Istriku Penipu

Istriku Penipu
Peringatan Dari Arki


__ADS_3

Gita mematung bingung di jalan saat Arki menyuruhnya keluar dari mobil. Kendaraan tersebut bergerak. Anehnya bukan menjauh pergi meninggalkan Gita yang hanya berdiri dari tadi, melainkan berbelok dan memarkirkan diri di lahan kosong di daerah pertokoan.


Arki turun dari mobil, langkahnya terayun mendekati Gita. Tangannya kemudian menggandeng dan setengah menyeret perempuan yang diam seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Gita tidak bereaksi apapun. Tidak berteriak, menolak, atau membantah. Dia hanya bingung dan kaget. itu saja.


Arki menuntunnya menuju ke sebuah food court tidak jauh dari tempat Gita di turunkan. Tiba-tiba saja mereka sudah duduk di salah satu kursinya, pelayan dengan ramah menyambut dan memberikan setumpuk menu dari stand makanan yang buka disana.


“Kamu pasti kecapekan dan gak bisa masak buat makan malam. Kamu mau pesan apa?” tanya Arki yang akhirnya berbicara, menambah kebingungan Gita.


Hah?!


Gita hanya menatap Arki dengan pandangan aneh. Sulit menggambarkan perasaan shock yang dirasakannya saat ini. Dia bahkan mengalihkan pandangan dari mata gelap seperti jelaga milik Arki ke tumpukan buku menu di meja secara bergantian. Gita terdiam ketakutan, saat tadi dia tiba-tiba diusir turun dari mobil. Tapi sekarang dia malah berakhir duduk di tempat makan.


“Aku …” kata Gita mulai bersuara. “Aku pikir … kamu ngusir aku …” lanjutnya nyaris menangis.


“Hah?” seru Arki bingung, alisnya bertau sambil menatap Gita dengan pandangan aneh. “Aku marah dan kesal sama kamu, tapi gak mungkin ngusir kamu. Tadi aku berhenti disini karena lihat banner Soto Mie Bogor. Udah lama gak makan itu,” lanjutnya yang tidak peduli dengan ketakutan Gita.


Arki tampak biasa saja, malah sekarang sedang sibuk memesan makanan yang tadi dibicarakannya. Padahal 5 menit yang lalu laki-laki itu menggeram marah dan nyaris menerkam Gita dengan kata-katanya.


Gita tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang. Apakah Arki masih kesal padanya? Bagaimana harus bersikap setelah ini?


“Kenapa gak dimakan? Gak suka?” tanya Arki saat Gita masih tercenung menatap makanan di hadapannya. Sementara mangkuk miliknya nyaris tandas.


“Kamu masih marah sama aku, kan? Kenapa malah ngajak aku makan?”


“Habisin dulu makanan kamu. Tadi siang kamu belum selesai makan, kan? Aku masih marah, tapi kamu harus makan dulu. Aku gak mau marahin kamu pas kamu dalam keadaan lapar. Nanti malah jadi gak mau makan sama sekali, gak bagus buat bayi dalam perut kamu."


Gita tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Arki. Dia tidak berselera sama sekali memakan hidangannya. Tapi laki-laki di depannya terus mengawasi, seperti macan yang siap menerkam Gita kembali dengan kemarahan dan kata-kata tajamnya.


Belum habis semua makanan dimangkuk, Gita sudah mendorongnya menjauh. Menyerah karena perutnya melilit akibat terlalu gugup. Tidak sedetik pun Arki mengalihkan pandangannya dari Gita. Sekecil apapun gerakannya, mata laki-laki itu terus mengikuti.

__ADS_1


“Kenapa gak dihabisin?”


“Perutku gak enak,” ucap Gita menatap makanannya tak berminat.


Air muka Arki langsung berubah menjadi khawatir. Tadinya dia menekuk wajahnya dengan ekspresi kesal. Sekarang rasanya bersalah sudah memaksa Gita untuk makan. Apalagi memarahinya. Pasti perempuan itu sedang mual dan tidak berselera makan. Emosinya juga sepertinya sedang tidak stabil karena kehamilannya.


Semua tentang kehamilan Gita bagi Arki sangatlah baru. Mungkin sikap menyebalkan perempuan itu berasal dari hormon kehamilan yang tidak stabil.


Sial! Harusnya Arki tidak cepat emosi seperti ini. Bagaimana kalau Gita ambruk lagi seperti saat dulu berkunjung ke rumah ibunya?


“Kamu gak enak badan? Mual? Pusing?” tanya Arki khawatir.


Gita langsung bisa menangkap perubahan dinada bicara Arki padanya. Dia juga terlihat lebih lembut sekarang, tanpa tatapan menerkam dan menakutkan yang dia pasang sejak tadi menjemputnya pulang.


Ini kesempatan! Arki sepertinya sedang berpikir Gita mengalami mood swing karena kehamilan. Gita harus memanfaatkannya untuk menghindar dari sikap sok mengatur tidak jelas suaminya itu.


“Hmm … aku gak selera makan dari tadi siang. Makanya gak habisin makananku dan cowok yang tadi kamu lihat beliin aku minuman segar, itu atasanku. Aku mual dan pingin muntah tadi, Ki. Malu kalau hari pertama aja udah kelihatan lemah. Apalagi kamu nambahin masalah dengan marah-marah gak jelas dan video call pas mood aku jelek,” papar Gita berbohong. Dia menampilkan sorot mata paling sedih yang bisa dia lakukan, agar Arki berhenti menatap dingin dan memarahinya.


