalkan Aditya.
“Tunggu! Tunggu! Kok main pergi aja sih? Kan kita belum ngomong apa-apa.” Aditya berusaha menahan kepergian kakaknya.
“Ya udah makanya cepetan! Jangan bikin kesabaranku menipis!” Adrian kemudian duduk kembali.
“Cabut limit kartu kreditku!”
“Adrian! Jangan mentang-mentang kamu kaki tangan ayah jadi semena-mena kayak gini! Aku juga punya hak yang sama kayak kamu!”
Adrian terkekeh. “Hak yang sama? Ibu kamu cuma istri siri, bahkan gak terdaftar di kartu keluarga. Gak usah merasa punya hak apa-apa!”
“Sebelum kamu dan ibumu diakui, posisi kalian juga sama kayak aku sekarang. Istri siri, selingkuhan, anak yang gak dianggap. Hanya karena ibunya si Arkian aja yang mengajukan cerai, makanya ibu kamu dapat posisi penting di keluarga.”
Adrian meradang, namun dia tetap menahan amarahnya dan tetap tenang. “Kamu gak punya kompetensi atau kontribusi apapun di bisnis keluarga. Tapi kamu menuntut begitu banyak dan terus foya-foya kayak gini. Harusnya kamu berpikir bukan merajuk! Aku sudah kasih kamu posisi bagus diperusahaan. Berusaha dan buktikan diri kamu, baru semua fasilitas dan dukungan untuk kamu bakal kembali.”
“Kamu pikir kamu siapa, hah? Penerus atau kepala keluarga Wibisana? Jangan mimpi terlalu tinggi, Dri! Kamu gak denger orang-orang mulai ngomongin Arkian yang bakal balik dan gantiin ayah? Menurut kamu siapa yang pertama menyebarkan informasi itu?” kata Aditya penuh kemenangan. “Arya Wibisana sendiri. Ayah kita. Dia gak menganggap kamu sama sekali,” lanjutnya menyeringai.
Adrian terdiam, menghembuskan napas berat. Seminggu yang lalu dia juga sudah mengkonfirmasi kabar burung tersebut pada ayahnya langsung. Tidak bisa berkutik menerima keputusan pahit yang diambil oleh ayahnya.
Tidak. Dia tidak boleh menerima hal tidak adil seperti itu. Adrian akan menyusun rencana agar semua kekuasaan Wibisana berada dalam genggamannya. Jika harus menyingkirkan Arkian sekalipun.
“Kamu gak ada urusan soal ini. Jangan ngomong hal sembarangan!”
“Ck... Aku bisa bantuin kamu, Dri. Aku tahu kamu sangat menginginkan posisi penting itu.”
Adrian tersenyum meremehkan. “Dengan apa kamu bisa bantuin aku? Aku ragu orang serampangan kayak kamu punya rencana bagus untuk membantuku.”
Pembicaraan terhenti ketika seseorang membuka pintu. Mata Adrian membulat kaget menatap orang yang baru saja masuk. Begitupun orang yang masuk tersebut langsung memandang tajam ke arah Adrian.
“Dengan mendatangkan langsung orang yang lagi diomongin,” kata Aditya tampak senang mempertemukan Arki dan Adrian.
“Jadi kamu menghubungiku buat ketemu dia? Aku balik lagi aja!” ucap Arki tidak senang dan berniat pergi kembali.
__ADS_1
“Jangan dong, Ki!” Aditya berdiri dan mendorong Arki agar duduk di salah satu kursi.
Kini mereka bertiga duduk saling berhadapan. Arki dan Adrian masih saling menatap garang. Enggan berbicara sepatah kata pun. Sejak dulu banyak kebencian yang terkumpul dihati keduanya. Arki menganggap semua adiknya adalah anak haram yang hadir untuk menghancurkan keluarga dan hati ibunya.
“Ngobrol dong! Jangan lihat-lihatan gitu kayak patung.” Aditya memecah hening di ruangan.
“Maksud kamu apa mengundang dia kesini? Gak cukup kamu bikin masalah denganku gara-gara kalakuan borosmu itu?” serang Adrian.
Arki tertawa merendahkan. “Jadi selama ini hidupmu diatur sama orang ini, Dit? Yaa.. cocok sih. Para anak haram saling mengatur dan menyusun strategi biar bisa terus dekat dan dibiayai oleh si tua bangka.”
“Aku anak sah yang diakui. Jangan samakan aku dengan Aditya!”
“Kalian sama-sama lahir dari perselingkuhan. Gak ada diantara kalian yang anak sah. Kalian cuma lahir dari p e l a c u r!”
