Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Kelemahan Bunda


__ADS_3

Bundanya Ara berjalan dengan lesu ketika dia sedang dalam perjalanan pulang. Apa yang dikatakan oleh Maminya Rachel membuat dia berpikir dengan keras.


“Apa sedalam itu?” ucapnya. Dia belum yakin jika Ara bisa menyakiti Rachel seperti itu karena yang dia tahu selama ini, dua orang itu berteman sangat dekat, bahkan sudah hampir seperti saudara.


Wanita paruh baya itu terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi karena hari memang sudah larut.


Dia membawa mobil, tapi entah dia bisa mengendarainya atau tidak dengan pikiran yang bercabang seperti ini.


“Bunda, mau kita antar?” Rangga tiba-tiba menawarkan untuk mengantar Bunda Ara saat wanita paruh baya itu sudah tiba di parkiran.


“Loh, Bunda kira kalian udah pulang.”


“Tadinya sih gitu Bun. Tapi kayanya Bunda ke sini sendiri, jadi sengaja kita tunggu,” jawab Rangga. Di sana masih ada Shaka juga.


“Bunda gak ngerepotin, kan?” Dia menjadi tak enak hati karena harus merepotkan teman-teman Ara itu.


“Enggak kok Bun. Rangga antar ya.” Bundanya Ara mengangguk dan memberikan kunci mobilnya pada Rangga. Sementara Shaka membawa mobil Rangga dan mengikutinya dari belakang.


“Maaf ya Bunda jadi ngerepotin kalian. Padahal ini udah malam banget.” Sekali lagi Bunda Ara meminta maaf.


“Ah Bunda kaya gak tahu anak muda aja. Jam segini mah masih sore kalau buat anak muda,” jawab Rangga sambil bergurau.


Sungguh, dia tak merasa direpotkan sama sekali. Mereka sudah menganggap Bunda Ara seperti Bunda mereka sendiri.


“Jangan suka main malam-malam. Bahaya,” ujar Bunda Ara.


“Iya Bun. Paling kalau main, kita di warung depan rumah Abi, gak main jauh,” jawab Rangga yang diangguki oleh Bunda Ara.


“Bunda kok pergi sendiri. Abangnya Ara ke mana?” tanya Rangga. Dia yakin jika Abangnya Ara tak akan membiarkan Bunda pergi sendiri malam-malam begini.


“Kayanya dia lembur deh, soalnya gak ada kabar. Tapi biasanya kalau lewat jam tujuh malam belum pulang, dia pasti lembur,” jelasnya.


“Pantesan Bunda pergi sendiri.”

__ADS_1


Mereka tiba di halaman rumah Ara dengan selamat. Mereka keluar dari dalam mobil untuk berpamitan pada Bunda.


“Bunda, kita pamit ya.” Kali ini Shaka yang berbicara sambil menyalami tangan Bunda Ara.


“Iya. Hati-hati di jalan ya. Terima kasih buat hari ini.” Bunda Ara menjawab dengan senyuman dan dia merasa sangat terbantu oleh dua pemuda itu.


“Iya Bun sama-sama. Kalau Bunda perlu bantuan, telpon kita aja. Kita ada buat Bunda dua puluh empat jam,” guraunya.


Mereka terkekeh sejenak sebelum keduanya kembali masuk ke dalam mobil Rangga dan berlalu dari sana.


Sementara Bunda, masuk ke dalam rumah masih dengan segala pikiran yang bersarang di otaknya.


“Ya ampun, Bunda ke mana aja?” Raisa datang begitu pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok mertuanya.


Bunda menampilkan senyum terbaiknya tak ingin terlihat sedang ada masalah. “Maaf ya gak kasih tau kamu dulu, Bunda tadi abis dari rumah sakit, temannya Ara kecelakaan,” jawabnya.


Sempat ada niat untuk menelpon Raisa setelah dia tiba di rumah sakit tadi, namun niatnya itu terlupakan saat dia bertemu dengan Maminya Rachel.


“Rachel.” Benar saja apa yang dia duga. Dia sangat mengenal Rachel karena gadis itu kerap datang ke rumah Ara walau belakangan ini Raisa memang jarang melihatnya.


