
Berkeliling mall untuk berbelanja membuat perut mereka terasa keroncongan dan juga tenaga mereka yang terkuras habis.
“Mau makan apa nih?” tanya Stefani. Kedua tangannya saat ini sangat penuh dengan belanjaan. Mulai dari baju, sepatu dan makanan ringan.
“Mau ramen.” Ara menjawab. Sudah dari dua hari lalu dia menginginkan makanan itu. Tapi sayang, sepertinya hal itu baru akan terwujud sekarang karena saat itu tenggorokannya sangat sakit.
“Oke, ayo kita beli ramen.” Akhirnya mereka memutuskan untuk makan ramen dan makanan jepang lainnya. Memang niat awalnya mereka hanya akan beli ramen, tapi perutnya tak bisa diajak kompromi dan berakhirlah mereka membeli beberapa varian makanan yang ada di sana.
“Ra, ada yang mau gue omongin.” Setelah semua makanan masuk ke dalam perut mereka, akhirnya Stefani membuka suara.
“Hmm, kenapa?” tanya Ara menanggapi dengan tenang karena temannya itu pasti akan membual lagi dan menceritakan hal-hal receh seperti biasanya.
“Rachel datang ke rumah gue malam-malam.” Ara yang sedang meneguk minumannya tersedak karena ucapan yang dilontarkan Stefani beberapa saat lalu.
“Apa? Jadi dia juga datang ke rumah lo?” tanya Ara yang membuat Stefani kebingungan.
“Tunggu dulu, jangan bilang kalau dia juga datang ke rumah lo,” tebak Stefani yang kemudian diangguki oleh Ara.
“Dia ngomong apa?” Stefani kembali bertanya. Apa Rachel juga mengatakan hal yang sama pada Ara?
“Dia minta gue jauhin Abi.”
“Udah gue duga,” desis Stefani. “Sebenarnya apa sih yang dia mau. Dia yang narik kita buat ikut organisasi sialan itu, sekarang dia mau lo jauhin orang yang udah bikin lo nyaman ada di sana? Gila,” umpat gadis itu.
“Emang dia bilang apa sama lo?” tanya Ara penasaran.
“Dia minta gue buat ngomong sama lo kalau lo harus jauhin Abi karena dia gak baik buat lo,” jelas Stefani.
Ara menghela napas dan memegangi kepalanya. Dia tak habis pikir dengan Rachel, sebenarnya apa yang gadis itu inginkan darinya.
“Tapi lo gak berniat buat nyuruh gue jauhin Abi, kan?” Ara bertanya untuk memastikan.
“Ya enggak lah! Lo gila? Gue justru bahagia lihat lo bahagia sama dia,” jelas Stefani yang membuat Ara menghela nafas lega.
“Sebenarnya apa sih yang bikin dia kaya gitu? Emang Abi buat hal buruk apa sampai dia gak bolehin lo deket sama Abi?” Stefani penasaran.
“Gue juga gak tau. Tapi selama gue gak lihat sendiri, gue gak akan percaya,” jawab Ara.
__ADS_1
“Tapi lo pernah gak kepikiran buat cari tau tentang apa yang dibilang Rachel?” Pertanyaan Stefani sontak membuat Ara menoleh pada gadis itu.
“Maksud lo?” Ara sedikit tak setuju dengan pertanyaan Stefani.
“Bukannya gak percaya, cuma gak ada salahnya kan kalau lo antisipasi?” saran Stefani.
“Enggak. Gue percaya sama dia, dia gak kaya gitu. Selama ini yang dia lakuin ke gue baik semua, jadi gue percaya kalau dia pasti gak kaya gitu.”
“Oke kalau itu keputusan lo. Kalau ada apa-apa kasih tau gue,” timpal Stefani yang mendapatkan anggukan dari Ara.
“Oke, udah beres?” tanya Stefani.
“Udah. Mau pulang sekarang atau masih mau main?”
“Pulang aja deh. Ngantuk gue.” Stefani nyengir. Kebiasaannya, setelah makan pasti matanya tak bisa diajak kompromi. Selalu mengantuk.
