Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Tiba-tiba Pergi


__ADS_3

Asmara yang kemarin sempat kacau, sekarang kembali mekar. Ara dan Abi kembali bersama seperti keinginan Abi. Pria itu telah berjanji tak akan lagi menyakiti perasaan Ara.


Saat ini bahkan Abi tengah menuruti apa yang diinginkan Ara. Mereka sedang berjala-jalan di taman kota dan beberapa tempat perbelanjaan.


“Masih mau beli apa lagi? Ini udah banyak banget loh,” ujar Abi saat dia melihat tas belanjaan Ara yang sudah memenuhi kedua genggaman tangannya.


“Dikit lagi aja. Aku mau beli aksesoris,” ucapnya. Abi hanya bisa mengeha nafas mendengar penutura Ara. Biarlah, lagi pula tak setiap hari juga mereka bisa seperti ini.


“Mau ini ya.” Ara menunjuk jepit rambut berwarna merah maroon yang sangat lucu. Hal ini yang membuat Abi bisa menganga dibuatnya. 


Gadis yang dulu sangat dingin dan terkesan dewasa, setelah dia mengenalnya lebih dalam, ternyata gadis itu hanya seorang gadis kekanakan yang menyukai hal-hal lucu seperti ini.


“Ya udah ambil aja. Ambi semua yang kamu mau.” Sewaktu membeli baju tadi, Ara sudah akan membayar belanjaannya menggunakan uangnya sendiri karena dia juga memiliki tabunga untuk hal seperti ini.


Tapi dengan memaksa, Abi tak memperbolehkannya dan malah memintanya agar memakai uangnya. Karena tak mau ribut di depan umum, akhirnya Ara mengiyakan hal tersebut. Biarlah nanti mereka menyelesaikan ini di balik layar.


Ara tak membeli banyak aksesoris, hanya satu buah jepit rambut dan beberapa anting-ating yang menurutnya sangat cantik.


“Udah?” tanya Abi. Takutnya gadis itu masih belum puas dengan belanjaannya.


“Udah,” serunya. Mereka kembali berjalan. Selama perjalanan, perut Ara berbunyi lumayan nyaring.


“Nah kan yang abis belanja kehilangan tenaga dan sekarang dia lapar,” goda Abi yang bisa mendengar suara perut Ara dengan sangat jelas.


“Ih gak boleh gitu!” ucap Ara tak terima sambil memukul pelan lengan Abi. Abi hanya bisa terkekeh. Dia mengambil alih belanjaan yang semula ada di tangan Ara.


“Yuk, cari makan. Kamu mau makan di mana, aku ngikut,” ujar Ara. Ara merasa seharian ini Abi benar-benar memanjakannya dan mengiyakan apapun yang dia inginkan.


“Ayam geprek?” tanya Ara meminta persetujuan dari Abi. Abi mengangguk. Belakangan ini menu ayam geprek memang sangat populer apalagi di kalangan mahasiswa.


Rasanya yang enak dengan harga terjangkau membuat mereka sering membeli itu untuk makan. “Yuk!” Abi mengikuti langkah Ara menuju gerai ayam geprek yang ditunjuk gadis itu.


“Kamu yang pesan ya. Aku tunggu di sana,” ujar Abi sambil menunjuk tempat yang dia tuju. Ara mengangguk setuju karena dia kasihan pada Abi yang pasti tangannya pegal karena semua belanjaannya.

__ADS_1


Setelah selesai memesan, Ara menghampiri Abi yang sudah duduk di sana sedang memainkan ponselya.


“Berat ya?” tanya Ara. Maksudnya ketika Abi membawa tas belanjaan miliknya. Abi menggeleng dan menyimpan ponselnya.


“Enggak kok. Lagian cuma segini ya gak berat lah,” jawab Abi. Ara hanya terkekeh dan duduk di depan Abi.


Mereka menunggu makanan mereka hingga akhirnya datang. Keduanya segera memakan makanan mereka sebelum mereka melanjutkan perjalanan.


“Abis ini mau ke mana lagi?” tanya Abi sambil terus mengunyah.


“Belum tau, belum kepikiran,” jawabnya. Berarti setelah ini Abi harus siap-siap karena Ara pasti akan mengajaknya ke suatu tempat dengan mendadak.


