
Selama tiga hari mereka mengeksekusi kegiatan mereka yang sudah direncanakan dan kini kegiatan itu sudah selesai.
Walaupun masih banyak kendala kecil dalam pelaksanaannya, tapi hal itu bisa diatasi oleh mereka dengan bekerja sama.
“Jangan lupa susun laporan pertanggung jawaban, minggu depan kita laporin,” ucap Abi pada sang sekretaris.
“Okey.”
Mereka telah selesai melakukan evaluasi dan kegiatan mereka hari ini adalah bermain untuk me-refresh otak dan tubuh mereka yang terasa lelah.
“Ada rekomendasi tempat gak?” tanya Abi saat dia kebingungan untuk mencari tempat main. Pasalnya, ketika pembubaran panitia seperti ini, tujuan utama mereka pasti adalah pantai dan itu sangat membosankan.
“Jangan pantai mulu ah bosen,” ujar seseorang.
“Gimana kalau kita camp aja?” usul yang lainnya. Mereka semua saling berpandangan untuk meminta pendapat apakah setuju atau tidak.
“Boleh tuh, kayanya juga seru. Daripada pantai mulu,” jawab yang lain.
“Oke, kalau gitu kita agendain lusa ya, biar kita ada persiapan dulu.” Akhirnya Abi menyetujuinya saat dirasa banyak yang setuju dengan usul itu.
“Buat sekarang kalian boleh pulang dan istirahat. Lusa, kita ketemu di sini jam dua sore ya,” lanjut Abi.
“Oke siap.”
Mereka akhirnya membubarkan diri dari sana. “Ra, tunggu bentar ya. Aku mau ketemu sama wakil rector dulu, ada yang mau aku omongin,” pamit Abi pada Ara.
“Iya. Aku tunggu di kafetaria aja ya.” Abi mengangguk.
“Fan, lo pulang sama siapa?” Abi tiba-tiba bertanya pada Stefani.
“Belum tau. Mungkin nanti minta jemput sama Kakak gue,” jawab Stefani.
“Sama Shaka aja. Sekarang kalian berdua tunggu di Kafetaria, nanti gue sama Shaka nyusul ke sana,” ujar Abi.
Shaka yang mendengar Abi menyebut namanya tentu saja kebingungan. “Kenapa gue?” tanya Shaka di depan mereka sementara teman-teman mereka yang lain sudah pulang lebih dulu.
“Udah jangan banyak ngomong. Ayo temenin gue dulu.” Abi menarik tangan Shaka walau pria itu masih berkutat dengan kebingungannya.
“Kayanya dia gak mau antar gue deh,” cicit Stefani yang mendengar ucapan Shaka tadi.
“Gak gitu. Mungkin dia cuma kaget aja karena tiba-tiba.” Ara berusaha menenangkan temannya itu.
__ADS_1
“Udah jangan dipikirin. Yuk ke kafetaria, gue lapar.” Karena melihat Stefani tak bersemangat, Ara memilih untuk menarik tangan temannya itu menuju ke kafetaria.
Sesampainya di sana, terasa sangat ramai. Mungkin karena ini hari senin dan ada tingkat di bawah mereka yang kuliah.
“Ramai banget. Males ah gue,” ucap Stefani saat melihat pemandangan itu.
“Gak bisa, kita harus tetap masuk. Gue lapar.” Dengan paksaan akhirnya Ara berhasil membawa Stefani masuk ke sana.
“Lo duduk aja di sini, biar gue yang pesan makanan. Lo mau apa?” tanya Ara setelah dia mendudukan Stefani di salah satu bangku yang masih kosong.
“Mau batagor sama jus jeruk,” ucap Stefani. Dia tak akan ragu-ragu menyuruh Ara karena gadis itu juga yang memaksanya datang ke sini.
“Oke, tunggu di sini nanti gue balik.”
Ara terpaksa menyelami lautan manusia yang membuatnya sesak itu demi sebuah batagor dan jus jeruk yang diinginkan Stefani.
Sementara dia akan memesan nasi goreng mengingat dia belum makan dari tadi.
