
Abi masih berkutat dengan semua alat masak di dapur, tepatnya di rumah Alda. Sejak pingsan tadi, gadis itu tak kunjung bangun.
Abi sedang membuat makanan untuk Alda dan meminta gadis itu untuk meminum obat setelahnya.
"Ini benar gak?" Abi melihat dua buah toples yang terlihat sama. Bukan hanya toplesnya yang sama, tapi juga isi dari toples itu tak jauh berbeda.
Butiran kecil berwarna putih, di dalam video dia diharuskan menambahkan sedikit garam, tapi sekarang bahkan dia tidak bisa membedakan yang mana garam dan yang mana gula.
"Oke gak ada cara lain." Abi membuka kedua toples kecil itu dan akhirnya mencicipinya satu persatu.
"Cerdas," ucapnya setelah dia mendapatkan yang mana garam.
Menurut video dia harus sedikit lebih lama memasaknya. Abi mengikuti arahan tersebut sebelum kemudian dia pikir bubur yang dia buat telah matang.
"Selesai," ucapnya dengan bangga. Untuk pertama kalinya dia memasak dan itu untuk orang lain.
Abi berjalan sambil membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan juga air mineral.
Kamar Alda yang ada di lantai atas membuatnya cukup kesulitan karena harus menyeimbangkan makanannya agar tak tumpah.
Ketika Abi tiba di sana, yang dia lihat adalah Alda yang sudah duduk di ranjangnya dengan pandangan keluar jendela.
"Udah bangun?" tanya Abi pada gadis itu.
Alda menoleh pada Abi. "Hmm, kamu masih di sini? Kirain udah pulang," ucap Alda. Sangat terlihat wajah pucatnya.
"Mana mungkin aku ninggalin orang pingsan," jawab Abi sambil mendudukan dirinya di samping Alda.
"Makan dulu ya, nanti baru minum obat," ujar Abi sambil menyodorkan nampan yang semula dia pegang.
Alda mengambil alih itu dan mulai memakan bubur yang dibuat oleh Abi. Bisa dikatakan rasanya enak untuk orang yang tak bisa memasak seperti Abi.
"Sejak kapan kamu bisa masak?" tanya Alda di sela makannya.
"Sampai sekarang pun aku gak bisa masak. Ini hasil lihat video tutorial," jawab Abi yang membuat Alda tersenyum. Ternyata Abi-nya belum berubah masih sama seperti yang dulu.
"Kamu nemenin aku di sini, kan? Papah kayanya pulang malam," ucap Alda.
__ADS_1
Abi terlihat membisu. Niat awalnya setelah Alda siuman dia akan pulang, lebih tepatnya menemui Ara yang rasanya sudah lama tidak dia temui.
Tapi jika seperti ini keadaannya, dia tidak bisa berjanji.
"Kita lihat nanti aja ya," jawab Abi pada akhirnya.
"Kenapa? Kamu ada janji lain?" tanya Alda terlihat sedih.
"Iya iya aku di sini sampai Ayah kamu datang." Abi tak bisa menolak, bukan karena itu Alda. Tapi karena gadis itu sedang sakit dan di sana tidak ada siapapun.
Alda tersenyum lebar saat mendengar Abi akan menemaninya. Ternyata membuat Abi tetap bersamanya sangat mudah, hanya perlu sakit.
****
Cukup lama Ara dan Stefani ada di rumah sakit. Terhitung satu jam setengah. Itu pun karena Maminya Rachel datang. Kalau tidak, mungkin bisa lebih lama dari itu.
"Anaknya juga baik-baik aja sama kita kenapa dia heboh sendiri?" ucap Stefani sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Wajar sih, gue pernah nyakitin anak dia sedalam itu jadi wajar kalau dia gak mau anaknya ketemu lagi sama gue," jawab Ara merasa bersalah.
"Yang wajar itu pertengkaran kita. Wajar kalau anak seusia kita ada kesalahpahaman dan ribut. Yang gak wajar itu dia, udah tua tapi gak ada sifat pemaafnya sedikitpun."
