
Tanpa pria itu sadari, tiba-tiba senyum tipis mengembang di wajahnya saat Stefani memintanya menemani Ara ke rumah sakit.
Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk dia mendekati gadis itu. “Oke, ayo kita siap-siap!” ujarnya degan semangat.
Dion membuka lemari pakaiannya. Terlihat cukup banyak pakaian di sana dan didominasi oleh warna putih dan hitam.
Pria itu memang tak memiliki selera warna baju yang lain sepertinya selain dua warna itu dan beberapa pakaian berwarna abu.
Dia hanya mengenakan kaos santai yang dia lapisi dengan jaket denim. Sementara bawahaannya dia hanya memakai jeans hitam saja.
“Oke, udah selesai!” Segera setelah dia selesai dengan pakaiannya, dia mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas dan lekas pergi ke rumah Ara.
Beruntung malam tadi dia mengantar gadis itu bersama Stefani hingga sekarang dia tahu di mana letak rumaah Ara.
Membutuhkan waktu cukup lama hingga dia bisa tiba di rumah Ara. Terlihat sangat sepi dan seperti tak ada siapa-siapa.
Dion keluar dari dalam mobil, mendekati pintu rumah Ara dan berhenti sejenak untuk membenarkan letak rambutnya.
Tangannya mengudara untuk mengetuk pintu yang ada di hadapannya itu.
“Permisi,” ucapnya setelah dia mengetuk pintu beberapa kali.
Tak ada yang menyahut atau keluar dari sana hingga panggilan ketiga, barulah pintu besar itu terbuka.
“Eh, teman Ara yang semalam ya?” tanya Bunda saat dia melihat Dion. Samar dia mengingat orang itu.
“Iya Tan. Ara-nya ada?” tanya Dion.
“Ada. Dia lagi sakit, yuk masuk dulu,” ajak Bunda membiarkan Dion masuk ke dalam rumahnya, lebih tepatnya duduk di ruang tamu.
“Saya tadi ditelpon Stefani, katanya dia gak bisa antar Ara ke rumah sakit buat jenguk Rachel, jadi dia minta saya buat gantiin antar Ara.” Mendengar cerita pria itu, Bunda mengerti karena Stefani sudah membicarakan kesepakatan itu padanya.
Bunda mengangguk. “Ara lagi sakit, tapi kalau sekarang dia sembuh atau seenggaknya mendingan, kamu bisa bawa dia pergi. Kalau dia belum sembuh kamu gak bisa bawa dia,” ucap Bunda.
“Iya Tan gak apa-apa. Seenggaknya saya datang ke sini buat gantiin Stefani.”
“Bentar ya, Bunda lihat dia dulu.” Dion mengangguk. Sementara Bunda Ara pergi ke kamar Ara untuk melihat putrinya, Dion terdiam di sana menunggu dengan tenang.
__ADS_1
Bundanya membuka pintu kamar Ara dengan pelan karena takut mengganggu putrinya.
Namun ternyata putrinya itu sudah bangun dan sudah siap seperti hendak pergi keluar.
“Udah mendingan?” tanya Bunda sambil mendekati Ara. Ara mengangguk dengan senyum yang tersemat di wajahnya.
“Ara boleh pergi, kan?” tanya gadis itu seperti memohon pada Bundanya.
Bundanya berjalan lebih dekat ke arah Ara yang sedang duduk di ranjang untuk memastikan jika Ara memang sudah mendingan.
Wanita paruh baya itu meletakan punggung tangannya di kening Ara.
“Jangan lupa minum lagi obatnya,” ujar Bunda yang diangguki oleh Ara.
“Jadi, Ara boleh pergi, kan?” Gadis itu kembali memastikan agar dia bisa pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rachel.
“Iya. Lagipula teman kamu udah nunggu di bawah,” ucap Bundanya yang membuat senyum Ara kembali mengembang.
“Tumben banget dia gak telat,” ucapnya. Ara segera berlalu dari kamar diikuti Bundanya untuk turun ke ruang tamu.
