
Gita menyajikan makanan di meja. Sudah sejak pagi dia memasak berbagai macam makanan yang lezat. Dia ingin berterima kasih kepada Arki karena mengajaknya makan di tempat mewah dengan makanan yang sangat enak, hingga saat dimimpi pun Gita masih merasakannya.
Arki tentu saja memuji setiap masakan yang Gita buat. Baginya, restoran manapun tidak ada yang bisa mengalahkannya. Semua hal pada diri Gita punya pesonanya sendiri untuk Arki. Padahal, dia tidak pernah menyangka akan berpikir seperti itu awalnya.
Hanya dorongan rasa penasaran akibat kejadian di karaoke malam itu saja. Makanya Arki bersedia melanjutkannya hubungan ke arah pernikahan. Selain itu karena tuntutan Gita mengenai kehamilannya.
Ibunya mungkin benar, ada sesuatu yang berubah darinya setelah menikah dengan Gita. Entah berat badannya yang terus naik atau perasaannya yang lebih lapang sekarang.
Selama setahun terakhir ini, harus Arki akui. Dia tidak terlalu menikmati makanannya dan pikirannya sering terganggu, akibat ketakutannya mengalami impotensi karena masalah psikologis setelah putus dengan Luna. Padahal dia sudah mencoba melepaskannya bersama pacar-pacar terdahulunya. Tidak ada yang berhasil. Tapi Gita datang mengobati masalah keduanya sekaligus.
Meskipun hingga sekarang mereka belum menemukan titik temu dihubungan mereka, Arki meyakini bahwa hanya dengan Gita, masalahnya akan terselesaikan. Tidak peduli Gita mau atau tidak dengannya. Kalau oerlu Arki akan terus memaksanya tinggal. Menjadi miliknya.
“Kapan jadwal periksa ke dokter, Git?” tanya Arki saat selesai makan.
Gita yang masih mengunyah makanannya langsung terdiam. Panik. Dia hanya menatap lurus pada Arki yang duduk di hadapannya.
“Bulan lalu tanggal segini periksanya, kan? Kamu mau aku anterin kapan? Biar aku bisa ambil cuti kalau jadwal dokternya pagi,” lanjutnya terus mendesak Gita.
Gita tidak menyangka Arki akan mengingat jadwal pemeriksaan kehamilannya. Gawat! Gita benar-benar tidak ada persiapan sama sekali.
Dia berniat untuk melakukan rencana kegugurannya minggu ini, bukan diajak untuk pemeriksaan kehamilan. Haruskah dia berpura-pura keguguran sekarang? Tapi Gita belum mengalami tanda-tanda datang bulan.
“Nanti ... Aku kasih tahu kamu,” jawab Gita ragu.
“Harus yang pasti dong, Git! Aku kan gak bisa asal cuti gitu aja. Kerjaanku nanti terhambat. Gimana kalau besok aja? Soalnya lusa aku kan harus ke Malang,”
Hah? Besok?!
Gawat?!
Gita ayo berpikir!!!
Seketika Gita panik tidak karuan mendengar kata-kata Arki yang menyuruhnya untuk memeriksakan kehamilannya besok. Bagaimana bisa dia melakukan itu? Memeriksakan perutnya yang kosong tanpa apapun tumbuh disana ke dokter kandungan. Benar-benar gila!
“Aku ajukan cuti buat besok kalau kamu setuju,” lanjut Arki.
“Kamu gak usah ambil cuti. Pemeriksaannya sore kok, jadwal malam juga ada. Jadi kita kesana setelah pulang kerja. Aku di kantor masih ada beberapa laporan juga yang harus dikerjakan, jadi gak bisa ambil cuti,” kata Gita panik.
__ADS_1
Arki memandang istrinya itu sejenak dengan ragu. “Ya udah kalau gitu. Besok aku jemput kamu pulang kerja. Kita langsung ke sana.”
Bahu Gita langsung melorot karena lemas. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghindari hari itu datang. Arki pasti akan melakukan segala cara agar bisa ikut memeriksakan kehamilan pura-puranya itu.
Gita benar-benar panik dan ketakutan sekarang. Rasanya ingin berharap besok hujan meteor turun dan menghancurkan dunia.
...****************...
Gita memandang jijik makanan yang ada dihadapannya. Bahkan sejak pagi saat dia memasaknya pun, Gita sudah merasakan mual yang teramat mengganggu. Tapi Gita harus menguatkan dirinya untuk memakan kulit ayam ini.
Gita menyuap satu sendok penuh oseng kulit ayam pedas ke mulutnya. Meskipun rasa bumbunya gurih dan pedas yang membuatnya enak. Tapi Gita bisa merasakan tekstur kenyal aneh dari kulit ayam yang membuatnya seketika mual. Susah payah Gita menelan makanan tersebut. Suapan kedua pun kembali masuk ke mulut.
Saat suapan ketiga. Gita berhenti. Perutnya bergolak dan kepalanya pusing. Gita langsung berlari ke toilet kantor untuk muntah-muntah. Dia menghabiskan waktu yang lama mengosongkan perut yang sempat terisi penuh saat makan siang tadi.