Setelah cukup lama dia berjuang, bahkan hingga keringat di keningnya menetes, akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Nih! Haduh cape banget,” keluh Ara sambil mendudukkan dirinya berhadap-hadapan dengan Stefani.
Sementara itu Stefani hanya terkekeh melihat perjuangan temannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Iya diam lo, berisik. Makan aja sana.” Stefani tak lagi berkata, dia memilih untuk fokus pada makanan yang ada di depannya.
“Makanan lo mana?” tanya Stefani saat sadar Ara tak membawa apapun.
“Gue lagi pesan nasi goreng. Tapi kata ibunya nanti dia yang antar ke sini,” jawab Ara yang diangguki oleh Stefani.
Melihat jus jeruk Stefani yang sepertinya sangat enak, Ara tak bisa menahannya, dia mengambil gelas itu dan meneguk habis isinya.
“Ahh seger banget,” ucapnya setelahnya.
“Kok dihabisin sih?! Terus gue minum gimana?” protes Stefani melihat minumannya habis.
“Ya udah sih, nanti kalau ada si ibu yang antar makanan gue tinggal minta lagi aja,” jawab Ara simple.
“Iya tapi kapan nyampenya? Ini sekarang aja gue seret!”
Ara memilih diam dan tak memperdulikan ocehan temannya itu, hingga seorang ibu-ibu datang dengan nasi goreng dan jus jeruk di atas nampan.
__ADS_1
“Ini neng makanannya,” ucap Ibu itu sambi menghidangkan makanan di atas meja mereka.
“Makasih Bu. Boleh nambah jus jeruknya satu lagi?” tanya Ara yang diangguki oleh ibu kantin.
Ara mulai memakan makanannya dan Stefani juga memilih untuk melanjutkan makanannya.
“Nih minum. Gue nanti aja.” Ara menyodorkan minumannya pada Stefani karena kasihan melihat gadis itu yang sepertinya sudah kehausan.
Tanpa ragu, Stefani langsung menyambar minuman itu dan meneguknya. Dia hanya menghabiskannya setengah takut Ara juga kehausan.
“Lo emang sahabat terbaik gue,” ucap Ara melihat Stefani tak menghabiskan minumannya.
“Ya iya lah. Emangnya lo!” ketus Stefani.
Ara menyengir menampilkan deretan giginya. Tak lama, minuman yang Ara pesan tadi juga datang dan dia langsung memberikannya pada Stefani.
“Kok mereka lama banget ya? Udah pengen tidur nih gue,” keluh Stefani sambil menyimpan kepalanya di atas meja.
“Sabar, baru juga beberapa menit,” jawab Ara sambil melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Haahhh, tau gini gue tadi minta dijemput aja sama Kakak gue.” Lagi-lagi Stefani mengeluh.
“Aduhh lo tuh jadi orang kenapa ngeluh terus sih? Bentar lagi juga mereka datang,” ucap Ara.
Sebenarnya dia juga tak tahu kapan Abi dan Shaka datang. Dia mengatakan itu hanya untuk menghibur temannya saja.
Namun, sepertinya saat ini Tuhan sedang memihak Ara karena tak lama kemudian, Abi dan Shaka benar-benar datang.
“Maaf, lama ya,” ucap Abi pada Ara sambil mengelus surai gadis itu.
“Engg – “
“Iya, lo lama!!” Belum juga Ara merampungkan ucapannya, tiba-tiba sudah disela olah Stefani.
Gadis itu berdiri sambil mengambil tasnya. “Udah ah, ayo balik!!” ujarnya.
“Bentar kenapa sih? Gue juga baru nyampe. Kasih gue waktu buat minum dulu.” Karena tak ingin membuang waktu lagi, akhirnya Shaka meminum minuman yang ada di sana tak peduli siapa pemiliknya.
“Kok minum punya gue sih!!” protes Stefani.
“Nanti gue ganti sepuluh gelas,” jawab Shaka karena gadis itu sangat perhitungan.
__ADS_1
Saat Shaka menjawab seperti itu, Stefani hanya cemberut dan terdiam setelahnya karena kesal.
“Ya udah, yuk pulang,” ajak Abi setelah Shaka selesai dengan minumannya.