Istriku Penipu

Istriku Penipu
Berpura-pura


__ADS_3

Aditya turun dari mobil, menatap rumah muram itu sambil menghela napas berat. Ketika sampai di depan pintu berwarna putih, sudah diduganya kalau itu terkunci. Aditya langsung memberi kode pada laki-laki kurus berambut keriting dibelakangnya untuk mengotak-atik kunci tersebut. Tidak lama suara klik terdengar, pintu akhirnya terbuka.


“Beneran mati kali nih anak,” gumamnya saat melihat rumah yang berdebu, gelap dengan tirai tertutup, dan seperti tanpa penghuni.


Sekali lagi Aditya memberi kode pada orang-orang yang mengikutinya di belakang untuk melakukan tugasnya. Dua orang perempuan langsung dengan sigap membereskan rumah berantakan tersebut.


Mereka menyingkirkan sampah dan makanan yang hampir membusuk di dapur, mencuci piring-piring di wastafel, baju-baju yang teronggok di laundry room, dan membersihkan seluruh rumah yang berdebu dan kotor tersebut.


Sementara orang suruhannya bekerja, Aditya masuk ke kamar utama. Untunglah kamar itu tidak dikunci. Pandangan Aditya mengedar ke sekitar kamar yang pengap dengan tirai yang masih tertutup meskipun sekarang sudah hampir jam 11 siang. Kemudian seonggok manusia yang meringkuk di ranjang mengalihkan perhatiannya.


“Bener ya kata si Adrian, kalau urusannya sama cewek kamu tiba-tiba langsung jadi g o b l o k,” katanya sambil membuka tirai dan jendela kamar. Kemudian mengambil kursi meja rias dan duduk di hadapan Arki.


Sekilas Arki melihat Aditya, tapi membenamkan kepalanya kembali dibalik selimut. Dia tidak ingin bertanya kenapa makhluk itu bisa masuk ke rumahnya, sudah pasti dia membobolnya dengan kasar. Tapi Arki tidak peduli. Saat ini sedang butuh waktu untuk sendirian.


“Mamih Marsela kemarin masuk rumah sakit. Aku yang bawa karena katanya semingguan ini gak enak badan mikirin anaknya yang gak bisa dihubungi. Dia gak mau kamu tahu soalnya takut kepikiran dan menambah beban, karena aku gak peduli sama kamu jadinya aku bilang deh sekarang,” kata Aditya berbicara dengan santai.


Arki tidak menjawabnya. Dia memang mengkhawatirkan kondisi ibunya. Pasti saat ini dia juga sama kehilangannya seperti Arki. Tapi dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk terus terpuruk seperti sekarang. Orang yang sedang butuh diselamatkan dari rasa sakit karena kehilangan adalah dirinya sendiri.


Seminggu setelah mereka memakamkan Gita, Arki kembali ke rumahnya. Mengurung diri, menangis, dan meratap. Arki nyaris gila karena kepergian Gita. Perasaan sakit dan penyesalannya begitu besar hingga sulit ditanggungnya.


“Kamu pikir kecelakaan istri kamu itu hal yang wajar terjadi, Ki? Disaat si tua bangkotan berusaha jodohin kamu sama anak pengusaha yang lagi kerjasama dengannya, rumor kamu jadi penerus bisnis, tiba-tiba istrimu menghilang dan kecelakaan tragis,” ungkap Aditya.


“Jadi menurut kamu, aku gak tahu dan gak kepikiran si tua bangkotan terlibat, gitu?” kata Arki akhirnya bersuara. Setelah seminggu membungkam mulutnya pada siapapun.


“Terus kenapa malah galau-galauan dan mengurung diri kayak gini, sampai ibu sendiri gak kamu hubungi?”


“Kamu bisa bersimpati sedikit gak sih? Menurutmu, aku harus langsung kelihatan baik-baik aja setelah istriku meninggal? Kamu emangnya gak pernah ngerasain ditinggal mati—“ Arki menghentikan dirinya agar tidak berbicara terlalu jauh.


Aditya terkekeh. “Aku lebih tahu rasanya. Udah ngerasain sendiri pas ibuku meninggal karena kecelakaan. Makanya aku kesini buat kasih kamu pengingat biar gak jadi lembek dan g o b l o k. Kalau Arya beneran terlibat dalam kecelakaan istri kamu, bukannya kamu punya lebih banyak alasan buat bantu rencanaku biar berjalan mulus? Si Adrian juga mulai gak sabar nunggu kamu selesai galau.”

__ADS_1


Arki bangkit dan duduk di ranjang, menghadapi Aditya yang tetap bersikap santai. Arki memang tidak seharusnya terlalu sedih berlarut-larut hingga seperti ini. Apalagi mengacuhkan ibunya hingga menjadi sakit. Jika Arya terlibat pada hilangnya Gita dan juga kecelakaannya, dia pantas mengungkapkan dan menuntut balas.


“Kasih orang-orangmu buat bantu aku cari bukti. Agus dan Patra lagi diawasi Basuki,”


“Nah, gitu dong, bro! Otaknya udah jalan lagi.” Aditya keluar kamar sejenak kemudian membawa laki-laki kurus berambut keriting masuk.


“Namanya Danu. Dia sekarang yang bakal bantuin kamu nyari tahu soal kecelakaan istrimu. Kasih tahu aja dia harus mulai dari mana,” kata Aditya memperkenalkan Danu pada Arki. “Oh ya, aku udah bawa orang buat bersihin rumahmu yang kayak kapal pecah dan masakin kamu makanan manusia. Perintah Mamih Marsela. Jangan lupa jenguk di rumah sakit. Awas kamu jangan jadi anak durhaka!” lanjut Aditya kemudian lekas keluar kamar.


