Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Rapat


__ADS_3

Ara sedang membereskan laptop dan buku-bukunya. Saat ini dia sendirian di kelas. Seusai kelas tadi, dia membereskan sebuah proposal yang diminta Abi jadi sekarang hanya sisa dirinya sendiri di kelas.


“Ahh, akhirnya kelar. Enaknya makan apa ya?” tanyanya pada dirinya sendiri. 


Niat awalnya dia akan main bersama Stefani, namun sayang gadis itu membatalkan rencananya karena ada kabar jika Ibunya sakit.


Dengan santai dia berjalan keluar dari kelas dengan buku di tangannya.


“Astaga!!” teriaknya saat dia melewati pintu masuk. Ada seseorang yang berdiri dengan tenang di sana dengan rambut yang tergerai.


Orang itu hanya tersenyum santai seolah tak terjadi kesalahan. “Ngapain sih!! Ngagetin tau gak!” teriaknya lagi saking kesalnya.


“Sorry. Gue nunggu lo keluar. Tadinya mau masuk, tapi takut ganggu,” jawab orang itu.


“Mau apa lagi lo?” Ara agak sedikit kesal dengan orang itu. Bukan hanya karena dia terkejut, tetapi juga karena kejadian malam itu, di mana gadis yang ada di hadapannya itu datang ke rumahnya dan menjelek-jelekan Abi.


Ya orang itu adalah Rachel. Sekarang gadis itu datang lagi padanya. “Ra, percaya sama gue ya.” Raut wajah Rachel berubah sendu.


Dia sangat berharap jika kali ini Ara akan percaya padanya dan menuruti kata-katanya.


“Chel, udah gue bilang berapa kali kalau gue gak akan percaya ucapan orang. Gue cuma bakal percaya kalau gue liat sendiri. Dan selama ini, dia bersikap baik sama gue dan gak ada yang aneh sama dia.” Ara berusaha kembali menjelaskan.


“Eh lagi apa nih, kok tumben cuma berdua?” Seseorang lainnya datang ke sana mendekati Rachel dan Ara.


Senyum Ara sedikit mengembang dan itu tak luput dari perhatian Rachel. Sementara setelah memperhatikan raut wajah temannya itu, Rachel saat ini memandang nyalang pada orang yang baru saja datang.


Orang itu adalah sosok yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Tanpa Ara sadari, Abi memandang tak suka pada Rachel.


“Bukan apa-apa. Dia lagi nanya materi,” bohong Ara.


“Gue duluan, Ra. Nanti kita bicara lagi.” Tak ingin memperpanjang masalah itu apalagi di sana ada Abi, akhirnya Ara mengangguk dan membiarkan Rachel pergi dari sana.

__ADS_1


Setelah kepergian gadis itu, Abi menjadi penasaran. Kira-kira apa yang dibicarakan Rachel pada Ara. Apakah gadis itu mengatakan tentang dia pada Ara?


“Dia ngomong apa aja?” tanya Abi. Kali ini nada bicaranya sedikit kaku. Mungkin karena dia khawatir.


“Bukan apa-apa. Gue kan udah bilang kalau dia cuma nanya materi doang. Emang kenapa sih? Kok kaya penasaran banget?” tanya Ara penasaran.


“Enggak kok. Lagian wajah dia tadi kayanya serius sama sedih gitu. Makanya gue nanya. Gini-gini gue masih ketuanya dia,” sombongnya.


Ara mengerlingkan matanya. Dia sudah tidak aneh dengan kenarsisan ketuanya itu dan dia tak akan menanggapinya.


Ara berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Abi. “Loh, kok ninggalin sih?” tanya Abi sedikit menaikan nada bicaranya karena jarak Ara yang sudah agak jauh.


Dengan cepat, Abi berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Ara. “Bareng lah. Mau ke sekretariat, kan?” 


Sebenarnya tanpa pria itu bertanya, dia juga sudah yakin jika Ara akan ke sana karena pagi tadi dia juga yang meminta sekretaris untuk mengumpulkan anak-anak BEM.


