
Ini adalah sebuah kebetulan dimana Stefani, Rangga, Shaka dan Kris datang bersamaan ke rumah Ara.
"Kalian ini kenapa?" Ara bertanya saat keempat orang itu kini berdiri berjajar di hadapan Ara dan Abi yang berada di ruang tamu.
Pertanyaan yang ingin diajukan Abi sudah terwakilkan oleh Ara.
Sebenarnya pertanyaan itu keluar bukan karena keempat orang itu berdiri berjajar, melainkan karena ekspresi yang ditampilkan oleh Shaka dan Stefani.
"Ngeselin," jawab Stefani dengan kesal.
"Gue mau ke dapur dulu." Tanpa menjawab pertanyaan Ara, Stefani berlalu begitu saja masih meninggalkan rasa penasaran di benak Ara.
Begitu juga yang lainnya yang ikut menuju dapur untuk bersiap-siap.
"Mereka kenapa sih?" Akhirnya Ara hanya bisa kebingungan dan bertanya pada Abi yang juga tak tahu apa yang terjadi pada teman-temannya itu.
"Aku juga gak tau." Abi menggedikan bahunya karena dia juga tak tahu dengan apa yang terjadi pada teman-temannya.
"Mending kita susul mereka," sambung Abi memberikan saran yang diangguki oleh Ara.
Mereka akhirnya juga menuju ke dapur untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan.
Bisa mereka lihat jika masing-masing dari mereka sedang mempersiapkan acara mereka namun masing-masing dan tak ada interaksi sama sekali di antara satu dan yang lainnya.
Stefani yang sedang mencuci daging sangat betah dengan dunianya sendiri, Shaka yang sedang menyiapkan pemanggangan, Kris dengan beberapa botol minuman yang tadi mereka beli dan Rangga yang asik dengan rempah-rempah yang sedang dia siapkan.
"Mau gue bantu gak?" Ara mendekat pada Stefani dan berusaha menawarkan bantuan pada temannya itu.
"Gak usah," jawab Stefani dengan acuh. Dia bahkan menjauhkan daging yang dia pegang dari jangkauan Ara.
Ara menjadi canggung karenanya. Bukan hanya Ara yang mencoba mendekati mereka tapi juga Abi.
Pria itu mendekati Shaka dengan pelan. "Sini biar gue aja," ucap Abi hendak mengambil alih apa yang sedang dilakukan oleh Shaka.
"Gak usah. Lo cari yang lain aja." Sama seperti Stefani, pria itu juga menolak mentah-mentah pertolongan dari Abi.
Karena tak tahan lagi dengan sikap teman-temannya, Ara yang murka langsung menggebrak meja makan dengan sepenuh tenaganya yang membuat semua orang terlonjak termasuk Abi.
__ADS_1
Perhatian semuanya jatuh pada sumber suara dan Ara melihat satu persatu temannya itu.
"Kalian ini kenapa sih? Kalau gak ikhlas ya gak udah adain acara-acara gini. Lagian gue juga gak mau kok!!" teriak Ara. Beruntung keluarganya tak mendengar hal itu.
"Kok lo jadi nyolot gitu sih? Eh kita kaya gini juga buat lo ya!" Stefani yang tadinya memang sedang emosi akhirnya melupakannya pada Ara.
"Siapa yang mau? Gue gak minta!! Kalian sendiri yang mau. Kalau kalian kaya gini mending gak usah!!" Ara membalas Stefani. Dia merasa benar karena dia tak meminta ada acara seperti ini.
"Ra, udah ya. Kayanya mereka lagi ada masalah." Abi mendekati Ara dan memegangi gadis itu untuk tak melanjutkan amarahnya.
Namun dengan sekali sentakan, Ara melepaskan pegangan Abi pada bahunya.
"Ya kalau emang mereka ada masalah di beresin dong!! Kalian tuh udah gede, udah bukan anak kecil lagi!! Gak usah main ngambek-ngambekan kaya gitu!!" Setelah mengatakan hal itu Ara pergi dari sana untuk menenangkan dirinya.
