
Arki berdiri mendampingi Damar melakukan teeing shot, bola melambung saat di pukul stik golf menuju hamparan rumput luas. Masih jauh mendekati hole. Dengan kecewa Damar menghampiri dan melakukan pukulannya lagi. Kali ini bola juga belum mencapai hole, tapi terhenti di area rough. Arki terkekeh mengikuti. Damar berusaha sekali lagi untuk memukul pelan bola hingga akhirnya masuk ke hole pertama.
“Katanya suka latihan, kok amblas permainan kamu, Bang?” kata Arki menertawakan Damar yang butuh beberapa kali pukulan untuk mencapai hole.
“Berisik ah! Gugup kayaknya dilihatin kayak gini sama juara nasional.” Damar ikut tertawa.
“Sepuluh tahun lalu. Sekarang udah lupa gimana mainnya, jarang dipake.” Arki mulai bersiap melakukan tee shot.
“Jangan merendah, Ki. Bakat gak akan hilang. Makanya aku ajakin tiap minggu latihan, kamunya gak mau. Betah amat dirumah. Ngapain sih?”
“Biasa. Olah raga bareng istri,” ucap Arki santai. Kemudian mereka tergelak.
“Tumben sekarang mau? Udah bosen olah raga bareng istrinya?”
“Nggak sih. Dia lagi pergi outing sama orang teman kerjanya sampai Minggu di Lembang.”
Arki sebenarnya enggan untuk memberikan Gita izin melakukan kegiatan seperti itu. Apalagi tanpa kehadirannya. Dia tidak ingin melepas Gita dari padangan matanya. Kian hari semakin terobsesi.
Aneh memang, awalnya dia tidak percaya bahwa hanya dengan Gita dia bisa melakukan permainan ranjang kembali. Ditengah tanya dan riuh kegelisahan, dia menikmati. Masih berharap dengan terbiasa melakukannya bersama Gita, sakit mentalnya akan sembuh segera.
Gita juga sepertinya mulai terbiasa dengan kegiatan rutin yang mereka lakukan. Dia tahu, perempuan itu teramat membencinya, enggan setiap kali melayaninya. Meskipun demikian, semakin lama Gita lebih tenang dan mudah dikendalikan. Entah karena dia mulai terbiasa atau mulai menerima keadaan.
Arki tidak tahu hingga kapan mereka akan terus saling memanfaatkan. Mereka hanya terus berjalan berdampingan, terlihat sebagai pasangan, meskipun hati mereka penuh dengan kekosongan. Hubungan yang aneh untuk dipertahankan.
“Ke kelab yuk nanti malam! Mumpung kamu lagi sendirian di rumah,” ajak Damar.
Arki menaikan alis, tampak sangsi dengan yang di dengarnya. Dulu sebelum menikah, Arki rajin menyambangi kelab malam dan tempat karaoke bersama dengan Rio. Sekarang temannya itu jarang mengajaknya bergabung. Terlebih karena Arki sibuk mempermainkan Gita di rumah dan menolak ajakan nongkrong tersebut.
“Alah sok-sokan gak mau. Bapakmu, adikmu dan kamu tuh terkenal liar dari dulu. Sekarang sok tobat mentang-mentang udah kawin.”
Arki terkekeh. “Aku sering nongkrong dan minum dulu, tapi gak seliar yang diomongin orang. Kalau si Aditya baru rada sableng. Tuh bocah gak tahu aturan. Aku main bersih sama yang terpercaya.”
“Aku kasih deh yang masih segelan. Kayaknya dia ngincer kamu dari lama. Mau?”
__ADS_1
“Siapa?” kata Arki bingung. Rasanya dia tidak pernah mendekati perempuan manapun lagi semenjak kejadian dengan Olivia sebulan yang lalu. Terlalu was-was kejadian itu terulang kembali.
“Ada deh, surprise. Aku punya banyak kenalan yang sebenarnya mau sama kamu. Tapi kamu akhir-akhir ini kayak kucing jinak. Di rumah mulu. Susah diajak pergi.”
“Aku gak terlalu minat sama begituan sekarang.”
“Service istri lo joss banget, ya?” Damar terkekeh. “Gak apa-apa. Anggap aja sekarang lo lagi makan lalapan. Main course-nya ya tetap istri kita dirumah. Ganti suasana,” bujuk Damar.
“Ada ya atasan macem gini,” kata Arki berseloroh.
“Ada dong. Ini bagian dari assessment dan pengembangan karyawan juga,” canda Damar sambil tertawa.
...****************...
Atas semua bujukan dan rayuan Damar,Arki sampai di kelab malam. Musik berdentum kencang dengan berbagai orang meliuk menari seperti kehilangan akal. Arki mengingat kembali masa mudanya yang penuh ingar-bingar dan pesta pora. Semua jelas karena Rio yang sering mengajaknya. Mengelabui ibunya dan berbohong hanya untuk bermain bersama.
Arki tidak terlalu tahan minuman, dia selalu berakhir di apartemen Rio tertidur sepanjang hari setelahnya. Menyembunyikan diri agar tidak diamuk oleh ibunya. Orang yang paling bersalah atas pergaulan Arki yang sangat meresahkan, jelas Rio lah yang harus bertanggung jawab.
“Private room. Di atas aja.” Damar menyuruh Arki mengikutinya.