Tiba di tempat tujuan mereka, ternyata di sana sudah sangat ramai. Hanya Abi, Ara dan Shaka yang belum datang.


“Oke, karena kayanya semuanya udah ada, kita mulai aja ya,” ucap Abi setelah dia duduk dengan nyaman.


Semuanya mengangguk, namun hal itu terganggu ketika ada salah satu orang yang mengacungkan tangannya.


“Shaka kayanya belum datang,” ucap orang itu.


Abi mengangguk. Sebenarnya dia tahu kebiasaan Shaka dan jika mereka tetap menunggu pria itu, maka sepertinya rapat tak akan dimulai sampai dua jam ke depan.


“Buat dia, kita tunggu sambil jalan aja ya. Soalnya ini kan juga udah sore, kasian yang rumahnya jauh kalau kita pulang malam.”


Akhirnya orang itu mengangguk dan tentu saja ucapan Abi disetujui oleh semuanya.


“Program kerja yang akan kita garap selanjutnya adalah Pekan Raya Kampus. Di sini rencananya kita mau adain turnamen di berbagai bidang olahraga tapi tentu saja dibatasi ya. Terus buat menambah daya tarik, gimana kalau kita adain stand makanan. Maksudnya selain setiap fakultas nantinya ikut serta dalam turnamen, teman-teman yang lainnya bisa jual makanan ataupun kerajinan, bentuknya kaya pameran. Gimana?” 

__ADS_1


Abi menjelaskan apa yang telah dia bahas dengan perwakilan dari setiap fakultas kemarin. Dan sekarang dia menyampaikannya kepa teman-temannya untuk meminta persetujuan.


“Izin kasih saran.” Rangga mengangkat tangannya sebelum dia melanjutkan ucapannya.


“Boleh.”


“Menurut gue itu kan selera orang pasti beda-beda ya. Gimana kalau sebagai penarik minat lainnya, kita adain juga live music? Gak usah undang bintang tamu yang berlebihan, kita bisa manfaatin salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di kampus kita. Anak-anak band kita kan keren-keren tuh.” Rangga menambahkan.


“Boleh tuh. Kayanya dengan adanya music, acaranya juga pasti tambah meriah,” tambah yang lain.


“Oke, buat saran-sarannya kita tampung dulu ya. Tapi buat antisipasi, kalau misalnya band itu jadi, berarti kita perlu anggaran yang lebih besar. Sedangkan anggaran kita tahun ini udah dijatah per-kegiatan.”


Santi, sang koordinator bidang mengangkat tangannya. “Gimana kalau bikin proposal sponsorship? Kayanya itu bisa bantu keuangan kita. Atau seenggaknya bisa bantu hal lain sampai kita gak harus keluarin banyak anggaran.”


Abi mengangguk anggukan kepalanya. “Thank’s sarannya. Yang lain?” 


Sisanya hanya diam pertanda jika mereka menyetujui apa yang telah dikatakan Santi.


“Kalau gak ada lagi, kita tutup sampai di sini aja?” Abi memastikan jika tak ada masukan lain dari anggotanya.


“Sifa, boleh bacain notulennya dulu sebelum kita tutup?” ucap Abi pada sekretarisnya dan hal itu diangguki oleh Sifa.


“Oke, hasil rapat sore ini yang pertama program kerja kita selanjutnya ada Pekan Raya Kampus yang didalamnya meliputi turnamen olahraga dan pameran. Yang selanjutnya, disarankan adanya hiburan band, jika hal itu disetujui oleh setiap fakultas, maka kita harus mempersiapkan proposal sponsorship.”


Sifa mengakhiri ucapannya. “Rapat kali ini cukup sampai di sini aja. Makasih buat kalian yang udah luangin waktunya. Karena ini acara besar, kemungkinan intensitas rapat kita akan semakin sering ya.”


“Siap ketua!”


“Siap laksanakan!!”


Yang lainnya menjawab dengan semangat. “Hai guys!!” Seseorang datang dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.

__ADS_1


Ya, dia adalah Shaka. “Udah pulang sana lo!!” sentak Abi karena Shaka baru datang setelah mereka menyelesaikan rapatnya.


__ADS_2