Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Makan Gratis


__ADS_3

Sepanjang malam Ara terus terpikirka  oleh ucapan Stefani. Ingin percaya tapi dia belum melihatnya sendiri dengan langsung. 


Tapi tidak bisa dikatakan juga kalau dia tidak percaya karena Stefani adalah orang yang menyatakannya. Tak mungkin gadis itu membohonginya tentang hal ini. Apalagi ini adalah hal yang cukup sensitif bagi Ara. 


Pagi ini Ara bangun dengan mata pandanya. Sepanjang memikirkan itu, Ara tentu saja terjaga dan inilah hasilnya. 


"Loh, tumben udah bangun. Kamu jam siang kan?" Bundanya bertanya heran saat melihat sang putri sudah bangun pagi buta begini. 


"Iya Bun. Ara mau keluar dulu sama Stefani, ada yang harus diselesaikan jadi Ara bangun pagi," jawab Ara sambil mengucek matanya. 


Piyama berwarna maroon itu masih menempel di badannya, jangan lupakan rambut acak-acakkan khas bangun tidur. 


"Ya udah sana mandi. Kenapa malah turun?" tanya Bundanya setelah dia tahu alasan Ara bangun pagi. 


"Iya bentar. Ara masih ngumpulin nyawa," jawabnya. 


Mereka saat ini berada di dapur. Di sana tak hanya ada Bundanya tapi juga Mbak Raisa. 


"Abang mana Mbak?" tanya Ara. 


"Lagi mandi. Dia juga baru bangun," jawabnya yang kemudian diangguki oleh Ara. 


"Mau makan apa Ra? Mumpung Mbak baru mau masak," ucap Raisa. 


"Apa aja deh Mbak. Tapi gak mau yang hambar. Ara udah bosen makan makanan yang gak ada rasa," cicitnya dengan ekspresi wajah yang memohon. 


Raisa terkekeh ketika mendengar hal itu. Masakan hambar yang dikatakan Ara memang masakannya, tapi itu juga atas instruksi dari Bundanya. 


"Iya, tapi dikit-dikit aja ya. Biar tubuh kamu gak kaget," jawab Raisa. 


"Hmm gak apa-apa." 


Raisa mulai memasak. Paling untuk pagi ini dia akan memasak sayur asam. Ara juga butuh asupan serat di tubuhnya. 


"Mending kamu mandi dulu sambil nunggu Mbak kamu selesai," saran Bundanya. 


Ara akhirnya mengangguk dan pergi menuju kamarnya setelah dia meneguk segelas air putih. 


"Hooammm." Ara terus saja menguap. Entahlah, dia merasa sangat mengantuk. Mungkin karena tidak biasanya dia bangun sepagi ini. 


Gadis dengan wajah bantalnya itu memasuki kamar mandi setelah dia mengambil handuk putih yang ada di tempatnya. 


Mandinya seorang Ara tak akan lama kecuali jika dia akan pergi dengan kekasihnya. Buktinya saat ini dia sudah ada di kamar dan telah siap memakai pakaiannya. 

__ADS_1


"Dah wangi," ucapnya setelah dia melakukan sentuhan terakhir yaitu parfum di badannya. 


Dia mengambil tas yang sudah dia siapkan malam tadi di meja belajarnya. Dia langsung membawa tas untuk kuliah nanti agar tak perlu kembali lagi ke rumahnya. 


"Bunda!!!" teriaknya. Padahal dia masih di tangga dan mungkin Bundanya akan mendengar walau dia tidak teriak. 


"Apa? Jangan teriak-teriak," larangnya. 


Ara hanya tersenyum menunjukkan giginya. 


"Nanti Ara pulang lambat ya. Mau ke rumah Fani dulu," ujarnya. 


"Jangan terlalu capek ah Ra. Kamu baru aja pulih loh." Bundanya berkata seperti itu karena Ara bilang akan berangkat pagi untuk mengurus sesuatu. Dan sekarang gadis itu juga mengatakan akan pulang terlambat karena akan ke rumah Stefani terlebih dahulu. 


"Enggak, Bun. Lagian Ara di sana cuma duduk manis sambil main ponsel doang kok," jawabnya agar dia bisa mendapatkan izin dari sang Bunda. 


"Ya udah. Jangan macam-macam."