Adrian bangkit dan langsung menarik kerah kemeja Arki. Menatap garang laki-laki yang hanya dua tahun lebih tua dari dirinya itu. Arki juga tidak kalah cepat mencengkram kerah kemeja Adrian.
“Iya. Iya. Udah. Kamu doang deh si paling anak sah! Berhenti coba buat berantem dan berusaha saling membunuh! Harusnya kalian menyalahkan si tua bangka yang memanfaatkan banyak cewek buat jatuh ke perangkapnya. Kalian harusnya kerjasama buat mencapai tujuan masing-masing, kan?”
Aditya berusaha keras memisahkan kedua kakaknya yang sedang saling mencengkram dengan pandangan membunuh berkobar dimata.
“Kerjasama apa maksud kamu? Gak sudi aku kerjasama dengan anak haram kayak kalian!” bentak Arki.
Aditya menghela napas. Kesal sendiri karena memiliki ide gila untuk membantu kedua kakak tirinya itu.
“Kamu si ambis yang pingin menguasai harta keluarga Wibisana. Kamu si apatis yang gak mau menjadi penerus keluarga.” Aditya menunjuk Adrian dan Arki secara bergantian. “Harusnya kalian ngobrol dan saling membantu, kan? Arkian gak mau menerima apapun dari ayah dan Adrian yang mau menerima banyak hal dari ayah. Kenapa kalian gak kerjasama aja sih?”
Arki dan Adrian saling melepaskan cengkraman. Menatap aneh pada Aditya yang tampak santai dengan ucapannya. Arki memang tidak ingin mewarisi semua bisnis ayahnya. Ingin menjauhkan diri dari genggaman Arya. Meskipun hingga sekarang dia masih menyematkan nama Wibisana untuk keuntungan dan pengaruhnya.
Adrian tahu bahwa Arki tidak menginginkan posisi apapun di keluarga Wibisana. Tapi mendapatkannya dari Arki yang menyerahkan hal tersebut ke atas tangannya adalah sebuah kekalahan besar. Bisa-bisa Arki akan terus meledeknya sebagai orang lemah yang hanya bisa menerima saja.
“Aku punya ide buat kalian berdua,” kata Aditya ketika mulai mendapatkan perhatian kedua kakak tirinya.
“Ngapain kita harus ikuti ide kamu? Pasti semua ide kamu gak waras dan membahayakan.”
Adrian sangat waspada terhadap isi pikiran Aditya. Meskipun mesum dan pemalas. Dia punya otak yang cerdas. Mewarisi hal baik dari Arya, sama seperti seperti dirinya dan Arki.
“Kamu mau bantu kita berdua? Aku yakin kamu gak melakukan ini dengan cuma-cuma kan, Dit?” kata Arki curiga. Mana mungkin mereka semua tidak punya motif dan tujuan yang disembunyikan.
“Oke. Ini memang sedikit berbahaya dan sudah jelas aku pun dapat keuntungan dari semua ini. Entah materi ataupun hal yang lebih dari itu. So, will you guys join?”
“Aku mau denger dulu ide gila kamu apaan,” kata Arki menjatuhkan diri di kursi kembali.
“Ya. Gak ada salahnya dengerin babon berpikir dan mencoba menghancurkan diri. Hiburan.” Adrian pun melakukan hal yang sama dengan Arki, duduk kembali.
Aditya tersenyum dengan kesediaan kedua kakak tirinya mendengarkan dengan meredam ego masing-masing. Kesempatan yang jarang bisa dilakukan. Kemudian dia bersemangat menguraikan rencana untuk keuntungan semua orang. Diskusi alot tidak terhindarkan dari ketiganya. Hingga tidak terasa dua jam berlalu sampai mereka menemukan titik temu.
Adrian beranjak lebih dulu, setelah pembicaraan tuntas dan mereka menyetujui sesuatu. Meskipun sebagian hatinya enggan bekerja sama dengan saudara tirinya. Tapi keuntungan yang diperoleh dari kesepakatan itu amat sangat bagus.
“Aku kasih info ini dulu, karena punya komitmen untuk tidak saling mengkhianati dan membantu seperti yang kita setujui.” Tatapannya mengarah pada Arki yang masih duduk disana. “Istri kamu mungkin sekarang masih ada di kediaman Wibisana. Sebelum kesini aku lihat dia datang bersama Pak Basuki menemui ayah,” lanjutnya kemudian lekas pergi.
Gita ke rumah ayah?
Sial!
Pikiran buruk kemudian berlarian tidak tentu arah, seiring langkahnya yang cepat menuju ke luar restoran.
__ADS_1