
Basuki memperkenalkan mereka pada Sanjaya, salah satu penyidik yang akan membantu menemukan Gita. Sikap ramah dan menyenangkan dari Sanjaya membuatnya mudah diterima di keluarga Arki, terutama ibu dan tantenya yang sangat senang jika Sanjaya datang.
Arki masih menyimpan keraguan dihatinya, meskipun setiap hari Sanjaya mengabarkan kemajuan pencarian Gita. Arki tahu bahwa Arya pasti melakukan ini tidak dengan cuma-cuma, ada harga yang harus dibayar. Mungkin juga ini salah satu triknya membuat Arki tidak waspada, merasa pencarian dengan bantuannya saja sudah cukup hingga lupa melihat keterlibatannya.
Hal yang jelas Arki lakukan adalah terus melakukan pencarian diam-diam juga, dengan bantuan Agus dan Patra, serta beberapa orang yang baru saja di rekrutnya. Bukan hanya mencari Gita, tapi melihat pergerakan Arya dan Basuki juga.
Hari ini Sanjaya menelepon Arki dipagi buta, membangunkannya dengan dering ponsel yang nyaring menggema. Arki duduk di kasurnya sambil mengucek mata dan mengumpulkan kesadaran.
Jam diponsel menunjukkan baru pukul dua pagi. Arki hendak mengomel pada Sanjaya saat panggilan tersebut diterima. Tapi si penelepon itu sudah lebih dulu berbicara.
“Pak Arkian, saya sudah menemukan Bu Gita,” kata Sanjaya dengan suara terengah dan ketakutan.
Hening tanpa jawaban. Arki masih memproses perkataan Sanjaya. Masih mengumpulkan nyawanya yang tercerai karena baru saja terjaga.
“Tapi keadaannya ...” kata Sanjaya terhenti. “Bu Gita sudah meninggal tertabrak truk kemarin,” lanjutnya lagi.
Kesadaran tiba-tiba menghantam Arki. Seketika seluruh tubuhnya terjaga dan waspada. Mengulang kata yang diucapkan oleh Sanjaya. Gita meninggal tertabrak truk kemarin.
“Gimana ... maksudnya?” ucap Arki bingung dan tidak percaya. Lidahnya tidak sanggup lagi berkata apapun selain itu.
Gita sudah tidak ada? Dia sudah tidak bernyawa?
“Saya mendapatkan laporan ada perempuan yang tertabrak di daerah Pluit. Berdasarkan identitas yang dibawanya ada tanda pengenal Bu Gita. Namun saat ini kami belum bisa memastikan tubuh tersebut adalah Beliau, dikarenakan luka parah dengan kepala pecah dan sulit dikenali. Kami membutuhkan izin keluarga untuk melakukan autopsi,” jelas Sanjaya.
Arki begitu bingung hingga tidak sanggup berpikir saat ini. Gita yang beberapa minggu lalu masih dia sentuh, masih dia kecup, sudah tidak ada. Terluka parah dengan kepala pecah hingga tidak bisa dikenali lagi. Padahal kehangatan dan kulitnya yang lembut masih Arki rasakan diujung jemari. Gita tidak mungkin meninggal. Orang yang dimaksud Sanjaya pasti bukan Gita.
Tapi sebagian dirinya mempercayai. Kini air matanya lebih dulu lolos ke pipi. Sementara pikirannya menjadi kosong tanpa apapun lagi. Jantungnya seperti di cabik tanpa henti. Kesedihan berkumpul hingga di dadanya hingga sulit mengambil udara.
__ADS_1
“Pak Arkian?”
“Pak!”
Suara Sanjaya menghilang setelah beberapa kali memanggil nama Arki. Ponselnya sudah lepas dari tangan. Arki menangis tanpa suara.
...****************...
Hal yang terjadi setelahnya seperti mimpi bagi Arki. Dari kamarnya, dia bisa mendengar keributan saat Sanjaya muncul di kediaman Ela pukul enam pagi. Dia bisa mendengar ibunya menangis sejadinya. Bahkan Irma pun tidak bisa menghentikan diri untuk menangis juga.
Arki hanya diam berbaring di atas ranjang setelah panggilan telepon beberapa jam lalu dari Sanjaya. Semua perasaan kehilangannya dia telan sendiri. Terlalu bingung untuk memberitahukan pada ibunya tentang kabar ini. Selain itu, Arki juga membutuhkan waktu mencerna semua kejadian tragis yang menimpa Gita. Saat ini Arki hanya butuh waktu sejenak untuk berduka.
Setelah mengumpulkan energinya. Pagi itu Arki berangkat bersama Sanjaya ke rumah sakit. Melawan rasa sedih dan remuk pada hatinya yang kehilangan. Sepanjang perjalanan Arki hanya diam menatap jalan. Pikirannya pun berlarian entah kemana, membayangkan banyak kenangan dan wajah Gita di kepala.
“Pak Arkian, silakan.”
Sanjaya mempersilakan Arki untuk melihat tubuh Gita di morgue. Tersimpan di lemari-lemari pendingin dengan tubuh sekaku kayu, membiru dan dengan luka yang membuatnya tidak lagi berbentuk. Hanya kaki saja yang utuh, sementara tubuh atasnya terkoyak.
