
Ara yang mengatakan akan bertemu dan berbicara dengan Abi nanti ketika mereka bertemu, pada kenyataannya mereka baru bertemu lagi ketika menjelang Rapat Kerja. Itupun Ara datang karena dia harus mengikuti rapat.
Hanya sebentar mereka mengikuti rapat. Dipimpin oleh Dion sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa, mereka telah menyelesaikan rapat kerja mereka dan proposal mereka diterima.
"Akhinya. Kayanya ini acara terakhir kita deh," ucap Stefani.
"Mana ada!! Kita masih sembilan bulan lagi ya. Masih banyak program kerja kita," jawab Shaka.
Meski sekarang mereka telah menjadi sepasang kekasih, tapi mereka masih sering meributkan hal sepele.
"Gak mau kalah banget sama pacarnya," cicit Stefani.
"Apa? Siapa?" Shaka berusaha menggoda Stefani sampai Stefani mau mengatakannya lagi.
"Udah ah. Yuk konsep buat acaranya." Ajak Stefani pada yang lainnya.
Ara dan Abi terlihat sangat canggung setelah masalah kemarin. Bahkan pagi tadi, Abi juga kembali berangkat dengan Alda.
Mereka sekarang berada di sekretariat. "Buat konsepnya kan kita mau adain fashion show couple tiap fakultas, busananya gimana?" tanya salah satu anggota.
"Biasa aja. Asal sekreatif mungkin. Mereka bisa bikin busana dari kertas atau barang-barang lainnya yang memungkinkan. Kayanya bakal seru," timpal yang lainnya.
"Kalau soal busana gampang. Yang gak gampang itu cari pasangan di setiap fakultas apalagi di fakultas gue," ucap Shaka.
Memang benar, jika acara yang seperti ini jarang sekali ada peminat. Itu sebabnya fakultas hukum ada yang mengirimkan.
"Kalau gitu biar ketua kita aja yang maju," ucap Stefani random.
Sementara itu anggota dari fakultas lain hanya terkekeh karena mereka tenang dan suda memiliki delegasinya.
"Jadi, Bi gimana mau gak lo?" Rupanya tawaran Stefani dianggap serius oleh Shaka.
"Boleh aja sih. Tapi kayanya kita ambil suara aja deh sekalian sama mahasiswa yang lain. Biar gak ada kecurangan termasuk sama yang ceweknya juga," saran Abi.
Yang lain mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abi.
"Oke kalau gitu biar nanti gue yang umumin sama yang lain dan langsung vote. Calonnya bebas?" tanya Shaka.
"Hmm, semua orang berhak dapat kesempatan." Mereka setuju dengan masukan dari Stefani, Shaka dan Abi.
Ara juga mengikuti apa yang mereka inginkan. Di saat seperti ini jangankan memberikan saran, berbicara saja membuatnya malas. Itulah kenapa sedari tadi dia hanya diam membisu memperhatikan teman-temannya.
Tanpa dia sadari jika sedari tadi Abi terus mencuri pandang pada gadis itu.
"Ra - "
__ADS_1
"Fan, gue ke toilet dulu ya." Baru saja Abi akan berbicara dengannya, tapi dia telah lebih dulu memotong dan pamit pada Stefani untuk pergi ke toilet.
Pada akhirnya Abi lagi-lagi tak punya kesempatan untuk berbicara dengan Ara tentang hal kemarin.
"Permisi."
Semua orang mengalihkan pandangannya pada asal suara tepatnya di pintu masuk.
"Cari siapa?" tanya orang yang diam dekat pintu.
"Sorry, gue keluar sebentar." Tak menunggu gadis yang baru saja datang itu menjawab, Abi sudah terlebih dulu bangkit dan meminta izin untuk keluar dari ruangan.
Abi menarik tangan gadis itu entah menuju kemana. Yang jelas mereka tidak akan bicara di sana.
Setelah cukup jauh dari sekretariat, Abi menghentikan langkahnya dan memulai pembicaraannya.
"Ada apa?" tanya Abi pada gadis yang tak lain adalah Alda.
"Aku gak ada teman. Semua orang liatin aku kaya aneh gitu pas di kantin," jawabnya.