“Rachel yang suka nginep di sini kan?” tanya Raisa memastikan jika dugaannya benar.


Bundanya mengangguk. “Gimana bisa, Bun?” tanya Raisa semakin penasaran. Karena tak nyaman berbicara dengan posisi berdiri, akhirnya Raisa menarik tangan Bundanya untuk duduk di sofa.


“Tadi ada Stefani sama teman Ara yang lainnya nganter Ara pulang dalam kondisi tidur. Bunda panik dan nanya sama mereka apa yang sebenarnya terjadi.” Bunda Ara menjeda ceritanya.


“Mereka bilang, Ara hampir saja terlibat kecelakaan maut kalau bukan Rachel yang menolongnya. Gadis itu menolong Ara, jadi sekarang dia dalam keadaan koma.” 


Bunda Ara mengakhiri sesi ceritanya dan hal itu berhasil membuat Raisa terkejut. Tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang spontan terbuka dengan mata yang terbuka lebar.


“Terus sekarang Ara di mana?” 


“Dia tidur di kamarnya. Maminya Rachel tadi nyalahin Ara dan bilang kalau gara-gara Ara, Rachel hampir gila.”

__ADS_1


“Memang apa yang dilakuin Ara sama Rachel?” Raisa juga tak tahu tentang ini, biasanya adiknya itu akan bercerita padanya, tapi memang sudah beberapa minggu ini dia tak mengatakan apapun pada Raisa.


“Bunda juga gak yakin apa yang dilakuin Ara sama Rachel. Tapi Bunda rasa, Ara gak mungkin sejahat itu apalagi sama temannya sendiri,” ujar Bunda.


Bukannya melakukan pembelaan, tapi Ara adalah darah dagingnya, dia tak mungkin melakukan perbuatan yang diluar batas kecuali memang ada sebab yang membuatnya begitu sakit.


“Ya udah. Besok kita tanya dulu sama Ara. Sekarang Bunda istirahat, jangan terlalu dipikirkan.” Raisa mengelus punggung mertuanya dengan lembut.


“Iya. Suami kamu belum pulang?” tanya Bunda.


“Belum Bun. Lembur katanya.” Bunda mengangguk sebelum kemudian merek berpisah. Bunda pergi ke kamarnya begitu juga dengan Raisa.


Tanpa mereka sadari jika sedari tadi ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Ara, gadis itu berdiri dengan kaki yang bergetar.


Jika saja dia tak berpegangan pada pegangan tangga, mungkin tubuhnya sudah terjatuh karena kakinya tak mampu menahan beban tubuhnya.


“Emang apa yang gue lakuin?” tanyanya. Dia merasa benar. Dia bersikap seperti itu pada Rachel karena gadis itu terlebih dulu yang memulainya.


Jika saja Rachel tak meninggalkan mereka di organisasi, jika saja Rachel tak melarang Ara untuk memiliki hubungan khusus dengan Abi dan jika saja Rachel tak menjelekan Abi di hadapannya, mungkin Ara tak akan bersikap seperti itu pada gadis itu.


Dengan pelan dan bertumpu pada apapun yang bisa dia pegang, Ara kembali masu ke dalam kamarnya. Dia ingin Stefani mendengar keluh kesahnya.


Ponsel adalah benda pertama yang ada dalam pikirannya.


“Apa gue sejahat itu?” tanyanya lagi. Tangannya mulai aktif mecari kontak Fani sebelum kemudian dia menyadari jika ini sudah tengah malam.


Ara tahu jika jam segini Fani belum tidur, tapi rasanya sangat tak sopan mengganggu istirahat orang lain hanya demi egonya.


“Ya udah. Besok aja,” ujarnya.


Orang kedua yang ada dalam pikirannya adalah Abi. Sejak pergi tadi, Abi sama sekali tak kembali dan sama sekali tak menghubunginya.


“Apa lagi hal yang bisa gue pakai buat percaya sama lo?” lirihnya. Dia ingin menyerah, tapi dia tak menemukan pengkhianatan Abi sama sekali. Sekali lagi, dia ingin mencoba.

__ADS_1


__ADS_2