
Satu pukulan keras mendarat di pipi Abi setelah dia mengatakan demikian. Shaka tidak habis pikir dengan temannya yang berani mengatakan hal itu di depannya.
“Sakit emang lo!!” bentak Shaka setelah dia memukul Abi.
Pukulan itu dia lakukan bukan karena dia membela Stefani, tapi memang Abi yang salah. Walau Ara bukan sahabat Shaka, tapi gadis itu juga telah menjadi temannya dan dia bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh Ara.
“Lo apaan sih!” Abi kembali membentak Shaka setelah dia mendapatkan pukulan itu.
“Lo yang apaan. Mikir!! Lo udah bukan lagi bocah!” Shaka hampir saja kembali menyerang Abi. Untung saja Rangga segera memegangi pria itu hingga Shaka mengrungkan niatnya.
“Udah, Ka. Malu dilihatin orang!” Rangga yang memegani Shaka juga mengatakan hal itu pada Shaka.
Shaka berusaha melepaskan pegangan Rangga sebelum kemudian dia berlalu dari sana dengan emosi yang berapi-api.
Dia tak menyangka jika Abi bisa berpikiran picik seperti itu. Shaka berteman dengan Abi memang sudah cukup lama dan dia tahu sifat Abi yang seperti itu. Tapi dia tak menyangka jika temannya itu akan berbuat separah ini.
Rangga masih di sana mencoba menghela nafasnya setelah menyaksikan pertengkaran kedua temannya itu.
Rangga mengulurkan tangannya pada Abi yang masih terduduk di lantai. Abi menerimanya dan dia bangun.
“Thank’s,” ucap Abi.
Rangga tak menjawab, dia hanya mengambil tasnya sebelum kemudian di juga berlalu dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Abi hanya bisa menyaksikan kepergian dua temannya itu tanpa bisa mencegahnya. Kini dia hanya sendiri di sana. Tangannya terangkat untuk mengusap sudut bibirnya saat dirasa ada yang mengalir di sana.
“Cih, darah.” Dia berdecih. Sebenarnya rasa sakit di bibirnya itu tidak seberapa dibandingkan degan rasa sakit karena yang melakukan itu adalah temannya sendiri.
Karena tak ada lagi yang bisa dia lakukan di sana, akhirnya dia juga pergi dari sana. Mungkin kelas akan segera di mulai.
__ADS_1
****
Ara dan Stefani benar-benar tak masuk kuliah hari ini. Sepanjang hari mereka hanya berdiam diri di kamar Stefani.
Bosan sebenarnya tapi mau bagaimana lagi, bahkan Ara sama sekali tak ingin berbicara dengan siapapun selain dengannya.
“Fan, mau nginep di sini aja deh,” cicitnya. Ara masih diam di dekat jedela dan melihat keluar sana. Entah apa yang dia lihat. Namun Stefani yakin jika Ara masih memikirkan masalah tadi.
“Gak! Gak boleh, gue gak mau bohong terus sama Bunda lo ya,” tolaknya yang membuat Ara spontan menoleh padanya.
“Apanya yang bohong? Gue beneran mau nginep di sini kok,” ujar Ara membela dirinya.
“Iya lo emang mau nginep di sini, tapi pasti lo pakai alasan lain buat nginep di sini. Belum lagi sekarang lo gak masuk kuliah padahal kan lo bilang sama nyokap lo mau kuliah.” Benar apa yang dikatakan oleh Stefani. Tapi Ara tak ingin pulang.
“Please, malam ini aja ya,” mohonnya masih belum menyerah.
“Gue bilang enggak Arabella. Kalaupun lo mau nginep, lo pulang dulu dan bilang sendiri sama nyokap lo,” ucap Stefani.
“Nah, lo gak mau kan? Sama gue juga gak mau.” Ara diam. Baiklah, mungkin dia akan pulang, tapi tidak sekarang.
“Ra, lo dengar gue kan?” Stefani kembali bertanya karena dia tak mendapatkan jawaban dari Ara.
“Hmm,” gumam Ara yang tidak jelas apakah itu jawaban setuju atau tidak.
“Ra gue gak mau tau ya, gue gak mau minta izin sama Bunda lo kalau lo mau nginep di sini.”
“Iya Stefani, gue yang bilang. Oh engga, gue gak akan nginep di sini, gue mau tidur di emperan toko aja, puas lo!” Ara beranjak dari sana tepatnya keluar dari kamar Stefani.
Stefani yang melihat itu tentu saja kebingungan. Apakah Ara benar-benar akan pergi dari rumahnya seperti yang dia katakan tadi?
__ADS_1
“Ra, lo mau ke mana? Bukan gitu maksud gue!” Stefani terus mengikuti Ara yang mulai menruni tangga sambil terus melarang Ara untuk pergi dari sana.
Hingga akhirnya mereka berdua tiba di dapur dengan Ara yang mengambil gelas dan air minum.
“Ribet banget sih lo. Orang gue cuma mau minum,” ujar Ara sambil kemudian meneguk minumnya.
“Kurang ajar,” bisik Stefani. Setelah itu dia duduk di kursi yang ada di sana menunggu Ara selesai dengan urusannya.
Ara menghampiri Stefani dengan air minum yang ada di tangannya. “Fan, gue harus gimana ya? Kepikiran terus tau gak?” Ara tak ingin memikirkannya, tapi betapapun dia berusaha menghilangkah hal itu dari kepalanya, tetap saja dia akan mengingatnya.
“wajar aja sih, itu karena lo sayang sama dia. Semakin lo sayang sama dia, semakin parah juga rasa sakit yang akan lo rasain,” ujar Stefani.
Walau dia tak pernah mengalami hal itu, tapi sedikitnya dia bisa mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Ara.
“Putusin dia. Buktiin sama dia kalau lo baik-baik aja dan lo bisa tanpa dia,” lanjut Stefani. Dia ingin sekali melihat Abi menyesal.
“Apa gue bakal bisa?” Ara tidak yakin dengan dirinya sendiri kalau dia bisa melakukan hal itu. Seperti yang dikatakan Stefani, rasa sayangnya sangat dalam sampai dia tak bisa memprediksi apakah dia bisa jauh dari Abi atau tidak.
“Itu tantangan lo. Lo harus kuat dan yakinin diri lo sendiri kalau lo bisa tanpa dia. Dulu juga waktu lo belum kenal sama dia, lo baik-baik aja. Balik ke saat itu, saat di mana lo bisa lakuian semuanya sendiri,” jelas Stefani.
“Sorry Ra, bukannya gue mau hancurin kebahagiaan lo. Tapi kalau gini caranya, gue sama sekali gak terima teman gue disakitin sama cowok brengsek kaya Abi.”
Ara sudah tak lagi bisa marah ketika Stefani mengatakan jika Abi adalah pria brengsek karena memang itu kenyataannya. Dia yang melihatnya sendiri.
“Hmm, gue ngerti. Gue bakal coba ngomong sama dia nanti kalau hati gue udah siap,” ujarnya.
Stefani mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Ara. Dia juga tak ingin terburu-buru karena pasti sekarang keadaannya sedang panas.
“Bentar lagi gue mau pulang, gue mau izin sama Bunda kalau gue mau nginap di sini,” ucap Ara.
__ADS_1
Stefani otomatis tersenyum. Jika Ara yang izin pada Bundanya, dia sama sekali tak keberatan temannya itu akan menginap.
“Oke, nanti gue antar ke rumah deh. Sekalian bawa baju ganti juga kan?” tanya Stefani yang diangguki oleh Ara.