
Pelayan mengantarkan pesanan minuman ke meja yang di tempati Gita. Sudah lebih sebulan dia dan Mia tidak bertemu. Terakhir kali mengobrol dengannya adalah saat Gita memantapkan hati untuk bercerai dengan Arki. Kini semua rencana dan kecongkakannya tergerus perasaan hina karena berulang kali menjadi pelayan di ranjang Arki.
Hari ini Gita mendapatkan izin dari Arki setelah—dengan sialnya melayaninya—terlebih dahulu untuk mendapatkan kesempatan ini. Gita dikurung seperti tahanan rumah, harus melapor kemana saja dia pergi, bahkan untuk sesekali mengakrabkan diri dengan tetangga disekitar rumah akan dibredel pertanyaan bertubi-tubi. Setelah ini Arki juga akan menjemputnya pulang, ketika jam bertemu Mia habis. Benar-benar posesif dan mengekang, sama seperti yang Luna ceritakan.
“Eheem … susah banget sih ketemu istri orang kaya sekarang,” goda Mia saat duduk di hadapan Gita yang termenung mengaduk minuman tanpa minat.
Gita tersenyum melihat Mia, perasaan rindunya kini sudah dia tuntaskan ketika melihat wajah ceria sahabatnya. Selain sulit mendapatkan izin dari Arki, Gita juga ragu untuk bertemu Mia lagi. Perasaan bersalah dan ketakutannya karena melibatkan sahabat serta keluarganya kedalam masalah, membuat Gita enggan untuk menemuinya.
Gita terpaksa harus berbohong mengenai hubungan dan statusnya dengan Arki sekarang kepada orang yang paling disayanginya. Berpura-pura bahwa hidupnya baik-baik saja. Padahal neraka melahap semua hal yang dimilikinya.
“Sorry, gue sibuk kerja.” Gita beralasan.
“Sibuk berduaan sama suami, ya?” Mia terkekeh. “Gue masih gak menyangka sih, Arki berbesar hati menerima lo yang udah bohongin dia. Bucin banget kayaknya dia sama lo, sampe kebohongan besar aja bisa dimaafin,” lanjutnya berkomentar.
Gita hanya menelan kecut, ingin rasanya mengatakan hal yang sebenarnya. Bahwa Arki tidak memaafkannya. Dia mengambil kesempatan dari kebohongan itu untuk memperbudak Gita sekarang. Membelenggunya dalam hasrat gila yang menjijikan. Tapi Gita harus bertahan untuk saat ini, menyusun rencana agar segera lepas dari itu semua.
“Yaa… mungkin,” jawab Gita tidak mau menanggapi lebih jauh. “Gimana sama rencana lo bikin rumah makan? Udah ketemu lokasi yang bagus?” kata Gita mengalihkan pembicaraan.
“Bapak sama Anwar lagi nyari sampai sekarang, bagusnya dimana. Harusnya sih deket-deket kantor ya. Biar karyawan bisa makan murah dan enak. Tapi itu mau dipikirin nanti aja setelah gue nikah sama Anwar,” kata Mia berseri bahagia.
Gita terdiam sejenak. “Wait. Lo mau nikah sama Anwar? Kapan? Bukannya lo mau kuliah lagi?” kata Gita tidak percaya dengan yang didengarnya.
“Gue gak jadi lanjutin kuliah. Mau nikah dan buka usaha bareng Anwar. Beberapa hari lalu keluarganya dateng ke rumah, buat lamaran gitu. Sorry gue gak bilang, soalnya cuma kayak bertamu biasa aja. Gak ada perayaan. Kita rencananya mau langsung nikah aja bulan depan, terus abis itu fokus rintis usaha deh.” Mia terlihat malu-malu saat membicarakannya.
Gita tersenyum bahagia mendengar rencana sahabatnya itu. Akhirnya Mia bisa hidup dengan pacar yang sangat dicintainya. Benar-benar kabar yang membuat hatinya hangat.
“Selamat Miaa,” ucap Gita sangat heboh mencoba merangkul Mia di depannya.
“Makasih. Makasih. Akhirnya gue kewong juga kayak lo. Gak nyangka gue bakal kawin muda gini. Padahal rencana 27 atau 28 kali ya baru kawin. Tapi kasihan sih, si Anwar udah lumutan nungguin gue.”
“Gue lihat-lihat sih emang lo udah siap buat kawin. Istri-able banget,” kata Gita mendukung.
“Gue mau khusus berterima kasih sama lo sih, Git. Makasih buat modal usahanya. Gue kayak ketiban duren beneran pas lo kirim duit sebanyak itu. Tadinya kan gue mau kuliah lagi biar dapet kerjaan yang gajinya lebih gede, terus nabung buat modal usaha. Eh, gue langsung dikasih modal sama istri konglomerat. Lo beneran penyelamat hidup gue deh, Git!” Mia berkaca-kaca mengucapkan itu pada Gita.
