Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Luluh


__ADS_3

Sudah dua hari Ara ada di rumah dengan segala rasa bosannya. Sudah beberapa kali juga dia meminta izin pada Bundanya untuk sekedar bermain ke rumah Stefani tapi tak diperbolehkan. 


Dan parahnya, dari sekian banyaknya dia punya teman, tak ada satupun yang datang ke rumahnya untuk menghibur. 


Jangankan temannya, bahkan Abi yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya juga tak menampakan batang hidungnya setelah terakhir kali mereka bertemu saat setelah acara makan-makan. 


"Orang pada jahat-jahat banget sih?? Gue bosen di rumah," rengek Ara. 


"Demi Tuhan ini gak ada bedanya sama di rumah sakit." 


Ara kembali menarik ucapannya saat dia mengatakan makanan rumah tak sehambar di rumah sakit. 


Rupanya Bundanya sudah menyusun dengan matang dan membuat makanan layaknya di rumah sakit. Hambar. 


"Pengen nangis," lirihnya. 


Dia masih dalam keadaan berbaring karena hari memang masih pagi dan dia baru saja membuka matanya. 


Ara benar-benar menangis dengan air mata yang sudah mengalir. Bahkan bantal yang masih dia tiduri juga basah karena air matanya. 


Suara pintu terbuka tak mengganggu Ara atau tak membuat gadis itu penasaran siapa yang masuk. 


Dia akan diam pada semua orang mulai detik ini karena tidak memperbolehkannya keluar. 


"Hei, kamu kenapa?" Suara ini, suara yang berhasil membuat Ara mengingkari janjinya bahkan belum satu menit dia berjanji. 


Buktinya gadis itu sekarang berbalik untuk memastikan jika pendengarannya tak salah. 


"Abi," ucapnya saat dia berhasil melihat wajah seseorang yang datang ke kamarnya. 


"Hmm, knapa?" tanya Abi. Dia membantu Ara yang hendak bangun dari posisi tidurnya. 


"Udah tiduran aja." Sempat melarang, namun akhirnya Abi membiarkan Ara untuk bangun. 


"Kemana aja kamu?" tanya Ara seperti orang yang sedang merajuk. 


Abi tersenyum simpul. "Kamu tau sendiri gimana sibuknya aku di kampus. Udah dua hari ini aku diajak diskusi sama Kakak Tingkat," jawabnya. 


Untuk kali ini dia tidak bohong. Alasannya memang sebuah kebenaran. 


"Bahkan gak ada kabar sama sekali," ucapnya. 


"Iya aku tau dan aku minta maaf. Kamu lihat ini?" Abi memperlihatkan tas yang masih dia gendong di pundaknya. 


"Aku bahkan belum pulang ke rumah hari ini. Semalam aku tidur di kampus," ujarnya untuk meyakinkan Ara jika dia tidak berbohong. 

__ADS_1


"Beneran?" tanya Ara tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Abi. 


"Beneran. Aku sempetin ke sini karena siang nanti harus balik lagi dan mungkin nginep lagi," lanjutnya. 


"Jangan terlalu memporsir diri kamu, kasihan," jawab Ara. 


"Mau gimana lagi. Ini udah jadi tugas aku dan harusnya aku tahu kalau jadi presiden mahasiswa begini resikonya," jawabnya. 


Benar juga. Tak mungkin Ara melarang pria itu untuk tak pergi ke kampus karena itu sudah menjadi kewajibannya. 


"Kamu gimana kabarnya?" Abi mengalihkan pembicaraan untuk membahas Ara. 


"Kamu bisa lihat, aku bahkan udah sembuh. Tapi Bunda masih belum kasih izin aku buat ngampus," lirihnya. 


Abi membalasnya dengan senyuman simpul. "Bunda masih khawatir sama kamu. Itu sebabnya dia gak izinin kamu pergi," jawabnya. 


"Tapi aku udah sembuh. Lagipula aku pasti pergi sama Stefani, gak mungkin pergi sendiri karena biasanya juga gitu," belanya. 


"Hmm aku tau. Tapi kalau aku ada di posisi Bunda, aku juga bakal lakuin hal yang sama kok." 


