
"Emang siapa yang bilang itu sama kamu? Kenapa kamu bisa tahu soal ini?" Setelah agak lama, akhirnya Abi menanyakannya. Dia sangat penasaran siapa yang telah memberitahukan soal Ara pada Nabila hingga keadaan menjadi seperti ini.
"Tadi ada yang hubungin aku lewat instagram. Dia bilang mau ketemu dan dia bilang dia teman kamu."
Abi masih setia mendengarkan penuturan Nabila.
"Pas ketemu dia bilang namanya Stefani. Dia teman kamu dan katanya sahabatnya pacar kamu," jelas Nabila.
"Pacar aku?" Abi kembali bertanya seolah dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Nabila.
"Iya. Dia bilang cewek tadi pacar kamu dan dia sahabatnya."
"Terus dia bilang apa lagi?"
"Sebenarnya dia gak minta aku putus sama kamu. Tapi dengan dia lihatin foto kamu sama cewek itu dan bilang dia adalah pacar kamu, bukannya secara gak langsung dia mau aku putus sama kamu?" tanya Nabila yang diangguki oleh Abi.
"Terus setelah sekarang kamu tahu ceritanya dari aku, kamu masih mau putusin aku?" Abi bertanya dengan wajah seriusnya.
Untuk beberapa saat Nabila terdiam hingga akhirnya dia menggeleng pelan. Dia belum siap dan sepertinya tak akan siap untuk putus dengan Abi.
Senyum Abi melebar saat dia mendapat gelengan itu. "Bagus, gadis pintar," ucap Abi sambil mengelus pelan surai gadis itu.
"Karena masalahnya sekarang udah selesai, boleh aku pamit? Udah ditunggu sama kakak tingkat," ujar Abi dengan raut yang menyesal.
Nabila mengangguk. "Maaf udah gak percaya sama kamu dan udah sia-siain waktu kamu," tutur Nabila.
"Enggak. Aku senang kok akhirnya bisa ketemu sama kamu. Maaf ya aku gak bisa antar kamu," ujar Abi.
"Gak apa-apa. Aku bisa sendiri," lanjutnya.
"Kalau gitu aku pergi ya." Kepergian Abi diantar dengan senyuman dan anggukan dari Nabila.
Setelah menjauh dari Nabila, wajah Abi yang semula berseri kini menjadi sangat menyeramkan.
Rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal kuat.
"Berani-beraninya," ucapnya sambil terus berjalan menuju sekretariat.
Beruntung hari ini adalah hari terakhir untuk kajian dengan kakak tingkatnya. Setelah menyelesaikan urusannya, dia akan menemui Stefani dan membicarakan hal ini.
****
Ara terbangun di sore hari dengan keringat yang mengucur di pelipisnya.
__ADS_1
Nafasnya terengah seolah dia telah berlari memutari lapangan.
"Kenapa bisa mimpi kaya gitu," ucapnya. Sudah lama dia tidak bermimpi buruk dan sekarang dia mengalaminya lagi.
Dia beranjak dari ranjangnya dan mengambil tisu untuk menyelamatkan keringatnya.
Setelah benar-benar bersih, dia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Bener-bener dia gak balik lagi ke sini," ucapnya.
Padahal sedari tadi dia menunggu Stefani kembali ke rumahnya sampai tak terasa dia ketiduran.
Ara kembali ke ranjangnya dan mengambil ponselnya.
Di sana ada pesan dari Stefani yang mengatakan gadis itu tak bisa kembali ke rumahnya dan mungkin besok dia akan ke rumahnya lagi.
"Ahh gue harap Bunda udah bolehin gue ke kampus besok," ujarnya.
Untuk mendapatkan izin itu, dia harus berbicara dengan Bundanya. Itulah mengapa dia sekarang menuju ke kamar Bundanya setelah dia mencari di luar tak ada.
"Bun," panggilnya sambil mengetuk pintu kamar wanita paruh baya itu.
Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok Bundanya yang sepertinya juga baru bangun dari tidurnya.
"Ah Ara ganggu ya," sesalnya. Jika tahu Bundanya sedang terlelap, dia tak akan membangunkannya. Dia akan berbicara nanti saja. Tapi sekarang Bundanya sudah terjaga.
