
Rasanya sudah cukup lama Rachel tak bertemu dengan pria itu. Pria yang membuat Ara temannya jatuh sejatuh jatuhnya pada pria itu. Ya, dia adalah Abiseka Bagaskara.
"Kenapa malam-malam jalan sendirian?" tanya Abi dari dalam mobilnya.
"Bukan urusan lo," jawab Rachel sarkas.
"Sini masuk sekalian ada yang mau gue bicarain," ajak Abi.
Awalnya Rachel hendak menolak, namun dia berfikir sejenak, mungkin ini adalah kesempatannya untuk berbicara dengan Abi.
Jika dia tak bisa membujuk Ara, maka dia akan memaksa Abi untuk menjauhi sahabatnya itu.
Tanpa berlama-lama, Rachel akhirnya mau masuk mobil Abu walaupun dengan wajah yang seakan terpaksa.
Mereka memulai pembicaraan mereka dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Kebetulan ada yang mau gue omongin juga," ucap Rachel.
Abi menoleh pada gadis yang ada disampingnya itu. "Mau ngomong apa?" tanya Abi.
"Lo duluan," pinta Rachel. Dia sangat ingat dengan ucapan Abi sebelum dia masuk kedalam mobilnya.
"Soal pengunduran diri lo, sorry, kayaknya gue gak bisa kabulin."
Rachel mengerutkan keningnya. Jika keningnya itu tembus pandang, mungkin saat ini ada banyak sekali tanda tanya dalam otaknya.
"Kenapa?" tanya Rachel.
"Lo tau sendiri kalau di organisasi kita ini kekurangan sumber daya manusia. Lo gak keluar pun masih kurang apalagi kalau lo keluar."
"Lo pikir dengan adanya gue di organisasi itu bisa bantu kinerja kalian? Toh gue juga gak bakalan datang lagi."
"Oke kalo lo emang gak mau bantu acara kita, tapi gue harap buat sekarang lo bisa ngerti. Dua sahabat lo sekarang ada di dalam organisasi itu dan gue tahu lo bukan tipe orang yang gak bertanggung jawab atau ninggalin sahabat cuma karena masalah yang sepele."
Rachel tak menyangka jika masalah yang dia anggap serius itu malah dianggap sepele oleh sang presiden mahasiswa.
__ADS_1
"Sepele lo bilang? Ini menyangkut mental gue gila!" Rachel menaikkan nada bicaranya. Dia sangat geram dengan pria yang ada di sebelahnya itu.
Sampai saat ini Abi memang belum tahu apa masalahnya sampai Rachel mengatakan masalah ini tidak sepele.
"Oke gue emang gak tahu masalahnya apa. Cuman sebesar apa sih masalah yang bikin anggota BEM bisa menyangkut mental?"
Rachel memalingkan wajah. Sangat malas baginya untuk menjelaskan semua keadaan pada Abi.
"Lo gak perlu tahu. Cukup setujui surat pengunduran diri gue," ucap Rachel, namun Abi tetap pada pendiriannya dan menggeleng.
"Udah gue bilang, gue gak bisa kabulin permintaan lo yang satu itu."
Rachel akhirnya menyerah untuk Abi. Yang jelas dia tidak akan pernah terlibat lagi dalam acara organisasi itu.
"Terserah lo," ucap gadis yang sudah sangat marah itu.
"Tentang hal yang mau gue omongin sama lo, ini menyangkut Ara." Mendengar nama gadis yang saat ini sedang dekat dengannya membuat Abi langsung menolehkan pandangannya pada Rachel.
"Kenapa dia?" tanya Abi seperti khawatir.
"Apa maksud lo?" tanya Abi tak mengerti.
"Udahlah gak usah pasang topeng lo depan gue. Gue udah tau semua kebusukan lo," ucap Rachel. "Selama ini lo nggak sedekat itu sama gue jadi jangan sok tahu tentang kehidupan gue," emosi Abi mulai tersulut ketika mendengar hal itu.
“Gue emang gak dekat sama lo. Tapi asal lo tau, selama ini gue tau cewek mana aja yang udah jadi korban lo.”
