Istriku Penipu

Istriku Penipu
I'm yours (End)


__ADS_3

Kenop pintu mengayun, tapi Arki tidak bisa melihat siapa yang masuk ke ruang kerjanya dari meja tempatnya duduk. Terpaksa dia menggeser kursinya ke belakang untuk melihat orang yang datang tersebut. Makhluk kecil berlari riang menggenggam buku bergambar A3 ditangan kanannya, nyaris terinjak oleh kakinya. Ditangan kirinya sebuah robot rakitan di peluk ke dada.


Gadis kecilnya tampak bersemangat menemui ayahnya. Penampilannya sedikit tidak karuan. Baju mix and match yang tidak selaras. Dua cardigan bertumpuk-tumpuk berwarna cokelat dan hijau, rok tutu berwarna pink, serta kaos kaki yang bersilang warna. Satu bermotif bunga dan satu lagi berwarna tosca.


Belum lagi lipstick belepotan di bibirnya serta rambut kepang dua dengan bebagai jepitan menempel tidak karuan.


Gita bilang anaknya sedang mengalami tahap perkembangan sesuai usianya. Bisa memilih baju dan mengancingkannya sendiri, mencoba memakai kaos kaki dan sepatu, termasuk mungkin berdandan seperti ibunya. Apalagi sekarang dia sedang mencoba memamerkan hobi barunya pada Arki.


“Papaap!” teriak Ilsa sambil berlari ke arah Arki.


“Ya? Kok muka kamu cemong gitu sih? Sini Papa bersihin!” Arki menggendong putrinya itu duduk di pangkuan.


“Ini mikup kayak Mama,” balasnya terdengar serius. Arki hanya tertawa dan mengambil beberapa helai tissue kemudian membersihkan lipstick di wajah Ilsa.


“Ooh make up. Emang Ilsa mau kemana pakai make up?”


“Mau kelja kayak Papap. No, Papap! Mikupnya jangan di tissue!” tolak Ilsa sambil menggeliat menolak Arki membersihkan wajahnya. “Sini lihat Ilsha kelja,” tambahnya mengangkat buku gambar besarnya yang hampir menampar muka Arki.


“Apa nih?”


Arki mengambil buku gambar yang diberikan oleh Ilsa dan menghamparkannya di meja kerja. Gambar panjang-panjang berjejer memiliki mata dan mulut terpampang di kertas. Beberapa warna juga dibubuhkan untuk membedakan satu karakter dengan yang lainnya. Arki hanya tersenyum melihat karya anaknya itu. Di usia 4 tahun Ilsa sudah cukup jago menggambar dan mewarnai. Dia juga aktif dan cakap melakukan banyak hal. Sepertinya dia tidak usah khawatir karena besok Ilsa akan mulai masuk kindergarten.


“Ini Mama, Ilsha, Papap, Oma, Om Adit, Om Iyan,” ucap Ilsa menunjuk satu persatu karakter yang ada di buku gambarnya.


“Kok kulit Papa warnanya merah? Beda sendiri sih?” tanya Arki bingung melihat gambar dirinya yang berbeda dengan karakter lain.


“Soalnya Papap suka malah, jadi walna melah. Om Adit bilang kalau malah badannya melah kayak setan,” ucap Ilsa polos.


Arki bingung, antara ingin tergelak dan kesal mendengarkan penjelasan putrinya. Aditya benar-benar pengaruh buruk untuk anaknya. Apalagi Ilsa sangat menyukai Om-nya itu. Pasti semua kata-kata Aditya akan didengarkan oleh Ilsa.


Baru-baru ini saja, Aditya mulai membawakan anaknya robot rakitan hingga Ilsa sangat terobsesi memiliki koleksi gundam. Padahal Arki selalu memberikannya boneka cantik dan menggemaskan, menyesuaikan karena Ilsa adalah anak perempuan. Namun, bagi Ilsa robotlah yang lebih menarik perhatian.


“Ilsa,” panggil Arki, membuat anaknya itu menoleh dan menatapnya. “Emang Papa kelihatan kayak setan? Muka Papa emang merah gitu?” lanjut Arki tampak serius.


Ilsa menatapnya lekat, mengetahui sedikit kekesalan diwajah ayahnya. Dia tersenyum lalu mengangkat lengannya, mencubit udara dengan telunjuk dan ibu jarinya. “Sedikit,” katanya kemudian tertawa.


Arki menghela napas. “Habis ini Ilsa gak usah minta jajan lagi sama Papa. Mintanya sama Om Adit aja soalnya Ilsa lebih nurut dan lebih dengerin dia. Nanti Papa anterin Ilsa biar tinggal bareng Om Adit dan Oma,” ucap Arki pura-pura marah.


