
Karena Ara ikut canggung dengan apa yang dilakukan oleh Dion, dia segera merebut kembali tisu yang ada di tangan Dion tanpa persetujuan pria itu.
“Biar gue sendiri aja,” ucapnya. Ara kemudian mulai menempelkan tisu itu ke wajahnya.
“Nah iya di situ, kanan dikit.” Dion hanya ikut mengomando walau masih dengan salah tingkahnya.
Ara mengikuti apa yang dikatakan Dion hingga akhiny noda itu benar-benar hilang dari wajahnya.
Setelah memastikan Ara selesai dengan urusannya, Dion kembali melajukan mobilnya untuk megantar Ara kembali ke rumah.
“Bentar deh,” ucap Ara tiba-tiba sambil melihat ke arah tangan Dion yang sedang mengemudi.
“Kenapa?” tanya pria itu masih tak sadar.
“Tangan lo? Udah sembuh?” tanya Ara sambil menunjuk tangan Dion tang semula dipasang gips.
“A-ah i-itu, ini udah sembuh. Iya ini udah sembuh,” jawab Dion dengan tergagap.
“Perasaan kemarin masih sakit. Kan lo yang minta gue datang ke rumah lo buat masak karena tangan lo lagi sakit,” ucap Ara.
“Gue kemarin kan juga udah bilang kalau tangan gue udah sembuh.”
“Iya sih. Tapi gak mungkin dong bisa pulih secepat itu,” pikir Ara.
“Kenapa? Lo masih mau jagain gue?” goda Dion sambil terkekeh.
“Dih najis,” ucap Ara langsung mengalihkan pandangannya. Sementara Dion hanya terkekeh ringan mendengar respon dari Ara.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan keheningan. Ara kembali teringat pada Abi dan pertengkaran mereka tadi.
Dia mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa apakah Abi ada menghubunginya atau tidak.
Di ponselnya ternyata hanya ada notifikasi dari Stefani yang menanyakan keberadaannya. Tapi Ara tak ada niatan untuk membalasnya. Biarkan dia akan membalasnya nanti ketika dia tiba di rumahnya.
Akhirnya mereka tiba di rumah Ara. “Makasih ya,” ucap Ara yang diangguki oleh Dion.
“Salam sama Bunda lo. Sorry gue gak bisa antar lo sampai dalam. Udah dihubungin anak-anak,” ucapnya.
“Gak apa-apa. Hati-hati di jalan.” Setelah mengucapkan salam perpisahan, barulah Ara kelar dari dalam mobil Dion.
__ADS_1
Dia meunggu Dion pergi dari sana sebelum dia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Mobil Dion berlalu meninggalkan halaman rumah Ara.
“Ra, kok sendirian? Pulang sama siapa?” tanya Bunda yang tiba-tiba saja datang dari dalam rumah.
Ara menoleh saat dia mendengar suara sang Bunda sebelum kemudian dia menjawab. “Bun. Tadi Ara pulang sama Dion. Dia titip salam juga buat Bunda,” ujarnya.
Bunda mengangguk. “Waalaikum salam. Kok gak diajak ke dalam dulu,” ucap Bundanya.
“Tadi katanya dia ada urusan, makanya gak mampir dulu,” jawab Ara.
“Ya udah, yuk masuk!” ajak Bundanya. Sambil berjalan, mereka berbincang ringan.
“Gimana? Badan kamu udah mendingan?” tanya Bunda masih khawatir karena tadi Ara pergi dengan keadaan yang tak baik-baik saja.
“Udah mendingan Bun,” jawabnya. Namun karena Bunda tak yakin dengan jawaban sang putri, akhirnya dia mengangkat tangnnya dan meletakannya di kening Ara untuk memastikan jika demamnya sudah turun.
“Mendingan gimana? Ini masih panas loh,” ucap Bundanya.
Ara kemudian memegang keningnya sendiri untuk memastikan apakah yang dikatakan Bundanya memang benar atau hanya sekedar sugesti saja.
“Iya. Udah sana naik ke kamar kamu. Nanti Bunda bawa makan sama obat,” ucap Bundanya.
Ara tidak membantah dan hanya mengikuti apa yang diminta oleh Bundanya. Ara pergi ke kamarnya sementara Sang Bunda harus menyiapkan makan untuk anak bungsunya.
