Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Pengalihan Topik


__ADS_3

Hari senin adalah hari yang sangat tidak disukai oleh semua pelajar karena hari itu terasa sangat jauh dari hari libur. 


Begitupun dengan Ara, gadis itu merasa sangat malas untuk pergi ke kampus, padahal Stefani sudah datang menjemputnya sedari tadi. 


"Ara  udah selesai belum? Ini Fani udah lama nunggu loh!!" Bundanya Ara berteriak dari bawak karena  putrinya tak kunjung turun. 


"Iya ini udah, Bun," jawabnya. Rupanya gadis itu sudah siap dengan alat tempur kampusnya dan sekarang sedang menuruni tangga dengan lesu. 


"Kenapa lesu banget sih?" tanya Bunda saat melihat sang putri yang terlihat sangat lesu. 


"Iya Bunda. Capek banget," jawabnya. 


Saking lelanya, Ara sampai banguk kesiangan dan acara mengunjungi tempat Ayahnya gagal.


"Sini, minum susu dulu." Bundanya menyodorkan segelas susu pada Ara. Sementata milik Stefani sudah habis diminum sebelum Ara datang tadi. 


"Makasih Bunda." Ara menerimanya sebelum kemudian dia meneguknya hingga tandas. 


"Yuk. Mau berangkat sekarang?" tanya Stefani. 


"Hari ini bisa bolos gak sih? Males banget gue," jawab Ara dan di sana masih ada Bundanya yang memperhatkan percakapan kedua gadis itu. 


"Heh!! Gak boleh gitu ya, Bunda biayain kamu buat sekolah, bukan buat bolos." Bundanya memperingati. 


"Iya Bunda." 


Untuk hari ini akhirnya, Ara akan pergi ke kampus walau agak terpaksa. 


"Berangkat dulu, Bunda," pamit Ara yang diikuti oleh Stefani. 


"Hati-hati ya." Setelah berpamitan, baru mereka benar-benar berangkat. 


"You okay?" tanya Stefani saat dia melajukan mobilnya. 


Ya, hari ini Stefani memilih untuk menggunakan mobilnya karena dia tahu Ara sedang tak baik-baik saja. 


"Okay," jawabnya sambil tersenyum memandang Stefani. 


"Bagus deh. Jangan dipikirin."


Ara mengangguk. Dia juga tak ingin terus memikirkan hal ini, tapi otaknya terus saja terbayang tentang kejadian kemarin. 


Mereka tak lagi berbicara hingga tiba di kampus. Belum banyak orang yang datang, hanya ada beberapa saja. 


"Ra, ada Abi," ucap Stefani sambil mencolek Ara saat netranya menangkap sosok Abi dan Shaka sedang berjalan ke arah mereka. 


Mereka diam di depan mobil mereka dan memperhatikan dua pria yang sedang berjalan ke arah mereka itu. 


"Ra," panggil Abi dengan senyuman yang mengembang seperti tak ada yang terjadi di antara mereka. 

__ADS_1


"Hmm?" Sebisa mungkin Ara berusaha tersenyum walau dalam hatinya masih ada ketakutan. 


"Maaf ya, belakangan ini aku gak hubungin kamu. Aku lagi ada urusan di luar," jelas  Abi. 


"Gak apa-apa." Ara menjawabnya dengan singkat. 


"Ra, gue sama Shaka duluan ya." Stefani pamit sambil menarik tangan Shaka untuk menjauh dari mereka. 


Sementara pria yang ditarik oleh Stefani itu merasa bingung sendiri. 


Di sana akhirnya hanya menyisakan Ara dan Abi. 


"Ra, soal telpon kemarin… " 


Abi menggantung ucapnnya menunggu Ara untuk menjawabnya. 


"Aku lapar, mau makan," ucap Ara mengalihkan pembicaraan. Dia sedang tak ingin membicarakan ini. Dia hanya akan menganggap jika hal ini tak pernah terjadi. 


"O-oh, ya udah ayo!" ajak Abi agak ragu. 


Dia sangat sadar jika Ara sedang mengalihkan pembicaraan. 


Ara berlalu dari sana tanpa menggandeng atau mengatakan apapun lagi pada Abi. 


Abi yang merasa di tinggalkan, menendang udara karena merasa kesal sekaligus bingung dengan apa yang harus dia lakukan. 


Mereka berjalan berdampingan walau tak sedekat biasanya. 


