Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Shaka Merajuk


__ADS_3

Memaafkan adalah hal mudah bagi Ara, apalagi pada orang yang sangat dia sayangi. Hanya satu yang tak bisa Ara maafkan, yaitu pengkhianatan. 


Untuk saat ini, Abi tak melakukannya. Pria itu hanya tak mengabarinya saja. 


Ditengah hubungan Ara dengan Abi yang saat ini sedang harmonis, justru tidak dengan Stefani. 


Saat ini gadis itu seperti sedang disidang oleh dua pria yang sedang dekat dengannya. 


"Kamu ngapain ke sini??" tanya Stefani sambil menoleh ke sisi kirinya. 


"Mau main, biasanya kan juga gitu," jawab Kris seolah sedang mengompori Shaka. 


Ya, dua pria yang sedang dekat dengan Stefani itu kini ada di rumah Stefani. Padahal Stefani tak mengundang mereka berdua. 


"Sorry, tapi aku lagi gak mau main. Capek banget," tolak Stefani halus. 


"Gak apa-apa. Kita gak main ke luar kok. Main di sini aja," jawab Kris. Memang itu tujuan awalnya. 


Shaka yang melihat percakapan dua orang itu tentu saja merasa panas karena dia merasa tak dianggap. 


"Jadi kan?" Karena tak ingin menunggu terlalu lama, akhirnya Shaka memulai pembicaraannya. 


Rasa bingung Stefani semakin bertambah saat Shaka bertanya demikian. 


"Jadi apanya?" tanyanya bingung dengan kening yang mengernyit. 


Dia berusaha mengingat, apakah dia memiliki janji dengan Shaka atau tidak.


"Kan lo bilang mau jalan-jalan," jawab Shaka. 


"Kapan gue - " 


"Ehh kok pada ngumpul sih?? Tumben." Bunda Stefani baru saja datang dengan belanjaan dikedua tangannya. 


"Bunda, udah pulang?" tanya Shaka sambil menghampiri wanita paruh baya itu. 


Wanita yang mendapatkan pertayaan itu sontak mengangguk masih dengan senyuman di wajahnya. 


"Oh iya Bun, Shaka mau izin bawa Fani jalan-jalan. Katanya dia bosen di rumah, jadi dia ngajak Shaka jalan," ucap Shaka. 


Stefani yang mendengar hal itu membelalakan matanya. Demi Tuhan, dia tak pernah mengatakan itu pada Shaka. 


"Boleh dong. Hati-hati ya di jalannya." Dengan senang hati Bunda Stefani mengizinkannya. 


"Loh, terus ini Kris gimana?" Bundanya masih bingung karena ada dua pria yang berada di sana. 


"Dia udah mau pulang kok." Bukan Stefani yang menjawab, melainkan Shaka. Dia sengaja melakuka  itu agar Kris tak mengganggunya dengan Stefani. 


"Udah mau pulang aja. Padahal Bunda bawa buah-buahan loh," ucapnya. 

__ADS_1


Kris tak bisa menyangkalnya karena Shaka sudah terlanjur mengatakan jika dirinya akan pulang. 


"Gak apa-apa, Bunda. Lain kali Kris main lagi ke sini ya." Akhirnya dengan berat hati, Kris berpamitan pada Bunda, Stefani dan terakhir pada Shaka. 


Tak lupa dia juga melayangkan tatapan tajamnya pada Shaka dan dibalas dengan senyuman licik dari Shaka.


"Ya udah kalau kalian mau berangkat. Bunda juga mau masak dulu," ucap Bundanya. 


Stefani mengangguk canggung. Dengan terpaksa, gadia itu izin untuk mengganti bajunya sebentar pada Shaka. 


Mereka sudah siap berangkat dan sekarang ada di depan rumah Stefani. 


"Nih pakai helm," ucap Shaka sambil menyerahkan helm pada Stefani. 


Stefani mengambilnya dengan kasar. Dia masih marah pada pria itu. 


"Biasa aja dong. Kenapa sih?" tanya Shaka seperti tak merasa bersalah sama sekali. 


"Masih nany??!!" bentak Stefani. 


"Udah, ayo jalan!!!" lanjutnya. Karena terlanjur kesal, akhirnya Stefani segera naik ke motor Shaka dan memukul bahu pria itu. 


"Aww kasar banget lo jadi cewek." Stefani tak menggubris, dia terdiam seribu bahasa. 


Bahkan sekarang perjalanan mereka sudah cukup jauh, tapi Stefani tak kunjung memulai pembicaraan. 