Ara merotasikan matanya saat dia mendengar hal itu. Semua orang memang sangat mendukung agar Ara tak pergi ke kampus. 


"Kalian jahat banget," cicitnya. Dia pikir itu tidak terdengar oleh Abi. Tapi justru pria itu mendengarnya dengan sangat jelas. 


"Justru kita gini karena kita sayang sama kamu. Atau kamu lebih milih buat kita biarin kamu lakuin apa yang kamu mau dan gak peduli lagi sama kamu?" tanya Abi yang membuat Ara mematung. 


"Tapi aku bosan di rumah terus," cicitnya. 


"Kalau kamu bosan di rumah, coba lakuin sesuatu. Belajar di rumah misalnya, atau kamu bisa lakuin hal lain yang gak terlalu bikin lelah," saran Abi. 


"Hmm lain kali aku bakal lakuin," jawabnya. 


"Bagus. Ingat, kita kaya gini juga demi kebaikan kamu." Ara kembali mengangguk. 


"Udah makan belum?" tanya Abi. 


Ara menggeleng. "Belum. Ini masih pagi buta Abi," ucapnya. 


"Ya udah, kamu mau apa?" tanya Abi. 


"Emang kamu bakal beliin?" tantangnya. 


"Aku gak bakal nanya kalau aku gak bakal beliin. Mau apa?" Abi kembali bertanya pada gadis itu. 


"Udah lama gak makan burger, kayanya enak," ucap Ara. 

__ADS_1


"Ra, jangan aneh-aneh deh. Ini masih pagi dan kamu belum sembuh total. Minta yang benar," ucap Abi. 


"Tuh kan, tadi kamu bilang bakal beliin aku apa aja," rengutnya. 


"Enggak kalau kamu mau yang aneh-aneh. Gak boleh junkfood. Makanan yang sehat aja," ujar Abi. 


Ara sudah sangat bosan dengan makanan sehat yang dia makan. Dia ingin makanan enak, bukan makanan sehat. 


"Kamu gak tahu selama ini aku di rumah makan makanan sehat terus. Jadi gak apa-apa kan kalau sekali-kali makan makanan enak," mohonnya. 


"Bagus dong biar jadi kebiasaan juga."


Rupanya Abi memang tak berniat mendukungnya. Pria itu lebih mendukung dia makan makanan sehat tapi tak sedap. 


"Terserah kamu aja kalau gitu," jawab Ara pasrah. 


"Oke. Aku keluar dulu nanti balik lagi ya," ucapnya sambil mengelus rambut Ara kemudian mengecup kening gadis itu. 


Abi keluar dari sana sementara itu Ara tersenyum sendiri. Dia merasa senang karena Abi datang walau pria itu tak memperbolehkannya memakan makanan yang dia inginkan. 


"Seenggaknya dia datang ke sini," ucapny lp pa. 


Tak lama setelah kepergian Abi, Bundanya datang. 


"Enak ya punya pacar yang perhatian banget," sindir Bundanya. 


"Apa sih Bun." Ara salah tingkah sendiri ketika Bundanya menyindir. 


Bundanya terkekeh. "Mau makan gak?" tanya Bundanya. 


"Abi lagi keluar buat beli makan," jawabnya. 


"Ya sudah, Bunda keluar lagi. Cuma mau ngambil baju kotor," ucapnya yang diangguki oleh Ara. 


Ara kembali sendiri untuk menunggu Abi datang. 


Niat awalnya untuk marah dan tak akan berinteraksi dengan siapapun runtuh sudah karena kedatangan Abi. 


Pria itu mengubah moodnya menjadi lebih baik setelah dia sangat dongkol dengan keadaan. 


"Bosan lagi," ucapnya. Akhirnya dia mengambil ponsel untuk membuka media sosial dan mencari tahu apa yang sedang terjadi di dunia hari ini. 


Dia terus menggulir instagramnya hingga dia menemukan sebuah foto yang membuatnya mengernyit kening. 


"Kok kaya kenal ya," ucapnya. 

__ADS_1


Dia berusaha memperbesar foto itu berharap bisa melihat dengan lebih jelas siapa yang ada di layar ponselnya. 


__ADS_2