
“Kamu mau aku temenin di kosan sampai pagi?” bisik Arki. Udara hangat berembus di kening Gita saat Arki berbicara.
“Nggak mau!” tolak Gita dengan tegas. Matanya terpenjam, hampir hilang kesadaran.
“Kalau gitu kenapa kamu gak lepasin pelukannya?”
Gita lekas membuka matanya, mendorong tubuh Arki menjauh. Entah sejak kapan dia memeluk laki-laki itu diatas kasur. Setengah dari ingatannya mengabur tiba-tiba. Hanya rasa mual dan pusing saja yang berhasil dia amankan di memorinya.
Arki terkekeh. “Udah enakan? Kalau masih mual dan pusing, aku nginep disini sampai pagi.” Arki masih berada di kasur, menopang kepalanya dengan satu tangan dan tersenyum pada Gita.
“Aku udah baik-baik aja. Gak usah ditemenin,” ucap Gita berbohong.
Ketika membuka matanya kembali dan berbicara, rasa mual menyeruak dari perutnya. Segera saja dia berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya yang hanya tinggal cairan bening asam.
Arki hanya memperhatikan dari ambang pintu. Percuma dia mendekati Gita yang sedang seperti itu, tindakannya malah membuat perempuan itu kesal padanya. Entah kenapa.
Gita terus-menerus muntah sejak sehabis makan siang di rumah, membuat keduanya panik hingga akhirnya memilih pulang lebih cepat dengan berbagai alasan. Jika terlalu lama disana, bisa-bisa keluarga Arki tahu soal kehamilan Gita.
Sepanjang perjalanan, mereka sering berhenti karena Gita ingin muntah-muntah. Arki terpaksa berhenti di jalan, toilet umum, atau toilet mesjid terdekat. Hingga akhirnya susah payah mereka sampai di kosan. Gita sudah pucat pasi dan lemas. Kemudian tertidur hingga menjelang malam sambil memeluk Arki.
“Udah aku bilang kan kita ke dokter aja,” kata Arki pada Gita yang terduduk di kloset dengan lunglai.
“Gak usah! Nanti hilang sendiri. Kamu pulang aja!” Gita berjalan menuju kasur dan berbaring kembali disana. Menutup matanya dengan punggung tangan. Rasanya sungguh tidak nyaman merasakan alergi makanan seperti ini. Harusnya tadi dia berhati-hati.
“Pak Arki,” panggil Gita.
“Arki.” Arki membenarkan panggilan yang sering salah Gita sebut.
“Boleh minta tolong ambilkan kotak obat di meja belajar?”
Arki mencari benda yang dimaksud oleh Gita di meja belajar. Tumpukan CV, surat lamaran, surat penagihan piutang dari bank, berbagai bukti pembayaran, dan selembar amplop bertuliskan Rumah Sakit Bunda Medika.
Arki menelisik amplop tersebut dan membukanya, sepotong foto hitam putih buram hasil USG berada di dalamnya. Bertuliskan nama Gita dan dokter yang memeriksanya, Dewi Wilarmi, Sp.OG.
Perasaannya menjadi aneh setelah melihatnya, benarkah jabang bayi yang ada di hasil USG itu miliknya? Pertanyaan besar yang masih mengganggunya. Benarkah malam itu Arki menghamili Gita? Rasanya dia masih sulit untuk percaya.
Kenapa harus Gita? Diantara semua wanita lain yang sudah dipacarinya, tidak ada satupun yang sampai pada tahap itu. Semabuk apapun dia.
__ADS_1
“Gak ada ya?” tanya Gita membuyarkan lamunan Arki. Lekas saja dia mengambil kotak plastik berwarna biru tak jauh dari tumpukan dokumen dan memberikannya pada Gita.
“Obat apaan itu?” kata Arki curiga saat Gita menelan dua pil ke mulutnya.
“Obat mual.”
“Udah berdasarkan resep dokter?”
“Iya, dari dokter kandungan,” ucap Gita berbohong. Padahal itu hanya obat mual yang dijual bebas di apotek. Setelah itu Gita kembali berbaring. “Kamu pulang aja. Aku udah minum obat, jadi bakal baik-baik aja.” Gita mengusir Arki dengan melambaikan tangannya agar laki-laki pergi.
Arki tetap bergeming. Dia menyandarkan bokongnya di meja belajar, menatap Gita yang mulai terpejam tenang. Aneh sekali rasanya melihat semua ini terjadi.
Perempuan yang sama sekali tidak diduga sekarang sedang hamil anaknya. Hasil USG yang tadi dilihatnya adalah bukti keberadaan benih yang tumbuh diperut Gita. Hasil perbuatannya.
Kenapa harus Gita? Kenapa bukan Siska, Desi, Olivia, atau Febby? Mantan-mantannya yang sudah jelas Arki ajak untuk bermain bersama.
Pertanyaan itu mengulang dan bergulung dikepalanya, nyaris tiada henti. Bukan karena apa-apa, Arki sama sekali tidak pernah memiliki perasaan pada Gita. Kini dia harus menikahinya, menjadi seorang ayah, dan hidup bersama orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Satu sisi dihatinya mereka aneh dan gelisah.
“Gita,” panggil Arki.
“Hmmm...” jawab Gita lemah. Kesadarannya mulai runtuh berjatuhan. Sulit dipertahankan karena pengaruh obat mual yang diminumnya.