"Udah-udah gak baik ngomongin orang, apalagi orang tua," ucap Ara.
Stefani akhirnya berhenti berbicara walau dirinya masih sangat kesal. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati. Masih baik itu Ibu dari temannya, jika bukan, mungkin Stefani sudah melawannya habis-habisan.
Karena keasyikan berbicara, tak terasa sekarang mereka telah tiba di rumah Ara. Stefani mengantarkannya dengan selamat.
"Makasih ya. Besok gak usah jemput, katanya Abi mau jemput gue," ucap Ara.
"Okey, kalau ada apa-apa telpon gue aja." Ara mengangguk. Jika ada apa-apa pasti dia menelepon Stefani karena dia tak akan berpikir tentang siapapun lagi jika sedang ada dalam masalah.
Ara turun dari mobil Stefani dan menunggu Stefani untuk pergi dari sana. Hanya menghormati seseorang yang sudah mengantarkannya.
Setelah Stefani benar-benar tak terlihat, barulah Ara berbalik dan masuk ke rumahnya.
Dia mengeluarkan ponselnya untuk melihat apakah Abi ada menghubunginya atau tidak.
__ADS_1
"Lihat apa sih Ra? Lagi jalan juga tetap aja yang dilihat hp," tanya Abangnya yang sepertinya baru selesai mengurus kebun mini di sebelah rumahnya.
Ara hanya menyengir tak bisa menjawab apa yang ditanyakan Abangnya. Kemudian gadis itu kembali memasukan ponsel pada tasnya. Bahkan dia sama sekali belum melihat pesan yang dikirim oleh Abi.
"Abis dari mana Bang?" tanya Ara untuk mengalihkan perhatian Abangnya.
"Kamu gak lihat tanyan Abang kotor kaya gini? Menurut kamu habis dari mana?"
Ara kembali tersenyum mendengar jawaban Abangnya.
"Biasa aja kali Bang. Kan Ara cuma nanya kok ngegas banget sih," timpal Ara tak terima.
"Ya lagian kamu ada-ada aja. Terus kamu ini habis dari mana? Abang tau ya kelas kamu gak mestinya sampai sore kaya gini," tanya Abangnya.
"Ara gak aneh-aneh kok. Habis jenguk Rachel doang," jawabnya.
"Jenguk Rachel? Emang dibolehin sama Maminya? Bukannya dia larang kamu ketemu dia?" tanya Abangnya. Dia mengetahui cerita itu dari sang Bunda.
"Kan kita pakai strategi Bang. Ara chat dulu sama Rachel apa Maminya ada di sana atau enggak," jawabnya.
"Jadi Rachel udah sadar?" Untuk yang satu ini Abangnya memang belum mengetahuinya.
"Hmm dia udah bangun beberapa hari yang lalu," jawab Ara.
"Syukurlah kalau dia udah siuman."
"Tapi tadi kita emang di usir sih sama Maminya, soalnya pas Maminya datang, kita belum pergi." Ara menceritakan kejadian tadi pada Abangnya.
"Nah kan Abang bilang apa. Ya udah sekarang kamu mandi, Bunda udah nunggu dari tadi tuh."
Ara mengangguk dan segera masuk. "Bunda, Ara pulang!!" ucapnya saat dia memasuki rumah.
"Iya Ra. Mandi dulu ya, nanti turun buat makan bareng. Abang juga mandi jangan kotor-kotoran terus!" Bunda berteriak dari dapur.
Mereka mengangguk walau mereka yakin jika Bundanya tak bisa melihat anggukan mereka.
Ara kembali membuka ponselnya sebelum dia pergi mandi. Pesan dari Abi yang mengatakan jika sekarang pria itu ada di rumah Alda.
__ADS_1
"Lagi apa dia di sana?" Karena penasaran akhirnya Ara membalas pesan itu dan menanyakan apa yang sedang Abi lakukan di sana.