
Gadis itu berjalan cukup jauh dari rumah kekasihnya. Bukannya tak punya uang untuk menaiki taksi atau angkutan lainnya, hanya saja dia ingin memiliki banyak waktu untuk berpikir.
“Ke mana dia pergi? Kenapa Ibu bilang dia pergi sama aku?” Entah sudah berapa kali dia melontarkan kalimat tanya itu.
Tak ada orang yang akan menjawab pertanyaannya itu karena memang hanya ada dirinya sendiri di sana.
Ara masih berjalan dengan berbagai pertanyaan di benaknya. Kemudian dia memilih untuk mengeluarkan ponselnya hendak menelpon orang yang bersangkutan. Satu, dua hingga tiga kali dia mencoba menelpon Abi, tapi tetap saja tak ada jawaban dari sana. Pria itu sama sekali tak mengangkatnya.
Ara mengerti jika Abi marah padanya karena dia lebih memilik merawat Dion daripada bertemu dengan Abi. Tapi, bisakah pria itu berpikir kembali? Dia pikir, untuk apa Ara melakukan semua itu jika bukan demi Abi?
“Sudahlah, nanti dia juga telpon kalau perlu.” Ara memilih untuk mengabaikan Abi saja. Terus memikirkan pria itu hanya akan menambah pusing kepalanya.
“Ra!!” Seseorang dalam mobil berteriak memanggil nama Ara. Sudah lama rasanya mereka tidak bermain bersama setelah kejadian itu.
Ara menoleh guna melihat siapa yang memanggilnya. Setelah Ara melihat siapa orang itu, tak ada senyum sama sekali di wajahnya. Dia hanya memandang gadis itu dengan datar.
“Mau ke mana?” Orang itu kembali bertanya saat dirasa tak ada jawaban dari Ara.
“Pulang,” jawabnya singkat.
Rachel, orang yang selama ini sangat Ara benci karena berani menjelek-jelekan Abi di depannya.
Rachel turun dari mobilnya. Dia tak menyetir sendiri, gadis itu ditemani oleh seorang sopir yang selalu menemaninya ke manapun.
“Ya udah, yuk bareng,” ajak Rachel. Dia sangat ingin memperbaiki hubungannya dengan Ara. Karena bagaimanapun, mereka sangat dekat sebelum akhirnya mereka menjadi sejauh sekarang.
“Gak usah. Lo duluan aja,” tolak Ara. Gadis itu terlanjur kesal pada Rachel hingga melihat wajahnya saja dia sangat muak.
“Ra, gue mohon. Oke gue gak akan ngomongin Abi lagi, tapi gue mau kita kaya dulu. Gue gak mau kita kaya orang yang gak kenal gini,” mohon Rachel.
“Dari awal lo juga yang mulai ini. Beberapa kali gue juga udah kasih lo kesempatan. Tapi apa? Lo terus aja jelekin Abi di depan gue.” Ara murka. Dia tak peduli bahkan jika mereka saat ini menjadi tontonan banyak orang.
__ADS_1
“Gue bilang gitu karena gue sayang sama lo,” ucap Rachel. Tanpa Rachel sadari, ucapannya barusan itu menjadi Ara semakin muak padanya karena secara tak langsung, Rachel kembali menjelekan Abi.
“Gak ada yang perlu kita bicarain lagi. Dan gue harap kita gak akan ketemu lagi.” Setelah mengatakan itu Ara melenggang pergi dari sana menyebrangi jalan guna menjauhi Rachel.
Rachel melihat sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Matanya bergantian menatap mobil itu dan juga Ara.
“Ra!!” teriaknya. Ara sama sekali tak menggubris gadis itu karena dia tak ingin lagi mendengar ucapan Rachel.
Rachel yang tak mendapatkan respon dari Ara akhirnya memutuskan untuk berlari secepat mungkin menghampiri gadis itu.
“Ra!!” Untuk yang kedua kalinya dia memanggil Ara dan masih mendapatkan hasil yang sama.