"Kenapa?" lanjutnya bertanya pada Ara sambil menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam kamarnya dan mereka duduk di ranjang.
"Ara bosen di rumah. Ara udah boleh ke kampus besok?" tanya gadis itu dengan harapan Bundanya akan memberinya izin.
"Kamu udah ngerasa sehat?" Bundanya malah balik bertanya alih-alih menjawab pertanyaan Ara.
"Udah sehat kok. Ara udah gak sakit." Ara memperlihatkan seluruh tubuhnya dan menyatakan jika dirinya sudah sehat.
"Ya sudah kalau kamu udah ngerasa sehat, kamu boleh ke kampus besok. Tapi ingat, jangan terlalu cape, makanannya dijaga, kalau udah ngerasa gak enak badan, bilang sama teman kamu minta tolong buat antar kamu pulang. Oke?" ucap Bundanya panjang lebar.
"Oke Bun. Ara janji," ujarnya. Senyum Ara mengembang dengan lebar ketika dia akhirnya mendapat izin dari Bundanya untuk kembali beraktifitas seperti biasa.
"Makasih Bunda." Ara berhambur pada pelukan wanita itu. Bundanya juga ikut tersenyum tulus dan membalas pelukan putrinya.
"Iya. Mau makan gak? Kita makan bareng, Bunda udah masak tadi." Ara mengangguk dengan senang hati.
"Oh panggil Abang sama Mbak kamu juga ya biar kita makan bareng," pinta Bundanya.
__ADS_1
"Siap Bunda." Ara berdiri dengan tegap dan memberikan postur seperti sedang menghormat.
Setelah itu dia beranjak dari sana untuk memanggil Abang dan Mbaknya seperti apa yang dikatakan Bundanya tadi.
"Bang, Mbak, makan yuk. Kita makan bareng," panggil Ara dari luar kamar.
Kebetulan juga Abangnya tak lembur hingga dia ada di rumah saat ini.
"Iya Ra bentar. Nanti nyusul ya," teriak Abangnya dari dalam.
Entah apa yang sedang mereka lakukan, mungkin hal yang tak bisa mereka tinggalkan.
Setelah mendapat jawaban dari Abangnya, Ara kembali ke dapur untuk memberitahukan pada Bundanya.
"Katanya nanti nyusul Bun," adunya.
"Ya udah, kamu mau makan duluan atau nunggu mereka?" Bundanya bertanya.
"Tunggu dulu aja Bun. Lagian Ara belum lapar banget kok," jawabnya yang diangguki oleh Bundanya.
Sembari menunggu, Ara membuka ponselnya dan melihat siapa tahu ada pesan masuk.
"Tadi Abi ke sini kok bentar doang?" tanya Bundanya.
Ara mendongak sebelum gadis itu menjawab pertanyaan Bundanya.
"Iya Bun. Dia lagi sibuk, di kampus ada kajian sama kakak tingkat. Udah dua hari kalau gak salah. Tadi dia ke sini juga nyempetin sekalian pulang buat simpan baju kotor sama mandi," jawab Ara panjang lebar.
"Udah mau lulus juga tetap aja masih sibuk ya," ujar Bundanya.
"Apanya, orang masih ada satu tahun lagi," jawab Ara.
"Iya. Tapi satu tahun itu gak bakal kerasa loh," timpal Bundanya.
"Iya sih. Ara jadi kepikiran nanti mau kerja di mana." Ah memikirkan masa depan membuat Ara selalu saja menjadi badmood.
"Jangan terlalu dipikirin. Jalanin aja, toh kita gak tahu kedepannya mau kaya apa. Tuhan yang nentuin, kita cuma usaha sama berdoa," ujar Bundanya.
"Iya sih Bun. Tapi kalau Ara lanjut kuliah S2 gimana ya?"
"Kalau kamu mau ya boleh-boleh aja. Bunda ngikutin apa mau kamu aja," jawabnya.
Ara terdiam. Jika dia melanjutkan sekolah, berarti dia belum bisa memberikan penghasilan pada Bundanya. Tapi jika dia bekerja sambil sekolah, mungkin dia bisa.
__ADS_1
"Udah lah jangan dipikirin lagi. Pusing Ara," ucapnya.
Bundanya hanya terkekeh. Dia yang memulai dia juga yang kebingungan.