Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Ketahuan


__ADS_3

Sejauh ini memang gadis itu yang selalu ada untuk Ara dalam keadaan apapun.


Tak membutuhkan waktu lama, Stefani telah kembali dengan penampilan yang lebih baik dari tadi. Gadis itu hanya memakai pakaian casual dan tas selempang berwarna hitam.


“Lo ke sini bawa motor?” tanya Stefani sambil berusaha melihat halamannya apakah ada motor di sana atau tidak.


“Enggak. Gue pakai gojek,” jawab Ara yang diangguki oleh Stefani.


“Pakai mobil aja ya, panas banget soalnya.” Ara mengangguk. Apapun yang akan mereka pakai Ara baik-baik saja.


Mereka memutuskan untuk segera pergi karena hari juga semakin sore. “Mau ke mana?” Stefani malah bertanya pada Ara.


“Lah, gue juga gak tau. Gue kira lo udah tau kita bakal main ke mana,” ujar Ara.


Stefani hanya tersenyum. Dia hanya memberikan saran, tapi dia tak tahu akan membawa Ara ke mana.


“Ya udah. Hari ini lo jadi sopir gue aja. Keliling kota jangan berhenti, nanti kalau kita lapar baru berhenti,” jawab Ara pada akhirnya.


“Lo gila?!! Pegel lah tangan gue,” jawab Stefani sedikit keberatan.


“Gue traktir.” Stefani tersenyum semangat setelah medengar hal itu dari Ara. “Oke gasss!! Lo mau ke mana?!” tanya Stefani semangat.


“Ke mana aja asal jalan-jalan.” Stefani mengangguk dan kembali fokus ke jalanan menuju jalan yang memag enak untuk dilalui jika sedang ingin jalan-jalan.


Benar saja, mereka hanya berkeliling kota menyusuri jalan dan tak berhenti sekitar satu jam. “Aduh Ra, tangan gue pegel. Berhenti bentar ya,” ucap Stefani.


“Cari tempat makan kalau gitu. Biar bisa sambil makan,” ujar Ara yang diangguki oleh Stefani.


Stefani memarkirkan mobilnya ketika dia sudah mendapatkan satu tempat makan yang sepertinya sangat nyaman.


“Yuk turun dulu,” ajak Stefani yang diangguki oleh Ara.


Mereka memesan makanan dan menunggu makanan mereka tiba.


Tepat di belakang Ara, namun agak jauh yang berarti hanya Stefani yang bisa melihatnya, Abi di sana bersama dengan seorang wanita.


Tangan Stefani terkepal kuat dan raut wajah yang sudah mengeras. “Lo kenapa?” tanya Ara.

__ADS_1


Awalnya gadis itu akan mengikuti arah pandang Stefani, tapi Stefani mencegahnya sebelum hal itu terjadi.


“Eh, enggak kok. Tunggu di sini ya, gue ke toilet dulu.” Stefani berpamintan pada Ara yang diangguki gadis itu.


Stefani benar-benar pergi dari sana dan menghampiri meja Abi. Pria itu sedang tersenyum bahagia dan membawa sebuah hadiah.


“Makasih, Sayang.” Walaupu samar, tapi Stefani bisa mendengar apa yang dikatakan Abi pada gadis di hadapanya itu.


Stefani berdiri diam di hadapan pria itu sambil meletakan jari telunjuk di atas bibirnya. “Ikut gue bentar,” bisiknya pada Abi.


“Bentar ya.” Abi berpamitan pada wanita yang ada di hadapannya.


Stefani menyeret Abi ke belakang restoran itu dan kemudian menghempaskan tangan Abi dengan kesal.


“Lo gila?” tanya Stefani hampir berbisik karena takut  Ara tiba-tiba menyusulnya.


“Gila apaan?” tanya Abi seolah dia tak melakukan kesalahan apapun.


“Bi, lo udah punya Ara. Lo tega sama dia?” kesal Stefani.


“Gue cuma temenin cewek itu makan. Kita gak ada hubungan apa-apa,” jawab Abi.


Abi terdiam, jadi Stefani mendengar semuanya. “Terus lo sekarang mau bilang semua ini sama Ara?” tanya Abi.


