Istriku Penipu

Istriku Penipu
Menahan Pikiran


__ADS_3

“Aahhh”


“F u c k!”


Geram Arki melepaskan hasrat yang dipendamnya. Meskipun kepuasan yang diinginkan hanya seujung kuku saja dia rasakan. Dia masih belum mendapatkan apa yang dia dambakan karena terhalang siklus bulanan istrinya.


“Uhuuuk...” Gita tidak berhenti terbatuk dan hampir muntah karena menelan cairan aneh yang membesut keluar dari pusaka milik suaminya.


Sudah beberapa hari Arki memaksanya melakukan hal paling menjijikkan seumur hidupnya. Melulum organ tubuh yang sangat menakutkan itu. Mual, jijik, malu dan terhina. Gita tidak bisa berhenti menangis setelahnya.


Arki menjambak dan menggerakkan kepalanya kasar demi mendapatkan kesenangannya sendiri. Sementara Gita begitu menderita. Belum saja mereka melakukan malam pertama, tapi rasanya kehormatan dan martabatnya sudah direnggut begitu saja, dengan melayani permintaan paling memuakkan darinya.


Arki mencabut beberapa helai tisu di meja kerjanya, menyeka hasil perbuatannya yang mengotori wajah dan rambut Gita. Mata nyalang penuh air mata menatap penuh kebencian padanya. Arki menunduk, mendekatkan wajah pada istrinya yang masih bersimpuh di lantai.


“Kenapa ngelihatin galak kayak gitu? Gak suka?” tantang Arki.


Gita tidak menjawab, dia merebut tisur di tangan Arki dan menyeka wajahnya sendiri. Masih dengan tatapan penuh kemurkaan dimatanya. Menyala seperti api.


“Kamu gak punya hak buat menolak, ingat? Sana bersihkan wajah kamu di toilet!” perintah Arki, tidak peduli dengan kemarahan Gita yang terus tumbuh karena ulahnya.


Dia tidak usah repot-repot memikirkan apa dan bagaimana perasaan Gita. Hal yang paling penting baginya adalah menuntaskan kebutuhannya. Menggenggam perempuan itu dalam kuasanya. Dia akan memainkannya sesuka hati. Dan yang lebih seru adalah Gita tidak akan bisa menolak.


Gita segera beranjak dari ruang kerja Arki. Mengunci diri sendiri di toilet dan menangis sejadinya. Gemetar tidak bisa dia hentikan. Kemarahan dan ketakutan melilit dalam hatinya.


Sekarang semua bagian tubuhnya menjijikkan, penuh dengan bekas sentuhan laki-laki paling biadab itu. Gita membencinya. Dia menghilangkan semua jejak Arki dengan menggosokkan kuat sabun ke seluruh tubuh. Berharap perasaan jijik dan malu itu hilang.


Selesai mandi, Gita segera merebahkan dirinya di kasur. Berharap malam ini Arki berhenti menggerayanginya. Meskipun harapan itu tidak nyaris mungkin.


Sudah 3 hari berturut-turut, semenjak mereka tidur bersama, tak satupun hari dimana Gita tidak terbangun malam-malam. Mendapati dirinya sendiri sudah setengah dilucuti. Terjaga melihat kepala Arki sudah terbenam di dadanya. Mencerup bagian paling puncak dan memilinnya dengan lidah.


Membuat Gita menggeliat dan bersuara aneh. Rasa sakit dan linu yang tidak bisa dibayangkan saat tangan besar Arki mencengkram aset miliknya dengan kasar. Gita tidak menyukai setiap detik yang terjadi pada pergumulan malam saat Arki mulai bergerilya nakal.


...****************...


“Aku hari ini lembur,” ucap Gita di sambungan telepon setelah makan siang.


“Sengaja kan biar punya alasan gak melayani aku?”


“Aku harus mengerjakan laporan buat closing. Kenapa sih semua hal harus disambungin kesana?”


Gita sangat kesal dengan perilaku dan pemikiran Arki yang semakin menjijikkan. Seakan dihidupnya hal yang menjadi prioritas adalah memuaskan keinginan untuk menggauli Gita.


