
“Abaaang!” kata Aditya saat masuk ke ruangan.
Mengagetkan Arki dan Gita yang sedang tanpa sengaja berciuman. Sebenarnya bukan tanpa sengaja tentu saja, melainkan Arki lakukan untuk membungkam Gita karena mengatakan hal-hal yang membuatnya kesal. Rupanya Gita memang selalu saja menguji kesabaran Arki dengan perdebatan. Meskipun banyak hal manis yang berubah dari sang istri, tetap saja kebiasaannya untuk melonjakkan emosi masih dia pertahankan.
“Bisa gak sih kalau mau mesum itu tahu tempat? Ini rumah sakit loh, Ki!” ucap Aditya memergoki tingkah laku Arki yang sangat tidak terpuji itu.
“Anjing lo! Ketuk dulu makanya sebelum masuk!” gertak Arki kesal.
Gita tampak malu dan salah tingkah karena ada orang asing yang lagi-lagi memergoki mereka sedang bertukar kecup. Ini semua salah Arki yang selalu saja tidak sabaran menyerangnya. Rasanya ingin segera pulang, agar kejadian seperti ini tidak lagi menjadi bahan tontonan gratis orang lain.
Setelah menenangkan hatinya karena kaget, Gita mulai memperhatikan tamu yang datang. Laki-laki asing yang belum pernah dia temui sebelumnya. Namun, jika dilihat secara seksama, ada hal yang sangat serupa dengan suaminya. Entah bagaimana caranya, Gita tahu bahwa orang tersebut mempunyai hubungan kekerabatan dekat dengan Arki.
Meskipun jelas banyak perbedaan antara keduanya, Arki terlihat lebih maskulin dan dewasa. Sedangkan orang tersebut memiliki fitur cantik sekaligus tampan dalam satu waktu. Terlihat kekanakan dan menyenangkan.
“Ini Aditya. Adik tiri, beda ibu. Ibunya meninggal, sejak kecil diurus sama ibuku. Tapi kita gak pernah tinggal serumah,” kata Arki menjelaskan singkat saat melihat kebingungan di wajah Gita.
“Aditya Birendra Wibisana,” kata Aditya mengulurkan tangan dan tersenyum manis. Gita ikut menyambutnya.
Dulu Gita sempat mendengar tentang adik tiri Arki dari Luna. Adrian, seingat Gita namanya itu. Orang yang cukup dekat dengan Luna hingga membuat Arki sangat marah pada gadis tersebut. Tapi Aditya? Sepertinya ini baru pertama kali Gita mengetahui keberadaannya.
“Gita,” balasnya diikuti senyum ramah.
“Udah gak usah lama-lama jabat tangannya!” Arki memisahkan keduanya.
“Iya, Bang Posesif!” kata Aditya mendelik. “Gimana kabarnya? Udah baikan? Aku beliin brownies cokelat nih, dimakan yaa. Biarpun gak seenak masakan kamu yang dijual di kedai,” lanjut Aditya ramah pada Gita.
“Emang kamu pernah nyobain makanan di kedai?” tanya Gita bingung. Rasanya tidak pernah melihat pelanggan seperti Aditya datang ke sana. Bisa-bisa terjadi keributan dan jumpa fans dadakan kalau itu benar terjadi.
Aditya melirik Arki. “Iya. Sewaktu diam-diam datang dan mengawasi kamu karena Bang Bucin satu ini nangis-nangis pas tidur pingin ketemu ist—AAW S H I T!” teriak Aditya meringis saat kakinya Arki tendang.
“Kamu mau ngobrol sama aku, kan? Jangan di sini,” kata Arki menarik Aditya menjauh keluar dari ruangan.
“Gak usah pake kekerasan juga kali hih!” protes Aditya.
“Makanya jaga mulut! Jangan ember kayak cewek! Gak usah jatuhin harga diriku depan istri,” omel Arki.
Mereka berjalan menuju kantin rumah sakit. Mereka memesan dua porsi bubur ayam untuk sarapan. Kemudian duduk menempati salah satu meja yang masih kosong. Tempat tersebut cukup lengang, nyaris tanpa pengunjung karena masih pagi.
“Abis ini kamu mau ngapain?” tanya Arki memecah hening saat mereka mulai menikmati makanan.
Aditya terlihat murung, mengaduk-aduk buburnya tanpa selera. Wajah jahilnya benar-benar hilang seketika. Menampilkan Aditya yang selama ini sering Arki lihat. Serius dan tidak banyak bicara. Wajah yang hanya dia tunjukkan padanya dan Ela sejak dulu. Anak laki-laki yang memiliki hidup berat karena kehilangan ibunya.
Entah sejak kapan Aditya berubah kepribadian. Terlihat santai, humoris, ramah dan menyenangkan. Mungkin hal seperti ini satu-satunya jalan agar dia bisa meredam semua perasaan sakit dan hal buruk yang dia alamai. Dengan berpura-pura dan menjadi orang lain. Arki juga tidak tahu pasti mana Aditya yang asli. Si masam yang dulu dikenalnya atau versi dirinya yang baru seperti sekarang.