Benarkah ini adalah Gita? Orang yang disayanginya?
Kenapa batinnya belum menerima dan tidak rela?
Kenapa hatinya mengatakan bahwa ini bukanlah Gita?
Bagaimana bisa Arki menerima kenyataan seperti ini?
Sanjaya menopang tubuh Arki yang nyaris ambruk karena kesedihan. Melihat bagaimana laki-laki yang setiap mereka bertemu begitu dingin dan tegas, kini berubah menyedihkan. Larut dalam perasaan kehilangan yang menyakitkan.
__ADS_1
Arki dibawa duduk di luar morgue. Duduk di bangku kayu memanjang. Sanjaya menyerahkan sebotol air mineral untuk Arki agar dia menjadi lebih tenang. Semenjak melihat istrinya tadi, Arki hanya menundukkan kepala dengan tatapan kosong.
“Pak Arkian, ini adalah barang-barang Bu Gita yang ditemukan di tempat kejadian. Untuk sekarang saya belum bisa memberikannya karena akan diproses dulu untuk laporan ke kepolisian,” kata Sanjaya menyerahkan tas kecil, cincin pernikahan, KTP, kartu ATM, beberapa alat make up dan dompet berisi sejumlah uang.
Arki hanya menatap sekilas semua benda yang ditinggalkan oleh Gita. Tas yang sepertinya Arki kenal, kartu ATM yang Arki berikan, dan cincin pernikahan yang dulu dia sematkan.
Jika tubuh yang dilihatnya bukan Gita. Lantas kenapa dia memiliki semua barangnya? Arki menolak nalarnya yang liar berpikir bahwa Gita sudah tidak ada. Hatinya terus beralasan dan berprasangka semua ini hanyalah kebohongan.
“Kalau Pak Arkian dan keluarga masih ragu jika tubuh yang tadi kita lihat adalah Bu Gita. Kita bisa lakukan proses identifikasi lebih lanjut dengan dental profiling, sidik jari hingga pencocokan DNA dengan saudari satu ayahnya yang sekarang sedang berada di rumah tahanan. Tapi kami membutuhkan waktu sekitar 4 hari hingga seminggu untuk mendapatkan informasinya.”
Pikiran Arki berkabut dan tidak bisa berpikir jernih saat ini. Namun, dia yakin perlu identifikasi lebih lanjut untuk memastikan bahwa tubuh hancur itu adalah Gita. Hatinya butuh lebih banyak bukti yang menunjukkan kebenaran. Hingga dia tidak lagi menyangkal.
“Lakukan saja prosedurnya,” ucap Arki menyetujui.
Selama empat hari Arki menunggu kabar dari Sanjaya. Berharap kebenaran yang dia ungkapkan bukanlah seperti yang dia pikirkan. Arki tidak bisa, belum bisa, tidak mungkin bisa menerima kepergian Gita untuk selamanya. Dia ingin terus beralasan bahwa Gita masih berada di luar sana. Sehat, bebas, dan bahagia.
Ibunya setiap hari mengundang tetangga dan para pekerjanya untuk melakukan pengajian. Mempercayai Gita sudah tiada, meskipun belum mereka kebumikan. Berulang kali ibunya berkata untuk segera mengikhlaskan, agar kepergian Gita lebih tenang.
[Sanjaya: Selama pagi, Pak Arkian! Saya ingin menginformasikan hasil dari pemeriksaan laboratorium terkait identifikasi tubuh Bu Gita. Hasilnya menyatakan tubuh tersebut adalah Bu Gita. Dilihat dari kecocokan DNA dengan saudarinya, sidik jari dan juga struktur gigi. Kami akan mengirimkan Beliau ke kediaman saat ini juga untuk keluarga dimakamkan.]
Pesan itu sampai setengah jam yang lalu. Masih terus Arki baca hingga berulang-ulang. Berharap ada kesalahan. Meskipun semua fakta dan data mengatakan kebalikannya, kenapa Arki masih belum bisa menerimanya?
...****************...
[Basuki: Kabar mengenai kematian Anda sudah dikonfirmasi dan dikabarkan pada Mas Arkian. Semua orang yang mengawasi juga sudah ditarik kembali ke Jakarta. Silakan menikmati waktu Anda dengan identitas sebagai Ibu Ani. Kemungkinan Mas Arkian tidak akan mencari lagi setelah ini. Namun, saya ingin memperingatkan agar berhati-hati dan tidak menarik perhatian.]
Gita menerima pesan dari Basuki tersebut dan menghela napas. Ada kelegaan dan juga kesedihan yang bercampur dihatinya. Kini hidupnya sudah terbebas dari Arki selamanya.
__ADS_1
Tapi pikirannya menerawang, ingin tahu apakah Arki merasa kehilangan atau mungkin dia kini sedang merayakan? Jalannya bersatu dengan perempuan yang dia inginkan sudah terbuka lebar.
Bagaimana juga dengan ibu mertuanya? Apakah dia baik-baik saja setelah menerima kabar kepergian Gita? Hingga kini setiap hari terselip doa untuknya, agar Ela terus diberikan kesehatan dan kelapangan agar bisa merelakan.