
Shaka berakhir di sekretariat bersama Abi karena semua teman-temanya sudah pulang. Itupun karena pria itu memaksa Abi agar menemaninya.
“Ya udah sih, daripada di sini sampai malem nanti diganggu setan. Kita ke rumah Ara aja,” usul Abi. Kebetulan sekali rumah Ara yang jaraknya paling dekat dengan kampus.
“Ah, itu mah maunya lo. Ngapel kan?” Seolah sudah tahu dengan niat Abi, Shaka menjadi tak mau pergi ke rumah Ara.
“Gak gitu. Lagian lo mau di sini sampai kapan?” tanya Abi.
“Tunggu bentar lah. Bentar lagi motor gue balik kok.” Shaka mengatakan jika motornya dipinjam temannya, itulah alasan mengapa dia tak bisa pulang sekarang.
“Nah, ya udah. Emang lo tau kapan teman lo itu balik?” Shaka menggeleng pelan. Benar juga apa yang dikatakan Abi, dia tak tahu kapan temannya itu kembali karena dia bilang dia mau menjemput pacarnya.
“Ayolah!! Gue lapar! Kalau di rumah Ara seenggaknya ada makanan kali,” ucap Abi.
Setelah mendengar Abi menyebut ‘makanan’ barulah mata Shaka berbinar. “Bener juga. Dari tadi gue belum makan,” ujar pria itu.
“Nah makanya, ayo!!” Abi berlalu dari sana setelah mengunci pintu sekretariat. Pria itu memberikan helm kepada Shaka dan diterima oleh pria itu.
Akhirnya mereka benar-benar pergi ke rumah Ara. Hari memang belum begitu larut, mungkin tak apa jika mereka bertamu sebentar ke sana.
Abi memang terkenal dengan ucapannya yang manis dan pintar membujuk orang. Itulah kenapa banyak orang yang selalu patuh dengan ucapannya. Entah pelet apa yang dia gunakan.
Mereka akhirnya tiba di rumah Ara. Kebetulan sekali sepertinya sang pemilik rumah sedang ada di luar.
Hanya saja dia tak sendirian, ada Bundanya dan juga Stefani yang sedang berbincang di teras rumah.
“Siapa tuh?” tanya Stefani sambil menyipitkan matanya, berusaha mengenali siapa yang datang.
“Ck, ngapain lagi sih?!” Bukannya menjawab pertanyaan Stefani, Ara justru malah berdecak karena dia sudah tahu siapa yang datang.
“Hush, jangan gitu sama tamu.” Sang Bunda memperingati putrinya.
“Abisnya ... “
“Ssstt udah. Mending sambut tamu kamu itu, Bunda ke dalam dulu takut mereka jadi canggung.” Akhirnya Bunda Ara masuk ke rumah tepat sebelum Abi menyetandarkan motornya.
“Hai, ganggu ya,” ucap Abi sambil membuka helmnya. Jaraknya dengan Ara yang agak jauh membuat pria itu harus sedikit menaikan volume suaranya.
“Udah tau ganggu, kenapa masih datang?” sindir Ara dengan pelan.
__ADS_1
“Sama calon pacar itu gak boleh gitu,” ucap Stefani menggoda Ara.
Beruntunglah Ara mengucapkannya dengan pelan hingga Abi dan Shaka tak mendengar apa yang dikatakan gadis itu.
“Lagi pada ngapain nih?” Shaka bertanya setelah menghampiri Ara dan Stefani.
“Keliatannya?” tanya Stefani sewot.
“Biasa aja kali. Gue kan nanya juga biasa aja.” Shaka tak terima.
Abi datang setelah dia memarkirkan motornya dan menyimpan helmnya. “Ganggu gak nih?” tanya Abi.
“Menurut lo aja, Ketua,” ujar Stefani. Stefani sudah sangat sering mendengar Abi main ke rumah Ara.
Rumahnya memang tak terlalu dekat dengan Ara, tapi juga tak terlalu jauh. Dan Ara selalu laporan padanya jika Abi datang ke rumahnya.
“Enggak. Ada apa?” Ara menjawab dengan tenang. Lagi pula tak ada alasan khusus dia harus marah pada pria itu.
“Enggak ada apa-apa sih. Mau main aja sekalian nungguin nih bocah.” Abi menunjuk Shaka yang sedang sibuk adu mulut dengan Stefani.