“Arya udah melemah. Gak bisa ngapa-ngapain lagi sekarang. Kamu harus berhenti mikirin dia dan lanjutkan hidup kamu,” tambah Arki.
“Aku gak punya tujuan. Selain lihat Arya mati, aku gak punya tujuan apapun lagi.”
__ADS_1
Arki mendengus. “Aku yakin Arya gak akan bertahan lama. Meskipun kondisinya membaik, dia gak mungkin bisa kayak dulu lagi. Sedangkan hidup kamu masih panjang, Dit. Seenggaknya kamu harus hidup buat sesuatu yang lain selain balas dendam sama Arya.”
“Aku gak punya, Ki. Kamu tahu sendiri kalau aku berulang kali mencoba bunuh diri. Kalau bukan buat balas dendam, aku beneran udah berakhir dari bertahun-tahun yang lalu. Aku gak tahu harus ngapain. Aku juga belum puas dengan keadaan Arya yang sekarang.”
“Jangan pernah punya niat buat melakukan hal yang lebih jauh dari ini! Ibu udah tahu rencana kamu. Dia juga pasti gak mau Arya kenapa-kenapa sekarang.”
Aditya terkekeh. “Aku gak ngerti. Mantan suami jahat kayak gitu aja masih dibelain. Padahal Mama tahu gimana aku menderita karena Arya. Aku mau Mama bahagia dan gak usah mikirin si tua bang sat kayak Arya lagi.”
Arki menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas. “Dari dulu Ibu masih sayang sama Arya. Kamu gak bisa mengubah apa-apa. Dia tahu apapun yang Arya perbuat, hal baik ataupun hal buruk. Semuanya gak akan mengubah perasaannya. Kamu baru akan ngerti kalau ketemu sama orang bikin kamu jadi bodoh juga karena cinta.”
“Kamu pun termasuk,” ejek Aditya.
“Iya. Aku pun termasuk yang jadi bodoh karena cinta sama seseorang. Semua hal buruk yang dia lakukan, aku coba maafkan dan maklumi. Meskipun setiap orang punya batasan yang berbeda sampai mana mereka melakukannya. Aku pingin kamu hidup lama dan ngerasain kayak gitu juga. Jatuh cinta sama seseorang itu ngasih kamu tujuan, sama halnya kayak dendam.”
Aditya tergelak. Dia tidak percaya orang dihadapannya mengatakan hal semenjijikan itu. Sangat jauh dari Arki yang dikenalnya.
“Aku mau muntah dengernya, Ki,” balas Aditya mengusap air mata diujung kelopak karena tertawa begitu kencang.
“Ya udah ketawain aja. Aku juga ngerasa t o l o l pas ngomong ini. Tapi aku bahkan lebih t o l o l pas menjalaninya. Kamu harus hidup yang lama, Dit. Ibu kamu pasti pingin kamu menjalani hidup yang menyenangkan. Makanya dia waktu itu pingin lari dari Arya dengan pacar bulenya. Dia pingin kehidupan kalian jadi lebih baik, kan?”
“Aku gak tahu harus mulai dari mana buat hidup jadi lebih baik.”
“Kerja misalnya? Jangan jadi pengangguran gak jelas dan ngabisin duit warisan yang susah-susah kamu rebut dari Arya.”
Aditya berdercih. “Ogah! Aku malas kerja kantoran kayak kamu dan Adrian,” tolak Aditya. Dia bisa membayangkan rasa bosan yang nanti dialaminya saat harus duduk dan memeriksa dokumen seharian.
“Gak tertarik juga.”
Arki mulai kesal dengan Aditya yang sulit diajak bertukar pikiran. Dia tidak membalasnya lagi dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Melihat poster-poster kesehatan dengan model-model cantik dan tampan menghiasi dinding kantin rumah sakit. Berbagai promo iklan juga terpampang berderet di sana.
“Cewek yang kamu culik dari rumah Arya gimana kabarnya? Dia balik ke keluarganya?” tanya Arki tiba-tiba.
“Oh Shela? Dia masih ada di apartemenku. Gak mau balik ke keluarganya. Ayahnya galak. Dia bilang mau mulai karirnya di dunia akting.”
“Sendiri? Kenapa kamu gak bantuin?”
“Hah?”
“Daripada kamu gak punya tujuan hidup kayak sekarang. Kenapa kamu gak bantuin dia jadi aktris terkenal aja? Jadi managernya mungkin? Aku yakin Adrian punya kenalan sama beberapa agensi dan production house biar dia bisa bangun channel. Bukannya kamu udah berjanji mau menolong pas keluarin dia dari tempat Arya?”
Aditya tampak berpikir sejenak. Dia memang berjanji melakukan hal itu pada Shela. Sebenarnya tidak bersungguh-sungguh dengan janji tersebut. Semuanya hanya bagian dari rencana agar Shela percaya padanya. Sekarang perempuan itu sudah benar-benar jatuh dan mempercayainya sepenuh hati. Tidak mungkin mengusirnya begitu saja. Aditya tidak sejahat itu untuk melakukannya pada seorang perempuan.