“Padahal tadi pas berangkat kayanya udah sembuh. Kenapa panas lagi,” ujar Ara sambil mendudukan dirinya di ranjang.
Tak ingin mendapatkan ceramahan dari Bundanya, dia kemudian membaringkan dirinya menunggu Sang Bunda yang mengatakan akan membawakannya makan dan obat.
Ara kembali mengecek ponselnya berharap Abi akan menghubunginya dan meminta maaf tentang apa yang telah pria itu lakukan.
Namun, nihil. Sepertinya tak ada sama sekali niatan Abi untuk meminta maaf atau hanya sekedar menemui Ara.
Cukup lama Ara terdiam dan berputar dengan pikirannya sendiri hingga suara pintu terbuka membuat Ara mengalihkan pandangannya.
Ara bangkit dari posisi tidurnya. Bundanya membawa nampan yang diatasnya ada nasi, sup dan segelas air mineral.
“Nih makan dulu,” ucap Bundanya sambil mendudukan dirinya si samping Ara.
__ADS_1
“Mau disuapin,” rengek Ara dengan nada manjanya.
Bundanya memandang Ara dengan heran. Ara jarang sekali bersifat manja seperti ini, itulah mengapa Bundanya menjadi heran melihat sikap Ara.
“Kamu ini kenapa jadi manja?” tanyanya heran.
“Emang gak boleh anak manja sama Bundanya?” Bukannya menjawab pertanyaan sang Bunda, Ara malah balik bertanya.
“Iya iya sini Bunda suapin.” Akhirnya Bundanya menyerah dan memilih untuk menuruti apa yang menjadi keinginan putrinya.
Sudah lama sekali Ara tak merasakan momen seperti ini. Dulu dia manja pada Ayahnya, tapi sekarang sosok itu sudah tidak ada dan Ara merindukannya.
“Gimana tadi, diizinin buat nengok Rachel?” tanya Bunda yang membuat Ara kembali teringat.
Ara menggeleng sebagai jawaban. “Enggak Bun. Maminya larang,” jawab Ara.
Bundanya mengerti dengan apa yang dirasakan putrinya karena kemarin dia juga mengalami hal itu. Dia tahu jika Maminya Rachel terguncang dengan kecelakaan yang terjadi pada putrinya. Tapi, apakah memang harus mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu?
“Sudahlah, gak apa-apa. Bunda kemarin juga udah minta maaf sama berterima kasih sama mereka. Urusan mereka mau menerima atau enggak biar jadi urusan mereka,” ujar Bundanya.
“Tetap aja Bun Ara gak enak karena Ara Racehel jadi kaya gitu dan Ara juga gak tahu harus berterima kasih pakai cara apa sama dia,” ucapnya.
“Bunda ngerti. Mungkin kamu bisa balik lagi ke sana sampai Mami dia ngizinin kamu buat ketemu atau rawat Rachel.”
Ara mengangguk meyetujui apa yang dikatakan Bundanya. Mungkin dia akan mengikuti saran Bundanya untuk menjenguk Rachel setiap hari walau harus mendapat penolakan dari Maminya.
Sambil menyuapi Ara, mereka sambil berbincang hingga tak terasa makanan Ara sudah tandas.
Bunda menyodorkan minum dan diterima oleh Ara.
“Nih minum obatnya abis itu tidur. Jangan dulu kemana-mana lagi sebelum sembuh,” ujar Sang Bunda yang diangguki oleh Ara.
Sekarang dia tak akan memaksa keluar dari rumah sebelum dia sembuh atau dia tak akan bisa beraktifitas seperti biasa lagi.
Setelah dia menelan obat yang terasa pahit itu, Ara kembali membaringkan badannya di ranjang.
“Kalau ada apa-apa panggil Bunda aja,” ucap Bundanya.
“Iya Bun. Makasih ya.” Bundanya mengangguk sebeluk akhirnya dia benar-benar pergi dari kamar Ara.
__ADS_1
Ara mencoba memejamkan matanya yang terasa sangat panas. Ternyata rasa panas itu baru sekarang Ara rasakan setelah tadi dia merasa baik-baik saja.