Mereka selesai dengan makanannya. Karena menu mereka ayam geprek, tadi mereka makan menggunakan tangan telanjang dan sekarang inilah akibatnya.


“Abi, panas,” ucapnya sambil memperlihatkan tangannya pada Abi. Padalah sejak tadi dia sudah mencuci tangannya.


“Ya sama aku juga panas. Sini aku tiup.” Abi mengambil tangan Ara dan di dekatkan dengan mulutnya sebelum kemudian dia meniupnya dengan pelan.


Nasib Abi menjadi kekasih dari seorang wanita yang terlihat dewasa namun ternyata belum. Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil dan masih di tempat parkir.


“Terus kita kapan berangkatnya kalau aku terus niupin tangan kamu?” tanya Abi. Ara merengut ketika mendengar Abi mengatakan hal itu.


“Ya udah gak usah.” Gadis itu menarik tangannya walau masih terasa terbakar.


“Gini deh. Sini.” Abi kembali menarik tangan Ara dan sekarang bukan mendekatkan ke mulutnya tapi mendekatkannya ke ac yang ada di depan mereka.


“Nih, lebih adem, kan?” tanya Abi. Ara tersenyum senang. Kenapa dia tidak terpikir dari tadi.


Setelah berhasil membuat Ara nyaman, Abi mulai melajukan mobilnya entah menuju ke mana. Hari sudah mulai sore sekarang.


“Bi, mampir ke taman yuk. Cari tukang es keliling, kangen deh rasanya.” Beruntung sedari tadi Abi telah menyiapkan diri untuk menghadapi hal seperti itu.


“Boleh. Ke taman mana?” tanya Abi.

__ADS_1


“Yang biasa aja. Di sana banyak penjual keliling. Pasti juga ada es,” ujarnya yang kemudian disetujui oleh Abi.


Abi melajukan mobilnya ke sebuah taman yang dimaksud oleh Ara. Membutuhkan waktu sekitar duaa puluh menit hingga mereka bisa tiba di sana.


Sore-sore begini membuat taman itu dipenuhi dengan pengunjung. Semakin malam justru akan semakin ramai.


“Di sini?” tanya Abi takut dirinya membawa Ara ke tempat yang salah. Namun beruntung Ara mengangguk itu artinya dia benar membawa Ara ke sana.


“Yuk turun,” ajak Abi. Dia melihat Ara masih menyimpan tangannya di depan ac. 


“Masih panas?” tanya Abi.


“Enggak. Udah mendingan. Yuk.” Mereka turun dan mulai berkeliling mencari seorang penjual es keliling yang dimaksud oleh Ara.


Taman ini bukan taman kecil yang hanya membutuhkan lima menit untuk berkeliling. Ukurannya yang sangat besar membuat mereka kelelahan apalagi tukang es yang dimaksud oleh Ara itu tak kunjung terlihat.


“Itu!!” seru Ara saat akhirnya dia bisa menemukan tukang es krim yang dia maksud. 


“Ya udah yuk ke sana.” Abi menggandeng tangan Ara menuju ke arah yang dimaksud gadis itu.


“Pak beli ... “ “Kamu mau gak?” Ara berbalik untuk menanyakan apakah Abi menginginkannya juga atau tidak.


“Mau deh satu.”


“Oke, jadi dua ya Pak.” Ara memesan es krimnya. Ketika menunggu pesanan mereka siap, Abi melihat-lihat pemandangan sekitar.


Tak sengaja dia melihat seorang gadis yang terlihat seperti orang yang dia kenal. Dengan spontan, Abi melepaskan pegangannya pada Ara dan menoleh pada kekasihnya itu.


“Tunggu di sini bentar ya. Aku ke sana  dulu,” ucapny dengan terburu-buru.” Tak sempat Ara menjawab, Abi sudah terlebih dulu pergi dari sana.


Ara terus memperhatikan ke mana Abi pergi hingga pria itu hilang ditelan keramaian.


“Ini neng.” Bapak tukang es krim itu memberikan dua cup es krim pada Ara sebelum kemudian Ara membayarnya. “Makasih ya, Pak.”

__ADS_1


__ADS_2