“Aku bakal mikirin lagi saran kamu,” kata Aditya akhirnya.
Arki menghela napas. “Gila juga idemu ngambil cewek bapakmu sendiri. Ibu tirimu! Mana diajak tidur lagi. Sampai sekarang aku gak habis pikir sama kelakuanmu yang ganjil kayak gini.”
“Dia sebentar lagi jadi janda, kan? Pernikahannya juga dibawah tangan. Gak sah secara hukum,” kata Aditya tidak peduli. “Mau aku tidur sama siapa aja. Itu bukan urusanmu! Gak usah ngatur-ngatur! Emangnya kamu siapa?”
__ADS_1
“Aku abangmu, Setan! Seengaknya pilih-pilih cewek kek. Jangan lupa proteksi! Pastikan ceweknya bersih. Jangan sama cewek panggilan! Jangan keseringan celap-celup sana sini!”
“Bawel, anjingg!”
Mereka mulai memaki dengan kata-kata kasar dan meributkan hal-hal tidak penting lainnya. Seperti yang mereka lakukan dulu ketika bertemu. Bertengkar dan saling mengutuk satu sama lain. Meskipun sekarang Arki sangsi bahwa dirinya benar-benar membenci Aditya seperti dugaannya selama ini. Pada dasarnya mereka tumbuh bersama. Ada saatnya dia tidak peduli. Meskipun kadang memperhatikannya juga.
“Aku mau balik ke Jakarta sekarang,” kata Aditya ketika mereka berjalan keluar dari kantin. “Lupa kalau punya tujuan lain di sana. Pertunjukan seru yang gak boleh dilewatkan,” lanjut Aditya berekspresi jahil kembali.
“Jangan coba-coba ngapa-ngapain Arya lagi! Ibu gak akan biarin kamu gitu aja. Dia pasti sekarang lagi sibuk jagain mantan suami jahatnya itu.”
“Aku udah gak peduli sama Arya. Targetku berikutnya adalah di Mas Kanebo Kering.”
Arki mengerutkan dahi bingung.
“Aku mau gangguin si Adrian yang baru aja batal nikah sama tunangannya,” lanjut Aditya menjawab kebingungan Arki.
“Kok bisa? Dia beneran mutusin ceweknya karena ngaduin perbuatannya sama ibu?”
“Yup. Mukanya sih lempeng aja. Tapi aku yakin hatinya sedang berduka. Kasihan Nabila harus jatuh cinta sama Kanebo Kering yang gak punya perasaan.”
Arki hanya mendengus dan pergi meninggalkan Aditya yang masih berceloteh tentang rencananya mengganggu hubungan Adrian. Sia-sia saja tadi dia mengkhawatirkannya. Sekarang makhluk gondrong menyebalkan itu sudah punya rencana baru untuk dijalankan.
“Aditya mana?” tanya Gita penasaran saat Arki masuk ke ruangan sendirian.
“Pulang ke Jakarta.”
“Kalian habis ngomongin apa? Kenapa harus di luar ngomongnya? Emang aku gak boleh tahu?”
“Masalah keluarga.”
“Aku bukan termasuk keluarga kamu? Jadi aku gak perlu tahu?”
“Jangan marah-marah nanti cantiknya ilang,” goda Arki. “Kita habis ngomongin Arya,” lanjutnya datar.
Gita langsung berjengit mendengar nama ayah mertuanya disebut. “Arya kenapa?”
“Dia sakit dan sekarang gak bisa ngapa-ngapain. Aditya cuma ngasih tahu keadaan udah aman kalau kita mau pulang.”
“Kita bisa pulang tanpa dikejar atau diawasi sama bawahan Arya? Kenapa dia tiba-tiba sakit?”
“Mhmm.. karena dia udah tua?” kata Arki yang masih tidak akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
“Kemarin kamu belum nyeritain setelah pergi ketemu ibumu ngapain. Ibu udah tahu aku masih hidup? Ibu marah sama aku? Ibu udah tahu kalau aku hamil? Ibu bakal jenguk aku kesin—”
Arki langsung membungkam semua pertanyaan Gita dengan ciuman dalam dan tiba-tiba di bibirnya. Entah kenapa Gita menjadi banyak bertanya dan membuatnya pusing. Arki akan menjawabnya satu persatu nanti. Ketika waktunya sudah lebih tenang. Untuk saat ini, ibunya masih harus fokus mengurus Arya dan sudah jelas dia belum mau berbaikan dengannya gara-gara masalah kemarin.
“Bu Gita, kita ganti perbannya dulu ya,” ucap perawat yang tiba-tiba masuk.
__ADS_1
Sekali lagi membuyarkan aktivitas menyenangkan yang sedang mereka lakukan. Dengan perasaan canggung dan malu akhirnya mereka saling melepaskan pagutan. Arki rasanya sudah ingin pulang dan dengan nyaman menciumi istrinya kapan saja tanpa takut ketahuan.