"Mau apa lo?" tanya Stefani agak takut karena Shaka berhenti di tempat seperti ini. 


Shaka menoleh ke belakang dan agak menengadah karena posisi Stefani agak lebih tinggi darinya. 


"Kenapa lo diam aja?" tanya Shaka. 


Stefani tak menjawab. Gadis itu malah melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan pandangannya dari Shaka. 


"Kalau ditanya tuh jawab," tekan Shaka saat dia sama sekali tak mendapatkan jawaban. 


"Ngapain lo bohong sama Bunda gue kalau kita mau jalan?" Akhirnya Stefani mengeluarkan unek-uneknya. 


Shaka mengehela nafas. Sebenarnya dia sudah yakin dengan alasan dibalik diamnya Stefani. Tapi dia hanya ingin memastikan. 


"Gue cuma mau jalan sama lo dan gue minta izin sama nyokap lo. Emang salah?" jawab Shaka. 


"Lo yang mau. Emang lo yakin kalau gue mau jalan sama lo?" tanya Stefani. 


Tanpa dia sadari, ucapannya barusan cukup membuat ngilu hati Shaka. 


Pria itu tak lagi memperpanjangnya. Dia kembali melajukan motornya.


Tak lama, akhirnya mereka tiba di rumah Stefani. Ya, Shaka memutuskan untuk kembali setelah mendengar ucapan Stefani. Dia cukup sadar jika Stefani tak ingin jalan dengannya setelah apa yang dikatakan gadis itu. 

__ADS_1


"Kok balik?" tanya Stefani. Dia masih belum turun. 


"Turun," titah Shaka. 


Tanpa menunggu diperintah untuk kedua kalinya, Stefani akhirnya memilih turun. Sebenarnya dia sudah merasa hawa tidak enak yang berasal dari Shaka. 


"Thank's buat waktunya. Dan sorry kalau gue bikin lo gak nyaman. Gue pulang." Tanpa menunggu Stefani membalas ucapannya, Shaka segera pergi dari sana. 


Stefani melihat kepergian pria itu hingga Shaka sama sekali tak terlihat.


"Apa gue ngomong salah ya?" ucapnya. Ada sedikit rasa sesal di hatinya saat dia mengingat apa yang dia katakan tadi. 


Sebenarnya, bukan dia tak ingin. Hanya saja, Shaka tak merencanakan dan memberitahunya dari awal jika mereka akan pergi jalan. 


"Fan!!" Suara Bundanya terdengar saat Stefani masih betah dengan lamunannya. 


"Iya Bunda." Stefani menoleh saat dipanggil Bundanya dan kemudian dia berlalu menuju rumahnya. 


"Kok cepat sih??" tanya Bundanya heran. Perasaan putrinya itu baru berangkat beberapa saat lalu. 


"Iya Bun. Tadi tiba-tiba Shaka ada urusan. Jadi buru-buru pulang," dustanya. 


"Ohh gitu. Ya udah, mau makan gak? Bunda udah masak," tawarnya. 


"Belum lapar Bun. Nanti aja bareng sama yang lain. Fani mau ke kamar dulu ya," pamitnya yang diangguki oleh Bundanya. 


Stefani masuk ke kamarnya, lebih tepatnya dia diam di balkon kamarnya. 


"Aduh nih mulut kenapa gak bisa ramah dikit sih?" ucapnya sambil memukul pelan bibirnya. 


"Gimana ya caranya minta maaf?" tanyanya lagi. 


Sebenarnya saat ini tak ada yang bisa dia beri pertanyaan selain dirinya sendiri. Namun tiba-tiba otaknya berputar dan mengingat satu hal. 


"Pasti ada jawabannya." Dia memuka ponselnya dan menekan mesin pencarian di ponselnya. 


"Bagaimana cara meminta maaf pada pria," ejanya sambil memasukan kata kunci itu berharap dia mendapatkan jawaban dari sana. 


Dia sudah sering meminta maaf pada orang, tapi entah kenapa sekarang dia malah bingung sendiri. 


"Yap ada!!" ujarnya bahagia. 


Dia membaca satu persatu hingga halaman akhir dan setelah itu senyumnya menghilang. 


"Masa gini sih, alay banget kayanya," ucapnya dengan wajah kecewa. 


"Ahh gatau!!" Dia menelungkupkan wajahnya di kedua tangan yang dia simpan di pembatas balkon. 


"Aaa Bunda, Fani mesti gimana?" lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2