
Karin adalah si biang gosip yang selalu tahu apa yang sedang terjadi di kampus. Dia kerap sekali menjalin pertemanan dengan orang namun tak ada satupun yang berhasil.
Sekarang gadis itu mendapatkan satu mangsa baru untuk dijadikannya teman. Hanya sebatas teman untuk bergosip ria di kampus.
“Cari info apa?” tanya Karin seolah siap memberikan informasi apapun yang dia miliki.
“Lo yakin bisa jawab ini kalau gue nanya sama lo?” tanya Alda.
“Lo bisa tanya sama semua orang siapa gue. Apa yang gue gak tau? Semuanya gue tahu. Coba lo mau nanya apa?”Dengan sombong, Karin bertanya pada Alda.
“Presiden Mahasiswa sama pacarnya.” Alda mencoba mengetes gadis itu apakah dia benar-benar bisa dipercaya atau tidak.
“Ahh Abiseka Bagaskara sama Arabella Chalinda? Gue bener?” tanya Karin dengan percaya diri karena sebenarnya dia sudah sangat yakin dengan jawabannya.
“Lo bisa ceritain mereka? Semua yang lo tau.” Karin mengangguk, anggukan kepalanya mengerti. Gadis itu meneguk menuman yang telah dia beli sebelumnya. Kemudian mengambil ancang-ancang untuk mulai menceritakan kedua orang itu.
“Oke, Abiseka Bagaskara. Tahun ini dia diamanahi sebagai Presiden Mahasiswa. Dia menjabat udah sekitar tiga bulan menjelang empat. Cowok berkharisma tapi buaya. Banyak ceweknya. Dan Ara dia antisosial awalnya sebelum akhirnya dia bisa berinteraksi dengan mudah setelah dia masuk organisasi.”
“Antisosial?” tanya Alda. Dia belum pernah melihat gadis itu jadi dia tidak tahu.
“Sebenarnya lebih ke pemalu. Dia jarang interaksi. Tapi sekarang dia layaknya kita, pintar bersosialisasi dan jadian sama Abi sekitar satu setengah bulan yang lalu.”
Alda terkekeh mendengar penjelasan dari Karin. “Satu setengah bulan?” tanya Alda seolah meremehkan.
“Iya. Dan itupun kemarin baru ada masalah karena ternyata Abi selingkuh.” Mendengar hal itu membuat Alda semakin ingin tertawa dibuatnya.
“Emang kasian banget si Ara tuh. Sekarang belum ada info terbaru. Jadi, gimana lo udah percaya sama gue kalau gue punya semua info yang lo mau?” tanya Karin.
Alda mengangguk dan bertepuk tangan. Dia baru bisa mempercayai Karis setelah dia membuktikannya.
“Ada lagi?” tanya Karin mencoba menantang.
“Ada celah buat gue deketin Abi?” tanya Alda. Hal itu membuat Karin terlonjak sesaat karena menurutnya Alda sangat berani mau mendekati Abi di saat pria itu sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
“Kalau untuk yang satu ini gue rasa enggak. Tapi kenapa gak coba kita cari?” tanya Karin.
Alda tersenyum. Dia sangat suka dengan obsesi Karin yang sangat menggebu-gebu.
“Lo diuntungin dengan semua info yang lo kasih ke gue?” tanya Alda. Dia merasa sangat janggal dengan kehadiran Karin yang tiba-tiba dan itu menguntungkannya.
“Secara materi enggak. Tapi gue diuntungin secara kepuasan. Suka gosip,” bisiknya di akhir kalimat.
Alda mengangguk mengerti. Beruntung dia bertemu dengan Karin di saat dia memang sangat membutuhkannya.
“Oke kalau gitu gue pergi dulu. Kalau ada kabar yang kiranya bikin gue dekat sama Abi, kasih tau gue dan lo bakal dapat hadiah selain kepuasan hati lo.” Karin tentu saja semakin semangat jika diiming-iming seperti itu.
“Oke secepatnya.”
