
Hari-hari kelabu Arki kini berubah menjadi berwarna kembali. Setelah tahu bahwa Gita masih hidup, dia semakin merasa punya harapan untuk bisa kembali lagi dengannya. Awalnya Arki sempat pesimis, berpikir akan merelakan apapun keputusan Gita setelah mereka bertemu nanti. Meskipun keputusan tersebut adalah sebuah perceraian. Arki akan menerimanya.
Namun, dia salah. Setelah bertemu dan melihat Gita, walaupun dari kejauhan. Arki bersumpah tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati perempuan itu. Dia akan melakukan segala cara agar Gita kembali pulang. Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Adrian dan Aditya, bahwa Arki menjadi gila dan tidak waras karena seorang perempuan. Entah kenapa dia se t o l o l ini jika dihadapkan dengan Gita.
Sabtu ini Arki menghadiri undangan dari Ginanjar untuk bermain golf bersama. Tentu saja Arki mengajak Arya untuk ikut juga. Alasannya karena Arki malas berbasa-basi dengan Ginanjar, yang setiap waktu berusaha mendekatkannya dengan Amanda. Jika ada Arya disana, pembicaraan bisa lebih santai, karena mereka berdua menjalin hubungan persahabatan yang cukup menyenangkan.
Sekarang banyak perubahan sikap Arya pada Arki. Dia menjadi lebih ramah dan mudah diajak. Bukan berarti dengan perubahan itu, Arki menjadi luluh dan tunduk pada Arya. Dia masih tetap sama menyebalkannya. Menjadikan Arki sebagai boneka. Arya secara halus dan diam-diam, dia selalu mengatur agar Arki mengambil langkah dengan Amanda.
Amanda datang ke latihan golf tersebut, tentu saja. Dia tidak pernah absen mengikuti acara bersama ayahnya, jika disana ada Arki. Sekarang dia juga sudah masuk ke perusahaan sebagai staff finance. Setiap hari akan mengambil celah untuk mengajaknya makan siang bersama.
Arki terpaksa meminta bantuan kepada Adrian dan Aditya untuk menghalangi semua niat Amanda. Memberikan alasan bahwa dia sibuk dan akan makan bersama kedua adik tirinya. Amanda yang tidak terlalu dekat dengan mereka, akhirnya menyerah sendiri.
“Katanya setelah masuk perusahaan dan gantiin ayahmu, kamu semakin dekat ya dengan adik-adik tirimu?” kata Ginanjar berbasa-basi. Pasti dia tahu dari Amanda yang bercerita tentang bagaimana dia ditolak bergabung diacara makan siang si tiga bersaudara.
“Lumayan. Soalnya mereka berdua berguna,” kata Arki santai.
Arya tergelak. “Ya, memang seharusnya mereka berguna buatmu. Ayah pingin kamu dan adik-adikmu melanjutkan bisnis ayah dengan saling bekerja sama.”
“Tapi lain kali ajak dong Amanda gabung diacara kalian. Kan nanti Amanda juga bakal jadi bagian dari keluarga Wibisana. Dia harus akrab dengan adik-adikmu juga,” desak Ginanjar.
“Silakan aja bergabung. Aku gak pernah menolak Amanda untuk ikut. Tapi kelihatannya dia enggan untuk berkumpul dan makan siang berempat. Mungkin takut karena Aditya sering menggodanya.” Arki menatap lurus pada Amanda tanpa ekspresi. Kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke lapangan yang terhampar hijau.
“Jangan dibiarin dong si Aditya rayu-rayu Amanda. Kamu gimana sih?” kata Arya kesal.
“Susah mengendalikan sifat kayak gitu di Aditya. Kan sifat dia menurun dari ayah. Sama banget kelakuannya,” sindir Arki.
__ADS_1
Arya memberengut marah. Semantara Ginanjar tergelak, merasa kata-kata Arki itu lucu. “Tapi bener juga, Ya. Si Aditya tuh persis kamu banget pas masih muda kelakuannya. Kalau abangmu, mirip banget sama si Adrian. Judes, kaku, dan pendiem. Gak tahu Arkian nih mirip siapa, setengah-setengahnya, ya?” ucap Ginanjar masih terkekeh.
“Mirip Ela. Arkian terlalu mirip Ela,” ucap Arya. Ekspresinya mengeras dan jadi gelap. Dia berjalan mendekati hole dan memukulnya hingga masuk ke lubang tersebut. Entah hanya perasaan Arki saja atau, Arya terlihat sedih ketika mengucapkan nama ibunya.
...****************...
Aditya duduk di ruang makan dengan nyaman. Terhidang beberapa makanan nikmat di sana. Setelah melayani majikannya, para ART disuruh kembali ke rumah belakang, tempat mereka tinggal. Sementara Shela berada di sana berdua dengan Aditya. Mengobrol dan bercanda.
Mereka sekarang lebih dekat dari pertama bertemu. Sekarang Aditya dan Shela sudah terbiasa berbincang seperti ini saat Arya pergi dengan Arki. Mereka kini seperti layaknya teman. Mungkin karena usia mereka pun tidak jauh berbeda.