Seketika Abi terdiam. Dia merasa sangat terpojok sekarang. “Udahlah gak usah bahas hal itu. Yang jelas gue gak kaya apa yang lo bilang.”
Abi kembali melajukan mobilnya. Dia tak mungkin meminta Rachel kembali keluar dari mobilnya.
“Berhenti. Gue turun di sini,” ujar Rachel yang mulai kesal. Percuma dia ada di sini jika Abi tak mendengarkannya. Karena dia naik ke mobil pria itu hanya untuk membicarakan Ara pada Abi. Tapi sepertinya dia tak mendapatkan apapun sekarang.
“Gue anterin sampai rumah lo.” Abi tak mendengarkan ucapan Rachel.
__ADS_1
“Gak. Gue turun di sini.” Keduanya memang sama-sama memiliki sifat yang keras kepala. Itulah kenapa tak ada yang ingin mengalah di antara mereka.
Karena Abi tak kunjung menghentikan mobilnya, akhirnya saat ini Rachel yang mengalah. Sepanjang jalan dia hanya diam hingga mereka tiba di depan rumah Rachel.
Abi tahu rumah gadis itu karena pernah datang ke sana beberapa kali untuk membahas acara organisasi mereka.
“Thank’s,” ucapnya sebelum dia keluar dari mobil Abi. Abi tak menggubris, dia masih menatap ke depan.
Tahu jika pria itu tak akan mengatakan hal lain, Rachel tak mempedulikannya. Dia segera masuk ke rumahnya tanpa mengatakan hal lain lagi.
Sementara itu Abi terdiam cukup lama di sana. Pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan Rachel beberapa saat lalu.
Tangannya yang semula berada di atas pahanya kini terangkat memegang dadanya. “Kenapa ini?” tanyanya.
Tak ingin terlalu larut dengan perasaannya, Abi segera menyadarkan dirinya dan kembali melajukan mobilnya.
Setelah tiba di rumahnya, dia segera membersihkan badannya. Kegiatan di Universitas yang menyita banyak waktu dan tenaga membuatnya sangat lelah. Belum lagi dengan permasalahan lain yaang muncul, yang tadi dikatakan Rachel.
“Kak, udah selesai? Ini makannya udah siap. Yang lain juga udah nunggu di bawah,” teriak Mamanya dari luar. Beberapa kali dia juga mengetuk pintu kamar Abi, namun tak ada balasan dari dalam sana.
“Mungkin masih mandi,” ujar Mamanya sebelum kemudian dia memilih pergi dari sana dan menunggu di bawah.
“Belum selesai dia?” tanya Ayahnya yang sudah duduk dengan rapi di kursi makan. Begitu juga dengan kedua Kakaknya dan Adiknya yang telah menunggu.
Tak lama, Abi datang dari kamarnya dengan kaos hitam dan celana pendeknya. “Maaf, tadi masih ada yang harus Abi urus di kampus. Jadi kemalamam,” ujarnya saat dia tiba di meja makan.
Mereka semua mengangguk. “Yuk makan,” ajak Ayahnya. Mereka akhirnya makan dalam keadaan sangat hening. Memang inilah keluarga Abi, mereka tak terlalu dekat satu sama lain, tapi mereka juga tak saling membenci.
Hal ini terjadi mungkin karena kedua Kakaknya yang jarang ada di rumah karena bekerja, begitupun dengan Ayahnya.
Sementara Mamanya hanya seorang Ibu rumah tangga dan Adiknya masih sekolah di SMP.
“Emang ada acara apa lagi di kampus, Kak?” tanya Ayahnya setelah mereka selesai dengan makanan mereka.
__ADS_1
“Biasalah, Yah. Rapat rutin sama beberapa fakultas buat acara Pekan Raya Kampus,” jawab Abi dengan tenang.
Ayahnya mengangguk. “Ayah tau kamu hebat dalam memimpin. Tapi jangan lupain tujuan utama kamu masuk kuliah. Jaga nilai kamu, jangan sampai turun,” ucap Ayahnya yang diangguki oleh Abi.