Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Desas-desus


__ADS_3

Abi mengacak rambutnya frustasi. Pada akhirnya ketakutan Ara terjadi. Abi dipasangkan dengan Alda dalam acara kali ini.


“Jangan marah, jangan marah,” desisnya. Dia sedang menunggu Ara keluar dari toilet dan ini sudah cukup lama baginya.


Abi mondar-mandir sudah seperti setrika, dia sangat gelisah sekarang.


Ara keluar dari toilet dan terkejut melihat keberadaan Abi di sana. “Lagi apa kamu?” tanya Ara dengan tenang. Gadis itu terlihat baik-baik saja.


“Nunggu kamu. Kenapa lama banget sih? Kamu marah sama aku?” Abi menghujam Ara dengan beberapa pertanyaan.


Ara terkekeh. Tak ada yang mesti membuatnya marah. “Marah kenapa? Emang kamu lakuin kesalahan?” tanya Ara.


Abi akhirnya bisa menghela nafas dengan lega. Pria itu memegang tangan Ara tiba-tiba yang berhasil membuat gadis itu terkejut.


“Jangan marah ya, aku juga gak tau kalau hasilnya bakal begini,” lirihnya.


“Gak apa-apa. Lagian udah perjanjian juga gak bisa mundur.” Ucapan Ara itu bukan berarti dirinya merasa baik-baik saja dengan semua ini. Tapi memang tak ada pilihan.


Selain itu dia juga sudah mulai pasrah dengan keadaan. Dia menyayangi Abi bukan berati dia harus memiliki pria itu, kan? Hanya dengan melihatnya bahagia saja sudah cukup bagi Ara.


Jika kelak kebahagiaan Abi bukan bersamanya, Ara berusaha untuk menerima itu bahkan jika Abi akan kembali dengan masa lalunya.


Abi menghela nafas lega setelah dia mendapat jawaban Ara. Dia tidak akan melakukan hal yang macam-macam selama pekerjaannya.


“Mau ke kantin? Aku lapar,” tawar Abi yang mendapatkan anggukan dari Ara.


Baru saja mereka berjalan dua langkah, ada seseorang yang memanggil Abi. “Bi.” Panggilan itu membuat Abi dan Ara menghentikan langkahnya dan berbalik.


Abi mematung, kenapa harus di saat seperti ini Alda datang?


“Ada yang mau aku omongin sama kamu, bisa?” tanya Alda. Abi bergeming karena dia khawatir tentang Ara.


“Bukan tentang hal lain kok, aku mau bicara soal acara fashion show itu.” Alda mencoba untuk memperjelas tujuannya.


Bukannya menjawab, Abi malah menoleh pada Ara seakan pria itu sedang meminta persetujuan pada Ara.


Ara yang peka dengan hal tersebut akhirnya mengangguk diiringi dengan senyumannya. “Aku ke kantin sama Fani aja,” ucap Ara.

__ADS_1


“Maaf,” lirih Abi. Padahal tadi dirinya yang mengajak ke kantin, tapi malah dirinya yang tak bisa ikut.


“Gak apa-apa, aku pergi dulu.” Ara pergi dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya sebelum kemudian seyum itu hilang saat dia telah berbalik.


Abi melihat ke arah Alda. “Mau ngomong apa?” tanyanya.


“Harus banget kita ngomong di depan toilet?” tanya Alda. Bahkan Abi tak ingat jika mereka masih di depan toilet.


“Ya udah kita ngomong di sana.” Abi menunjuk sebuah bangku yang ada di depan kelas.


Mereka berjalan beriringan menuju sana. “Kenapa?” Abi kembali bertanya. Alda sedikit merasa sedih karena sepertinya Abi sedikit menjaga jarak dengannya.


“Aku baru di sini. Di kampus aku sebelumnya gak ada acara kaya gini. Nanti kita harus gimana aja?” tanya Alda.


“Gak banyak. Kaya fashion show pada umumnya aja. Kostum juga udah disiapin sama fakultas. Jadi jangan terlalu di pikirkan,” jawab Abi.


“Udah kan gak ada lagi yang perlu diomongin?” tanya Abi. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia ingin segera ke kantin untuk menemui Ara.