Gita sejak awal sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas semua budi baik yang sudah dilakukan Mia padanya. Meskipun semua hal yang terjadi padanya memilukan, setidaknya Mia berpikir bahwa sekarang Gita sudah bahagia dan tidak perlu khawatir. Hingga bisa berbagi seperti itu dengan Mia. Gita memang memiliki banyak uang, bahkan lebih dari cukup yang selalu Arki kirimkan ke rekening khusus bulanannya. Tapi hatinya kosong dan aneh.
“Lo pokoknya harus banget hadir dipernikahan gue. Lo sama suami lo! Dandan yang cantik dan pake baju mahal, biar orang kampung gue iri punya temen yang kaya raya macem lo,” kata Mia bercanda.
“Gue pasti dateng dong! Jangan khawatir. Semoga acaranya sukses. Sorry kayaknya gue gak bisa bantuin lo persiapan. Soalnya gue—”
__ADS_1
“Iya, iya. Ngerti. Kalau udah berumah tangga, hidup lo bukan cuma soal temenan doang. Lo harus ngurus suami, kan?”
Gita hanya tersenyum tanpa menjawabnya.
“Baik-baik lo sama dia. Jangan kebanyakan ngereog dan marah-marah. Jarang loh ketemu cowok baik kayak dia. Mau maafin lo yang tukang tipu, ganteng, kaya, dan kelihatannya perhatian banget sama istrinya sampe kemana-mana diantar jemput mulu. Iri deh gue.”
Gita dan Mia terus mengobrol sambil bercengkrama selama hampir dua jam. Mereka seperti dua orang yang baru bertemu setelah sekian tahun terpisah. Padahal hanya baru sebulan lebih saja tidak bersua. Banyak topik yang mereka bicarakan, seperti halnya yang selama ini mereka lakukan. Mengobrol dan bercerita. Kebahagiaan seperti ini yang membuat Gita merasa kuat kembali. Setelah berulang kali dihajar perasaan menakutkan karena harus berhadapan dengan Arki.
...****************...
Mobil terparkir di basement hotel. Arki mengecek ponselnya sesaat kemudian turun dari kendaraan, menaiki lift menuju restoran bintang lima di hotel tersebut. Dia tampil santai dengan kemeja dan celana kasualnya. Menuntaskan rasa penasaran dan desakan yang kian hari membuatnya muak.
Tak lama dia duduk disalah satu meja, dihadapan seorang gadis cantik berbalut gaun putih yang menampilan dada ranum menggoda. Gadis itu tersenyum ketika Arki datang memenuhi janjinya.
“Sorry, aku telat. Habis mengantar istri dulu,” ucap Arki jujur.
Senyum gadis tersebut berubah kecut. Salah tingkah dan memandang gelas minuman di dekatnya. Dia memang tahu Arki sudah memiliki istri. Tapi ayahnya mengatakan perjodohan ini harus dilakukan untuk mengembalikan derajat keluarga Wibisana, agar Arki segera bercerai dari istri kaum rendahan yang tidak mendapatkan restu dari Arya Wibisana. Hanya orang seperti dirinya lah yang pantas menjadi pendamping salah satu anak orang paling berpengaruh tersebut.
“Gak apa-apa. Buat sekarang aku ngerti. Mas Arkian, pasti tahu kan tujuan pertemuan kita apa?” kata Olivia tanpa merasa canggung.
“Aku mengerti keinginan keluarga kita.”
“Saat ini aku terlalu sibuk buat itu. Kerjaan kantor banyak menyita waktu. Gimana kalau kita langsung ke intinya aja? I believe, this is not your first time? Kamu sempat dekat dengan Aditya juga, kan?”
Olivia tampak malu-malu mengakuinya. Tapi akhirnya mengangguk. Dia sudah berurusan dengan salah satu anggota keluarga Wibisana lainnya. Menjadi teman tidurnya. Hal seperti ini juga sudah lumrah dilakukannya di luar negeri saat berkuliah disana.
“Aku udah booking kamar biar kita bisa lebih dekat. Shall we go now? Aku gak akan maksa kalau kamu gak mau.”
Arki mengulurkan tangannya pada Olivia, sambil tersenyum dia menyambut uluran tangan terebut. Mereka berjalan bergandengan dan sambil menobrol santai menuju kamar hotel yang sudah dipesan. Mereka duduk di tepian ranjang, saling menatap hangat.
“Kamu gak canggung, kayaknya Aditya udah lebih jago dariku,” kata Arki sambil terkekeh.
Olivia menempelkan telunjuknya di bibir Arki. “Tapi aku lebih suka kalau sama Mas Arkian.”
“Kenapa?”
“Lebih keren dan ganteng,” katanya jujur.
Bagi Olivia Arki lebih mempesona dibandingkan adiknya yang sangat kekanakan. Arki terlihat dewasa dan berwibawa. Ayahnya benar, jika ingin masuk menjadi anggota keluarga Wibisana, orang yang harus diincarnya adalah Arki. Dia adalah satu-satunya anak yang sangat diharapkan Arya untuk melanjutkan bisnisnya dan sosok sempurna keturunan ayahnya.