Mereka melangkah menaiki lift menuju lantai tiga. Ruangan-ruangan tertutup berderet memenuhi koridor. Tapi tawa, erangan, lenguhan, musik, dan semua jenis suara terdengar dibalik pintu-pintu tersebut. Arki tahu apa yang bisa saja terjadi di dalam sana.
“Ruang ini punya kamu. Aku disebelah. Udah ada yang nungguin tuh,” kata Damar mengedipkan mata. “Silakan dinikmati!” lanjutnya sambil tersenyum dan masuk ke salah satu pintu.
Arki tidak tahu apa yang dia harapkan dengan datang kemari. Mencoba lagi peruntungan untuk membuktikan kejantanannya kepada perempuan selain Gita? Entahlah. Meskipun pikirannya terus terganggu karena kenyataan bahwa dirinya masih trauma dengan pengkhianatan Luna. Hingga tidak bisa menyentuh perempuan mana pun lagi selain istrinya. Arki masih menyimpan ragu dalam hatinya.
Setengah hati dia membuka pintu bertuliskan GR-07 tersebut. Makanan dan minuman sudah tersaji disana. Lampu kerlap-kerlip menyilaukan mata. Duduk seorang perempuan dengan pakaian mini dan riasan jelita. Arki mencelos seketika.
“Amanda, ngapain kamu ada di tempat kayak gini?” ucap Arki setengah marah dan kecewa.
Dia tahu Amanda adalah orang yang dikirim ayahnya untuk mendekati Arki. Tapi gadis itu jauh dari kata penggoda. Dia sangat pemula. Gadis baik-baik yang Arki biarkan saja mengedar di sekelilingnya. Tidak pernah sedikit pun dia tertantang dengan perempuan sepertinya. Arki tidak pernah memperhatikannya. Sesaat Amanda yang seperti itu mengingatkannya pada sosok Gita yang dulu dikenalnya. Pemalu, pendiam, dan lembut.
“Pulang cepetan! Ngapain kamu dandan kayak gini? Hah?” Arki melepaskan jaketnya dan menutupi bahu mulus Amanda.
__ADS_1
“Aku mau dekat sama Pak Arki,” ucap Amanda mencoba berani.
“Aku gak mau main permainan kayak gini sama kamu. Kamu mau hancurin diri kamu sendiri? Mending kamu pulang sekarang!” seru Arki.
“Aku suka sama Pak Arki. Dari dulu, bahkan sebelum Pak Arki menikah. Aku cuma gak punya kesempatan buat deketin.”
“Kamu juga gak akan punya kesempatan sekarang!”
“Aku punya. Pak Arya bilang aku punya kesempatan.”
“Aku udah nikah, Amanda. Kamu masih muda, cantik dan pintar. Jangan rusak diri kamu sendiri dengan mengejarku karena dorongan dari ayahku! Pulang sekarang! Cepetan! Atau nggak aku pecat kamu!” ancam Arki.
Amanda mendekat dan memeluk Arki. Kemudian dia berjinjit dan mengecup bibir atasannya itu. Dia belum ahli, mencoba merayu Arki dengan lidahnya yang mulai memaksa Arki mengikuti. Tak lama lecupan pun terjadi. Kecupan canggung yang dilakukan oleh Amanda, ternyata seketika membuai Arki.
Tubuh Arki yang siaga melemas seketika juga, memeluk gadis itu mendekat, mencerup mesra dan mulai mendominasi. Bibir lembut, manis, dan ciuman canggung membuat Arki diterbangkan gelora. Lama mereka saling memagut dan mencerup. Merapat dalam dekap. Hingga tiba-tiba ponsel di saku Arki berdering nyaring.
Arki kemudian tersadar dan mendorong Amanda menjauh. Bingung tiba-tiba menghampirinya. Kali ini, tidak ada bayangan lagi tentang Luna. Tidak ada perasaan mual dan amarah yang bergolak hebat dikepala. Arki menikmatinya. Sama seperti saat menyentuh Gita. Dia memandang nyalang pada Amanda. Tidak mengerti apa yang terjadi saat ini dengannya. Dia teramat kaget untuk bereaksi.
Sementara ponselnya terus berdering keras. Tangannya cepat merogoh saku celana. Lekas mengangkat si penelepon yang mampir ke gawainya dan merusak suasana.
“Ki, Gita masuk rumah sakit. Tadi dia kecelakaan pas beli makanan sambil jalan-jalan bareng Mila,” kata Usman memberitahu.
“Hah? Terus sekarang gimana keadaannya?” seru Arki kaget. Jantungnya tiba-tiba berpacu cepat mendengar kabar tersebut.
“Masih di IGD. Lagi di tangani bareng Mila. Nanti aku kasih tahu lagi kalau udah selesai. Jangan khawatir!”
“Aku kesana sekarang.”
“Hah? Kamu mau kesini dari Jakarta? Arki … Arkian!”
Suara Usman tidak lagi Arki pedulikan. Bahkan dia tidak sempat menutup panggilan. Saat itu juga Arki berlari keluar dari ruangan, meninggalkan Amanda yang kebingungan.
Nalarnya sudah tidak lagi bekerja ketika mendapatkan kabar tentang Gita yang mengalami kecelakaan. Dia tidak mau mendengarkan penjelasan tambahan apapun dari Usman. Langsung bergerak mengendarai mobilnya, menyusul ke tempat Gita berada.
__ADS_1