
Abi dan Nabila sudah tiba di perpustakaan yang Nabila katakan dan topik pembicaraan mereka masih sama.
"Bukannya kamu bisa laporin dia kalau dia masih teror kamu?" tanya Nabila sambil membuka buku-bukunya.
Abi yang duduk di hadapannya juga membantu mempersiapkan alat tempur gadis itu.
"Bisa. Tapi aku gak mau. Kasihan, dia kan juga teman aku," jawab Abi.
"Tapi kalau kamu terganggu ya gimana lagi."
"Tenang aja, kamu gak lerlu khawatir, nanti biar aku yang ngomong sama dia buat gak hubungin aku terus." Abi mengelus surai Nabila menenangkan gadis itu.
"Hhmm."
Percakapan mereka cukup sampai di sana karena mengingat di perpustakaan tam boleh berisik.
Sisanya Nabila yang mengerjakan tugasnya dan sesekali Abi membantu gadis itu menghitung.
"Aku boleh buka kado dari kamu?" tanya Abi saat dia penasaran dengan apa yang diberikan gadis itu sebagai hadiah.
"Boleh," jawab Nabila.
Abi membuka tasnya dan mengambil kado kecil itu.
"Aku buka ya," izin Abi yang kemudian diangguki oleh Nabila.
Perlahan, tangan Abi mulai membuka kado itu.
Matanya terbelalak saat dia melihat sebuah jam tangan di dalamnya. Bukan jam tangannya, tapi dia sangat tahu harga jam tangan itu.
Sangat mahal dan selama ini dia selalu sayang untuk membelikan uangnya untuk jam tangan itu.
"Ini kamu gak lagi bercanda, kan?" tanya Abi.
"Enggak. Becanda gimana maksud kamu?"
"Sayang, ini mahal loh," ucap Abi.
"Gak ada yang mahal kalau buat pacar aku. Yang penting kamu suka, aku senang," jawabnya dengan mudah.
"Makasih banyak. Lain kali aku yang bakal kasih hadiah sama kamu," ujar Abi.
"Kamu udah kasih lebih sama aku. Waktu aku ulang tahun kemarin, kamu datang dan kasih kejutan."
Hari ulang tahun Nabila kemarin bertepatan dengan hari di mana organisasi mereka menjanjikan akan camp, dan Ara menunggu Abi sampai pusing dibuatnya.
"Udah kewajiban aku dong sebagai pacar kamu." Nabila tersenyum manis saat mendengar itu.
****
Sementara itu Ara terlihat gemetar sesaat setelah dia menelpon Abi. Tadi saat sadar panggilannya dijawab, senyumnya sangat cerah tepat sebelum kemudian menghilang saat seorang wanita di seberang sana yang menjawabnya.
"Lo gak apa-apa, kan?" Mereka baru saja tiba di rumah Stefani saat Ara menelpon tadi.
__ADS_1
"Abi gak selingkuh, kan?" Ara bertanya dengan pandangan lurus ke depan. Dia sudah tak bisa berpikir dengan jernih lagi sekarang.
"Apa maksud lo? Kenapa ngomong kaya gitu?" Stefani yang mendengar itu ketar-ketir.
Sekuat tenaga dia menutupi Abi yang berselingkuh dari Ara, tapi kenapa Ara malah bertanya demikian?
"Fan, bilang ke gue kalau dia gak selingkuh," ucap Ara sambil menggenggam kedua tangan Stefani.
Air matanya sudah membanjiri pipinya sejak tadi. Membayangkan Abi yang selingkuh darinya membuat dadanya sangat sesak.
"Ra, Ra tenang dulu oke. Lo belum lihat sendiri, kan? Jadi tenang dulu, belum tentu dia selingkuh." Stefani berusaha menenangkan Ara.
"Tapi tadi yang ngangkat telpon gue cewek loh Fan," ucap Ara dengan suara yang bergetar.
"Bisa jadi itu sepupu, atau saudara jauhnya," jawab Stefani.
Susah payah dia menyembunyikan hal ini, tapi dengan bodohnya Abi membirakan gadis itu mengangkat telponnya.
"Tenang okey, besok kita juga ketemu dia di kampus. Kita tanya besok okey?" Setelah mengatakan itu, Stefani menarik Ara ke dalam pelukannya.
Ara hanya bisa mengangguk dalam pelukan Stefani. Dia tak tahu bagaimana nasibnya jika tak ada Stefani.