Hingga kini Gita masih tidak menyangka, bahwa Arkian Wibisana yang sangat dihormati dan berwibawa itu, hanyalah seorang pria mesum menjijikkan, yang pikirannya hanya soal ranjang saja.


“Ya udah pulangnya jangan terlalu malam!” balas Arki menyerah.

__ADS_1


Gita berkonsentrasi dengan laporan keuangan yang sedang dikerjakannya. Diliriknya jam di sudut taskbar komputer yang menunjukkan pukul 19.03. Beberapa rekan timnya sudah pulang. Hanya tersisa Femy, Tama, dan Pak Usman yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


“Nih, biar gak ngantuk,” kata Tama sambil menyimpan kopi instan kalengan di meja Gita.


“Thanks, Tam,” balas Gita tersenyum sekadarnya. Kemudian kembali fokus pada laporan.


“Bagianku udah selesai, mau aku temenin?”


Gita tidak terlalu mendengar ucapan Tama. “Hah?”


“Mau aku temenin gak? Aku pesankan makan malam. Kamu belum makan, kan?”


“Gak usah deh. Aku belum terlalu lapar.”


“Kamu belum makan malam loh, Git.”


“Aku udah ngemil biskuit dari tadi. Jadi gak terlalu lapar. Kamu pulang aja kalau udah selesai. Gak usah nungguin juga gak apa-apa,” kata Gita sambil lalu.


“Kamu pulang ada yang jemput?”


Gita tidak terlalu yakin. Arki tidak mengatakan apa-apa tadi siang tentang menjemputnya malam ini setelah pulang kerja lembur.


“Emm... Nanti aku telepon suamiku suruh jemput,” kata Gita tidak yakin. Dia mungkin akan pulang naik taksi online saja dan tidak mau merepotkan siapapun.


“Ooh,” seru Tama singkat. “Ya udah aku pulang duluan kalau gitu,” lanjutnya berpamitan.


Rehat sejenak dari pekerjaannya, Gita pergi ke toilet. Mencuci mukanya yang sudah berminyak. Hampir seluruh karyawan sudah pulang. Dia tidak perlu repot-repot mengenakan riasan kembali. Tidak akan ada yang melihatnya tampak pucat dan tidak menarik seperti sekarang.


Saat keluar dari toilet, Gita kaget melihat Arki yang sedang memainkan ponsel dan duduk di bean bag ruang rehat di lantai 14 dekat ruangannya. Lekas saja dia menghampiri.


“Aku teleponin kok gak diangkat? Lagi ngapain kamu?” ucap Arki saat melihat Gita mendekat.


“Kok kamu bisa masuk ke sini sih? Siapa yang ngizinin kamu masuk? Kamu mau ngapain kesini?” sambar Gita.


“Jawab dulu pertanyaan aku! Jangan biasakan nanya balik sebelum pertanyaanku kamu jawab.”


“Aku dari toilet, gak bawa HP. Cepetan bilang kamu ngapain kesini? Siapa yang ngizinn kamu masuk sembarangan ke perusahaan orang?” desak Gita.


“Ki, udah ketemu?” kata Usman keluar dari ruangan, diikuti oleh Femy yang sudah siap untuk pulang.


“Udah, Bang. Thank you, ya!” balasnya tampak akrab.


“Git, kita pulang duluan. Kamu ditemenin sama Arki aja. Berdua.” Usman memberi kode-kode lewat alisnya yang naik turun.


“Tapi kan Arki—“

__ADS_1


“Gak apa-apa. Dia bukan dari perusahaan saingan kok, saya udah izinkan juga kok sama Pak Satpam,” sergah Usman.


“Bye, Gita.” Femy kemudian ikut berpamitan.


Arki menempatkan dirinya sendiri di samping depan meja Gita. Mengawasinya yang sedang fokus pada laporan. Matanya tidak bisa lepas melihat gerak-gerik perempuan tersebut.


