Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Khawatir


__ADS_3

Sepanjang jalan, Ara terus memilin jari-jari tangannya. Dia sangat ketakutan sekarang. Dia tak menyangka jika Rachel akan berbuat sejauh ini untuk menyelamatkannya.


“Tenang, gue yakin dia gak apa-apa,” ucap Dion menenangkan Ara saat dia melihat gadis itu sangat gelisah.


Dion memegang tangan Ara berharap itu bisa sedikit memenagkan gadis itu. Ara juga tak menolak karena saat ini dia memang sangat membutuhkannya.


Sebenarnya Dion merasa penasaran kenapa Ara bisa ada di sana, bukannya gadis itu pulang dari rumahnya untuk menemui Abi?


Tapi dia tak bisa menanyakan hal itu di saat keadaan yang seperti ini. Biarlah dia akan bertanya nanti jika suasana terasa lebih tenang.


Setibanya di rumah sakit, mereka segera berlari ke dalam sana. Ara bisa melihat jika Rachel saat ini sedang berbaring di atas brankar dengan banyak perawat dan dokter yang mendorongnya menuju ke ruangan pemeriksaan.


Ara dan Dion hanya bisa mengikuti dari belakang dan mereka dipaksa berhenti ketika Rachel sudah masuk ke dalam sebuah ruangan. 


“Duduk dulu, gue yakin dia baik-baik aja.” Dion kembali menenagkan Ara.


“Tunggu di sini, jangan kemana-mana. Gue pergi bentar.” Ara hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Dion.


Sebenarnya dia sama sekali tak bisa mencerna apa yang dikatakan pria itu karena saat ini fokus utamanya hanya pada Rachel.


Dion pergi dari sana meninggalkan Ara sendirian dengan ketakutannya.


“Abi?” ucapnya. Dia mencari ponselnya tapi tak ada. Dia baru ingat jika ponselnya masih berada di tempat kejadian.


Akhirnya Ara hanya bisa kembali diam menunggu dokter keluar dari sana dengan kabar baik.


“Rachel!!” Seseorang berteriak yang membuat Ara juga menoleh ke sana karena nama temannya disebut oleh orang itu.


Ara bisa melihat seorang wanita paruh baya dengan gaya glamour datang ke sana. Wanita itu menangis tersedu. Tentu saja dia sangat sakit ketika mendengar dari sopirnya jika Rachel dibawa ke rumah sakit karena kecelakaan.


“Tante,” sapa Ara saat wanita itu sudah tiba di sana.


“K-kamu Ara?” tanya wanita itu. Ara mengangguk dan tersenyum senang karena wanita itu mengenalinya.


“Kali ini apa lagi yang kamu lakuin sama anak saya?!!” Wanita itu berteriak histeris yang kemudian ditenangkan oleh sopirnya.


“Ibu, udah bu. Di sini banyak orang,” ucap sopirnya.

__ADS_1


“M-maaf Tante.” Hanya itu yang keluar dari mulut Ara karena dia mengakui jika ini terjadi atas kesalahannya.


“Saya peringatkan kamu buat jangan deketin anak saya lagi. Udah cukup kamu bikin hidup dia hancur.” Wanita yang mengaku sebagai Ibu dari Rachel itu memberikan peringatan pada Ara sambil mencengkeran erat bahu gadis itu.


Ara meringis karena cengkeraman itu cukup kuat. 


“Ra,” panggil seseorang sambil melepaskan cengkeraman itu. Dia menjadi pembatas antara Ara dan Ibu Rachel.


“Maaf, Tante siapa ya?” tanya Dion. Pria itu baru saja kembali setelah membeli sebotol minum.


“Saya Ibunya Rachel. Bilang sama pacara kamu ini buat jangan deketin anak saya lagi. Pergi kalian dari sini.” Dengan sarkas, wanita itu mengusir Ara dan Dion.


“Tapi Tante. Saya mau tahu keadaan Rachel.” Ara segera menjawab karena dia tak ingin pergi dari sana.


“Gak usah sok kha – “


“Dengan keluarga pasien?” tanya seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


“Saya Ibunya.” Wanita itu menjawab dan Ara menunggu penjelasan dokter itu dengan cemas.


