Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Dengan Dia Lagi


__ADS_3

“Ra,” lirih Stefani saat dia mendengar semua yang dikatakan oleh Ara.


“Nyetir yang bener Fan. Gue gak mau mati muda. Masih mau bahagiain keluarga gue, gue masih mau rasain nikah, gue juga masih mau keliling dunia sama lo.” Bukannya menghibur, ucapan Ara justru malah membuat Stefani merinding dibuatnya.


“Iya ini juga bener kok.” Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara mereka sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


Saat turun di parkiran, Ara kembali berpapasan dengan Abi dan Alda. Sebenarnya dia sangat malasa bertemu dengan dua orang itu. Tapi karena telah terjadi, tak ada lagi yang bisa dia lakukan.


“Ra, ngapain di sini? Kamu sakit?” Abi menghampirinya dan bertanya pada kekasihnya.


Ara tersenyum simpul. “Enggak kok, aku cuma mau jenguk Rachel,” jawab Ara seolah mereka tak ada masalah dan melupakan perihal masalah tadi.


“Oh iya aku lupa kalau dia juga di sini. Kalau aku ikut boleh?” tanya Abi.


Alda memandang Abi dengan terkejut karena ini tak ada dalam rencana mereka sama sekali.


“Bi, aku mulai pusing. Bisa cepat gak?” Alda akhirnya beralasan. Stefani yang tahu jika Alda sedang bersandiwara hanya berdecih.


“Gak usah. Nanti aja lo jenguk dia sendiri. Yuk Ra!!” Bukan Ara yang menjawab melainkan Stefani.


Stefani yang kesal akhirnya menarik Ara untuk segera masuk meninggalkan Abi dan Alda di sana. 


“Ih gemes gue sama lo. Bisa banget tahan jadi orang baik,” ucap Stefani. Ara malah tersenyum senang karena dia disebut orang baik.


Sebenarnya Stefani juga merasa sedikit aneh dengan Ara. Belakangan ini Ara menjadi sangat penyabar dan baik. Lain halnya dengan dulu Ara selalu emosi dan selalu  bermasalah dengan mood-nya.


Mereka tiba di ruangan Stefani. Tentu saja di sana tak ada siapapun karena Ara sudah terlebih dahulu menghubungi Rachel.


“Kapan deh lo boleh pulang?” tanya Stefani. Rasanya Rachel sudah lama berada dalam proses pemulihan, tapi tetap aja lama sekali untuk keluar dari rumah sakit.


“Minggu besok deh kayanya. Dokernya ketat banget,” jawab Rachel.

__ADS_1


“Iya kan?” Stefani setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rachel.


“Tapi gak apa-apa sih, soalnya dia masih muda dan belum nikah,” kekeh Rachel. Dia sangat menyukai jika Dokter itu sedang mengeceknya.


“Gatel banget lo!” ucap Stefani.


“Ada kabar apa nih di kampus? Lama banget gue gak ke sana,” ucap Rachel.


“Gak ada yang istimewa. Yang beda cuma Ara yang sekarang sering banget disakiti,” ucap Stefani dengan dramatis.


“Dih mana ada. Gue selalu jadi orang paling bahagia di dunia ini.” Ara menyanggah apa yang diucapkan oleh Stefani.


Mereka terkekeh hanya dengan percakapan ringan seperti itu. “Kalau nanti lo udah keluar dari rumah sakit, katanya Stefani bakal traktir lo makanan enak.” Ara menjual nama temannya.


“Gue gak bilang gitu ya, gue bilang kita bukan cuma gue.” Stefani sangat tak menyetujui dengan apa yang dikatakan Ara.


Ternyata kebahagiaan mereka sangat sederhana. Hanya berkumpul bertiga dan membahas hal apapun itu membuat mereka sangat bahagia.


“Oh iya Chel, selama ini gue belum sempat minta maaf sama lo soal kejadian dulu dan kecelakaan lo,” lirih Ara. Saking bahagianya ketika Rachel bangun, dia sampai tak ingat untuk meminta maaf.


