
Sekarang Abi benar-benar terjebak di antara kedua kekasihnya. Dia tak mengira semuanya akan menjadi seperti ini dan tentu saja dia tahu siapa dalang di balik semua ini.
"Sayang, ini kan orang yang kamu bilang suka gangguin kamu?" Nabila bertanya sambil menekan kata 'Sayang' agar Ara tahu diri.
Tentu saja hal itu berhasil karena saat ini Ara merasa sangat panas. Bagaimana tidak jika seorang gadis lain memanggil pacarnya dengan sebutan sayang.
"A-ah itu… " Abi kebingungan. Pria itu menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal.
"Bi, katanya aku udah gak bisa ngomong di sini. Karena kalau aku ngomong di sini sekarang semuanya bakal kacau. Aku pulang dan kalau udah tenang aku bakal bicara sama kamu." Setelah mengatakan itu, Ara beranjak dari sana dengan membawa tasnya.
Stefani kebingungan. Dia kira akan menyelesaikan semuanya di sana saat itu juga.
"Ra tungguin gue!"
"Awas lo ya!" Stefani mengancam Abi yang dengan seenaknya menyakiti sahabatnya.
Setelah mengancam pria itu, Stefani berlari menyusul Ara meninggalkan dua orang yang ada di sana.
"Bil," panggil Abi ragu.
Dia tahu jika Nabila sebenarnya marah padanya, tapi mungkin gadis itu menyembunyikannya karena tadi ada Ara dan Stefani di sana.
"Apa!?" sentak Nabila yang membuat Abi tersentak terkejut.
"Bener kan yang aku bilang. Dia itu penguntit. Bahkan dia sampai di sini buat temuin kamu." Nabila terdiam sejenak untuk mendengar rancauan Abi.
"Udah ngomongnya?" Nabila bertanya yang kemudian diangguki oleh Abi.
"Oke giliran akun yang ngomong. Pertama, aku gak sebodoh itu buat ngira kalau dia penguntit. Dua, kalau dia emang penguntit dan ngikutin kamu ke sini, aku mau nanya sama kamu, siapa yang ngundang kamu ke sini?" Habis sudah karena Abi tak tahu jawabannya. Dia memutar otaknya untuk mencari jawaban yang sekiranya masuk akal.
"Gak gitu. Tadi aku ada di sekitar sini dan ingat kalau kamu sering mampir ke sini. Jadi aku datang."
"Bi kebetulan gak mungkin seluar biasa ini. Kamu datang ke sini di saat aku sama pacar kamu yang lain lagi ketemu. Dia yang nyuruh kamu datang ke sini, kan?" Nabila akhirnya menyimpulkan.
Abi terdiam. "Diamnya kamu aku anggap iya."
__ADS_1
"Bilang sekarang yang sebenarnya sebelum aku gak mau ketemu sama kamu lagi." Nabila berkata.
Abi spontan mendongakkan kepalanya untuk memandang Nabila.
"Kok gitu sih. Kamu lebih percaya sama dia dibanding aku?"
"Karena ucapan dia sama kamu lebih masuk akal dia Bi."
"Emang apa salahnya punya pacar lebih dari satu?" Akhirnya ucapan itu keluar dari mulut Abi.
Nabila berdecih tak habis pikir jika kekasih yang selama ini sangat dia percaya rupanya adalah lelaki gila.
"Aku gak bisa kalau kaya gini. Aku mau udahan aja." Ketika mendengar ucapan Nabila itu, Abi semakin panik.
"Gak bisa gitu dong Bil. Masa cuma gara-gara ini kamu mau putus."
"Cuma kamu bilang? Bi, kayanya kamu sakit deh. Coba kamu tanya sama orang di luaran sana, wajar gak kalau punya cewek lebih dari satu? Oke kalau nikahin dua cewek dibolehin asal adil. Tapi ini baru pacaran aja kamu udah ningkah kaya gini. Aku gak mau. Aku mau putus." Nabila pergi dari sana setelah memutuskan hubungannya dengan Abi.