Cukup lama Ara menangis dan Stefani berusaha menenangkan gadis itu.
"Fan, gue mau pulang," ucap Ara pada akhirnya.
"Oke. Gue antar ya." Ara mengangguk.
"Makasih Fan. Mau masuk dulu?" tanya Ara.
"Enggak deh. Udah sore juga." Ara mengangguk. Stefani tahu jika Ara memerlukan waktu sendiri dan dia akan memberikan itu sekarang.
"Gue pulang."
Sementara Stefani pulang ke rumahnya, Ara masuk ke dalam rumah dan di sana sudah ada Abang, Bunda dan Mbaknya.
Mereka sedang berada di dapur untuk persiapan makan.
"Eh Ra udah pulang? Sini makan," ajak Bundanya.
"Iya Bun. Ara mau langsung ke kamar aja. Tadi Ara udah makan sama Fani," jawab gadis itu.
Ara berusaha keras menampilkan senyumannya di suasana yang menyedihkan itu.
Ketiga anggota keluarganya sangat mengenal Ara dan mereka tahu ada yang salah dengan Ara. Akhirnya mereka mengangguk memberikan waktu pada Ara untuk beristirahat.
Ara menjatuhkan badannya ke ranjang. Pikiran dan hatinya terasa sangat lelah karena memikirkan Abi beberapa hari ini.
Belum lagi kejadian tadi yang menambah beban pikirannya.
"Ra, boleh Bunda masuk?" Tak lama setelah Ara masuk kamar, Bundanya juga datang.
"Iya, masuk aja Bun. Gak dikunci kok," jawab Ara dari dalam kamarnya. Dia bangun dari tidurnya sebelum bundanya masuk.
__ADS_1
Bundanya masuk dengan senyumannya kemudian duduk di samping putrinya.
"Abis main dari mana sama Fani?" tanya Bundanya.
"Keliling aja Bun biasa," jawabnya.
"Kayanya seru tuh. Apalagi kalau ngajak Bunda," guraunya.
"Iya nanti kalau main lagi kita ajak Bunda juga," kekehnya.
"Ada apa hmm??" tanya Bunda yang membuat senyuman di wajah Ara memudar bwgitu saja.
"Kelihatan ya?" tanya Ara. Padahal dia sudah sekuat tenaga menyembunyikannya.
"Kamu anak Bunda. Mana mungkin Bunda gak tau," jawab Bundanya sambil mengelus surai Ara.
Ara berhambur dalam pelukan Bundanya.
"Bunda, Ara kangen Ayah," ucap Ara dalam pelukan Bundanya.
"Hmm, Bunda juga kangen banget. Kirim do'a buat Ayah ya," jawab Bundanya.
Ara mengangguk. "Mau ketemu Ayah?" tanya Bundanya sambil menjauhkan Ara dari pelukannya.
"Mau. Bunda kapan mau ke sana?" tanya Ara.
"Besok mau?" tawar Bundanya.
"Boleh. Pagi ya, Ara besok ada kelas siang," jawab Ara.
"Oke. Cuma itu?" tanya Bundanya masih mengorek apa yang menjadi sumber kesedihan Ara.
Namun Ara mengangguk, sepertinya gadis itu tak ingin menceritakan hal menyedihkan yang terjadi hari ini pada Bundanya.
"Kalau ada masalah lain, coba cerita sama Bunda," pinta Bundanya.
"Enggak kok Bun. Ara gak kenapa-napa. Lagi capek aja," jawabnya.
Akhirnya Bundanya hanya bisa mengangguk. Dia tak bisa memaksa putrinya untuk mengatakan apapu.
"Kalau gitu Bunda ke bawah lagi. Nanti kamu ke bawah ya, kita makan bareng." Bundanya berharap Ara mengangguk.
"Iya nanti Ara nyusul ke bawah. Tapi kayanya gak makan, Ara masih kenyang," jawabnya.
Bundanya mengangguk sebelum kemudian dia keluar dari sana.
Ara kembali merebahkan badannya di ranjang kesayangannya.
"Ayah, kenapa sakit banget ya?" gumamnya. Tak terasa air matanya kembali menetes.
"Ara cuma mau bahagia. Kenapa kayanya gak bisa?" lanjutnya.
Isak tangisnya mulai terdengar seiring rasa sakit di dadanya semakin bertambah.
__ADS_1