“Hmm... Kamu cowok paling jahat yang melecehkan aku. Bibir kamu, tangan kamu, tubuh kamu menjamah aku dengan kasar,” ucap Gita berbohong nyaris sama lihainya dengan bernapas.
Meskipun dalam keadaan setengah sadar. Hal yang dia katakan juga tidak semuanya adalah kebohongan. Arki memang telah melakukan pelecehan dan berbuat kasar padanya malam itu.
“Bayi yang ada diperut itu anakku?”
“Jelas punya kamu. Emang siapa lagi cowok brengs*k yang tega ngelakuin itu kecuali kamu,” umpat Gita. Matanya terasa berat dia sudah tidak mampu mempertahankan kesadarannya dan nyaris seperti melayang.
“Kalau gitu aku mau buktikan sesuatu, kalau benar kamu lagi mengandung anakku dan malam itu kita beneran ngelakuin itu,” ucap Arki merangsek naik ke kasur.
Gita tidak memberi jawaban apapun, sepertinya di sudah jatuh terlelap. Arki merangkak, membawahi tubuh Gita yang terkulai lemas tidak berdaya.
Dipandanginya perempuan itu. Tidak ada yang istimewa darinya bila dibandingkan mantan-mantannya, apalagi dengan Luna. Meskipun Gita tampak manis. Hanya itu saja, tidak ada yang spesial darinya.
Benarkah dia melakukan perbuatan asusila itu pada Gita? Kenapa pada perempuan ini? Perempuan tidak istimewa ini?
__ADS_1
Arki mendekatkan wajahnya pada Gita, mengecup bibir gadis itu dan memainkan lidahnya disana. Lembut, manis, menggairahkan. Aneh. Sangat aneh. Padahal Arki tidak bisa selama itu bertahan mencerup bibir perempuan manapun setelah putus dari Luna.
Kepercayaan dirinya mulai bangkit, seiring kecupannya yang semakin intens dan lama. Arki menelusupkan salah satu tangannya ke paha lembut Gita, menyingkap bawahan dress yang dikenakan Gita sejak tadi pagi hingga terangkat keatas. Arki menelusuri kulit hangat, lembut dan mulus Gita hingga ke perut, berlanjut menggenapinya ke dada.
Arki merasakan sesuatu bangkit dari tidurnya. Ular kobra yang siap bertarung dan mengeluarkan bisanya. Dibawah sana dia sudah berdiri tegak menantang untuk dilepaskan. Hanya karena kecupan dan sentuhan tangannya di tubuh kurus tapi menggoda milik Gita, ularnya tiba-tiba ingin meronta.
Gita terbangun karena kaget, mendapati bibirnya terbungkam oleh kecupan dan permainan lidah Arki, serta rasa linu saat salah satu asetnya dicekal oleh cengkraman tangan kuat laki-laki itu. Gita berontak, mendorong dan memukul Arki dengan membabi buta.
Arki mendorong kedua tangan Gita yang lepas kendali keatas kepalanya, menahannya disana. Baru akhirnya dia melepaskan bibirnya dari Gita, menatap wajah panik gadis dibawah kekuasaannya itu.
“Anjing! Lepasin! Ngapain kamu kayak gini!” maki Gita penuh emosi. Tubuhnya masih menggeliat berontak dibawah kungkungan.
Arki tersenyum dan masih terus menatap Gita. “Ternyata aku beneran gak gila atau sakit. Aku masih normal,” ucapnya puas setelah membuktikan sesuatu.
“Lepasin! Otak mesum! Kamu gak cukup melecehkan aku dulu, hah?!” Gita semakin naik pitam melihat Arki yang santai.
“Setelah kita nikah namanya bukan melecehkan, tapi melayani,” komentar Arki dengan santai kemudian melepaskan semua belenggunya dari Gita. Dia lantas duduk di tepi ranjang.
Gita dengan segera menjauhkan diri dari Arki, memeluk tubuhnya sendiri dan menutupinya dengan selimut. Sangat protektif.
“Aku gak tahu kalau Gita bisa ngomong kasar dan galak,” kata Arki tertawa sambil berdiri dan merapikan bajunya.
“Aku juga gak tahu kalau kamu lebih mesum dan menjijikkan daripada yang aku duga!” ucap Gita yang masih marah.
Arki tidak membalasnya, hanya senyuman yang tidak bisa lepas terukir dibibirnya. Dia terus berjalan ke arah nakas dan mengambil ponselnya, memasukkannya ke saku celana.
“Kamu lucu juga kalau lagi marah-marah. Aku pulang dulu ya! Kalau ada apa-apa telepon aja.”
“Ogah!”
Arki tertawa mendengar respon galak dari Gita. Dia sama sekali tidak marah dengan sikap defensif Gita dan kata-kata kasarnya. Tidak peduli lebih tepatnya, karena Arki akhirnya membuktikan sesuatu.
Dia tidak sakit, tidak aneh, tidak mengalami disfungsi apapun. Baru saja dia merasakan kembali letupan-letupan gairah hanya dengan menyentuh tubuh Gita. Hal ini juga membuktikan keraguannya dengan kejadian malam itu, termasuk mengenai kehamilan Gita.
Ya, sepertinya yang dikandung Gita adalah benar anaknya.
Arki pergi dari kosan tersebut. Cukup bahagia, meskipun agak sedikit kecewa karena ular kobranya tidak jadi beratraksi.
__ADS_1