Abi sekarang merasa pusing sendiri. Ingin mengejar Nabila juga tidak baik karena pasti gadis itu sedang panas.
Dia sekarang hanya bisa diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Mas maaf, tapi kalian belum bayar."
Tak ada pilihan bagi Abi selain membayar makanan mereka. Padahal dia sama sekali tidak memakan apapun.
Abi menggunakan ponselnya untuk membayar. "Pakai QR ya Mbak." Mbak itu mengangguk dan Abi membayarnya.
****
Stefani yang sedang melakukan mobilnya menjadi tidak konsentrasi karena seseorang yang sedari tadi terus menangia di sebelahnya.
"Aduh Ra. Udah dong. Nanti aja nangisnya dilanjut di rumah ya." Bukannya menyuruh Ara agar tidak menangis lagi, Stefani malah menyuruh Ara melanjutkan nangisnya di rumah nanti.
"Gak bisa, kalau di rumah nanti ditanya Bunda, hiks," jawabnya.
__ADS_1
"Ya udah. Sekarang gak usah pulang, gak usah ke kampus. Kita ke rumah gue aja," ucap Stefani final.
Ara tak menjawabnya. Dia hanya sibuk menangis dan Stefani juga tak berbicara lebih. Dia memutuskan untuk membawa Ara ke rumahnya saja.
Tiba di rumahnya, Stefani membawa Ara ke dalam. Sebenarnya tadi Bunda dan Kakaknya bertanya alasan mengapa Ara menangis. Namun dengan ucapan Stefani mereka memilih untuk diam dan menanyakannya lagi.
"Sini. Duduk di sini, gue ambil minum dulu," ucapnya.
Ara terus terisak dan membiarkan Stefani pergi dari sana. "Hhuuuaaaa. Kenapa dia tega!!" raungnya.
"Diem jangan teriak-teriak. Ini di rumah bukan di hutan." Stefani masuk membawa segelas minum.
"Sakit hati gue Fan," isaknya. Wajahnya sudah memerah dengan air mata yang terus mengalir.
Jangan lupakan ingus yang sudah sedikit keluar dari hidungnya. "Eh eh eh bentar. Jangan tidur di ranjang gue!" ucap Stefani.
"Ingus lo anjir!!"
Tangisan Ara semakin pecah saat mendengar Stefani malah mengejeknya. Justru dengan sengaja gadis itu tidur di ranjang Stefani dan mengusap ingusnya dengan selimut Stefani.
"Araaa!!!!" Stefani murka namun dia tak bisa apa-apa karena kondisi Ara sekarang juga sedang tidak baik-baik aja.
"Awas aja lo. Gue pasti minta ganti rugi tentang ini nanti," ucap Stefani akhirnya hanya bisa pasrah.
Sementar itu Ara masih menangis sesenggukan. Stefani menyodorkan minum untuk Ara dan diterima oleh gadis itu.
"Udah anjir. Ngapain juga lo nangisin cowok kaya dia. Cowok yang lebih baik, lebih ganteng, lebih kaya dari dia juga banyak. Gak harus sama dia. Udah putus aja lo sama dia." Stefani mengeluarkan pendapatnya.
"T-tapi g-gue sayang."
"Makan tuh sayang lo sampai sekalian aja dia punya cewek sepuluh," ucap Stefani sambil melempar pelan bantal ke wajah Ara.
"Ihh apaan sih?" rengek Ara sambil menyingkirkan bantal itu.
"Mau lo di madu sama dia kalau nanti udah nikah? Sekarang aja baru pacaran dia udah gatel kaya gitu. Gimana nanti kalau nikah?" ujar Stefani mengingatkan. Tentu saja dia tak ingin sahabatnya jatuh ke dalam lubang yang sama ketika menikah nanti.
__ADS_1
"Mungkin aja dia mau berubah nanti."
"Terserah lo Ra. Udah cape gue ngasih tau lo." Stefani angkat tangan dengan permasalahan ini. Toh Ara sepertinya juga tak akan mendengarkan sarannya sebanyak apapun dia berbicara.