****
“Ra, ayo dong. Mau sampai kapan kamu diam gini sama aku? Aku udah jelasin semuanya. Aku juga gak bohong sama kamu.” Sudah sekitar sepuluh menit yang lalu Abi mendekati Ara yang sedang meminum minuman di taman kampus.
“Udah deh, aku lagi gak mau ngomong,” jawab Ara dengan kesal. Pikirannya masih seputar permasalahan kemarin dan sekarang Abi menambahnya sampai rasanya kepalanya mau pecah.
Cukup lama itu berlangsung hingga Ara merasa risih karena terus diperhatikan seperti itu.
“Aduh Ra. Bentar lagi bakal ada voting buat yang mau fashion show lo. Aku yakin kalau aku yang bakal dapat suara terbanyak dan ceweknya pasti kamu.” Abi berusaha menghibur Ara.
Ara masih bergeming tak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Abi. Lagipula jika dia memenangkan suara, dia tak akan mengikutinya. Sejak kapan dia berani mengikuti acara seperti itu.
“Ra, kamu yakin gak mau ngomong sama aku?” rengek Abi sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ara.
“Iya iya ini ngomong. Berisik banget,” ujar Ara akhirnya. Dia sudah tidak tahan dengan suara rengekan Abi yang sangat mengganggunya.
“Jadi gimana menurut kamu? Aku pantas gak buat ikut fashion show?” Ternyata Abi masih belum selesai juga membicarakan perihal Fashion Show itu.
“Kamu cocok, tapi aku enggak,” jawab Ara.
__ADS_1
“Kok gitu sih?” Abi merasa kecewa dengan jawaban Ara. Padahal dirinya sanga ingin dipasangkan dengan gadis itu.
“Aku gak mau dan aku gak suka,” jawab Ara.
“Meskipun itu demi aku?” Abi berusaha mencoba untuk mengubah pemikiran pacarnya.
“Meskipun itu demi kamu.” Ara mengulangi perkataan Abi, tapi bukan sebagai pertanyaan melainkan sebuah pernyataan.
Abi menghela nafas pasrah. Pacarnya itu sangat sulit dirayu dan juga dibujuk. “Ya udah kalau gitu aku juga gak mau deh.”
“Kok gitu sih? Terus siapa yang bakal wakilin fakultas kita?” Karena Ara memikirkan tak ada lagi yang akan mau mengikuti hal seperti itu selain Abi yang jiwa percaya dirinya besar.
“Ya gak mau kalau gak sama kamu.” Ara terkekeh mendengar itu. “Dih gombal,” ucapnya.
“Kok gombal? Aku gak lagi gombal. Itu beneran suara hati terdalam aku,” ucapnya berlebihan.
“Udah deh, aku geli dengarnya.”
“Gak geli karena aku yang ngomong. Kalau orang lain baru geli,” jawab Abi.
“Justru karena kamu makanya aku geli.”
“Masa sih? Geli atau baper?” goda Abi sambil mencolek hidung Ara dengan gemas.
“Ihh apaan sih? Udah deh gak usah cari pembelaan. Emang kamu tuh gak pantes ngegombal. Udah main bersih aja,” ucap Ara. Main bersih yang dia maksud adalah dia tak perlu kata-kata melainkan sebuah tindakan pasti yang akan membuat Ara nyaman.
Dengan begitu Ara akan semakin merasa salah tingkah dan tentu saja nyaman bersama Abi.
“Oke kalau itu mau kamu.”
Akhirnya setelah semua usaha yang Abi lakukan, Ara kembali berbicara dan bahkan tersenyum padanya.
Dia harap gadis itu tak marah lagi atau salah paham dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, pembicaraan panjang mereka sedari tadi didengar oleh seseorang. Seseorang yang sangat pintar dalam mencari informasi. Bahkan hal seperti ini juga bisa dia jadikan sebagai peluang gosip.
“Dapat. Apa gue bilang. Gue ini emang jagonya, gak sampai satu hari, udah ada peluang buat Alda dekat sama Abi. Oke tinggal kita tunggu tanggal mainnya.” Setelah mengatakan itu dia segera pergi dari sana.