“Loh, ngapain lo di sini?” tanya Ara heran ketika yang dia lihat di ruang tamu bukan Stefani melainkan Dion.
“Stefani mana?” Ara masih tak mengerti.
“Nanti gue jelasin sambil jalan deh. Yuk, mau ke rumah sakit, kan?” Ara mengangguk mengiyakan.
“Tante, kita pamit ya.” Dion meminta izin pada Bunda untuk pergi dari sana yang kemudian diangguki oleh Bunda.
Mereka pergi dari sana masih dengan Ara yang kebingungan. “Jadi, kenapa lo yang datang?”
Mobil Dion melaju dan Ara kembali menanyakan hal yang belum sempat Dion jawab tadi.
“Stefani tadi telpon. Katanya dia gak bisa jemput lo karena kegiatan yang belum kelar. Jadi dia minta tolong sama gue,” jelasnya.
“Kenapa harus lo?” Ara heran. Bisa saja Stefani meminta bantuan Abi karena pria itu yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya.
“Gue gak tau. Tanya aja sama teman lo itu,” jawab Dion.
__ADS_1
Keadaan kembali hening hingga Ara dibuat heran kembali karena mobil Dion berbelok di sebuah perempatan dan arah itu adalah arah yang berlawanan dengan letak rumah sakit.
“Yon, rumah sakit ke sana loh. Ini kenapa jadi belok ke sini?” tanya Ara heran.
“Lo lagi sakit, kan? Kita makan dulu, habis itu minum obat lo. Baru kita pergi ke rumah sakit. Gue gak mau repot jagain lo kalau lo pingsan,” ujarnya.
Ara memajukan bibirnya ketika mendengar itu karena dia kesal. “Gue kuat. Siapa yang bakal pingsan!” sentaknya.
Dion tak lagi menjawab. Pria itu hanya memperhatikan Ara dengan wajah cemberut yang menurutnya sangat lucu.
Mereka tiba di sebuah restoran sederhana yang cukup ramai. Itu membuktikan jika restoran itu banyak diminati oleh orang-orang.
“Makanan di sini enak, tapi emang agak rame. Gak apa-apa, kan?” Dion memastikan dulu apakah Ara merasa baik-baik saja dengan hal ini atau mereka akan mencari tempat makan lain yang lebih sepi.
“Udah gak apa-apa. Yuk!” Tadi gadis itu yang terlihat kesal karena Dion membawanya untuk makan dulu bukannya langsung ke rumah sakit. Tapi sekarang gadis itu terlihat sangat antusias untuk makan.
“Dasar,” desis Dion yang langsung mengikuti langkah Ara menuju ke dalam.
Habis sudah makanan mereka. Tak ada satupun yang tersisa. Penantian mereka untuk makanan itu terbayar karena rasanya yang enak.
“Ahh kenyang,” ucap Ara sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Minum dulu obatnya.” Ara mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh Dion.
Setelah mereka selesai dengan urusannya, mereka kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Selama perjalanan, Ara baru mengingat sesuatu. Dia melihat Dion dengan seksama, ada yang janggal dari pria itu.
“Yon,” panggilnya untuk mendapatkan perhatian dari pria yang sedang menyetir mobil itu.
“Hmm?” tanya Dion tanpa mengalihkan pandangannya pada Ara. Dia hanya fokus pada jalanan yang ada di depannya.
“Tangan lo udah sembuh?” Pertanyaan gadis itu cukup membuat Dion gelagapan karena terlalu tiba-tiba.
“A-ah i-itu, udah mendingan,” ucapnya. Biarkan dia menjelaskan nanti.
“Padahal kemarin masih kelihatan sakit banget loh.” Ara heran dengan hal itu. Dia yakin ketika kemarin Dion memintanya datang ke rumahnya untuk membuatkan makanan, tangan Dion masih menggunakan gips.
__ADS_1
Tapi sekarang, benda itu sudah hilang dari tangannya. Bahkan sekarang Dion sudah bisa menyetir untuknya.
Ara baru sadar sekarang karena mungkin dia terlalu panik memikirkan Rachel.