Abi melihat semua teman-temannya. "Kalian itu kaya bocah tahu gak? Beresin dulu masalah kalian baru lanjutkan acara. Kalau gak ada niatan buat beresin, batalin aja acaranya." Abi berkata dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Setelah mengatakan itu, dia pergi untuk menenangkan Ara yang saat ini dia juga tak tahu di mana Ara berada.
Setelah cukup lama Abi mencari akhirnya dia menemukan Ara. Gadis itu sedang duduk di bangku taman yang ada di samping rumahnya.
"Ra," panggil Abi sambil memegang bahu Ara dengan lembut takut mengganggu gadis itu.
Abi memilih untuk ikut duduk di sana tepatnya di samping Ara.
"Jangan marah-marah lagi ya," mohon Abi dengan wajah melasnya.
"Emang kenapa?" tanya Ara.
"Takut tahu lihat kamu marah-marah kaya gitu," ujar Abi dengan raut wajah yang dia buat seperti ketakutan.
Tapi apa yang dikatakan Abi tak semuanya bohong. Dia serius ketika mengatakan marahnya Ara sangat menakutkan.
"Kok takut sih? Kan aku gak marah sama kamu," jawab Ara.
"Tetap aja takut. Aku aja takut, apalagi mereka." Abi bermaksud pada teman-temannya.
Ara yang kembali diingatkan pada teman-temannya hanya bisa menghela nafas berat. Dia kesal sekali membayangkannya.
__ADS_1
"Lagian mereka sendiri yang salah. Kalau emang gak niat dan gak mau lakuin acara itu ya gak usah," ucap Ara.
"Aku gak minta juga. Udah bisa pulang lagi ke rumah aja udah cukup buat aku. Kalau dengan adanya acara ini bikin mereka jadi kaya gitu mending gak usah sekalian." Ara mengeluarkan uneg-uneknya.
"Percaya sama aku deh, mereka pasti gak bermaksud kaya gitu. Aku yakin ada alasan kenapa mereka jadi bersikap kaya gitu," ucap Abi berusaha menenangkan hati Ara.
Ara mengangguk. Dia juga jadi menyesal sudah berkata sangat kasar pada teman-temannya.
"Ra," panggil seseorang yang sangat Ara kenali suaranya.
Ara menoleh dan melihat ada Stefani di sana.
"Aku tinggal dulu ya." Abi yang peka dengan keadaan akhirnya meninggalkan gadis itu berdua untuk berbicara.
Stefani duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Abi.
"Maaf ya," cicit Stefani sambil menunduk dalam. Dia sadar jika yang salah di sini adalah dirinya. Itulah kenapa dia berani untuk meminta maaf.
"Hmm gue juga minta maaf," jawab Ara. Dia juga meminta maaf karena sudah mengatakan hal yang tak baik pada Stefani.
Mereka saling tersenyum satu sama lain dan berpelukan setelahnya.
"Lagian kenapa sih lo jadi kaya gitu?" tanya Ara.
"Gue tuh lagi kesel sama Rangga," jawabnya.
"Emang dia kenapa?" Ara sangat aneh untuk hal ini karena sangat jarang Stefani bermasalah atau berseteru dengan Rangga.
"Rese banget, dia belanja lama banget dan lupain gue gitu aja. Udah gitu mana gue diminta buat dorong troli. Ngeselin banget kan?" Akhirnya Stefani mengadu pada Ara seperti sedang mengadu pada Ibunya.
Ara terkekeh mendengar itu. Jadi karena hal itu Stefani sampai menjadi diam dan mengacuhkannya.
"Jadi karena itu lo jadi cuek sama gue," jawab Ara masih dengan kekehannya.
"Kok lo malah ketawa sih?" Stefani taj terima Ara malah menertawakannya. Padahal menurutnya tak ada yang lucu sama sekali.
"Salah siapa kalian kaya gitu. Cuma karena dicuekin Rangga dan itu sampai berpengaruh sama mood lo?"
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Ara benar. Kenapa dia sangat peduli?
"Lo belum rasain aja gimana rasanya jadi gue," jawab Stefani.