Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Arti Sahabat


__ADS_3

Lagi-lagi Ara menjadi gundah karena Abi tak kunjung membalas pesannya. Ditambah ini adalah akhir pekan yang membuat mereka tak pergi ke kampus dan tak saling bertemu. 


"Kamu itu kenapa sih, Ra? Dari tadi mondar mandir terus," ucap Bunda yang melihat putrinya sedari tadi tak bisa diam. 


"Enggak Bun. Lagi bosen aja di rumah," jawabnya singkat. 


"Bun, Ara mau main ke rumah Fani ya," izin Ara. 


"Ya udah. Jangan malam-malam pulangnya ya." Ara mengangguk. Dia perlu teman cerita untuk masalahnya. 


Ara bersiap untuk pergi ke rumah Stefani. Dia mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak digunakan di luar. 


"Mau bawa motor sendiri?" tanya Bundanya. 


"Enggak Bun. Ara udah pesan ojek," jawabnya. 


Siang-siang begini sangat rawan ngantuk dan Ara tak ingin terjadi apa-apa di jalan nanti jika dirinya membawa motor sendiri. 


Setelah siap dengan pakaian dan leralatan yang memang perlu dua bawa, Ara kembali turun ke bawah dan menunggu Abang gojek di luar rumahnya. 


"Permisi, Mbak Ara?" tanya Abang gojek yang memakai jaket warna hijau. 


"Iya Bang." 


"Bunda Ara berangkat dulu ya," pamitnya. 


"Bang hati-hati bawa motornya ya." Bunda Are menitip pesan pada Abang gojek. 


"Siap Bu!!" Abang gojek itu langsung menancap gas setelah Ara pamit pada Bundanya. 


"Tujuannya sesuai aplikasi ya, Mbak?" tanya Abangnya. 


"Iya Bang." 


Cukup lama Ara dalam perjalanan dan dia hanya diam. Mau bicara juga canggung karena tak kenal dengan Abang gojeknya. 


"Di sini Mbak?" tanya Abang gojek saat dirasa mereka telah sampai di tempat tujuan. 


"Iya Bang. Makasih ya. Saya udah bayar lewat aplikasi," ucapnya. 


"Siap Mbak. Makasih ya." Ara mengangguk. 


Dia segera menuju rumah Stefani. 


"Fani!!" panggilnya saat tiba di hadapan rumah Stefani. 


Tak ada jawaban dari dalam hingga Ara memutuskan untuk menelpon Stefani. 

__ADS_1


"Fan, lo di mana sih?" tanya Ara kesal. 


"Gue di rumah. Kenapa?" 


"Buka pintunya tolol. Gue di depan!!" kesal Ara karena Fani tak kunjung menjawab panggilannya. 


"Iya bentar." 


Panggilan terputus dan Ara masih berdiri di depan rumah Stefani untuk menunggu gadis itu membuka pintu rumahnya. 


"Masuk. Kenapa telpon segala sih? Kan bisa langsung panggil," ucap Stefani. 


Ara merotasikan bola matanya. 


"Udah hampir habis suara gur buat manggil lo!!" 


Ara masuk begitu saja mendahului sang pemilik rumah. 


"Emang iya? Kok gue gak dengar sih?" ujar Stefani bingung.


“Ada apa?” tanya Stefani begitu Ara masuk ke dalam rumahnya dan duduk di sofa ruang tamu.


“Orang rumah pada kemana?” Bukannya menjawab pertanyaan dari Stefani, Ara malah balik bertanya.


“Gak ada, lagi pada keluar semua. Makanya dari tadi gue cuma diam di kamar,” jawab Stefani.


“Jadi, kenapa lo ke sini?” Stefani kembali bertanya karena dia belum mendapatkan jawaban dari Ara.


“Ohh yang mau main. Kirain udah lupa sama teman sendiri,” sindir Stefani.


“Lupa gimana? Bukanya tiap hari kita ketemu?” Bukannya tersindir, Ara malah tak peka dengan maksud dari ucapan Stefani.


“Mana pacar lo? Gak main sama dia?” Stefani berusaha memperjelas maksudnya.


“Ohh jadi lo nyindir gue? Ya udah, gue pulang aja.” Ara hendak beranjak dari duduknya untuk kembali pulang ke rumahnya.