“Jangaaan…!” teriak Ilsa kemudian menangis terisak. Buliran air mata turun membasahi pipinya. Ilsa memeluk leher Arki dengan kencang, ketakutan karena perkataan Arki.


“Habis Ilsa bilang Papa suka marah kayak setan. Sana tinggal sama Om Adit gih!”


“Gak mauu!” seru Ilsa tidak rela. “Papap gak kayak setan,” lanjutnya masih berurai air mata.


Sementara anaknya menangis terisak, Arki menikmatinya dengan tertawa dan terus menggodanya. Ilsa memeluk leher Arki semakin kencang, tidak mau ditinggalkan dan diantarkan ke tempat Aditya seperti perkataan ayahnya.


Mendengar suara anaknya menangis kencang, Gita masuk ke ruang kerja Arki. Dia mengerutkan dahi melihat Ilsa terlihat begitu sedih, tapi Arki malah tertawa ceria. Pasti suaminya itu melakukan hal iseng lagi pada anak mereka. Selalu saja seperti itu, Arki begitu senang menggoda Ilsa hingga menangis. Akhirnya yang harus repot menenangkannya adalah Gita.


“Ilsa kenapa? Papa ngapain sampe Ilsa nangis gini, hm?” Gita meraih Ilsa dari gendongan Arki.


“Gak diapa-apain. Ilsa aja yang lagi manja dan cengeng. Iya, kan? Papa kan baik,” kata Arki yang masih belum bisa berhenti tertawa.


“Ilsha mu dikasih sama Om Adit,” ucap Ilsa terbata diantara tangis yang mulai sedikit mereda.


“Habis Ilsa bilang Papa suka marah dan mirip setan sih,” balas Arki.


“Bener Ilsa bilang kayak gitu?” tanya Gita mengkonfirmasi. “Gak boleh yaa bilang kayak gitu sama Papa. Gak sopan. Ayo minta maaf sama Papa,” lanjutnya.


“Papap, maaf,” gumam Ilsa. Arki membalasnya dengan senyum dan kecupan di pipi gadis kecilnya.


“Yuk ah, Ilsa cuci muka, gosok gigi dan ganti baju dulu. Abis itu bobo deh, besok kan Ilsa mulai sekolah,” kata Gita berjalan ke luar ruang kerja Arki.


“Gak mau bobo!” tolak Ilsa.


“Ilsa mau besok kesiangan dan dimarahin Miss-nya? No?”

__ADS_1


“Bobonya sama Mama.”


“Mama temenin sampai Ilsa bobo di kamar. Ilsa kan janji kalau udah sekolah bakal bobo sendiri di kamar Ilsa.”


Gita masuk ke kamar seteleh menidurkan Ilsa. Dia melihat Arki yang masih memainkan ponselnya di atas ranjang dan belum terlelap. Segera saja Gita bergabung ke dalam selimut dan memeluk suaminya. Wangi mint menguar dari tubuh laki-laki yang sudah bersih dan siap tidur itu. Sesuatu yang menyenangkan dan menenangkan hati Gita saat berdekatan dengan Arki.


“Kapan jadinya Ilsa punya adik?” ucap Arki tiba-tiba. Gita langsung mendongak menatap suaminya dengan pandangan aneh. “Ilsa kan udah TK. Jadi udah bisa tuh dia punya adik,” lanjutnya.


“Ogah! Nanti aja kalau Ilsa udah kelas 2 SD. Aku masih capek dan pingin nikmatin tidur nyenyak tanpa gangguan anak nangis. Kamu sih enak bisa lebih santai, yang ngurusin 24 jam kan aku!” omel Gita.


“Aku juga ngurusin Ilsa kali. Ikut gadang sampai pas ngantor sempoyongan.”


“Kalau sampai sempoyongan gitu berarti tunda dulu dan nikmati tidur enak kayak sekarang. Dua atau tiga tahun lagi aku baru mau hamil lagi,” tolak Gita tegas.


Arki hanya tersenyum dan mengecup kening istrinya. “Tapi kalau bikinnya tiap hari bisa, kan? Masih pakai IUD, kan? Gak mungkin jadi juga kalau ada yang berpatroli mengamankan,” kata Arki menggoda.


“Ck … bilang aja dari tadi kalau lagi modus minta jatah. Pake ngomongin pingin punya anak lagi segala.”


“Beneran kok aku nanyain, gak ada maksud apa-apa.”