__ADS_1
Olivia mencium pipi Arki, aroma parfum manis menggoda tercium saat melakukannya. Arki tersenyum saat gadis dihadapannya mulai melepas geraian rambut, menampilkan surai kecoklatan yang lebat dan sehat. Seutas tali tipis yang menyangga gaun putihnya diturunkan. Dada indah tanpa penghalang menggoda untuk dimainkan.
Arki mendoroh tubuh Olivia ke atas kasur. Tangannya dengan beringas memainkan aset indah tersebut. Sementara Olivia terkikik geli mendapat sentuhan dari Arki. Sebuah kecupan Arki daratkan di leher jenjangnya, kemudian beralih pada bibir tebal dan merah milik Olivia. Lidah mereka saling bertaut, mengecup, dan mencerup mesra.
Tiba-tiba saja kelebatan ingatan menghantam pandangan Arki. Potongan gambar tentang Luna dihari paling memuakkan dalam hidupnya terputar lagi. Suara decapannya, suara tidak senonoh yang keluar dari bibirnya, dan tubuh yang sedang bertaut tanpa busana di kamar tempat seharusnya Arki berada. Luna dan laki-laki asing yang memeluknya.
Arki mendorong tubuh Olivia, dia bangkit dari kasur dan berlari menuju wastafel kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya. Mual dan pusing seiring semua gambar dan ingatan itu terputar dalam benaknya. Hal yang terjadi selama setahun kebelakang bila dia menyentuh mantan-mantan pacarnya setelah Luna. Jijik berjengit disekujur tubuhnya.
“Mas Arkian, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanya Olivia panik.
“Keluar! KELUAR!” bentak Arki kasar mendorong tubuh Olivia mejauh darinya hingga terjatuh. “Jangan temui gue lagi!” ancamnya marah.
Olivia ketakutan melihat hal itu. Dia segera membereskan bajunya dan keluar dari kamar hotel. Arki masih muntah-muntah dan mual hingga beberapa menit selanjutnya. Hingga ingatan itu surut. Dia menggosok gigi berulang kali dengan kasar. Memuntahkan busa hingga bernoda merah karena merasa sangat jijik pada ciuman tadi.
Dia keluar kamar mandi dan membaringkan diri di kasur. Tubuhnya lelah dan pusing. Tangannya kemudian menggerapai mencari ponselnya yang terlempar entah kemana, menekan tombol telepon hingga si penerima bersuara.
“Kamu masih sama Mia? Aku jemput sekarang. Kita pulang.”
“Tapi aku baru dua jam aja ketemunya. Katanya boleh sampe sore,” protes Gita.
“Nggak. Pulang sekarang, aku jemput. Jangan banyak ngoceh!”
Arki menjemput Gita dua puluh menit kemudian. Perasaannya tidak kunjung mereda. Kenapa dia selalu mengalami hal itu jika menyentuh perempuan? Kenapa selalu ada bayangan tentang Luna yang tiba-tiba muncul saat dia melakukan itu dengan perempuan?
Gita tidak tahu apa yang dialami Arki sebelum menjemputnya. Tapi yang jelas, laki-laki itu terlihat kesal dan marah. Rambutnya mencuat acak-acakan dan wajahnya terlihat gusar. Tadinya dia ingin membredel dengan omelan dan protes, tapi akhirnya mengatupkan mulut setelah melihat tampang masam suaminya.
“Kamu ngajak aku ke mall?” tanya Gita bingung saat mobil meluncur ke basement mall. Kendaraan itu berhenti di parkiran gelap dan sepi.
Arki turun dari bangku kemudi tanpa berbicara. Membuka pintu sebelah Gita dan setengah menyeret istrinya itu agar keluar. Bukannya berjalan menuju ke dalam mall, Arki membuka pintu belakang mobilnya, mendorong Gita agar masuk.
“Arkian! Kamu mau ngapain sih!” bentak Gita kaget.
Arki masuk dan langsung mencium bibir Gita tanpa ampun. Mencerup dan memainkan lidahnya. Dia lakukan berulang kali, membuat Gita menangis protes. Arki dengan kasar mengecupnya, membuat Gita kewalahan dan sesak. Tangannya juga menggerapai dan meraup dadanya yang masih terbungkus baju. Kasar dan menggila, seperti orang kesetanan.
“Arki … stop … jangan… disini …” ucap Gita diantara kecupan Arki.
Tangisnya penuh ketakutan. Kali ini Arki tidak seperti yang diingatnya. Arki bergerak dengan kasar, gusar, dan lebih memaksa. Seakan haus menginginkan Gita. Iya, dia memang sangat membutuhkan Gita untuk menghapuskan jejak menjijikan dari perempuan yang sudah disentuhnya. Dia membutuhkan Gita untuk menghilangkan ingatan tentang Luna.
Hanya dengan Gita semua rasa jijik dan kenangan buruk yang menghantuinya menghilang. Dia tidak mengingat lagi semua potongan kejadian tentang Luna saat menyentuh Gita. Dihadapannya, di depan matanya, di dalam genggamannya hanya Gita. Entah kenapa hanya Gita saja yang dilihat olehnya.
__ADS_1
Sial! Ternyata belum sembuh seutuhnya!