“Gak perlu gue bilang juga dia bakal tahu kalau lo masih ada di sini. Dia tadi tepat di belakang lo.” Ucapan Stefani berhasil membuat Abi terkejut bukan main.


“Lo gak lagi bercanda kan?” tanya Abi.


“Lihat aja sendiri kalau gak percaya.” Abi tak memperdulikan ucapan Stefani. Yang harus dia pikirkan saat ini bagaimana agar mereka tak saling ketemu.


“Lo jahat banget sumpah. Tiga hari dia nunggu kabar dari lo dan hampir gila, tapi lo di sini malah senang-senang sama cewek lain lo?!! Dasar gak punya otak!!” ucap Stefani.


“Kalau sekiranya lo gak bisa bikin dia bahagia, jangan kasih harapan. Putusin dia!!” 


Stefani hendak pergi dari sana sebelum pergelangan tangannya dicekal oleh Abi. “Oke gue minta maaf. Tapi buat sekarang, tolong bawa dia pergi dari sini. Gue gak mau dia lihat gue,” pinta Abi.


“Tanpa lo suruh gue, gue juga bakal pergi dari sini! Gue gak akan biarin sahabat gue sakit cuma karena cowok kaya lo!” 

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Stefani benar-benar pergi dari sana. Dia akan membatalkan semua pesanan dan pergi dari sana.


“Ra, pindah tempat yuk!” ajak Stefani yang berhasil membuat Ara kebingungan.


“Kok pindah sih? Kan udah pesan,” jawab Ara kebingungan.


“Udah gue cancel. Kita cari tempat lain aja,” jawab Stefani cepat. Gadis itu segera menarik tangan Ara untuk pergi dari sana sebelum Ara kembali bertanya dan protes.


Ketika mereka sudah ada dalam mobil, Stefani bernafas lega. Dia tak berharap Ara tahu dan Abi akan memperbaiki semuanya.


“Lo kenapa sih? Kaya dikejar setan tau gak?” tanya Ara, padahal perutnya sudah sangat keroncongan.


“Gue baru sadar kalau makanan di sana gak enak. Kita cari yang lebih enak aja,” jawab Stefani.


“Terserah lo deh!” Ara memilih diam dan mengikuti ke mana Stefani ingin pergi.


Stefani mulai kembali melajukan mobilnya untuk mencari tempat yang nyaman dan tentu saja tak ada Abi di sana.


“Dah, turun.” Stefai benar-benar membawa Ara ke tempat makan lain dan saat ini mereka telah tiba di tempat tujuan.


“Lo benar-benar aneh tau gak,” ucap Ara sebelum dia keluar dari mobil.


Sementara itu, Stefani tak mengindahkan apa yang dikatakan Ara. Dia lebih baik dibilang aneh daripada Ara menangis karena melihat Abi berjalan dengan wanita lain.


Kali ini mereka benar-benar makan di sana dengan tenang, walaupun pikiran Stefani masih tertuju pada Abi. Dia tak menyangka jika Abi akan tega melakukan hal itu.


Stefani melihat ponselnya dan mengetikan ancaman pada Abi jika Abi tak segera memutuskan hubungannya dengan wanita yang dia temui tadi.


“Habis dari sini mau ke mana lagi?” tanya Stefani. Perutnya sangat kenyang dengan makanan yang mereka pesan di sana.


“Ke mana ya? Mau belanja gak?” tawar Ara pada Stefani.


“Lo yang belanjain?” tanya Stefani. Dia sangat suka barang gratis apalagi dari temannya itu.


“Iya gue yang belanjain!” Ara memang sangat tahu apa yang diinginkan Stefani.


Tapi untuk sekarang dia akan memberikan apapun yang diinginkan Stefani sebagai imbalan temannya itu telah menemaninya ke manapun yang dia mau hari ini.

__ADS_1


“Oke gass!!” jawabnya semangat.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah mall terdekat di mana mereka akan berbelanja di sana. Sebenarnya tak banyak yang diinginkan Stefani, paling gadis itu hanya akan membeli camilan untuk teman nontonnya.


__ADS_2