"Stefani jemput ke sini?" tanya Raisa sambil mengidangkan masakan yang baru saja selesai dia buat. 


"Iya. Tapi kayanya dia terlambat deh," jawabnya. 


"Nih makan dulu aja. Biar perutnya keisi dan bertenaga," ucap Raisa. 


"Kalian gak makan?" tanya Ara yang melihat Bunda dan Mbaknya hanya diam memperhatikannya yang sedang melahap makanannya. 


"Nanti aja. Kamu dulu aja, kita kan gak kemana-mana jadi santai."


Ara mengangguk mengerti dan melanjutkan acara makannya. 


"Pagi!!!" Suara teriakan seseorang terdengar sangat nyaring di luar sana. 


"Nah anaknya udah datang." Baru saja Ara hendak beranjak hendak membukakan pintu untuk temannya. 


"Biar Mbak aja. Lanjutin makan kamu." Ara membatalkan niatnya dan kembali makan karena Raisa berkata demikian. 


"Sini, mau makan dulu gak?" Raisa berjalan berdampingan dengan Stefani dan menggiring gadis itu ke dapur di mana Ara berada. 


"Boleh," tanya Stefani pada Raisa dan juga bundanya Ara. 


"Boleh sini." Raisa menarik salah satu kursi yang kosong dan mempersilahkan Stefani untuk duduk di sana. 


Stefani dengan senyum cerahnya akhirnya duduk di kursi itu dan mulai mempersiapkan diri untuk makan. 

__ADS_1


"Emm kayaknya enak nih," ucapnya sambil melihat satu persatu menu makanan yang ada di sana. 


"Iyalah enak, apalagi makan anak gratis," celetuk Ara sambil memandang Stefani. 


"Hush gak boleh gitu," ucap Bundanya. 


"Kalian makan yang anteng ya, Bunda mau ke kamar dulu."


"Mbak juga mau ke kamar dulu bantu Abang kamu siap-siap." 


Arah dan Stefani mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bunda dan Raisa. 


Kini mereka hanya tinggal berdua di ruang makan dan suasana menjadi hening. 


"Gimana, udah siap?" tanya Ara sambil terus mengunyah makanannya. 


"Udah. Gue udah hubungin dia dan dia sepakat buat ketemu kita di jam istirahat," jam Stefani sambil terus menambah lauk. 


"Oh iya. Gue lupa kalau dia masih anak SMA," jawab Ara. 


"Nanti kalau udah di sana, lo coba telepon Abi dan suruh dia datang ke sana juga." Rencana Stefani memang sangat klise, tapi apa salahnya mencoba. Mungkin saja dengan cara sederhana itu justru akan membuahkan hasil yang memuaskan. 


"Hmm. Nanti gue coba. Tapi kalau dia gak mau gimana?" tanya Ara. 


"Kalau dia gak mau, lo coba vc dia aja. Kita lihat nanti lah." Stefani tak bisa jika harus berandai-andai seperti itu. 


Dia harus melihat kenyataan barulah dia akan mendapatkan sebuah solusi. 


"Ya udah. Berarti gak guna dong gue bangun pagi buta kalau ketemu sama dianya aja jam istirahat," ucap Ara. 


Sepengetahuannya, jam istirahat anak SMA itu sekitar pukul sepuluh dan sekarang jam masih menunjukan pukul tujuh pagi. Itu berarti mereka punya waktu tiga jam yang entah akan digunakan untuk apa. 


"Mau kita pakai buat apa waktu tiga jam?" tanya Ara. 


"Nongkrong aja lah di mana gitu," saran Stefani. 


"Bosen ah. Ke mana ya?" Ara terlihat sedang berpikir untuk ke mana mereka akan menghabiskan waktu tiga jam agar tidak bosan. 


"Ya udah, lo mau jadi anak kutu buku yang mainnya ke perpus,  baca jutaan buku?" tanya Stefani sarkas. 


"Boleh juga tuh. Kali aja kita bisa dapat ilmu di sana. Manfaatin waktu dengan baik," ujarnya. 


Ara beranjak dari duduknya setelah dia selesai makan. 

__ADS_1


"Makan di sini gak gratis. Sebagai bayarannya, lo cuci piring." Ara meninggalkan Stefani dengan piring kotor bekas dirinya da  juga bekas stefani. 


__ADS_2