"Mau makan apa?" tanya Abi saat mereka baru tiba di cafetaria. Baru saat itu Abi kembali bertanya pada Ara. 


"Gak apa-apa. Aku pesan sendiri aja," jawab Ara. 


"Enggak. Aku yang pesan. Kamu mau apa?" Abi bersikeras untuk memesankan Ara makanan. 


"Nasi goreng." Akhirnya Ara menyerah untuk memesan makanan sendiri dan membiarkan Abi yang mengurus itu untuknya. 


"Oke. Tunggu ya." Abi segera pergi untuk memesan dan Ara diam di tempat yang sudah mereka pilih tadi. 


Ara menghela nafasnya. "Apa harus diomongin?" tanyanya bingung. 


"Kalau enggak, gak bakal kelar. Kalau diomongin takut jawaban dia gak sesuai sama ekspektasi," lanjutnya. 


Ketika masih berlanjut dengan lamunannya, Abi kembali membawa sepiring nasi goreng dan juga air mineral di tangannya. 


"Nih, special buat kamu," ucapnya dan menghidangkan  makanan itu di depan Ara. 


Jangankan makan, berangkat ke kampus pun sebenarnya dia enggan. 


"Kenapa?? Gak suka?" tanya Abi saat Ara tak kunjung menyentuh makanannya. 

__ADS_1


"Enggak." Setelah mengatakan itu, Ara segera menyendok nasi gorengnya. 


"Gimana, enak?" Abi kembali bertanya yang kemudian diangguki oleh Ara. 


Abi tak makan dan Ara juga tak menawarkan makanannya pada pria itu. Abi hanya melihat kekasihnya makan. 


Ara menaruh sendoknya saat baru saja dia makan sedikit. 


"Kenapa??" 


"Kenyang," jawabnya. 


Abi yang sadar ada yang berbeda dengan Ara, akhirnya berusaha mengangkat topik tadi. 


"Ra, jangan ubah topik pembicaraan. Maafin aku soal telpon kemarin," ujar Abi. 


"Emang kamu lakuin salah apa sampai harus minta maaf?" tanya Ara. Pandangannya mengarah pada netra Abi dengan sangat tajam. 


"Itu kemarin yang angkat telpon, teman aku. Kita lagi ngumpul kemarin," jelas Abi. 


"Teman?? Oke kalau gitu. Kenapa kamu mesti minta maaf kalau itu cuma teman?" 


"Gak gitu. Takutnya kamu salah paham," ujar Abi. 


"Udah lah lupain aja, aku gak peduli." Ucapan Ara berhasil membuat perhatian Abi sepenuhnya mengarah pada gadis itu. 


"Kok gitu? Gak peduli gimana maksud kamu? Aku pacar kamu loh," ucap Abi agak menaikan nada suaranya. 


"Emang kamu peduli sama aku?" Ara malah membalikan pertanyaan. 


"Peduli lah, kamu kan pacar aku," jawab Abi dengan percaya diri. 


Ara yang mendengar itu berdecih lucu. 


"Ini yang kamu sebut peduli? Diemin aku tiga hari, gak balas pesan aku dan gak angkat telpon aku. Oh, kamu juga gak ada kabar selama tiga hari. Perlu kamu ingat juga kalau ini bukan yang pertama kali." Ara sudah sangat naik pitam sekarang. 


"Ra!! Kehidupan aku itu gak cuma tentang kamu. Aku juga punya dunia lain. Kamu pikir sekarang aku cuma ngurusin kamu?!!" bentak Abi yang membuat Ara tersentak. 


Saking terkejutnya, gadia itu sempat diam untuk sesaat sebelum kemudian dia mengambil tasnya dan berlalu dari sana meninggalkan Abi yang merasa bingung. 


"Ck," decaknya sambil mengacak rambutnya frustasi. 


"Gimana lagi gue jelasin sama dia?"


"Kenapa juga mesti bentak!!! Gue kelepasan!!" umpatnya. 


Sementara itu Ara setengah berlari. Bukan menuju kelasnya, melainkan ke sebuah toilet. 


Tanpa dia duga, dia bertemu orang yang sudah lama tak dia dia temui. 

__ADS_1


Ara sedikit terkejut saat melihat orang itu. 


"Ra, lo kenapa?" tanya orang itu saat melihat mata Ara memerah dan air mata sudah mengalir di pipinya.


__ADS_2