Sebentar lagi dia berhasil menjangkau tubuh Ara, namun perhitungannya akan meleset jika dia tak segeraa mencapai temannya itu.
Akhirnya Rachel memutuskan untuk mendorong Ara dengan kencang agar gadis itu terhindar dari terjangan mobil yang melaju dengan kuat.
Brak
Teriakan terdengar di mana-mana. Namun, berbeda dengan seorang gadis yang pada akhirnya hanya bisa diam membisu dengan tubuh kaku.
“Telpon ambulans!!” teriak seseorang yang entah siapa.
Gadis yang masih terkejut itu hanya memandang temannya yang sudah bersimbah darah.
“Nak, kamu tidak apa-apa?” Seorang wanita paruh baya mendakati dan bertanya padanya.
Gadis itu sama sekali tak menjawab karena masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.
“Telpon keluarganya,” ucap salah satu orang yang berada dekat dengan wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu kemudian mengambil ponsel di tangan gadis yang masih terdiam dengan keterkejutannya.
__ADS_1
Karena tak bisa menemukan nama kontak yang ada di ponsel itu, akhirnya dia memutuskan orang yang terakhir kali dihubungi di ponselnya dengan nama Abiseka Bagaskara.
Dirasa tak ada jawaban dari seberang sana, wanita itu mencoba kontak teratas lainnya yang dihubungi gadis itu.
“Halo, Ra?” tanya orang di seberang sana.
“Ahh akhirnya ada yang jawab. Mas, maaf saya pakai ponsel teman Mas. Dia baru saja mengalami kecelakaan di seberang mall xxx. Saya mencoba menghubungi orang yang terakhir ada dalam panggilannya.” Wanita paruh baya itu menjelaskan dengan detail.
“A-ah iya. Makasih Bu. Saya segera ke sana sekarang.”
Mereka yang ada di sana membantu Ara berdiri untuk menuju tempat yang lebih aman. Ya, orang yang bersimbah darah bukanlah Ara melainkan Rachel.
“Chel,” lirihnya ketika dia mulai sadar dari apa yang terjadi. Ara berdiri mencoba untuk menembus kerumunan yang ada di depannya.
“Permisi, dia teman saya,” ucap Ara yang sama sekali tak dipedulikan oleh orang-orang di sana. Mereka sepertinya benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.
Sementara itu Ambulans datang dan membawa Rachel pergi dari sana tanpa menunggu Ara yang ingin pergi.
“Ra!!” teriak seseorang yang membuat Ara menolehkan pandangannya pada sumber suara.
“Yon!!” Ara juga berteriak dan segera menghampiri orang itu. Akhirnya dia menemukan orang yang bisa dia mintai pertolongan.
“Lo gak apa-apa?” Dion memutar badan Ara melihat kondisi gadis itu. Saat dia mendapatkan telpon yang mengatakan jika Ara mengalami kecelakaan, dia segera pergi ke tempat yang dikatakan dalam telpon tadi saking khawatirnya.
Ara menggeleng sambil menunjuk mobil Ambulans yang telah pergi dari sana. “Antar gue ke rumah sakit. Temen gue.” Tangis Ara pecah saat dia sama sekali tak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Dion.
“Ra, tenang. Ngomong pelan-pelan, oke.” Dion memegang kedua bahu Ara mencoba menenangkan gadis itu.
Ara menarik nafasnya mencoba mengikuti instruksi dari Dion. “Rachel, dia nolongin gue dan sekarang dia dibawa ke rumah sakit,” ucapnya. Akhirnya Dion bisa mengerti dengan apa yang dikatakan Ara.
“Oke, kita ke rumah sakit sekarang.” Karena tak ingin terjadi apapun lagi pada Ara, Dion segera menggandeng tangan gadis itu menuju mobilnya.
__ADS_1
Dia membawa Ara ke rumah sakit seperti yang diinginkan gadis itu.