Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Ngambek


__ADS_3

Ara masih terbaring di dalam ruangan dengan pelipis yang dibalut perban. 


"Lo udah kasih tahu Bundanya?" tanya Shaka. Bagaimanapun Bunda Ara harus tahu apa yang telah terjadi pada putrinya. 


"Gue gak kasih tau dia." Jawab Abi yang langsung mendapatkan toyoran di kepalanya. 


"Lo kenapa sih?" tanya Abi. Mereka berbicara dengan sedikit berbisik karena takut mengganggu Ara. 


"Takut kan lo dimarahi Bundanya?" ucap Shaka. 


"E-enggak," jawab Abi dengan tergagap. 


"Gue udah minta Bunda ke sini." Ucapan yang dilontarkan Stefani berhasil membuat Abi membelalakan matanya. 


"Kenapa lo kasih tau?" lirih Abi. Dia benar-benar takut akan dimarahi Bunda Ara. 


"Eengghh." Tak lama, Ara melenguh dan akhirnya membuka matanya. 


"Di mana?" Pertanyaan pertama yang selalu ditanyakan oleh orang yang baru sadarkan diri. 


"Ra, kamu ingat aku?" Abi mendekatkan wajahnya pada wajah Ara. Dia sama sekali tak ada niat untuk menjawab pertanyaan Ara itu. 


"Kamu ini kenapa sih? Ya ingat lah," jawab Ara sambil menjauhkan tubuh pria itu darinya dan berusaha mendudukkan dirinya. 


"Hati-hati." Abi membantu Ara untuk bengun. 


"Kamu ingat kejadian tadi?" tanya Stefani. 


Ara terlihat berpikir untuk sejenak sebelum kemudian dia menganggukkan kepalanya dan memandang Abi. 


"Maaf," cicit Abi saat dipandang Ara dengan pandangan yang tajam. 


"Lagian kamu tuh kenapa sih main serang aja?" ucap Ara kesal. 


"Aku cemburu dia dekat-dekat sama kamu," jawab Abi. 


Ara terdiam dan hanya menghela nafasnya. 


"Gak ada yang kabarin Bunda gue kan?" Ara sangat berharap teman-temannya tak melakukan itu karena dia takut Bundanya akan khawatir. 


"S-sorry, tapi Bunda lo udah ada di depan Rumah Sakit," cicit Stefani dengan takut. 


Niatnya baik hanya memberitahu Bunda Ara karena memang berhak. 


"Astaga." Ara menepuk jidatnya. Dia tak habis pikir dengan perbuatan Stefani. 


"Ra, sayang. Kamu gak apa-apa, kan?" Benar saja, Bunda Ara datang dengan raut wajah yang khawatir. 


Sementara yang lain menoleh kr arah Bunda Ara yang baru saja masuk ke ruangan, Abi malah menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam. 


Sekarang dia hanya bisa berdo'a semoga Bunda Ara tak memarahinya karena telah menyakiti putrinya seperti itu. 


"Gak apa-apa, Bun. Mereka aja yang berlebihan." Ara menjawab dengan senyuman yang tersemat di wajahnya. 

__ADS_1


Bunda Ara akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah dia mendengar dari Ara langsung jika gadis itu baik-baik saja. 


"Kok bisa luka gitu sih?" tanya Bunda Ara sambil mengelus rambut Ara. 


"Ma-maaf Bun - "


"Tadi Ara kesandung Bun. Jadi gini deh." Ara menyela ucapan Abi. 


Abi memandang Ara dengan penuh tanda tanya. 


"Kenapa Bi? Mau bilang apa?" tanya Bundanya penasaran dengan apa yang akan dikatakan Abi selanjutnya. 


"Itu Abi mau bilang maaf karena gak bisa jaga Ara." Bukan Abi yang menjawab tapi Ara. 


"A-ah i-iya Bun." Abi menimpali deng ragu. 


"Ohh iya gak apa-apa. Lagian emang Ara aja yang suka ceroboh," jawab Bundanya. 


Sementara Abi hanya bisa tersenyum dengan canggung. Shaka yang melihat Abi kebingungan justru malah terkekeh. 


"Tapi kata Dokter gimana?" Bunda kembali bertanya. 


"Gak apa-apa Bunda. Tadi Dokternya bilang ini cuma luka luar," jawab Abi. 


"Syukurlah. Mau pulang atau ke kampus lagi?" tanya sang Bunda. 


"Ke kampus aja Bun. Lagian udah gak apa-apa kok." 