Gita kembali ke ruangannya dengan wajah yang pucat, keringat dingin, dan tubuh yang lemas. Dia langsung membaringkan kepalanya ke meja. Tidak kuat lagi berdiri.
“Gita, kamu kenapa?” tanya Femy yang duduk di kubikel sebelah dengan panik.
“Aku gak enak badan. Pusing, lemas, dan mual," jawab Gita lemah.
“Wah jangan-jangan Gita hamil nih,” tambah Mila dari mejanya.
Gita pun mengikuti saran Tama. Meminta izin untuk pulang lebih awal. Meskipun pasti gajinya dipotong karena ini, Gita tidak peduli. Gita duduk kembali ke mejanya untuk mempersiapkan kepulangan.
“Mau aku anterin pulang, Git?” tanya Tama terdengar tulus dan sangat khawatir.
“Gak usah, Tam. Kamu lanjut kerja aja. Aku mau telepon suamiku buat jemput.”
“Tapi suami kamu juga kerja, kan? Pasti susah izinnya. Sekalian aja aku izin sekarang sama Pak Usman. biar gak usah nunggu lama. Kamu udah lemas kayak gini.”
“Gak usah. Arki pasti langsung jemput kok kalau aku minta,” tolak Gita lagi.
Saat ini Gita hanya ingin dijemput pulang oleh Arki. Dia melakukan semua ini agar Arki datang dan menjemputnya pulang ke rumah. Ada maksud dibalik tindakannya ini.
“Arki, kamu lagi sibuk gak?” kata Gita terdengar mengkhawatirkan disambungan telepon. Setidaknya dia harus terdengar seperti itu agar Arki khawatir padanya.
“Nggak terlalu. Kenapa emangnya? Kamu kenapa kayak gitu, Git?”
__ADS_1
“Aku gak enak badan. Kepalaku pusing, badanku lemas, dan dari tadi aku muntah-muntah terus. Bisa jemput gak, Ki? Kalau gak bisa, aku naik grab aja.”
“Aku jemput kesana sekarang.”
Gita langsung menaiki mobil Arki saat terparkir di area drop off. Dia membenamkan diri di kursi, terkulai tak berdaya dengan perut yang bergejolak luar biasa. Gita juga masih bisa merasakan dorongan untuk muntah sekarang.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Arki saat menjalankan mobilnya ke luar kantor.
WHAT?! Bukan seperti ini skenarionya!!
“Gak mau! Aku pingin pulang aja,” rengek Gita.
“Gita, kamu kelihatan pucat kayak gitu. Nanti kamu kenapa-kenapa lagi.”
“Gak apa-apa. Aku cuma butuh tiduran aja di rumah, Ki. Please, aku mau pulang aja.”
“Di rumah sakit juga kamu bisa tiduran. Malah banyak dokter yang merawat kamu nanti biar cepat sehat. Dibandingkan di rumah, aku gak bisa apa-apa buat bantu kamu.”
“Arki, Please. Kita pulang aja ya? Aku gak mau kalau sampai dirawat di rumah sakit. Aku gak suka,” rengek Gita lagi. Sekarang sambil menangis karena panik luar biasa. Dia selalu saja salah memperkirakan tindakan Arki.
“Kamu kenapa sih keras kepala banget, Git? Keadaan darurat kayak gini kamu harus ke dokter, bukan pulang ke rumah!”
“Arki, please. Aku mau pulang aja.” Gita benar-benar putus asa, memohon pada Arki hingga berderai air mata.
Arki menghela napas. “Ya udah, kita pulang.”
Gita hanya bisa berbaring di kasurnya setelah muntah-muntah hebat saat sampai di rumah. Tubuhnya lemas tidak berdaya disertai demam. Diam-diam Gita sudah meminum pereda mual yang biasa dia minum untuk mengobati masalah alergi kulit ayamnya.
Arki duduk di tepian ranjang, menempelkan plester penurun deman di kening Gita, dan mengelus lembut kepalanya. Kecupan singkat di pipi dia daratkan. Gita tidak protes sama sekali, sepertinya sudah nyaris terlelap efek obat yang diminumnya.
Sebenarnya Gita tahu gerak-gerik yang dilakukan oleh Arki sekarang. Dia naik ke ranjang dan sedang memeluknya. Tapi saat ini Gita tidak punya kekuatan untuk sekadar mendorong tubuh laki-laki menjauh. Malah kehangatannya terasa nyaman dan menenangkan.
Mungkin karena Gita sekarang merasa telah sukses menjalankan rencananya. Menghindari datang ke pemeriksaan kehamilan hari ini dengan alasan sakit. Arki tidak bisa memaksanya kali ini. Apalagi besok dia harus berangkat ke luar kota untuk perjalanan bisnis. Setidaknya ada waktu untuknya menghindar dari pemeriksaan. Kemudian menjalankan strategi keguguran.
“Aku baru lihat lagi kamu muntah-muntah kayak gini. Kenapa tiba-tiba, Git?”
Gita tidak menjawab. Dia sudah terlanjur larut dalam mimpinya. Arki hanya terkekeh melihatnya. Merapatkan pelukan yang jarang sekali mereka lakukan.
__ADS_1