Arki terkekeh kemudian menenggelamkan kecupannya ke bibir Gita. Mulai menelusuri rongga mulut tersebut dengan lidahnya. Bertaut dan memagut penuh semangat.


Tangannya mulai menggapai liar di paha, menyingkap gaun tidur Gita yang terbuat dari satin hingga menggulung ke atas pinggang. Menampilkan garmen penutup yang melindungi bagian rahasia istrinya. Jemari yang nakal tersebut menggelanyar masuk ke bagian tersebut. Menekannya dalam hingga Gita terkesiap dan melepaskan pagutan.


Satu persatu baju yang menutupi tubuh Gita di terlepas dari tempatnya. Tubuhnya yang sudah terbentang berbaring di bawah Arki kini polos tanpa penutup apapun. Tentu saja menjadi sasaran empuk bagi kedua tangan suaminya yang langsung menggenggam dada yang begitu menggiurkan. Tubuh Gita tetap cantik dan menggoda bahkan setelah melahirkan. Arki tidak mungkin bisa menolak hal seperti ini dari istrinya.


Setelah pemanasan yang cukup membangkitkan hasrat, Arki siap untuk menerabas masuk ke tempat-tempat rahasia miliknya. Membenamkan pusaka pada kehangatan dan kenimatan yang sulit sekali dibayangkan. Sesuatu yang harus dirasakan langung agar bisa tahu bahwa dunia semenyenangkan itu ketika ber cinta.


Gerakan dan ritme teratur seperti membakar keduanya. Hampir melenyapkan kesadaran pada sekitar dan tenggelam dalma pagutan serta sentuhan yang semakin cepat.


“Mamaaaa! Maamaaa!” rengek Ilsa menghentak-hentak kenop pintu yang terkunci.


Sontak kedua orang yang sedang menikmati penyatuan tersebut kaget mendengarnya.


“Pingin bobo sama Mamaa,” ucap suara dibalik pintu. Sudah jelas dia sedang menangis dan merengek manja.


Dia belum rela jika urusannya berhenti di tengah jalan. Tapi istrinya itu sudah menyingkirkan Arki yang membelenggunya. Tangannya cekatan mengambil gaun yang tercecer, merapikan rambut panjangnya dan masih sempat memelototi Arki agar segera berpakaian.


“Mamaaa!”


“Iya, Ilsa. Sebentar!”


Ketika Gita membuka pintu, gadis kecil itu langsung menghambur ke pelukan ibunya. Dia lantas digendong dan di baringkan di ranjang. Ilsa tampak senang sekarang, tangisnya mereda dan dia terus memeluk Gita. Sekilas dia menatap ayahnya yang berdiri bertelanjang dada di pinggir ranjang.


“Papap kok gak pake baju?” tanya Ilsa bingung.


“Papa kegerahan. Jadi Papa buka baju. Tuh lihat keringetan, gitu” balas Gita bantu menjawab.


“AC nyalain!” ujar Ilsa.


“Iya, udah dinyalain.”


Arki hanya diam saja dan bergabung tidur di ranjang. Wajahnya tampak masam karena permainannya terpotong tiba-tiba. Dia hanya menatap Gita dengan kekesalan dan harap yang sangat tinggi untuk bisa melanjutkan pergulatan. Tapi Gita tidak mempedulikannya. Sibuk meminta Ilsa untuk berdoa sebelum tidur dan membalas celotehan anaknya.


“Ilsa kenapa sih pindah ke kamar Papa? Bukannya udah janji kalau udah sekolah gak akan tidur bareng Papa sama Mama lagi?” ucap Arki.


“Ilsha belom sekolah. Sekolahnya besok, jadi bobo sendilinya besok,” balas Ilsa tidak mau kalah. Gita hanya tergelak mendengar jawaban anaknya. “Papap gak mau kiss good night?” lanjut Ilsa menatap harap pada Arki.


Meskipun kesal dan dongkol, Arki tetap tidak akan bisa memarahi anaknya hanya karena masalah sepele seperti ini. Dia mendengus kemudian tersenyum. Sebuah ciuman mendarat di pipi anaknya. Bukan sebuah ciuman biasa melainkan satu sedotan di pipi bundar tersebut hingga memerah.


“Jijiiik,” rengek Ilsa yang kemudian menangis mendapati pipinya basah karena ulah ayahnya.


Gita memukul lengan dan memelototi suaminya penuh peringatan. Untungnya tangis Ilsa segera reda, digantikan kantuk yang semakin sulit ditolaknya. Gadis kecil itu segera terlelap tak lama kemudian. Meninggalkan orang tuanya yang masih terjaga dan penuh kesadaran. Saling menatap, memberi kode dan berbisik-bisik mencurigakan.


