Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Ingkar Janji


__ADS_3

Pagi ini hujan gerimis mengguyur kota di mana Ara tinggal. Gadis dengan mata bulat itu masih betah bergumul dengan selimutnya.


Kelas siang membuatnya berpikir untuk kembali terlelap daripada harus bangun sekarang dan akhirnya dia akan bosan menunggu siang hari datang.


Sebelum dia kembali ke alam mimpinya, Ara menyempatkan diri untuk membuka ponselnya. Sejak kemarin sore, dia menunggu balasan dari sang kekasih, namun hingga pagi ini dia membuka ponsel sama sekali tak ada balasan yang dia harapkan.


"Sibuk apa sih dia sampai nggak bisa balas pesan?" ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Dengan kesal dia membanting kembali ponselnya ke ranjang dan mulai memejamkan matanya untuk melanjutkan niatnya tidur.


Terhitung sepuluh menit dia berusaha memejamkan matanya, namun nihil. Usahanya tak membuahkan hasil.


Dengan kesal Ara bangkit dari tidurnya. Gadis itu ngacak-acak rambutnya frustasi. "Dia benar-benar gak bisa hilang dari pikiran gue barang sedikit pun," ucapnya.


Tidak ingin memikirkan hal itu terlalu dalam, Ara akhirnya memutuskan untuk membasuh mukanya, menggosok giginya, kemudian dia turun ke bawah untuk mengambil air minum.


"Tumben udah bangun?" tanya abangnya yang kebetulan juga tengah membawa air minum.


"Aduh Bang berisik deh, aku bangun siang dimarahin. Giliran bangun pagi juga dibilang tumben. Jadi Ara harus gimana?" ucapnya.


"Dih orang Abang cuma ngomong doang kenapa sensitif banget sih?" tanya abangnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Ara, Abangnya segera berlalu meninggalkan gadis yang sepertinya sedang sensitif itu sendiri. Sementara Ara kemudian mengambil air minum dan meneguknya hingga tandas.


"Awas saja nanti kalau ketemu bakal aku habisin dia dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekarang bersarang di otak aku," ucapnya setelah dia menghabiskan minum.


"Kenapa ngomong sendiri, Ra?" Tanpa Ara sadari Bundanya datang entah dari mana.


"Oh Bunda, nggak Bun cuma lagi latihan dialog aja biar kalau presentasi gak gagap," dustanya.


"Kamu kelas siang lagi sekarang?" tanya Bunda. Ara mengangguk membalas jawaban sang Bunda.


"Iya Bun, kenapa?" 


"Nggak, cuma Bunda mau tanya aja. Belakangan ini kamu kayaknya sibuk banget kemarin juga pulang sore tanya bundanya." 


Kemarin ketika Bundanya meminta Ara untuk turun makan bersama, gadis itu tidak melaksanakannya dengan alasan dia sudah kenyang karena sudah makan dengan Stefani, padahal pada kenyataannya sejak kemarin dia menunggu balasan pesan yang dia kirim untuk Abi.

__ADS_1


"Oh iya Bun. Maaf tadinya Ara mau bilang kemarin, cuma Ara ketiduran jadi nggak sempat bilang. Kemarin tuh Ara habis jenguk Rachel, jadi pulang telat. Syukur dia juga udah sadar dan maafin Ara." Ara malah menceritakan semua yang terjadi pada bundanya.


"Jadi dia udah bangun?" tanya bundanya.


"Iya Bun udah. Beberapa hari lalu dia bangun dan Ara mungkin udah dua kali jenguk dia," jawab Ara.


"Syukurlah kalau dia udah bangun, Bunda belum bisa jenguk, mungkin nanti atau besok Bunda baru bisa ke sana," ucapnya.


"Nggak apa-apa Bun Ara juga udah sampein sama Rachel kalau ada salam dari bunda." Bundanya mengangguk. "Syukur juga kalau kamu udah bilang sama dia."


Selesai dengan pembicaraan tentang Rachel, Ara kembali ke kamarnya. "Nggak langsung sarapan aja Ra?" tanya bundanya.


"Nggak Bun nanti aja, Ara masih mau tidur lagi, masih ngantuk," jawabnya.


Bunda Ara mengangguk dan membiarkan putrinya kembali ke kamar. Setibanya di kamar, tatapannya kembali pada ponselnya.