**** 


“Indah banget. Akhirnya aku bisa ke sini sama kamu,” ujar gadis itu sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.


“Hmm, aku juga senang bisa ke sini bareng kamu.” Abi merangkul bahu Nabila.


Walau banyak orang di sana, tapi rasanya terasa sangat nyaman bagi mereka.


Mereka hanya diam menikmati indahnya suasana pantai. Abi juga beberapa kali mengabaikan panggilan yang masuk ke ponselnya.


Dia sudah bisa menebak jika itu Ara, dan diaa memilih untuk tak mengangkat panggilan itu.


“Bi, dari tadi ponsel kamu bunyi terus, loh. Gak mau diangkat? Kali aja penting,” saran Nabila. Sebenarnya gadis itu cukup terganggu dengan suara getar yang berasal dari ponsel Abi itu.


“Gak usah. Paling anak-anak yang ngajak jalan.” Entah terhitung berapa kali dia berbohong pada Nabila.


Nabila hanya mengangguk, dia juga tak bisa memaksa Abi. Namun kemudian ponselnya kembali berdering.

__ADS_1


“Mending kamu angkat dulu deh. Kayanya penting banget deh sampai telpon beberapa kali.” Karena tak ingin membuat Nabila merasa risih, akhirnya Abi mengambil telponnya.


“Aku angkat telpon dulu ya,” pamitnya sambil menjauh dari Nabila yang kemudian diangguki oleh Nabila.


“Halo?” tanya Abi dengan kesal. Rupanya yang menghubunginya adalah Shaka.


“Bi, lo di mana?!” Bukan nada tenang yang dilontarkan dari seberang sana.


“Lagi main. Kenapa?” Abi menjawab dengan malas. Saat ini dia sedang malas dengan semua orang. Itu semua terjadi karena mood-nya turun gara-gara Ara dan Dion tadi.


“Mending lo pulang sekarang deh. Ada hal penting,” ujar Shaka.


“Gak bisa. Gue jalan agak jauh,” jawab Abi. Dia tak bohong ketika mengatakan jaraknya yang cukup jauh.


“Gue gak peduli lo sejauh apa. Tapi tadi Stefani bilang kalau Ara kecelakaan.” Ucapan Shaka berhasil membuat tubuh Abi mematung.


“L-lo g-gak lagi bercanda, kan?” tanya Abi berusaha memastika. Agak tak percaya juga karena temannya itu terlampau sering menggodanya.


“Gue serius. Ini gue lagi di jalan sama Rangga, Stefani buat ke rumah sakit,” ucapnya.


“Tapi Ara gak kenapa-napa, kan?” Abi berharap jawaban dari temannya akan mampu menenangkan hatinya.


“Ya gue juga gak tau. Ini makanya gue mau ke rumah sakit sama anak-anak!” Abi sudah tak bisa lagi berpikir dengan jernih.


Dia segera menuju mobilnya. Tanpa dia sadari jika dia melupakan seseorang yang tadi datang bersamanya.


Sepanjang perjalanan, perasaan Abi sama sekali tak baik-baik saja. Beberapa waktu lalu, Ara memang menghubunginya, tapi Abi tak menjawabnya karena dia merasa kesal dengan gadis itu.


Jika saja dia mengangkat panggilan Ara dan menemui gadis itu, mungkin saja ini semua tak akan terjadi.


Abi terus saja meremat stirnya sesekali memukulnya karena seberapa cepat pun dia melajukan mobil, dia sama sekali tak cepat sampai ke rumah sakit yang dikatakan Shaka.


“Sialan pakai macet segala,” ujar Abi saat jalanan di hadapannya benar-benar padat.


Ketika melihat pinggiran jalan yang agak kosong, dia memilih memarkirkan mobilnya di sana dan sang pemilik langsung keluar.


Abi memilih untuk berlari hingga rumah sakit yang dia tuju.

__ADS_1


Suasana di sana sangat ramai hingga dia mendengar sesuatu yang sangat membuat hatinya sakit.


“Iya, katanya korban kecelakaan yang gadis muda itu sekarang dalam kondisi mengenaskan. Wajahnya hampir tak dikenali karena hancur.”


__ADS_2