“Dulu ibuku tuh paling jago bikin kepiting saus padang. Kayaknya kalau gak dimarahin sama ibu, aku bakal request makan itu setiap hari,” kata Aditya bercerita.
“Ibuku juga jago masak. Masakan andalannya tuh tongseng. Aku jadi kangen masakannya,” ucap Shela yang sekarang tampak sedih ketika membicarakan tentang ibunya.
“Suruh dong dia kesini. Sekalian masakin buat ayah. Pasti dia juga suka, kan?”
“Kenapa?”
“Ibu gak pernah setuju aku nikah dengan orang yang umurnya tidak jauh beda dengan ayah. Tapi ayah tetap menyetujui pernikahanku karena Arya menawarkan bantuan memutihkan namanya untuk kasus korupsinya. Saat itu aku juga bodoh dengan mikir bahwa Arya sudah membantu dan akan terus membantuku juga mencapai mimpi-mimpiku. Jadi aktris terkenal,” jawabnya sendu.
“Ayah juga merenggut impian ibuku. Dulu dia penari balet yang sering ikut penampilan di luar negeri. Suatu hari ayah melihat ibuku tampil di Wina. Niat awalnya menjadi sponsor ibuku, karena dia adalah salah satu orang Indonesia yang membanggakan dan bisa tampil di Vienna State Opera. Lama kelemaan, dia menjerat ibuku hingga jatuh cinta dan bertingkah seakan bisa membantunya. Tanpa tahu kalau dia sudah punya istri di tanah air, ibuku mau-mau saja berhubungan dengannya.”
“Kamu benci sama Mas Arya karena bohongin ibu kamu?”
Aditya terkekeh. “Mungkin. Aku gak tahu. Hanya saja, melihat kamu terperangkap sendiri disini seperti ibuku, bikin aku gak nyaman.”
__ADS_1
“Kalau aku bilang, aku ingin pergi dari sini. Menurutmu itu hal yang gila, kan?”
“Nggak. Itu hal paling waras yang kamu pikirkan setelah semua yang kamu alami dengan ayah.”
Shela terkekeh. “Itu hanya keinginan saja. Lagipula aku gak akan bisa kemana-mana. Aku juga gak tahu harus pulang kemana setelah pergi dari sini.”
“Kalau aku bantu kamu keluar dari sini, gimana?”
Shela menatap Aditya dengan pandangan tidak percaya. Seperti laki-laki itu baru mengatakan bahwa dia adalah alien yang datang ke bumi untuk belajar pada manusia. Shela kemudian tergelak karena menganggap tawaran tersebut lucu. Bagaimana mungkin Aditya bisa menang melawan ayahnya? Bagaimana mungkin Shela bisa keluar dari genggaman Arya?
“Bukannya kamu bilang sendiri kalau aku gak akan bisa keluar dari sini? Ibu kamu dan istri keempat Mas Arya mengalami hal buruk karena mencoba pergi, kan?”
“Aku gak akan bisa kalau sendirian. Tapi aku punya orang-orang dibelakangku yang bisa bantu kamu. Sebagai gantinya, kamu juga harus membantuku melakukan sesuatu,” tawar Aditya.
“Aku gak bisa. Aku takut. Semua kebebasan diluar juga menakutkan buatku. Tanpa keluargaku, aku sendirian. Lebih aman disini bersama Mas Arya. Meskipun hati dan jiwaku terkurung.”
Aditya berdiri dari tempat kursinya. Kemudian mendekati Shela. Berjongkok di dekat perempuan tersebut dan menggenggam kedua tangannya. Aditya menatap dalam mata cantik Shela.
“Kamu terlalu berharga buat tinggal dan bersembunyi disini. Bukannya kamu punya mimpi? Kamu gak akan sendiri di luar sana. Kamu akan jadi kuat dan melakukan banyak hal yang kamu inginkan. Termasuk bertemu laki-laki yang jauh lebih baik dari ayahku,” kata Aditya.
“Siapa misalnya? Kamu?” kata Shela bercanda.
“Iya. Seperti aku misalnya.”
Aditya meraih tengkuk Shela, menuntunnya mendekat. Kemudian melekatkan bibir mereka. kehangatan tiba-tiba menyeruak di hati Shela. Arya memang sering menciumnya. Tapi tidak selembut ini, tidak sehangat ini. Dia hanya menyukai tubuh dan wajah Shela, tanpa peduli perasaan manusia di dalam cangkang tersebut. Tapi Aditya memandang dan menggenggamnya lembut.
__ADS_1
Tanpa bisa ditolak oleh keduanya. Kini mereka sudah berpindah ke kamar tamu yang tidak jauh dari ruang makan. Saling mengaitkan diri, meramu kemesraan, dan menyatukan tubuh. Hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Tapi tidak satupun diantara keduanya yang bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak saling terjatuh dan terbuai, dalam momen panas yang memabukkan.