Dia sudah tidak mau berharap dengan balasan dari Abi. Gadis itu kembali merebahkan badannya di atas ranjang, menarik selimut dan memejamkan matanya.


Namun belum sampai satu menit dia mencoba terpejam, ada sebuah notifikasi masuk di ponselnya.


"Stefani udah gue bilang kalau sekarang gue gak berangkat sama lo," ucapnya.


Ketika dia melihat isi pesan itu, betapa terkejutnya karena yang mengirim pesan bukan Stefani melainkan orang yang selama ini dia tunggu kabarnya.


"Astaga ngagetin aja," ucapnya sambil tetap membuka isi pesan itu. Di sana dengan jelas tertulis Abi mengatakan jika dirinya ada di rumah Alda untuk menolong dadis itu yang tiba-tiba pingsan.


"Kenapa dia bisa pingsan?" tanyanya. Namun dia tidak ingin membalas kembali pesan Abi karena dia yakin Abi akan lama membalasnya.


Lebih baik dia akan menanyakan nanti secara langsung pada kekasihnya. "Kalau gini kan lega, mau tidur lagi ah," ucapnya.


Dia kembali menyimpan ponselnya dan mulai masuk ke alam mimpi. Tidur di jam-jam segini memang sangat nikmat. Rasa nikmat itu lebih nikmat dari ketika tidur di malam hari.


Ara tertidur kurang lebih selama empat jam dimulai dari pukul setengah tujuh. Gadis itu kembali terbangun dengan sorot silau yang berasal dari jendela kamarnya.


Hari sudah siang, itulah kenapa menjadi sangat silau.


"Engghh," lenguhnya. Gadis itu menggeliat sangat nyaman sebelum akhirnya matanya terbuka.

__ADS_1


"Ahh udah udah siang ya," ucapnya.


Berdiam melamun beberapa saat untuk mengumpulkan nyawanya yang masih belum utuh.


Setelah yakin jika dia sudah bangun, akhirnya Ara bangkit dari ranjang. Dia masuk ke kamar mandi dengan handuk pink miliknya.


Hanya perlu setengah jam dana Ara sudah selesai dengan ritual mandinya.


"Jam berapa Abi jemput?" tanyanya sambil mengambil ponselnya.


Ketika dia baru saja akan mengirimkan pesan pada pria itu, pria itu telah lebih dulu mengirimkan pesan padanya.


Dia sana tertulis jika hari ini Abi tak bisa menjemput Ara karena harus menjemput Alda. Dia juga mengatakan jika Alda sakit jadi orang tuanya menitipkan dia pada Abi.


"Kalau tau gini, gue gak akan batalin sama Fani," ucapnya.


Karena sudah terlanjur, sepertinya untuk hari ini dia terpaksa akan menggunakan taksi atau bus.


Selain parfum sentuhan terakhir yang Ara gunakan adalah lip gloss. dia menggunakan lip gloss yang akan mengikuti warna bibirnya.


Setelah itu dia turun untuk berpamitan pada Bunda dan Mbaknya sementara Abangnya pasti jam segini sudah berangkat kerja.


"Bunda Ara berangkat dulu ya." Bundanya datang dari dapur. "Gak sarapan dulu Ra?" 


"Berangkat sama siapa?" sambungnya.


"Ara kayanya berangkat sendiri deh Bun. Naik taksi atau bus. Stefani udah duluan, mungkin Ara makan di kampus aja Bun."


"Oh ya udah kalau gitu hati-hati di jalan ya," titip Bundanya.


Ara menyalami tangan bundanya. "Mbak di mana?"


"Dia kayaknya lagi mandi. Berangkat aja nanti biar Bunda sampein sama dia."


Ara mengangguk kemudian dia benar-benar pergi dari rumahnya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menunggu taksi di depan rumahnya.


Beruntung dia tak harus menunggu begitu lama. Seepanjang perjalanan yang dia pikirkan adalah masalah tentang hidupnya yang disakiti oleh satu pria berulang kali.

__ADS_1


"Kayaknya emang gue harus lepasin dia deh," ucapnya. Mulutnya memang berkata demikian namun hatinya merasa belum siap kehilangan Abi.


__ADS_2