“Nungguin apanya? Emang dia kenapa?” tanya Ara saat dirasa jawaban yang diberikan Abi tak masuk akal.
“Mau minum apa?” tanya Ara.
“Teh manis!!” Bukan Abi yang menjawab, melainkan suara Shaka yang sangat menggelegar hingga membuat Stefani terlonjak. Pasalnya Shaka sedang berbicara dengannya tapi tiba-tiba pria itu berteriak.
“Berisik!!” protes Stefani sambil memukul paha Shaka. Shaka hanya menyengir tak bersalah. Sementara itu Ara hanya menggelengkan kepalanya.
“Apa aja deh.” Kali ini baru Abi yang menjawab.
Ara mengangguk sebelum kemudian dia pergi ke dalam rumahnya untuk mengambilkan minuman. Tak lama, Stefani menyusul untuk membantu temannya itu.
“Emang ngerepotin tuh anak dua,” dumelnya sambil menyiapkan dua buah cangkir.
“Ngerepotin tapi lo masih mau direpotin sama mereka,” kekeh Ara.
“Ya gimana lagi. Masa kita biarin gitu aja, kalau kelaparan terus mati gimana? Kan kasian anak orang,” jawabnya tak masuk akal.
Lagi-lagi Ara menggelengkan kepalanya. Setelah selesai mereka membagi tugas.
__ADS_1
“Nih, lo bawa ke depan. Gue mau siapin cemilan dulu,” ujar Ara yang diangguki oleh Stefani. Gadis itu segera membawa teh manis itu ke depan.
Sementara Ara masih berkutat dengan toples-toplesnya. “Ra, di lemari atas ada makanan.” Bundanya tiba-tiba datang dan memberitahunya.
“Oh, iya Bun.”
Ara segera membuka lemari yang dikatakan Bundanya dan memindahkan makanan itu ke dalam toples.
“Abang masih belum pulang, Bun?” tanya Ara saat dirasa Bundanya masih ada di sana.
“Belum. Tadi sih Mbak kamu bilang kalau malam ini dia lembur.”
Ara mengangguk. Sebenarnya dia tak tega melihat Abangnya bekerja banting tulang untuk menghidupinya, tapi bagaimana lagi, Ara belum bisa menghasilkan uang.
“Bunda gak mau ke depan? Ngobrol gitu sama mereka,” ajak Ara dengan toples di kedua tangannya.
“Enggak deh. Nanti mereka malah canggung.”
“Ya udah. Ara ke depan dulu ya.” Bundanya mengangguk. Ara akhirnya berlalu ke depan.
Teh yang dia buat tadi sudah habis setengah. Apakah dia terlalu lama di dalam? Atau kedua temannya itu kehausan? Entahlah.
“Nih.” Ara menyodorkan kedua toples itu yang dengan sigap diterima oleh Shaka. Pria itu segera membukanya dan memakannya dengan lahap.
“Kayanya kalian kelaparan,” ucap Stefani yang memandangi Shaka ngeri.
“Bukan kita, cuma dia aja.” Abi tak terima ketika dia dicap kelaparan oleh Stefani.
“Eh, kenapa Bunda lo malah masuk. Padahal gak apa-apa kita ngobrol bareng,” ucap Abi saat dia ingat tadi dia melihat Bunda Ara.
“Gue suruh masuk. Takutnya dia kemakan omong kosong lo,” jawab Ara. Hati Abi tiba-tiba tertegun ketika mendengar kalimat itu dari mulut Ara.
“Emang kapan gue pernah omong kosong?” tanya Abi dengan pandangan melasnya.
“Gak usah dibahas. Dah lupain aja,” jawab Ara. Dia tak ingin memperpanjang hal ini.
Abi memilih tak mendebat Ara karena sepertinya gadis itu sedang dalam mood yang kurang baik saat ini.
“Ka, kabarin lagi teman lo. Mau sampai kapan kita di sini,” ucap Abi saat merasa sudah tak nyaman berada di sana.
__ADS_1
Entah kenapa setelah ucapan yang dilontarkan oleh Ara, hatinya mendadak tak enak. Bukan kesal, tapi lebih ke takut jika apa yang diucapkan Ara itu benar adanya.