Abi menghela nafas dalam. Dia kira ada masalah yang sangat serius.
"Al aku minta maaf. Kayanya selama di sini aku gak bisa selalu fokus sama kamu deh. Selain karena aku sibuk, aku juga udah punya pacar." Ucapan Abi di bagian terakhir itu membuat Alda mematung.
"Pacar?" tanyanya. Abi mengangguk lagi.
Alda merasa dunianya hancur seketika Abi berkata seperti itu.
"O-oke. K-kalau gitu maaf karena aku udah ganggu kamu."
"It's oke. Kamu coba cari teman aja biar gak selalu sendiri dan gak selalu bergantung sama aku. Aku pergi dulu." Setelah itu, Abi pergi dari sana meninggalkan Alda sendirian di sana.
Abi kembali menuju ruangan yang tadi dia tinggalkan. Memang tidak sopan meninggalkan forum begitu saja, makanya sekarang dia akan kembali ke sana.
"Sorry guys. Kita lanjut?" tanya Abi yang mendapatkan anggukan dari semuanya kecuali Ara. Jangankan mengangguk, untuk fokus saja saat ini dia tak bisa.
****
Alda masih diam mematung di tempatnya. Tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras.
"Siapa yang berani-beraninya deketin Abi?" ucapnya dengan pandangan nyalang.
"Gak ada yang boleh sama Abi kecuali gue. Kalau gue gak bisa dapatin Abi, yang lain juga gak boleh," sambungnya.
Kedatangannya ke sini dia khususkan untuk Abi. Itulah kenapa dia harus berhasil mendapatkan pria itu setelah sekian juta perjuangannya.
__ADS_1
"Cukup dulu orang tua gue yang gak setuju. Sekarang semuanya harus balik ke tempatnya."
Dia teringat di mana dia sangat berjuang untuk hari ini. Dia mati-matian belajar agar dia bisa menyelesaikan studinya hanya dengan dua tahun setengah.
Sebelumnya dia juga berusaha mati-matian untuk mendapatkan janji dari Papahnya. Jika dia berhasil lulus lebih cepat dari seharusnya, dia akan dibolehkan pacaran dengan Abi.
Sekarang semuanya sudah berjalan dengan lancar dan perjuangan sejauh ini. Mana mungkin dia membiarkan rencananya gagal hanya karena wanita murahan itu.
Alda pergi dari sana menuju kantin. Dia melihat salah satu orang yang sangat menarik perhatiannya.
"Hai," ucapnya.
"Lo?" tanya orang itu.
"Ngapain lo di sini?"
"Ayolah Dion, jangan kaya gitu. Kaya lo lagi lihat hantu aja," jawab Alda sambil mendudukkan dirinya di depan pria itu.
"Ngapain lo di sini?" Dion kembali bertanya.
"Gue belajar di sini. Emang apa lagi?"
Dion tak habis pikir dengan Alda. Dia tak menyangka jika gadis itu sampai berbuat sejauh ini.
"Mau yang mana lagi yang sekarang lo hancurin? Setelah sebelumnya lo hancurin persahabatan gue sama Abi?"
Alda terkekeh mendengarnya.
"Sorry, gue gak merasa pernah hancurin persahabatan kalian. Gue cuma lebih pilih Abi daripada lo, itu aja."
Tangan Dion mengepal. Wanita iblis ini yang membuat hubungannya dengan Abi jadi hancur dan sekarang dia kembali tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Jangan berani-berani lo ganggu hidup gue ataupun hidup Abi lagi. Cukup lo hilang dari sini."
"Tapi kayanya gue gak bisa karena gue ditakdirkan buat jadi pendamping Abi."
"Sakit lo!!" Dion meninggalkan gadis itu. Berbicara dengan Alda tak akan merubah apapun. Yang ada dia hanya akan naik darah.
"Lo anak baru itu ya?" Seseorang datang menghampirinya.
Alda mengangguk. "Gue Karin. Satu kelas juga sama lo." Dia mengulurkan tangannya.
"Alda." Alda menerimanya dengan terpaksa.
"Ngapain lo di sini sendirian?" tanyanya.
__ADS_1
"Lagi cari info."