Saat Arki akan mulai berbicara dan memerintahkan Danu menyelidiki sesuatu, Aditya muncul kembali di ambang pintu.


“Jangan lupa mandi, badan kamu bau kayak bangkai tikus!” kata Aditya sambil tersenyum geli.


“Pergi lo, Anjingg!” Teriak Arki kesal. Rasanya dia ingin menjambak rambut gondrong Aditya.


...****************...


Dia berjalan diantara koridor rumah sakit, menuju ruang rawat inap ibunya. Membawakan seikat bunga dan sekeranjang buah mangga kesukaan Ela.


Arki juga sudah tampil bersih dan wangi seperti biasanya. Memotong rambutnya yang sedikit panjang, mencukur kumis dan janggutnya yang tumbuh liar selama seminggu kebelakang, serta mandi hingga wangi. Agar Aditya tidak meledeknya lagi.


Saat sudah mendekati ruangan ibunya, Arki melihat Basuki baru saja keluar dari sana. Laki-laki itu tersenyum dan dengan sopan menundukkan kepalanya.


“Saya senang Mas Arkian sudah terlihat lebih baik dan sehat semenjak terakhir kita ketemu,” kata Basuki menyapa.


Terakhir kali dia menemui Arki adalah saat pemakaman Gita. Laki-laki itu terlihat berantakan dan tidak terurus. Berbeda dari sekarang yang tampak gagah kembali. Mungkin akhirnya, anak bosnya itu mulai bisa melupakan istrinya yang sudah pergi.


“Aku udah ngerasa lebih baik sekarang dan mencoba mengikhlaskan. Makasih buat bantuan Pak Basuki dan juga ayah, Gita akhirnya ketemu walaupun udah dalam keadaan gak bernyawa,” kata Arki terdengar tentang dan tulus.


“Saya menyayangkan Mbak Gita akan pergi secepat itu dengan kondisi tragis.”

__ADS_1


Arki hanya mengangguk. “Oh ya. Aku udah resign dari perusahaan Bang Damar sebulan lalu. Sekarang aku lagi memikirkan buat lanjut kerja lagi. Mungkin ada baiknya aku nyobain tawaran ayah soal gabung di perusahaan. Aku lagi mempertimbangkan itu.”


Basuki terperanjat mendengarnya, tapi kemudian tampak senang dengan keputusan Arki untuk mempertimbangkan bergabung di perusahaan. Pasti banyak kerjasama yang akan mereka dapatkan dengan munculnya Arki disana.


“Saya menyambut baik rencana Mas Arkian. Hubungi saja kalau Mas Arkian sudah memutuskan dan siap bekerja. Nanti saya jadwalkan agar bisa bertemu Pak Arya.”


“Gak udah nunggu nanti. Aku kesana nanti malam.”


Arki menyelesaikan pembicaraannya dengan Basuki, kemudian masuk ke ruang rawat inap. Ela sedang duduk bersandar di atas ranjangnya sendirian. Memencet remote mencari saluran TV untuk dinikmati.


“Kok gak ada yang nungguin?” kata Arki dengan senyuman berbinar saat melihat ibunya.


“Kamu kok gak bilang dulu mau dateng? Kamu udah gak apa-apa, Nak?” tanya Ela kaget melihat kedatangan Arki. Mereka saling memeluk melepaskan kerinduan.


Anaknya itu sulit dihubungi setelah pemakaman Gita. Ela khawatir, tapi dia juga ingin memberinya waktu agar Arki bisa meluapkan kesedihannya sendiri. Memberi ruang agar anaknya cepat mengikhlaskan.


“Ibu nyuruh Irma buat pulang dulu dan istirahat. Katanya Aditya mau kesini nanti,” kata Ela sambil tidak berhenti mengelus pipi Arki. “Kamu udah kelihatan seger sekarang,” lanjutnya.


“Luarnya aja. Dalamnya masih tetap sama, aku masih gak bisa relain Gita pergi,” kata Arki akhirnya jujur. Dia tidak mau menyembunyikan perasaannya di depan ibunya.


“Gak akan ada yang langsung rela dan menerima pas ditinggal orang yang kita sayangi meninggal. Lukanya bisa membekas lama, bertahun-tahun atau mungkin selamanya. Tapi kita orang yang masih ada ditinggalkan mereka, harus tetap hidup kayak biasanya. Waktu kita belum berakhir di dunia dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.”


“Aku tahu. Tapi buat saat ini, biarin aku sedih dulu.”


“Kamu boleh sedih sebanyak yang kamu mau. Tapi jangan pernah berpikir buat ikut pergi, ya? Ibu takut karena patah hati, kamu jadi gak bisa lihat ada orang-orang yang masih sayang disekirmu. Jangan menyakiti diri sendiri dengan perasaan bersalah. Gita mungkin pergi ninggalin kamu, tapi bukan kamu penyebab dia meninggal.”


Arki mengangguk. Meskipun sebagian dari dirinya masih menyalahkan diri sendiri. Arkilah alasan Gita pergi. Jika dia tidak meninggalkan rumah, mungkin Gita tidak akan berakhir tragis seperti itu. Jika saja Arki bisa meyakinkan Gita untuk tinggal. Jika saja Arki bisa membuat Gita mencintainya juga.


Tapi kini ada bagian dari dirinya yang lain, semakin tidak mempercayai kepergian Gita adalah kesalahannya sepenuhnya. Pembicaraannya dengan Aditya meyakinkannya, ada keterlibatan Arya dalam kematian Gita. Arki harus mencari tahu tentang itu. Menemukan kesalahan sekecil apapun untuk mengungkapkan kebenaran. Hingga hatinya puas dan kemudian ikhlas untuk melepas kepergian Gita.

__ADS_1


__ADS_2