Istriku Penipu

Istriku Penipu
Interview Kerja


__ADS_3

Gita memoleskan lipstick di bibirnya, shade coral yang paling cocok dengan warna kulitnya. Akhir-akhir ini Gita lebih sering memperhatikan penampilannya. Dia memakai skincare dengan teratur, merawat rambutnya, dan juga sering berlama-lama di bathtub untuk membersihkan tubuh serta membuatnya wangi.


Jelas saja, sekarang Gita punya budget berlebih untuk membeli semua perawatan itu tanpa memikirkan besok harus makan apa dan bagaimana cara membayar utang.


Sekali lagi Gita merapikan penampilannya di depan cermin, kemeja berwarna navy, rok span selutut berwana hitam, rambut yang diikat rapi, dan sepatu high heels 5 cm melengkapi penampilannya. Sebelum keluar kamar, Gita juga memakai parfum dengan wangi citrus segar dari byredo.


Sarapan sudah tersedia di meja makan, bahkan sudah terhidang disana sebelum Gita memoles dirinya. Arki sudah makan terlebih dahulu, duduk di dapur sendirian. Dia kemudian melihat Gita yang sudah rapi duduk di kursi depannya, menyendok makanan untuknya sendiri.


“Kamu mau kemana? Kok udah rapi kayak gitu pagi-pagi?” tanya Arki terlihat bingung melihat penampilan istrinya yang tiba-tiba terlihat formal di pagi hari seperti ini. Biasanya Gita masih menggunakan baju santainya.


“Aku mau interview kerja hari ini. Ada panggilan dari perusahaan kosmetik,” balas Gita terlihat senang.


“Interview kerja? Kok kamu kamu gak ngasih tahu sama aku?” Arki mengerutkan alisnya, menatap Gita dengan pandangan kesal dan tidak suka.


Lagi. Untuk kedua kalinya Gita tidak pernah memberitahukan apapun padanya. Kemarin tentang pemeriksaan kehamilannya yang tidak dia ketahui. Sekarang, dia interview kerja tanpa sekalipun berdiskusi dengannya atau memberitahukan kabar itu sebelumnya.


Gita tampak kaget dengan pertanyaan Arki. Dia benar-benar lupa memberitahunya kemarin malam. Panggilan telepon dari recruiter datang saat sore hari. Kemarin Arki pulang cukup malam karena lembur dan mereka tidak sempat berbicara hingga pagi.


“Aku lupa …” kata Gita canggung.


Arki menghela napas. “Buat hal kayak gini kamu lupa? Kamu gak diskusi dulu sama aku soal kerja setelah nikah? Aku suami kamu loh, Git!” ucap Arki kesal.

__ADS_1


Gita bisa merasakan kemarahan di nada bicara Arki. “Emang kamu gak bolehin aku kerja?” serang Gita.


“Kamu kan lagi hamil, Git.”


“Terus emang kenapa kalau aku lagi hamil? Aku cuma hamil bukan cacat. Emangnya aku jadi gak kompeten buat dapetin kerjaan? Jadi gak bisa apa-apa, gitu?”


“Kamu harus mikirin bayi dalam perut kamu lah. Gimana kalau sampai kecapekan kerja terus nanti kenapa-kenapa sama bayinya?”


“Ki, cewek yang kerja pas lagi hamil tuh banyak. Lagian aku gak setiap hari kena morning sickness yang bikin aku gak kuat ngapa-ngapain. Aku masih bisa kerja. Banyak cewek lain juga yang bisa.”


“Ya aku gak peduli sama cewek lain mau bisa atau ngga bisa kerja pas lagi hamil. Aku lagi ngomongin soal kamu. Istriku sendiri.” Arki mulai emosi, dia berbicara dengan intonasi yang meninggi.


“Jadi kamu mau batesin ruang gerak aku karena aku istri kamu, gitu? Karena aku hamil, kamu mau aku terus diem di rumah, gitu?”


Gita terdiam. Dia tahu tidak ada masa depan dihubungan mereka. Sebaik apapun Arki padanya, Gita belum bisa melepaskan kebencian dan ketakutannya terhadap laki-laki yang pernah melecehkannya itu. Gita pun tahu bahwa Arki pasti masih bermain wanita dibelakangnya. Untuk apa dia mempertahankan pernikahan pura-pura yang memuakkan ini?