Tapi pergerakan Stefani lebih cepat daripada Ara. Gadis itu menarik tangan Ara agak keras hingga Ara kembali terduduk di tempatnya.


“Baperan baget lo jadi orang,” desis Stefani.


“Lagian lo main sindir-sindir aja,” ucap Ara tak terima.


“Tapi gue yakin nih kalau lo ke sini bukan cuma mau main. Ada apa?” Stefani kembali bertanya karena dia yakin ada yang tak beres dengan kedatangan Ara.


“Fan, menurut lo hubungan gue sama Abi gimana?” tanya Ara tiba-tiba.


Stefani mengernyitkan keningnya. “Emang hubungan lo sama dia kenapa? Bukannya sejauh ini kalian baik-baik aja?” timpal Stefani.

__ADS_1


“Gue juga gak tau apa hubungan kita baik-baik aja atau justru enggak.”


“Emang apa yang bikin lo mikir kalau hubungan kalian gak baik-baik aja.” Setah Stefani Abi dan Ara baik-baik saja, buktinya ketika acara camp kemarin, keduanya masih bermesraan.


“Gue ngerasa ada yang beda sama Abi. Belakangan ini gue ngerasa dia nyembunyiin sesuat dari gue,” ucap Ara.


Dia memang tak memiliki bukti jika Abi menyembunyikan sesuatu dari dia, tapi sejauh ini firasatnya tak pernah salah.


“Nyembunyiin apa?” Stefani kembali bertanya.


“Justru itu, gue juga gak tau dan belum yakin.”


“Dari sikap dia sih gue yakin kalau dia serius sama lo.” Stefani berusaha meyakinkan temannya itu.


“Waktu itu hampir tiga hari dia gak balas chat gue, tapi dia bisa chat Rangga dan Shaka.”


“Terus dia bilang apa pas kalian udah ketemu?” tanya Stefani.


“Dia bilang ada urusan di rumahnya yang gak bisa dia tinggalin dah emang harus diberesih saat itu juga.”


“Itu dia udah kasih alasan. Berarti dia gak bohong dong.” Stefani masih berusaha membuat Ara yakin pada Abi.


“Tapi, Fan. Sekarang dia kaya gitu lagi. Dia gak ada kabar, malah lebih parahnya gue nanya Shaka juga dia gak tau.” Ara semakin risau karena sekarang dia tak mendapatkan kabar dari siapapun.


“Tunggu dia sampai dia ngabarin kalau lo gak mau datang ke rumahnya sendiri buat mastiin apa yang terjadi,” ucap Stefani memberikan saran.


Saat ini dia tak bisa memberikan saran lain selain itu pada Ara.


“Tapi kalau gue datang ke rumahnya, kesannya berlebihan gak sih?” Ara kembali bertanya bagaimana pendapat Stefani.


“Kalau menurut gue emang iya.” Ara menghela nafas pasrah.


“Kalau gitu gak ada pilihan buat gue selain nunggu dia,” ujar Ara pada akhirnya. Dia tak bisa berbuat banyak selain menunggu.


Mereka terdiam untuk beberapa saat hingga mata Stefani berbiar. “Gimana kalau kita jalan, seenggakya lo bisa lupain dia sebentar aja,” saran Stefani.


“Menurut lo, gue bisa lupain masalah ini kalau kita main?” tanya Ara yang diangguki dengan semangat oleh Stefani.


Bagaimanapun dia akan membauat Ara melupakan masalah ini walau hanya sesaat.


“Yuk!!” ajak Stefani yang sudah berdiri dan megulurkan tangannya pada Ara.


Ara tersenyum simpul dan membalas uluran tangan itu. 


“Lo gak mau ganti baju dulu?” Ara memperhatikan penampilan Stefani yang masih menggunakan kaos rumahan dan celana pendek. Penampilah buruknya itu disempurnakan oleh rambut yang dia ikat dengan acak.


“Gak mau gue bawa teman dengan penampilan gini.” Ara menghempaskan tangan Stefani berubah pikiran.

__ADS_1


“Ck, iya gue ganti baju dulu. Kasar banget sih lo,” ucap Stefani yang langsung beranjak dari sana menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Sementara Stefani mengganti pakaiannya, Ara menunggu di sana sambil memaikan ponselnya. Dia sangat beruntung memiliki Stefani di saat seperti ini.


__ADS_2