“Aku tahu kamu khawatir dan gak setuju aku kerja lagi. Tapi tolong jangan ngehubungi tiba-tiba kayak tadi, aku lagi adaptasi di tempat baru. Apalagi langsung marah-marah dan nuduh sembarangan pas telepon. Kita kerja, Ki. Gak mungkin bisa terus teleponan setiap waktu atau balas chat terus-terusan. Tadi aku baru on hands kerjaan, ga mungkin kan main HP terus depan atasan? Aku minta maaf karena matiin HP-nya.”


Arki menghela napas dan mencondongkan tubuhnya, menatap lekat pada Gita. “Aku khawatir dan pingin lihat kamu baik-baik aja atau ngga. Makanya aku ngehubungin kamu. Sekarang janji sama aku, seenggaknya kita bisa video call sekali aja selama kamu kerja, biar aku bisa lihat kamu beneran baik-baik aja. Sempatin waktu 5 menit aja selama jam istirahat, bisa?” pinta Arki.


Apaan sih laki-laki ini? Kenapa sampai seingin tahu itu dengan keadaannya? Posesif tidak jelas! Gerutu Gita dalam hati, sebenarnya membenci ide tersebut.


Gita tidak mau menambah masalah lagi sekarang, bertengkar dengan Arki melelahkan dan menakutkan. Membuat jantungnya berpacu keras, seakan setiap saat dia bisa di PHK tiba-tiba. Apalagi perilakunya tadi di mobil, mengusirnya keluar begitu saja.


Gita curiga, tujuan Arki sebenarnya memang menurunkannya di tengah jalan karena emosi. Hanya saja logika berpikir dan empatinya masih berjalan, dia tidak tega melakukan itu karena tahu Gita sedang hamil.


“5 menit aja. Chat dulu sebelum video call,” kata Gita menyetujui.

__ADS_1


“Satu lagi. Aku gak suka kamu terlalu dekat sama atasan cowokmu yang tadi. Kerja dan ngobrol seperlunya aja! Gak usah nongkrong, pulang bareng, atau melakukan kegiatan apapun cuma berdua aja.”


“Arki, aku disana kerja. Gak mungkin bisa interaksi aku dibatasi kayak gitu. Gimana kalau aku harus pergi meeting atau perjalanan bisnis keluar berdua sama dia? Kamu gak bisa kayak gini!” serang Gita marah, sekarang Arki semakin tidak masuk akal.


“Jelas gak akan aku izinkan perjalanan bisnis ke luar kota, apapun alasannya. Lebih baik kamu ngomong soal kondisi ini ke atasan dan tim kamu.”


“Arki!” protes Gita tidak terima.


“Kalau kamu gak setuju sama aturanku, mending resign aja,” jawab Arki dingin. Sikap lembut yang sempat tadi dia tunjukkan menguap dengan cepat.


Gita menatap galak, tidak terlalu senang dengan tingkah Arki yang sekarang sedang mencoba kembali mengaturnya. Bekerja dan mengobrol seperlunya? Tidak boleh melakukan kerja berdua? Maksudnya apa? Dia pikir Gita harus membatasi interaksi sosialnya dengan atasannya sendiri karena Arki tidak suka?


Luar biasa tidak masuk akal. Laki-laki ini benar-benar posesif dan menyebalkan!


“Kamu kenapa sih sampai kayak gini, Ki? Kamu cemburu dan takut aku bakal selingkuh, gitu?”


“Iya,” jawab Arki dengan lugas dan cepat.


Mereka mungkin menikah karena terpaksa, karena Gita hamil anaknya tanpa diduga. Tapi Arki sangat tidak suka perempuan yang sudah menjadi miliknya dekat dengan laki-laki lain.


Perasaan seperti ini mungkin tidak bisa dikatakan cinta. Arki hanya tidak mau kejadian dulu terulang kembali. Trauma yang membuatnya sakit hati dan menderita, ketika perempuan miliknya berkhianat dan memilih laki-laki lain, teman kerjanya sendiri.


“Kamu punya aku. Mau atau pun gak mau, setelah ijab qabul kamu punyaku. Kamu datang sendiri minta aku tanggung jawab dan kamu bersedia nikah sama aku, berarti kamu gak berhak protes lagi kalau aku ngatur hidup kamu. Ngerti, Gita?” ucap Arki tegas tanpa berbasa-basi. Mata gelapnya yang kini menatap Gita menyiratkan peringatan yang membahayakan.


Gita tertegun dengan kata-kata penegasan dari Arki. Padahal mereka belum mengenal lama. Gita pun yakin tidak ada cinta diantara mereka. Tapi Arki dengan berani mengatakan bahwa Gita adalah miliknya. Menakutkan.


Arki yang dilihatnya sekarang, duduk dihadapannya, bukanlah Arki yang Gita kenal selama 2 tahun bekerja di tempat yang sama. Semua kebaikan dan pesonanya itu seakan palsu. Gita merasa bahwa dirinyalah yang sedang ditipu, bukan sebaliknya.


Kini Gita tahu, Arki hanyalah laki-laki biasa seperti yang lainnya. Mesum, senang bermain perempuan, brings*k, pencemburu, dan posesif. Gita kini membenci keputusannya menjerat Arki ke dalam pernikahan palsu ini.

__ADS_1


 


__ADS_2