"Ya udah. Bunda titip Ara sama kalian ya. Kalau nakal, marahin aja. Bunda balik ke tempat kerja dulu." Ya, dia tadi sedang bekerja dan mendapatkan kabar jika Ara masuk rumah sakit. 


"Yuk mau balik sekarang?" tanya Shaka. 


"Kamu udah gak pusing, kan?" tanya Abi masih khawatir dengan keadaan Ara. 


"Enggak. Yuk sekarang aja." Setelah mereka mengurus administrasi dan menebus obat di bagian apotek, mereka memutuskan kembali ke kampus. 


"Bentar," ucap Shaka. 


"Kayanya kita lupain sesuatu deh," sambung Shaka yang membuat semuanya termenung berpikir apa yang dimaksud oleh Shaka. 


"Dion. Dia masih di sini dan gak ada yang jagain," ujarnya. 


Benar. Kenapa mereka melupakan korban yang satu itu. 


"Ya udah kalian berdua duluan deh. Gue sama Stefani yang bakal nengok dia." Akhirnya Shaka memutuskannya. 


"Kok gue?" protes Stefani tak terima dengan keputusan Shaka. 


"Udah, ayo!!" Shaka menarik tangan Stefani menuju ruangan Dion. 


"Yuk!!" Abi menggenggam tangan Ara dan berjalan menuju mobilnya. 


Tiba di mobil, Ara memandang Abi dengan tatapan membunuhnya yang membuat Abi seketika ciut. 

__ADS_1


"Ada masalah apa sih kamu itu?" Ara kembali menanyakan hal yang sama. 


"Maaf. Aku gak suka liat dia deketin kamu," cicit Abi. 


"Bi. Dia gak deketin aku. Dia cuma bantu aku ngambil sesuatu di rambut aku," jawab Ara tak habis pikir pada perbuatan Abi. 


"Ya maaf, aku kan gak tau." Abi berusaha mencari pembelaan. 


"Makanya kalau gak tau itu tanya dulu. Jangan main serang gitu aja." Ara memarahi Abi. 


Bukan berarti dia membela Dion, tapi jika kejadian itu terulang lagi, itu juga akan merugikan Abi. 


"Maaf." Ara menghela nafas. 


"Udah lah. Lagian udah terjadi."


"Maaf. Jangan marah lagi." Abi menggoyangkan lengan Ara berusaha membujuk gadis itu agar tak marah padanya. 


"Diem. Ayo jalan." Akhirnya Abi hanya bisa menuruti perkataan Ara. Dia tak ingin Ara semakin marah padanya. 


Sepanjang perjalanan menuju kampus, Ara sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Dia hanya terus memperhatikan jalan yang ada di hadapannya. 


"Aku bantu." Mereka tiba di parkiran kampus dan Abi hendak membantu Ara berjalan takut gadis itu merasa pusing. 


"Gak usah. Aku bisa sendiri," jawab Ara. 


"Ra jangan gini dong. Aku pacar kamu. Masa mau kamu cuekin terus. Aku udah minta maaf loh." Abi kembali membujuk gadis itu. 


"Harusnya kamu minta maaf sama Dion bukan sama aku. Kan dia yang kamu pukul," jawab Ara. 


"Kok kamu jadi belain dia sih? Aku kaya gini kan juga karena kamu." 


Ara memandang Abi tak percaya. "Jadi sekarang kamu nyalahin aku?" tanya Ara agak kesal. 


"Gak gitu." Abi sudah bingung. Apa lagi yang harus dia lakukan agar Ara tak marah padanya. 


"Aku harus gimana biar kamu gak marah lagi sama aku?" tanya Abi pada akhirnya. 


"Minta maaf sama Dion." Jawaban yang sangat simpel dari Ara. 


Abi terdiam untuk sesaat. Keinginan Ara cukup berat dia lakukan. 


"Oke. Aku bakal minta maaf sama dia. Nanti kalau dia udah balik," jawab Abi pada akhirnya. 


"Udah dong marahnya."


"Beliin aku es krim," ucap Ara. 


Abi melongo. Kenapa gadis itu tak langsung mengatakannya dari tadi. Dia lebih rela membelikan Ara segudang es krim daripada harus meminta maaf pada Dion. 


"Oke. Aku antar kamu ke sekretariat dulu. Kamu tunggu di sana." Ara mengangguk dan tersenyum. 


"Tunggu di sini oke. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku." Ara mengangguk. 

__ADS_1


Abi pergi dari sana untuk membeli apa yang Ara inginkan. Kebetulan di kantin mereka tak ada es krim, jadi Abi harus pergi ke minimarket seberang kampus untuk membelinya.


__ADS_2