Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Pacar


__ADS_3

Ibunya Shaka benar-benar pergi dari sana dan menyisakan Shaka dan Stefani saja. Gadis itu masih menunduk karena takut dengan Shaka.


Jika biasanya dirinya yang akan marah-marah pada Shaka, maka sekarang dia tak berani setelah melihat amarah Shaka yang seperti tadi.


“Lo diapain aja sama dia?” tanya Shaka menusuk. Dia juga sambil menuangkan antiseptik pada kapas sebelum kemudian mengoleskannya pada luka Stefani.


“Asshh,” ringis Stefani.


“Jawab gue,” paksa Shaka. 


“Gak ngapa-ngapain. Dia cuma bilang kalau kalian gak boleh pacaran,” jawabnya.


Shaka menatap tajam Stefani. “Jawab yang benar. Kalau dia gak ngapa-ngapain terus ini apa?” Dengan sengaja pria itu menekan luka Stefani agar gadis itu kesakitan.


“Awh, sakit,” rengeknya. 


“Masih mau bilang kalau dia gak ngapa-ngapain lo?” tanya Shaka.


Stefani menunduk dalam. “Dia cuma ngomong gitu, jambak sama tampar gue aja,” jawabnya dengan pelan.


Shaka menjatuhkan tangannya. Gadis di hadapannya ini masih bisa bilang cuma dengan apa yang dilakukan oleh Gaby padanya?


“Cuma lo bilang?” tanya Shaka.


Stefani menengadahkan kepalanya agar bisa menatap Shaka. “Ya udah sih, lagian gue juga gak apa-apa kok,” ucapnya.


Shaka hanya bisa menghela nafas dalam. “Sorry, harusnya gue gak bawa lo ke sana,” ucap Shaka.


“Lo gak perlu minta maaf. Dari awal juga gue yang mau ikut sama lo.”


“Udah beberapa kali dia lakuin ini sama orang. Lo bukan korban pertama seharusnya gue udah tau lebih dulu waktu dia minta lo pindah dari tempat lo tadi,” jelas Shaka.


“Sebelumnya dia pernah gini?” tanya Stefani mulai penasaran.


“Hmm, dia pernah kaya gini pas salah satu anggota kita bawa ceweknya ke tongkrongan,” jawab Shaka.


“Tunggu dulu, bukannya geng kalian katanya gak boleh pacaran?” Stefani makin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Shaka.

__ADS_1


“Awalnya gak gitu. Kita baik-baik aja mau bawa siapapun ke tongkrongan. Tapi waktu itu ada salah satu orang yang ajak pacarnya, dan kebetulan Gaby ada di sana. Dia adik dari ketua kita. Gaby siksa cewek itu hanya karena dia pacar dari anggota abangnya. Semenjak itu aturan tentang gak boleh punya pacar ada. Tapi itu cuma berlaku kalau di depan Gaby doang. Di belakang, mereka pada punya pacar kok.” Shaka menjelaskan semuanya pada Stefani.


Stefani akhirnya paham setelah Shaka menjelaskan semuanya padanya. “Apa dia punya obsesi sama sesuatu?” tanya Stefani.


“Gue juga gak tahu. Tapi yang bisa gue tangkap, dia ngerasa kalau setiap anggota yang ada di sana, hidupnya milik dia dan kalau mereka pada punya pacar, pasti perhatian mereka kebagi. Itulah kenapa dia gak suka kalau ada orang luar masuk ke sana.”


“Sorry karena gue juga tadi yang minta ikut,” ucap Stefani.


“Lo gak salah. Gue yang salah, udah tau ada cewek kaya gitu, gue malah bawa lo ke sana,” ujar Shaka. Mereka terdiam cukup lama sembari Shaka yang mengobati luka Stefani.


“Padahal tadi gue udah bilang sama dia kalau gue cuma teman lo,” cicit Stefani.


“Kalau gitu gimana kalau kita kabulin ucapan dia?” tanya Shaka.


Stefani mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan oleh Shaka kepadanya. “Maksud lo?”


“Mau jadi pacar gue gak?” tanya Shaka yang membuat Stefani terbelalak. Dia tak mengira akan ditembak dalam keadaan seperti ini.