Suasana menjadi sangat dramatis saat ini. “Kenapa jadi melow kaya gini sih?” tanya Stefani yang juga ikut menangis.


“Ah gue hampir lupa sama lo. Maaf ya Fan udah sering bikin lo repot. Makasih juga karena selalu ada di keadaan apapun. Gue hutang banyak sama kalian.”


“Aaaa udah ah gak mau sedih-sedih gini.” Rachel menghentikan ucapan Ara agar tak melanjutkannya.


Gadis itu merentangkan tangannya sebagai tanda jika dia ingin memeluk Ara dan Stefani. Mereka yang peka dengan hal itu akhirnya mendekati Rachel dan memeluknya.


“Jangan marah-marah lagi ya. Gue harap kita bisa kaya gini terus,” ucap Rachel yang mendapatkan persetujuan dari Ara dan Stefani.


**** 

__ADS_1


Tangan Abi ditarik oleh Alda menuju mobilnya. Setelah pria itu tadi menawarkan diri untuk ikut menjenguk Rachel, tiba-tiba Alda beralasan pusing lalu menariknya menuju mobil.


“Kamu ini kenapa sih Al?” tanya Abi. Sebenarnya dia cukup lelah dengan tingkah laku gadis itu yang tak seperti biasanya.


“Kamu yang kenapa? Kenapa pentingin dia mulu?” tanya Alda dengan amarah.


“Dia pacar aku. Wajar kalau aku lebih pentingin dia,” jawab Abi dengan percaya diri,


“Tapi kamu udah janji sama aku buat selalu ada buat aku. Sekarang aku lagi sakit kamu malah mau nemenin dia,” ujar Alda.


“Ya udah jangan diperpanjang. Buktinya sekarang aja aku di sini sama kamu bukan sama pacar aku,” jawab Abi.


“Bi bisa gak sih stop panggil dia pacar kamu? Aku gak suka.”


Abi mengeryitkan keningnya saat mendengar hal itu. “Terus apa hubungannya sama kamu kalau kamu gak suka?”


“Kamu gak kaya dulu Bi. Dulu kamu selalu nurut sama apa yang aku bilang, sekarang kamu jadi pembangkang banget.” Abi yang dikatai seperti itu tentu saja tak enak dan tak terima.


“Itu juga yang sekarang aku sesalin Al. Kenapa dulu aku nurut banget sama kamu? Kenapa kayanya di mata kamu aku bukan seorang pacar, tapi cuma seorang budak. Setelah aku sama Ara, aku sadar kalau cinta yang sebenarnya tuh ya kaya gini, kaya yang dikasih Ara buat aku. Dia sama sekali gak pernah nuntut aku buat lakuin sesuatu Al. Akhirnya sejak sama dia aku bisa tahu apa itu cinta.” Abi menghentikan ucapannya yang panjang lebar.


“Aku pusing. Aku mau pulang,” ucap gadis itu sambil memegangi kepalanya.


Abi mendengus kesal melihat respon Alda. Ternyata Alda tak berubah, sedari dulu dia selalu ingin didengarkan tanpa mau mendengarkan.


Abi tak punya pilihan lain. Sekarang dia masuk ke mobilnya untuk mengantar Alda pulang. Sepanjang perjalanan mereka tak da yang berbicara satupun.


Alda anteng dengan pemandangan sepanjang jalan dan juga pikirannya. Abi masih dengan rasa kecewa yang dia rasakan pada gadis di sampingnya.


“Makasih,” ucap Alda setelah mereka tiba di rumah Alda. 


“Sama-sama.” Awalnya Abi tak ingin turun. Tapi ketika baru saja dia akan menginjak pedal gasnya, Alda tergeletak begitu saja.

__ADS_1


“Al!!” Dengan cepat Abi keluar dan melihat keadaan gadis itu.


“Pingsan lagi,” ucap Abi sebelum kemudian dia membawanya ke dalam rumah gadis itu.


__ADS_2