Mendapatkan pekerjaan saat keadaan ekonominya sedang baik dan rencananya berjalan lancar seperti sekarang adalah langkah maju. Gita akan tetap punya pekerjaan saat harus melepaskan ini semua dan bercerai dengan Arki.


“Aku mau kerja, Ki. Kenapa sih kamu selalu aja menentang pilihan-pilihan aku? Kenapa kamu gak ngasih aku kebebasan?”


Giliran Arki yang kini terdiam. Kebebasan? Kata yang memuakkan. Kata itu juga yang dipakai oleh Luna menjadi alasan rusaknya hubungan mereka. Arki tidak pernah merasa membatasi ruang gerak pada mereka. Dia akan memberikan Luna dan Gita apapun juga, kenapa meraka memilih selalu berjalan sendiri tanpa kontrolnya?

__ADS_1


“Kebebasan? Kamu udah nikah sama aku, Git. Mau gak mau, kamu harus terima kalau aku suami kamu. Semua keputusan dihidup kamu, harus diskusi dulu sama aku. Gak bisa seenaknya memutuskan kayak gini.”


Gita kaget dengan perkataan Arki. Hingga sekarang dia masih merasa tidak memiliki ikatan apapun dengan Arki, terlebih karena semua hal dalam pernikahan ini adalah rekayasanya. Suaminya? Luar biasa tidak masuk akal. Jadi Gita harus menyerahkan semua keputusan hidupnya pada laki-laki di hadapannya ini?


“Jadi kamu gak ngizinin aku kerja, Ki?” Gita menatap lekat mata Arki. Dia tidak ingin kalah dari laki-laki ini. Tidak seorang pun yang bisa mengendalikan atau melarangnya.


Arki membuang napasnya dengan kasar, mengurut keningnya dan berpikir. Dia sebenarnya tidak masalah jika Gita ingin bekerja. Hal yang membuatnya emosi dan menentangnya karena merasa egonya terlukai, saat Gita tidak mendiskusikan apapun mengenai keputusannya bekerja. Seakan dirinya bukanlah bagian penting dihidupnya. Padahal sekarang Arki adalah suaminya, yang memegang kuasa atas Gita.


“Aku izinkan kamu kerja dengan beberapa persyaratan. Gak boleh lembur atau pulang malam, jam kerja kamu gak boleh lebih lama dariku, kalau sampai ada masalah sama kandunganmu langsung resign, gak boleh ada kerjaan kantor yang dibawa ke rumah, dan aku anterin kamu kerja tiap hari.”


Syarat dari Arki sebenarnya tidak terlalu berat. Tapi entah kenapa Gita tidak menyukai cara Arki mengaturnya. Dia berlagak seperti atasannya saja. Berlindung dibalik kata suami hingga membuatnya harus mengikutinya.


“Oke. Aku setuju,” ucap Gita akhirnya, meskipun dia masih enggan dan keberatan. Tapi Gita harus mendapatkan pekerjaan sebelum bercerai dengan laki-laki tukang mengatur ini. “Lagian sekarang aku masih tahap interview kerja, belum tentu diterima sama mereka,” gerutu Gita.


Mereka melanjutkan sarapan pagi dengan keheningan. Perasaan kesal berkumpul dihati masing-masing. Sebenarnya ingin saling menyerang dan besitegang mempertahankan keyakinan mereka. Arki tidak setuju dengan Gita yang bekerja saat hamil. Gita tidak setuju dengan Arki yang merasa berhak mengaturnya.


Pernikahan ini ternyata tidak seperti yang Gita bayangkan. Ini yang kedua kalinya, Arki berusaha memaksakan pandangannya pada Gita. Padahal selama ini dia pikir, Arki adalah laki-laki lembut yang pengertian. Nyatanya tidak demikian. Memang benar ada bagian dimana Arki sangat perhatian dan mau menurunkan egonya agar mereka tidak terus berselisih, tapi tidak menutup fakta bahwa laki-laki itu sangat suka mengatur.


“Aku anterin kamu ke tempat interview-nya sekarang,” kata Arki yang mulai beranjak dari meja makan.


Gita tidak punya pilihan selain mengikuti kemauannya. Dia juga harus banyak bersabar dan pengertian dengan semua tingkah mengejutkan dari Arki. Tidak akan lama sampai dia mengajukan cerai dari laki-laki yang ternyata sangat menyebalkan itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2