Stefani terdiam cukup lama dengan segal pikiran dan kemungkinan yang ada dalam benaknya. “Maksud lo gue sama lo pacaran?” tanya Stefani. Mungkin saja dia salah mendengar ucapan Shaka.


“Gimana, mau gak?” tanya Shaka. “Udah lumayan lama kok gue suka sama lo. Tapi waktu itu gue takut lo nolak karena ada Kris,” sambung Shaka.


“Terus sekarang lo percaya diri kalau gue bakal nerima lo?” tanya Stefani dengan kekehan.


“Enggak juga sih. Tapi seenggaknya, kalaupun sekarang lo nolak gue, gue udah terima apapun keputusan lo. Asal setelah ini kalau lo nolak gue, kita tetap jadi teman,” ujarnya.


Stefani mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh Shaka. “Kalau gue nerima lo?” Stefani kembali bertanya.


“Gue bakal peluk lo sekarang,” jawabnya dengan cepat.


“Itu mah enak di lo,” ucap Stefani sambil memukul ringan lengan Shaka yang membuat pria itu meringis.


“Jadi gimana?” Tidak sampai sepuluh detik, akhirnya Stefani mengangguk sambil tersenyum malu.


“Apa?” Shaka ingin jawaban yang lebih jelas dari Stefani.


“Iya gue mau jadi pacar lo,” jawab Stefani. Saat itu juga sama seperti janjinya, Shaka langsung menarik Stefani ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Stefani membalas pelukan Shaka dengan tak kalah erat. Senyum keduanya mengembang. Mereka sama-sama tak menyangka akan dipersatukan di momen seperti ini.


Shaka menjauhkan tubuhnya dengan Stefani sejenak. “Jadi kita pacaran?” tanyanya lagi yang diangguki oleh Stefani.


Untuk kedua kalinya Shaka menarik Stefani ke dalam pelukannya lagi. Tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya Shaka sekarang.


“Tapi, lo tahu gak?” Pertanyaan Stefani membuat Shaka melepaskan pelukannya dan memandang Stefani takut.


“Apa?” tanyanya. “Takut banget gue lihat lo marah kaya tadi. Baru pertama kali gue lihat lo kaya gitu.” Akhirnya dia bisa mengungkapkan hal itu setelah dari tadi dia memendamnya.


“Gue baik kok aslinya. Gue kaya gitu cuma sama orang yang berani ngusik lo aja,” jawabnya dengan percaya diri.


“Lain kali kalau ada orang yang berani ganggu lo, lo bisa bilang sama gue. Gue bakal ada di barisan terdepan buat jagain lo,” ucapnya.


Stefani hanya bisa terkekeh mendengar itu dari mulut Shaka. “Udah ah. Gue mau pulang. Rasanya capek banget,” ucap Stefani.


“Bentar, gue tempel ini dulu.” Shaka membuka plester dan kemudian menempelkannya ke sudut bibir Stefani yang ada robekan kecil di sana.


Stefani hanya bisa diam menerima semua perlakuan baik dari Shaka. “Nah udah.” 


“Pamit dulu sama Ibu ya, baru kita pulang,” ucap Shaka yang mendapatkan anggukan dari Stefani.


Shaka beranjak untuk memanggil Ibunya. 


“Udah mau pulang? Kok cepat banget?” tanya Ibunya begitu tiba di sana.


“Iya Tan. Masih ada keperluan lain,” jawab Stefani disambung dengan salaman dengan Ibunya Shaka.


“Jangan panggil Tante dong. Kan ini calon mertua kamu,” ucap Shaka yang spontan mendapatkan tamparan ringan di lengannya.


Bagaimana bisa pria itu berkata seperti itu. Bukannya keberatan, tapi dia merasa malu.


“Oh jadi ini pacar kamu? Ibu pikir cuma teman,” ucap Ibunya.


“Iya Bu. Pacar baru beberapa menik kok.” Ibunya terkekeh mendengar ucapan Shaka.


“Ya udah. Hati-hati di jalan ya. Dan benar kata Shaka, panggil Ibu aja.”

__ADS_1


__ADS_2