Meskipun hanya diam menatapnya, Gita benar-benar tidak senang dengan keberadaan Arki. Rasanya seperti sedang bekerja diawasi oleh atasan.


“Kenapa sih kamu harus ngawasin aku kayak gini? Aku tuh bukan tahanan militer. Gak akan kabur atau lari dari kamu kok. Gak usah kan sampai datang ke kantorku dan izin sama atasanku kayak gini,” gerutu Gita.


“Siapa bilang aku kesini buat ngawasin kamu biar gak kabur?”


“Terus ngapain diem disini dan lihatin aku terus?”


“Aku lagi berfantasi liar,” jawab Arki santai. “Kalau aja kamu udah bisa diajak ber cinta, kayaknya seru kalau main di kantor yang sepi kayak gini. Ayo buka kemeja kamu cepetan!”


“Gak waras kamu! Emang pikiran kamu tuh kotor!” sambar Gita kesal. Menutupi dadanya dengan kedua tangan.


Arki terkekeh melihat reaksi Gita. “Ya emang. Terus kenapa? Lagian wajar aja punya pikiran kotor sama istri sendiri.”


“Dulu aku pikir kamu orang baik, terhormat, berwibawa dan gak punya pikiran menjijikkan kayak gini. Ternyata selama ini aku salah.”


“Dulu aku juga pikir kamu cewek baik, polos, dan jujur. Ternyata penipu,” balas Arki tidak mau kalah.


Gita sekarang langsung diam. Iya. Dia sendiri mungkin jauh dari bayangan yang orang lain kira. Diam-diam punya pikiran jahat untuk menipu seseorang. Dia tidak bisa membalikkan kata-kata Arki tersebut. Lekas saja pandangan matanya dialihkan kembali pada laporannya.


Arki tersenyum melihat Gita salah tingkah. “Kamu boleh menipuku demi uang kok, lagian aku bakalan cepat tahu kalau kamu bohong. Mau habiskan uangku buat belanja atau berfoya-foya juga terserah. Tapi kamu harus ingat buat ikuti aturanku dan melayaniku,” ucap Arki penuh penekanan.


Gita mendengus dan tidak membalasnya. Dia malas berdebat atau mendengarkan ocehan Arki tentang itu. Setiap hari dia selalu mengatakannya. Mematuhinya, mengikuti aturannya, dan melayaninya. Benar-benar laki-laki otoriter.


Menyebalkan!


Arki membawakan Gita makanan dan kopi untuk menemani lemburnya. Selama hampir dua jam Gita menyelesaikan pekerjaannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 dan mereka mempersiapkan diri untuk pulang.


Mereka masuk ke lift yang kosong, hening saat mereka menaikinya. Arki bisa melihat pantulan dirinya dan juga Gita di cermin lift. Tak melepaskan pandangannya.


Meskipun sejak tadi dia terus memandangi gadis itu selama dua jam. Rasanya pikiran kotornya belum juga usai. Belum, sampai akhirnya bisa dilampiaskan pada tubuh cantik menggoda yang masih dibungkus kemeja kerja berwarna pink itu. Arki tidak bisa menahan pikirannya sendiri yang menyerbu penuh hasrat menggebu.


Arki menarik lengan Gita dan menyudutkannya ke dinding lift. Dengan cepat memagut bibir perempuan tersebut. Kasar dan liar, seperti pikirannya yang terus berlarian. Kedua tangannya kini menyelip ke rok span, menggenggam sekuatnya bulatan sintal pantat istrinya.


Gita mendorong mundur bahu Arki, mencoba melepaskan juga kedua tangannya yang memutar liar pantatnya. Sementara lidahnya dipenjara penuh gelora oleh Arki. Mencerup penuh, hingga Gita tidak mampu bersuara.


Pintu lift berdenting cepat dan terbuka di lantai 10. Seorang perempuan cantik menatap pemandangan penuh pergulatan itu dan bergeming dari tempatnya.


Luna!

__ADS_1


Teriak Gita kaget dalam hatinya.


 


__ADS_2