“Kalau nanya soal yang lain boleh?” cicit Alda.


“Apa?”


“Hmm, kenapa?”


“Enggak. Dia cantik. Cocok sama kamu,” ucapnya dengan terpaksa.


“Kalau gak ada lagi, aku pergi sekarang ya,” pamitnya. Ketika Abi baru saja mendapatkan tiga langkah, dia mendengar suara orang terjatuh. Otomatis Abi kembali membalikan badannya untuk melihat siapa orang itu.


“Al!!” teriaknya saat dia melihat Alda sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Tak lagi berpikir panjang, Abi segera membopong Alda dan membawanya menuju ruang kesehatan. Aksi Abi itu tentu saja tak luput dari pandangan orang-orang yang tak sengaja melihat mereka.


**** 


“Lo tau gak? Kayanya Abi sama Alda bakal jadi couple beneran deh. Tadi gue lihat Alda pingsan dan digendong sama Abi. Sweet banget kan?” ucap salah satu orang yang tadi melihat hal itu.


Tiba-tiba kantin menjadi riuh ketika mendengar penuturan itu. “Ra, lo gak apa-apa?” tanya Stefani sambil menggenggam tangan gadis itu.

__ADS_1


Ara tersenyum menatap Sstefani. “Gue gak apa-apa,” jawabnya. Meski dia ingin marah, tapi dia tak bisa. Dia sudah mengatakan jika dia sudah sepasrah itu dengan apa yang akan terjadi padanya.


“Gue yakin Abi cuma nolongin dia doang.” Stefani berusaha menghibur Ara semampunya.


“Ka, lo  tengok Abi ke ruang kesehatan sana.” Stefani meminta kekasihnya untuk melihat Abi. 


Shaka mengangguk dan segera pergi dari sana. Beruntung dia sudah menyelesaikan makannya. 


“Mau ke sana juga?” tanya Stefani.


“Enggak. Gue di sini aja,” jawabnya. Ara semakin diam belakangan ini dan tak banyak bercerita padanya.


“Ra, gue mohon kalau ada apa-apa yang ganjel hati lo, lo bisa cerita sama gue. Gue gak mau lo sakit gara-gara pendam ini sendirian.”


“Gue gak apa-apa Fan. Kalau emang gue udah gak sanggup, gue pasti cerita sama lo. Lo tahu sendiri kan kalau gue gak punya orang lain buat cerita selain lo?” kekehnya.


Ada sedikit perasaan lega di hati Stefani saat dia melihat Ara tertawa walau terkesan memaksa.


Untuk mengalihkan perhatian Ara, Stefani mencoba mencari topik pembiaraan lain. “Rachel udah bangun, kan? Gue belum lihat dia, mau temenin gue gak?” tanya Stefani.


“Boleh, kapan? Tapi kita harus cari waktu pas nyokapnya gak ada di sana,” ucap Ara.


“Tenang, gue bakal kirim pesan dulu sama Rachel dan kalau nyokapnya lagi pergi baru kita ke sana,” jawabnya.


“Emang lo ada kontak dia?” tanya Ara.


“Ah iya, nomor dia ganti kan ya?” Stefani mengusap tengkuknya merasa kikuk.


“Tenang, biar gue yang kirim dia pesan. Kemarin waktu ke sana dia sempat kasih nomor baru dia.” Senyum Stefani kembali mengembang mendengar hal itu.


“Gue chat sekarang aja kali ya?”Ara mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetikan pesan pada Rachel.


“Gimana dia bales gak?” Respon Rachel cukup cepat, mungkin karena dia tak meelakukan banyak hal lagi selain berbaring karena sedang dalam masa pemulihan.


“Katanya nyokapnya pergi sorean. Jadi kita bisa ke sana,” ucap Ara membacakan pesan dari Rachel.


“Oke, enaknya kita bawa apa ya?” Stefani sedikit berpikir.

__ADS_1


“Parsel buah?” saran Ara. Karen kemarin dia ke rumah sakit tidak niat, jadi dia akan membelikannya sekarang.


“Setuju. Nanti kita beli dulu sebelum ke sana.”


__ADS_2