“Gak mau ah! Aku udah hilang mood. Kamu beresin aja sendiri di toilet,” bisik Gita menolak permintaan Arki untuk melanjutkan permainan yang belum usai.

__ADS_1


“Ck, Ah!” decih Arki kesal kemudian bangkit dari ranjang dan ke luar kamar. Menuntaskan sesuatu yang tidak bisa ditahannya. Meskipun harus melakukannya sendirian.


...****************...


“ILSA MAUDY WIBISANA!” panggil seorang guru berkerudung hijau mengabsen murid barunya.


“Saya!” balas Ilsa mengacungkan tangan dengan ceria.


Setelah memastikan Ilsa tidak menangis ataupun tantrum saat hari pertamanya sekolah, Gita segera menyusul Arki di parkiran mobil. Gita akan menjemput anaknya kembali menjelang makan siang, seperti yang diinstruksikan oleh pihak sekolah kepada orang tua murid. Mereka mengutamakan dan mengajarkan kemandirian pada anak didiknya, sehingga orang tua tidak perlu menunggu hingga anaknya selesai belajar.


Arki memilihkan sendiri sekolah untuk anaknya. Bahkan dia sudah merencanakan ke sekolah mana saja pilihan yang bisa diambil oleh Ilsa nanti ketika dewasa. Gita sangat percaya pada suaminya. Lagipula Arki pun menempuh pendidikan yang tidak main-main kualitasnya selama ini.


“Aku udah izin gak masuk hari ini,” kata Arki memberitahu Gita saat istrinya baru saja duduk dik kursi sampingnya.


“Kenapa harus izin? Aku bisa jemput Ilsa sendiri kok nanti siang.”


“Kantor biasanya ngasih izin buat orang tua yang nganter anaknya pertama sekolah. Gak usah khawatir.”


“Maksudnya bukan gitu. Lagian kamu mau ngapain libur kayak gini? Ilsanya juga lagi dikelas dan belajar.”


“Ya udah tinggal menghabiskan waktu sama kamu aja. Emangnya kamu gak mau berduaan sama aku? Harus bertiga terus gitu sekarang?”


“Ya nggak sih.”


“Aku mau lanjutin urusanku yang belum tuntas semalam,” kata Arki manatap lekat pada Gita. “Kamu mau di hotel atau di rumah aja?” lanjutnya tanpa basa-basi.


Gita tertawa mendengar perkataan suaminya, juga karena ekspresi yang ditampikan sangat serius. “Kamu masih kesal gara-gara gak beres?”


“Iyalah. Dongkol sampe ke ubun-ubun. Main sendiri gak enak,” serunya kesal.


Gita tertawa semakin keras. Dia melirik jam yang melingkar ditangan kirinya. “We have 4 hours to finish our business. Just do whatever you want, I’m yours.” Gita menatap suaminya yang kini tersenyum cerah.


“Jadinya di hotel atau di rumah nih?” tanya Arki menyalakan kendaraan dan mulai pergi dari parkiran sekolah.


“Rumah aja. Sambil berendam di bathtub?”


“Aku suka idenya.”


...----------------...


...****TAMAT***...


...----------------...


Hai semuanya!


Terima kasih sudah membaca sampai akhir yaa.


Terima kasih juga buat dukungannya. Like, komen, hadiah dan favoritnya. Semoga kalian semua terhibur dengan cerita dari author remahan sepertiku.


Ada yang masih merasa kurang puas dengan ceritanya? Mau nambah lagi? Hehe


Ada beberapa bonus chapter dan di update pelan-pelan ya.


Buat saat ini author-nya belum bikin novel baru. Meskipun draft ceritanya udah banyak banget di laptop.


Soalnya bulan ini aku mau fokus nyari kerja, bikin portofolio dan benerin CV. Termasuk mau kurus online lagi. (Maafin curhat) 😂😂😂


Jadinya belum bisa fokus bikin novel baru. Semoga bulan februari bisa berkarya lagi yaa~


Pokoknya, sampai jumpa kembali dan terima kasih banyak buat waktunya bacain tulisanku yang masih terus dalam proses belajar. Sampai sekarang menulis buatku cuma hobi. Jadi belum bisa seserius author lain dalam berkarya.


Semoga ada kesempatan kita ketemu kembali dikarya selanjutnya.


Love you banyak-banyak buat yang baca ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Semoga sehat selalu dan dilancarkan hidup serta urusannya.


__ADS_2