“Jangan dibiasain, Bego! Abis makan itu gak boleh tidur!” sentak Ara.
“Maunya sih gitu. Tapi mau gimana lagi kalau ini mata udah mau nutup aja.”
“Bentar.” Baru saja Ara akan bangun dari duduknya, tapi tangannya ditahan oleh Stefani.
“Apaan lagi? Masih belum kenyang?” tanya Ara.
“Bukan, lo liat itu?” Stefani menunjuk ke satu arah yang kemudian Ara mengikuti arah telunjuk Fani itu.
Akhirnya Ara melihat seorang pria yang sangat dia kenali penampilannya itu. Pria yang selama ini berhasil membuat Ara jatuh hati.
“Abi?” bisik Ara pada Fani untuk memastikan jika penglihatannya tak salah. Fani mengangguk memberikan jawaban jika tebakan Ara itu benar.
“Lagi apa dia di toko aksesoris?” tanya Fani penasaran. Pria setipe Abi tak mungkin menyukai barang-barang seperti itu. Lalu, untuk apa dia di sana?
“Mau ke sana?” Fani mengajak Ara.
Ara mengangguk. Baru saja mereka akan menghampiri Abi, seorang gadis tiba-tiba keluar mendekati Abi.
Mereka terlihat berbincang dengan akrab dan tersenyum satu sama lain.
__ADS_1
“Siapa dia?” tanya Ara.
Tanpa Ara sadari jika Fani sudah tak ada di sampingnya. Gadis itu berjalan dengan cepat menghampiri Abi dan seorang gadis yang sama sekali tak mereka kenali.
Ara yang melihat hal itu segera menyusul temannya untuk menghentikan temannya itu. Bisa Ara lihat amarah di mata Stefani.
“Gini ya lo!! Kurang ajar!!” Stefani langsung mencaci maki Abi setelah tiba di hadapan pria itu. Gadis itu juga menjadikan pipi Abi sebagai sasaran tamparannya.
“Stefani!!” Ara yang berada di belakangnya berteriak kala gadis itu menampar pipi Abi.
“Lo apa-apaan sih?!” sentak Ara saat dia sudah tiba di sana. Sementara itu gadis yang datang bersama Abi, sekarang tengah berlindung di balik tubuh Abi yang bidang.
“Lo gak liat dia sama siapa?” Stefani menjawab pertanyaan Ara. Stefani benar-benar dibuat emosi oleh Abi.
Kali ini gadis itu kembali memfokuskan pandangannya pada Abi. “Ternyata lo emang buaya ya! Tau gini, gue percaya aja waktu itu sama Rachel!”
“Apa sih? Apa maksud lo?” tanya Abi dengan wajah polos. Dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Stefani.
“Gak usah sok polos!! Mulai sekarang, jauhin teman gue!!” Setelah mengatakan itu, Stefani segera menarik tangan Ara untuk pergi dari sana.
Dia tak perlu penjelasan lagi dari Abi karena pada akhirnya dia dan Ara melihat dengan mata kepala mereka sendiri keburukan Abi.
“Stef, lo kenapa sih?” Ara menghempaskan tangan Stefani yang menggenggam tangannya dengan erat di depan mobil mereka.
“Lo masih nanya? Lo gak liat tadi dia sama siapa?” tanya Stefani dengan volume suara yang meninggi.
“Tapi kan kita belum dengar penjelasan dia. Kenapa gak biarin dia ngomong dulu?” Ara berucap dengan sendu.
Dia berusaha menyangkal atas apa yang dia saksikan. Dia masih belum siap jika apa yang dikatakan Rachel memang benar.
“Gak butuh penjelasan kalau udah se-ketara itu.”
“Tapi Fan, kayanya gue gak berhak marah juga kalau dia emang udah punya pacar,” ucap Ara dengan senyum mengerikan. Senyuman kosong dengan tatapan mata yang juga kosong.
“Lo ngomong apa sih? Lo berhak karena selama ini dia deketin lo!!”
“Tapi kita gak pacaran.”
__ADS_1